CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
113. Merebutnya Kembali


__ADS_3

Danira masuk kedalam salon kecantikan miliknya, saat Danira masuk, dia langsung disambut oleh para karyawannya wanita berkerudung panjang berjejer rapi.


" Assalamualaikum, selamat datang nona ". Salam mereka setegah membungkukkan badan.


" Waallaikumsalam, bagaimana kabar kalian, apa sehat ?". Tanya Danira, melihat satu persatu para karyawannya.


" Alhamdulillah, kami semuanya sehat dan baik nona ".


" Apa kalian sudah sarapan ?".


" Sudah nona, terima kasih ". Jawab mereka lagi serentak.


" Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu ". Ucap Danira, dan diangguki oleh yang lainnya. Danira masuk kedalam ruangan bernuansa berwana putih itu, lalu duduk diatas kursi kebesarannya, Danira membuka kain penutup diwajahnya, dan menyimpannya diatas meja. Dia mulai membuka berkas-berkas yang ada diatas meja, menumpuk.


Danira mengambil satu berkas laporan tentang perkembangan perusahaannya disurabaya, laporannya sangat bagus dan stabil Danira tersenyum.


Ternyata mas David bisa diandalkan. Gumam Danira pelan. Saat Danira sedang fokus melihat tumpukan berkasnya, dari luar terdengar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


" Masuk ". Ujar Danira, Sarah masuk sambil membawa sesuatu ditangannya.


" Maaf nona saya terlambat ". Ucap Sarah sambil menunduk.


" Tidak apa-apa Sarah, aku juga baru tiba ". Ucap Danira, lalu menutup berkasnya.


" Ini data yang anda minta kemarin nona ". Sarah menyerahkan berkas yang ada ditangannya, lalu dia juga mengeluarkan tab berukuran sedang dari dalam tasnya. Danira membaca secara perlahan isi yang tertera disana, saat dia ingin bertanya, suara seseorang menghentikan niatnya.


" Permisi nona, maaf saya ingin mengantarkan ini ". Seorang karyawan wanita berkerudung panjang masuk sambil membawakan segelas teh ditangannya, lalu meletakkan diatas meja kerja Danira.


" Terima kasih, Sindy ". Ucap Danira, lalu dia mengambil gelas itu dan ingin menyesapnya.


" Tunggu nona ". Sela Sarah, menghentikan tangan Danira, membuat Sindy tampak bingung. Apa dia telah melakukan kesalahan. pikirnya. Sarah mengeluarkan peralatan makan khusus berbahan silver asli, yang dia pesan langsung dari Korea. Danira harus memakai semua peralatan ini untuk berjaga-jaga bila makan yang disajikan untuk Danira ketika makan diluar terdapat racun maka akan cepat terdeteksi, karena Sarah tak ingin kejadian dulu terulang lagi. Danira kembali meletakkan gelasnya, dia tau apa yang ingin Sarah lakukan. Sarah mencelupkan Sendok berwarna silver itu lalu mengangkatnya, menunggu beberapa detik, saat dirasa aman Sarah kembali menyerahkan teh Danira.


" Silahkan nona ". Danira mengangguk, lalu meminum teh tersebut. Sindy yang awalnya bingung kini menjadi paham, lalu dia undur diri keluar.


" Apa ini semua data mas Aryo Sarah ?".


" Benar nona ".


Danira kembali membacanya, seketika Danira mengeryitkan dahinya, lalu beralih melihat Sarah.


" Sarah...apa maksudnya ini ". Tanya Danira, merasa bila yang tertera didalam kertas itu salah.


" Nona sesuai dengan informasi yang saya dapatkan, selama ini tuan Aryo tinggal di Singapura bersama dengan anak dan istrinya ".


Deg*


" Anak dan istrinya ?".


" Benar nona, sebelum menikah dengan nona Shena, tuan Aryo telah memiliki kekasih yang bernama Dinda Kirana dan mereka telah menjalin hubungan sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Lalu entah masalah apa selama 1 tahun mereka putus, hingga tuan Aryo dijodohkan oleh orang tuanya kepada nona Shena ". Jelas Sarah. Danira masih terdiam, lalu meminta Sarah melanjutkannya lagi.


" Saat pernikahannya dengan nona Shena hampir memasuki usia 1 tahun, tuan Aryo dan kekasihnya bertemu kembali, lalu mereka kembali menjalin hubungan, hinga membuat kekasihnya hamil anaknya yang sekarang berusia 7 tahun ".


Tes*


Tes*


Tak terasa, air mata Danira menetes begitu saja. Dia membayangkan wajah kakaknya yang manis dan periang, harus menanggung penghianatan sang suami.


" Berarti kak Shena tidak tau bila suaminya berselingkuh ? tanya Danira.


" Nona Shena tau nona, Dia pernah memergoki suaminya ketika sedang pergi bersama wanita itu, bahkan mereka sampai ribut besar, namun tuan Aryo beralasan bila wanita itu adalah rekan bisnisnya. Kemudian menjelang pernikahan yang ke 7 tahun lagi-lagi nona Shena mengetahui perselingkuhan tuan Aryo, dan dia juga mengetahui bila tuan Aryo telah memiliki anak dari wanita itu, tapi nona Shena tak bisa berbuat apa-apa karena nona Shena sedang mengandung nona Khalisa ". Jelas Sarah, dia mendapatkan informasi dari teman dekat Shena beserta pembantu yang pernah bekerja dirumah Shena dan Aryo dulu.


" Ya Allah....". Danira menutup mulutnya, dia benar-benar syok mendengar informasi dari Sarah, Danira sudah tak bisa membendungnya lagi, pertahanannya runtuh dia menangis.


Kau tau Dira, mas Aryo sangat baik. Kakak sangat beruntung memilikinya.

__ADS_1


Mas Aryo tak pernah berkata kasar, bahkan dia selalu memanjakan kakak.


Mas Aryo sangat pengertian, dia tak menuntut saat kakak belum kunjung hamil juga.


Mas Aryo memang sering perjalanan dinas keluar negri, kakak tidak khawatir, karena dia pria setia. Bait-bait setiap kata-kata pujian kakaknya untuk Aryo terngiang-ngiang dikepala Danira, setiap kali mereka melakukan panggilan telpon, Shena selalu membanggakan suaminya.


Jadi selama ini kakak menderita, kakak menutupi semuanya. Batin Danira. Sarah menyodorkan tisu kedepan Danira, lalu memalingkan wajahnya, dia tak pernah sanggup bila melihat Danira menangis, saat inipun mata sarah sudah berkaca-kaca.


" Sarah ..!?".


" Ya nona ".


" Apa mas Aryo benar-benar tidak tau bila kak Shena telah tiada ?". Sarah terdiam, dia melihat Danira lama. Sarah tampak ragu untuk menjawab, dia bimbang haruskah dia memberi tahu Danira yang sebenarnya.


" Ada apa Sarah ?, mengapa kau terlihat ragu seperti itu ?". Tanya Danira, melihat Sarah yang memandangnya dengan tatapan iba.


" Nona...!! sebenarnya malam itu, tuan Aryo ada ditempat kejadian ".


" Malam itu tuan Aryo telah kembali dari luar negri, dia melihat ada banyak orang dirumah itu, lalu dia masuk melalui pintu rahasia yang ada di antara rumah keluarga nona dan rumah Sofia. Dia juga turut menyaksikan bagaimana nona Shena disiksa, namun dia memilih bersembunyi, hinga dia melihat nona Shena mencoba melarikan diri dan bersembunyi dibalik pohon sambil memegang perutnya yang besar. Tapi lagi-lagi tuan Aryo hanya diam, tak ada niatan untuk membantu istri dan calon anak mereka, dia memilih pergi dari tempat kejadian sebelum tuan David datang menyelamatkan nona Shena ". Jelas Sarah, dia mengetahui itu semua ketika dia mencoba meretas Cctv yang ada dirumah David dan Sofia.


Dam**


Jantung Danira semakin berdetak cepat, rasa sesak dalam dadanya semakin menyempitkan nafasnya. Danira mengepalkan tangannya, terkejut sudah pasti, amarah terpancar jelas dari sorot matanya, ekspresinya yang biasa ramah dan teduh berubah menjadi sedingin es dikutup Utara, Danira marah, meski dalam hati istighfar tak putus, namun tetap saja berita ini menyesakkan.


" Sarah...bisakah kau keluar sebentar, aku butuh sendiri ". Ucap Danira datar, Sarah diam dia engan meninggalkan nonanya. Namun dia melihat mata Danira yang berkobar penuh kebencian, dia mengangguk lalu keluar.


Danira menundukkan kepalanya diatas meja kerja, dia menumpahkan segala kekesalannya, menangis sejadi-jadinya. Danira butuh tempat untuk bercerita, tapi dia bingung pada siapa, sejujurnya saat ini dia butuh bahu Gavino, butuh sosok yang bisa mendengarkan segala bebannya. Namun Danira belum bisa berbagi, dia masih ragu bila harus membaginya dengan Gavino. Danira memilih menahan, dan memendamnya sendiri, hingga dia bisa menemukan jalan keluar nya.


Aku harus bisa menyelesaikan semuanya, aku harus bisa membongkar setiap teka teki dalam masalah keluargaku, Ya Rab Bantu aku. Batin Danira.


Danira kembali menegakkan tubuhnya, menghapus air matanya, memejamkan matanya sejenak, mengatur nafasnya yang masih terasa sesak. Danira menatap kedepan, melihat banyaknya tumpukan kertas, menatap foto Khalisa.


Aku tak boleh lemah, aku bisa, aku harus kuat, demi keluargaku, demi Khalisa, Allah selalu bersamaku. Gumam Danira, lalu dia memanggil Sarah lagi. Tak lama sarah pun masuk, dia melihat wajah Danira yang sembab dan mata yang bengkak.


" Nona...!!". Lirih Sarah.


" Aku tidak apa-apa Sarah, hanya saja berita ini terlalu mengejutkan untukku. Maaf telah membuatmu khawatir ". Ucap Danira mencoba tersenyum, terpaksa.


Sarah membuka tabnya, lalu memberikannya pada Danira. Danira mulai melihat diagram yang sedang berjalan, dia menggeser-geserkan layarnya. Dia memperhatiakaan naik turunnya harga saham, setabil.


" Sarah hubungi pengacara keluarga, katakan padanya siapkan semua dokumen kepemilikan Shen-Shen Galery dan Shen Diamond, aku ingin mengambil alih kembali perusahaan kakakku dari tangan pria yang tidak bertanggung jawab seperti dia. Itu semua milik Khalisa ". Titah Danira, dia akan mengambil apa yang menjadi hak Khalisa, karena perusahaan itu milik Shena, yang hanya dikelola oleh Aryo.


" Baik Nona...".


" Aku akan memberitahumu, kapan waktu yang tepat untuk kita merebutnya kembali, tapi aku pastikan dalam waktu dekat ini ". Ujar Danira datar, dengan sorot mata Sulit Sarah artikan.


...****************...


Di perusahaan Garayudha Company.


Gavino yang baru tiba, turun dari mobil Rolls Royce miliknya. Disana semua karyawan telah berjejer rapi menyambut sang penguasa bisnis tersebar di negara ini. Gavino mulai melangkah, diikuti Sean dibelakangnya.


" Selamat datang tuan ". Sapa mereka membungkuk setengah tubuh, setelah itu mereka berdiri lalu menunduk. Gavino melihat satu persatu wajah-wajah karyawannya yang ada disana. Mimik wajah Gavino kembali dingin dan datar, namun seketika dia teringat ucapan sang istri.


Tersenyumlah....tebarkan kebaikan melalui senyuman, jangan selalu kaku seperti kanebo kering. Itulah ucapan Danira sebelum mereka keluar dari rumah. Gavino berhenti memejamkan matanya sejenak, membuat semua orang yang ada disana saling lirik, takut bila ada kesalahan yang tanpa sadar mereka lakukan. Sean maju.


" Ada apa tuan, mengapa anda berhenti ?". Tanya Sean, keheranan. Gavino menghela nafas panjang lalu, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyuman , kaku.


" Aku tidak apa-apa Sean ". Senyum Gavino, membuat semua orang yang ada disana tercengang, membuka mulut mereka. Terkejut.


" Bagaimana kabar kalian semua, apa baik ?, sepertinya kalian terlihat baik dan sehat ya. Apa kalian semua sudah sarapan ?, bila belum sarapan lah dulu, sebelum memulai kerja. Aku tidak ingin terkesan menyiksa karyawanku. oke....selamat bekerja semua ". Ujar Gavino menampilkan full senyum menawan, namun itu terlihat aneh Dimata para karyawan yang ada disana, termasuk Sean yang terbengong-bengong. Gavino kembali melangkah, Dia menyadari bila Sean tak mengikutinya, dia berbalik melihat Sean yang masih mematung.


" Sean, apa kau ingin berdiri disana selamanya ?". Ujar Gavino sambil merapatkan giginya, masih mempertahankan senyumannya. Sean tersadar, lalu bergegas menyusul sang tuan muda yang sedang bertingkah aneh.


" Ada apa dengan tuan muda, mengapa dia semakin menyeramkan bila bertingkah seperti itu, lihatlah bulu kudukku sampai merinding. ".


" Iya benar, bahkan ini Pertama kalinya dalam sejarah, dia mengingatkan kita untuk sarapan".


" Iya...dia juga menyemangati kita. Apa ini tanda-tanda kita akan dipecat ?".

__ADS_1


Para karyawan berbisik-bisik, mereka benar-benar merasa aneh dan terheran-heran melihat kelakuan Gavino.


Gavino telah tiba didepan ruangannya, dia juga memberikan senyuman yang sama pada sonya, sontak saja hal itu membuat Sonya syok, lalu melirik Sean mencoba bertanya dengan bahasa tubuhnya, Sean hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.


Saat Gavino masuk, dia semakin mengembangkan senyum dengan mata berbinar, ketika melihat pajangan foto pernikahannya dengan Danira sudah menempel ditembok ruangan itu, dengan ukuran sangat besar. Lalu dia beralih, melihat foto Danira yang ada di belakang kursinya, diatas pintu, dan hampir semua dinding dipenuhi dengan foto Danira. Hanya saja foto itu, tak menampakkan wajah Danira, karena Gavino tak pernah Sudi orang lain menikmati wajah cantik istrinya. Hanya 1 buah foto yang berbeda. Foto ketika Danira hanya mengenakan cadar yang menampakkan mata indah berwarna biru, Gavino meletakkannya diatas meja kerjanya. Gavino telah mewanti-wanti tak ada yang boleh menyentuh foto-foto istrinya.


Gavino duduk, memangku dagu menggunakan tangannya, tersenyum-senyum sambil memandang mata indah Danira, lalu dia teringat mengapa dia belum mendapatkan pesan apapun dari Danira. Gavino segera mengambil ponselnya, lalu mencari mana ' my Wife ' dibarisan kontak paling atas, baru saja Gavino ingin menekan tombol panggil, ketukan pintu menghentikan jarinya.


" Permisi tuan ".


" Hhmm .."


" Saya sudah membawa orangnya ". Gavino menaikkan satu alisnya, lalu mengangguk kecil sebagai persetujuan untuk membawa orang itu masuk. Dan..


BRUK**


Seorang pria dibawa masuk, lalu didorong hingga tersungkur tepat didepan meja Gavino. Gavino kembali memasang wajah dingin dan datar, tatapan tajam seperti elang tengah mengamati mangsa yang terduduk lemas dihadapannya.


" Tuan...tolong, tolong ampuni saya. Saya tidak bersalah tuan. Saya mohon ampuni saya ". Ucap pria itu, memohon dengan deraian air mata. Gavino masih diam, terus melihat wajah pria itu.


" Kau tidak bersalah ?". Suara Gavino semakin membuat pria itu meremang, takut.


" i..i..iya tu...tu..tuan saya tidak bersalah ". Ucapnya menunduk terbata-bata, Gavino manggut-manggut.


" Kau ingin jujur sendiri, atau harus aku paksa ?". Ucap Gavino lagi sambil melepas jas dia kenakan, pria itu semakin panik, dia terus menunduk tak berani melihat Gavino.


" Saya sudah jujur tuan, bukan saya yang membocorkan desain itu ?". Jawabnya gemetar.


Hhaaahhh**


Helaan nafas kasar Gavino terdegar jelas. Gavino melirik Sean yang berdiri didekat pintu, lalu mengkat dagunya, memberi kode.


" Kau merusak suasana hatiku ". Ucap Gavino berdiri dari kursinya, lalu menggulung lengan kemejanya, menampakkan urat-urat tangannya yang kekar. Gavino berjongkok, lalu menekan rahang pria itu dengan kencang.


" Katakan, siapa yang menyuruhmu ?". Geram Gavino, menekan nada suaranya semakin mengerikan. Pria itu menutup matanya rapat, tak berani menatap mata Gavino. Gavino semakin emosi dibuatnya, dia sudah tak bisa bersabar lagi, dia berdiri...


" Oh tuhan maafkan aku, baru saja aku ingin mencoba belajar bersabar tapi sepertinya sangat sulit ". Gumam Gavino, dia berusaha dengan beristighfar sesuai yang Danira ajarkan, tapi sepertinya Gavino tidak bisa, lalu pandangan beralih ke foto Danira. " Sayang...maafkan aku. Aku belum bisa ". Ucapnya pelan.


Lalu....


BUK**


Gavino menendang tepat diwajah pria itu, hinga membuat darah segar keluar dari mulutnya.


" Masih tak ingin membuka mulut juga ?".


" Akhhh!!...ampun tuan, saya...saya mohon ampun ". mohonya, memegang kaki Gavino.


BUK*


BUK*


Gavino kembali menendang bagian perut pria itu lalu bagian dadanya.


" Kau masih ingin melindungi orang itu, baiklah, kau tau siapa aku bukan, aku bisa melakukan apa saja yang aku mau, bahkan aku bisa membunuh semua keluargamu hanya dalam hitungan detik ". Ucap Gavino, menekan sebuah tombol, lalu muncul sebuah Vidio didinding, menampilkan seorang wanita yang tengah hamil besar disana, membuat mata pria itu terbelalak kaget.


" Tuan tolong, jangan sakiti istriku. Aku mohon tuan, jangan....".


" Cihhh... Aku tidak perduli. Sean, bakar wanita itu hidup-hidup, agar pria ini tau, dia sedang berhadapan dengan siapa ". titah Gavino, dan diangguki oleh Sean.


" TIDAK....jangan tuan, saya...saya mengaku. Saya memang disuruh oleh seseorang, tapi saya tidak tau dia siapa. Dia menghubungi saya, dan menjanjikan banyak imbalan. Dia juga mengancam bila saya menolak dia akan membunuh istri saya. Saya mohon tuan tolong, tolong jangan sakiti istri dan calon anak saya...saya mohon ". Pinta meraung-raung memohon belas kasih Gavino. Gavino melirik Sean.


" Wanita atau pria ?".


" Dari suaranya dia seorang pria tuan ". Gavino mengepal tangannya, pandangannya tak beralih dari pria yang ada dibawah kakinya.


" Sean....Enyahkan manusia ini ".


......................

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2