
Gavino kembali duduk dikursinya, moodnya menjadi buruk, suasana hatinya yang tadi riang berubah menjadi hancur, yang ada hanya amarah dan amarah. Gavino mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tak berapa lama Sean pun masuk.
" Tuan...".
" Sean...aku ingin kau menangkap pria itu dalam waktu 24 jam, bila kau gagal maka kepalamu yang akan aku penggal ". Ucap Gavino tanpa mengalihkan pandangannya.
Glek**
Sean menelan ludahnya susah payah, mengapa harus kepalanya yang jadi korban. pikir Sean.
" Baik tuan ".
" Tuan, sebentar lagi jadwal meeting anda bersama Mr. Ryu Akirama. Apa anda ingin berganti pakaian dulu ?". Tawar Sean, biasanya Gavino akan berganti kemeja terlebih dahulu, bila telah menghukum seseorang.
" Tidak....tadi pagi Danira telah menyiapkan pakaian ini dengan susah payah, aku tak ingin menggantinya ". Jawabnya, lalu melihat figuran istrinya diatas meja.
" Apa Bayu telah memberi laporan, apa saja yang dilakukan istriku sekarang ?".
" Sudah tuan, Bayu mengatakan bahwa nyonya belum keluar dari pusat perbelanjaan itu, bahkan tidak ada gerak gerik yang mencurigakan disana ". Gavino hanya diam, lalu matanya beralih ke sebuah kertas laporan Sean beberapa hari yang lalu.
" Bagaimana dengan wanita itu ?". Sean tampak berfikir sejenak, wanita mana yang Gavino maksud, namun sedetik kemudian dia tahu ketika melihat Gavino mengangkat kertas ditangannya.
" Sekarang dia sedang berlibur di Bali tuan, apa anda ingin saya membawanya kehadapan anda sekarang ?".
" Tidak perlu....!!! biarkan dia menikmati sisa-sisa kebebasannya, sebelum aku menghukumnya nanti ". Ucap Gavino tersenyum sinis.
" Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta waktu itu ?".
" Sudah tuan ".
" Bagus....!! lihat saja sebentar lagi dia akan datang sendiri, dan memohon ampun dikakiku ". Semirik senyum yang mengerikan terukir dibibir Gavino, siapapun yang melihatnya pasti akan dibuat merinding.
Tok*
Tok*
" Permisi tuan, Mr. Ryu Akirama telah tiba ".Sonya memberi tahu.
" Hheemmm". Gavino berdiri, merapikan lengan kemejanya, lalu memakai kembali jas yang telah terlepas tadi. Gavino menghadap kaca, melihat bayangan dirinya disana. Sempurna.
Gavino melenggang keluar, diikuti oleh Sean dari belakang menujuh ruang meeting. Sesampainya disana, Gavino telah melihat 3 orang pria telah menunggu kedatangannya.
" Selamat datang Mr. Ryu Akirama". Ucap Gavino ramah, Mr. Ryu membalikkan tubuhnya menghadap Gavino, tersenyum.
" Terima kasih Mr. Gavino ". Jawabnya, lalu mengulurkan tangan ingin bersalaman. Gavino terdiam sejenak, keningnya berkerut, matanya menyipit melihat pria yang sedang berdiri dihadapannya. Hal itu membuat Mr. Ryu dan rekan-rekannya kebingungan melihat Gavino yang memasang wajah terkejut.
" Mr. Gavino, ada apa ?".
" Tidak, saya hanya merasa pernah melihat anda sebelumnya ". Ujar Gavino, menyambut uluran tangan Mr. Ryu.
" Ha..ha..ha...mungkin wajah saya memang pasaran ". Canda Mr. Ryu, Gavino hanya menanggapi dengan senyum simpul. Namun dikepalanya masih mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan pria ini.
" Mari, silahkan ". Ucap Sean, mempersilahkan para pria itu masuk keruang meeting.
Asisten Mr. Ryu mulai memperkenalkan diri mereka, lalu menjelaskan keunggulan-keunggulan perusahaan mereka. Perusahaan yang menciptakan sensor, pembaca kode batang, mikroskop digital Dan komponen elektronik lainnya yang sedang naik daun di negara jepang. Mereka terus mempromosikan keunggulan produk - produk mereka, agar Gavino tertarik dan mau bekerja sama. Karena Mereka tau, bekerja sama dengan Gavino akan semakin melambungkan nama perusahaan mereka yang belum terlalu dikenal.
Gavino terus memperhatikan persentasi didepan, tangannya bertumpu diatas meja, sedangkan ibu jarinya bergerak-gerak menyentuh bibirnya. Namun pikiran Gavino masih terus mencari sesuatu yang mengganjal sejak tadi. Seketika, gerakan ibu jari Gavino berhenti. Matanya langsung beralih melihat Mr. Ryu, Gavino mengingat sesuatu.......
Trig**
Ponsel Gavino berbunyi, menandakan adanya pesan masuk. Wajah Gavino yang tadi kaku, kini berubah menjadi cerah, bahkan sangat cerah dari matahari. Gavino tak bisa menyembunyikan rona bahagianya ketika membaca pesan diponselnya.
Mas Jangan lupa makan siang ya.
Sekarang aku juga sedang makan siang.
Isi pesan Danira, disertai fotonya yang sedang memegang sendok dan makanan diatas meja, lalu tak lupa ada emot berbentuk love berwarna merah dan senyuman lebar.
Ahhh istriku mengemaskan sekali, rasanya aku ingin pulang sekarang juga. memeluk dan menciumnya hinga membuatnya sulit bernafas. Batin Gavino.
Gavino tersenyum-senyum sendiri, hatinya melenyot bak kerupuk terkena angin, melempem. Sean melirik kearah tuannya, bingung mengapa tuan mudanya kembali menjadi aneh, saat Sean mengetahui alasannya dia langsung memutar bola matanya malas.
" Hekhem....Sean sudah waktunya makan siang, nanti kita lanjutkan lagi ". Bisik Gavino, meminta Sean memberi tahu kepada yang lainnya. Sean mengangguk.
" Maaf tuan-tuan, kita istirahat dulu, karena sudah memasuki waktunya makan siang ". Ujar Sean memberitahu. Dan diangguki oleh yang lain.
Gavino ingin kembali keruangannya, dia ingin segera menghubungi Danira. Aahh !!rasanya dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pulang. Namun langkah Gavino terhenti ketika mendengar suara Mr. Ryu memanggilnya.
" Mr. Gavino, bisakah kita makan siang bersama ?". Gavino tampak berfikir sejenak, sejujurnya Gavino sangat engan meski pria ini adalah rekan bisnisnya, dia ingin menelpon sang istri. Namun Gavino perlu memastikan sesuatu, sehingga Gavino mengiyakan ajakan Mr. Ryu.
Dan disini lah mereka sekarang, diruangan kerja Gavino. diatas meja telah terisi berbagai macam makanan, yang disiapkan Sonya.
" Silahkan Tuan ". Ucap Sonya, sopan.
__ADS_1
" Hheemm". Gavino hanya menjawab dengan deheman. Sonya membungkuk, lalu beranjak pergi meninggalkan kedua orang itu.
Mr. Ryu melihat sekeliling ruangan Gavino yang besar dan megah, dia sangat tepukau dengan interior ruangan ini. Suasana yang nyaman namun tetap memperlihatkan kewibawaan si pemilik, lalu pandangannya berhenti di banyaknya foto wanita yang ditutupi kain panjang diruangan itu.
" Apa itu foto kekasih anda ?". Gavino mengikuti jari Mr. Ryu yang menunjuk kearah atas pintu.
" Bukan, dia bukan kekasihku. Tapi istriku ". Jawab Gavino, sambil mengangkat tangan kananya, memperlihatkan cicin kawin.
" Wow...anda telah menikah ?, selamat Mr. Gavino. Kenapa tidak ada berita yang menyiarkan pernikahan anda ?".
" Saya tidak ingin banyak mata pria melihat istri saya ". Jawab Gavino santai. Mr. Ryu manggut-manggut.
" Sepertinya anda sangat mencintainya ?".
" Sangat...!!". Jawab Gavino, Mr. Ryu bisa melihat dari mata Gavino, ketika membicarakan istrinya maka yang akan terlihat hanya cinta di matanya, tidak seperti ketika membahas bisnis, yang terpancar hanya keangkuhan dan ambisi.
" Tapi mengapa istri anda ditutupi dengan kain, apa sebegitunya anda tidak ingin orang lain melihat wajahnya ?". Mr. Ryu penasaran, sedari tadi dia mengamati, tak ada satupun dari foto yang ada diruangan itu, menampakkan wajah istri Gavino.
" Itu salah satunya..., tapi yang jelas begitulah cara agama kami menjaga para wanita dari pandangan yang bukan muhrimnya ". Ujar Gavino asal, sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya. Dia tak suka bila ada pria lain yang mencoba membicarakan istrinya.
" Wah...saya tidak menyangka, bila seorang Gavino Pradiksa bisa mencari istri yang pandai menjaga martabatnya ". Mr. Ryu salut. Gavino menyesap segelas air putih didepannya, lalu mengalihkan tatapannya kepada Mr. Ryu.
" Mr. Ryu, bagaimana kabar putri anda ?".
" Putriku ?
...****************...
Gavino berdiri cukup lama didepan pintu penthousesnya, membuang sisa-sisa emosi yang masih menggantung dihatinya. Berkali-kali Gavino menghela nafas kasar, sebelum akhirnya dia membuka pintu lalu masuk kedalam penthouses.
Gavino membuka sepatu, kemudian menggantinya dengan sendal rumah, dia melihat televisi menyala, Gavino mendekat. Dia melihat Danira telah tertidur disofa, sepertinya dia ketiduran karena menungguku yang telat pulang. pikir Gavino.
Gavino menunduk, merapikan anak rambut yang menutupi wajah teduh Danira. Rasanya menenangkan, lelah yang Gavino rasakan seharian ini seakan sirna melihat keteduhan wajah sang istri. Gavino mengamati tubuh istrinya, seketika....
Glek**
Gavino menelan Salivanya susah payah, hawa panas mulai menyerang pembuluh darahnya, bagaimana tidak, Danira hanya menggunakan piyama tidur berbentuk dress dan kimono, panjangnya hanya setegah paha, bagian dada terbuka berenda, berwarna merah muda. Benar-benar menggoda Gavino.
Apa ini caranya memberi sambutan untuk suami yang pulang kerja. Gumam Gavino, tersenyum nakal. Gavino mendaratkan kecupan singkat dikening Danira, lalu ingin mengangkat tubuh istrinya, untuk pindah kekamar. Namun belum sempat Gavino mengangkatnya, Danira sudah lebih dulu bangun.
" Mas sudah pulang ?". Danira mengerjap-ejapkan matanya, Gavino hanya tersenyum.
" Maaf mas, Danira ketiduran ". Danira menegakkan tubuhnya, membenarkan pakaiannya yang terbuka.
" Apa mas sudah makan ?". Tanya Danira, menyentuh pipi suaminya yang terlihat lelah. Gavino menggeleng.
" Lebih baik mas bersih-bersih dulu, aku akan memanaskan makanan untuk mas, tadi aku sudah masak ". Ujar Danira lembut, ingin beranjak ke dapur. Gavino menahan tangannya, membuat Danira terduduk dipangkuan Gavino. Danira tersentak, pandangan mereka bertemu, Gavino diam menikmati pahatan wajah Danira yang indah tak pernah bosan bagi siapapun yang memandangnya, dia mengelus-elus pipi mulus itu, lembut. Lalu turun hinga kebibir.
" Apa kau sengaja menggodaku, dengan berpakaian seperti ini hhmm?". Ucap Gavino bernada rendah, terus menyentuh bibir Danira. Danira mengangguk malu-malu.
" Tadi aku membeli sebuah buku ".
" Buku ?".
" Ya...buku tentang keharmonisan rumah tangga dan tips menyenangkan hati suami ". Gavino kembali tersenyum.
" Lalu ?".
" Disana tertulis, bila seorang istri harus berpenampilan menarik dan menyenangkan seperti berhias diri, dan tersenyum manis ketika menyambut suaminya saat pulang kerja. Dan aku sedang melakukannya, apa ini terlihat aneh ?". Gavino menggeleng, lalu mengecup bibir ranum yang sedari tadi menggodanya.
" Aku suka, sangat suka ". Gavino kembali mendaratkan kecupan di leher jenjang Danira, wangi itulah yang masuk kedalam Indra penciuman Gavino. Danira memejamkan matanya, ketika merasakan desiran aneh menyebar keseluruh tubuhnya, lalu Danira membuka matanya, dia melihat mata Gavino yang telah dipenuhi kabut gairah.
" Mas ingin mandi dulu, atau ingin melanjutkan ini terlebih dahulu ?". Tanya Danira, memberi penawaran. Danira benar-benar sedang memperaktekkan apa yang dia pelajari dari buku yang dia beli, dimana didalamnya menjelaskan, bahwa Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka:
Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka.
Memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh.
Dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan.
__ADS_1
Diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di surga.
" Jadi sekarang Kau sedang memberi penawaran, sayang?". Tanya Gavino, terus mencium pipi Danira. Danira mengangguk.
" Apa sekarang istriku sudah berubah lebih agresif?". Goda Gavino, menyentuh hidung mancung Danira.
" Bukankah angresif dihalalkan bila bersama suami sendiri ?".
" Ya...sekarang kau jauh lebih pintar merayu suamimu !!".
" Jadi sekarang Daniraku sedang menginginkannya hhmm?". Gavino membelai rambut panjang Danira.
" Mas jangan begitu, aku malu ". Ujar Danira, wajahnya bersemu merah. Menunduk menyembunyikan wajahnya.
" Mengapa harus malu, bukankah semuanya sudah menjadi milikmu, kau bebas menginginkannya kapanpun itu ".
" Iya aku tau, tapi jangan mengatakannya dengan gamblang seperti itu, itu sangat memalukan ". Ucap Danira, menutupi wajahnya yang merah, menggunakan kedua tangannya, membuat Gavino semakin gemas dan tergelak.
Gavino membuka tangan Danira, lalu mengangkat dagu Danira hinga dia bisa melihat paras indah itu. Cantik, sangat cantik. Gumamnya pelan.
Mereka kembali terdiam saling tatap, yang ada hanya suara detakan jantung yang saling bersautan. Perlahan Gavino kembali menyatukan bibir mereka, mengecapnya sangat lama, lalu menempelkan kening satu sama lain.
" Katakan bila kau mengiginkannya !!". Ucap Gavino. Danira diam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, melihat mata Gavino yang terlihat sayu dan mendamba.
" Aku menginginkan syurga dan keutamaannya saat kita melakukan hubungan jimak ". Ucap Danira, lalu dia mulai mengalungkan tangannya ditengkuk Gavino. Seperti mendapatkan persetujuan, Gavino langsung menyambar bibir ranum candunya, mengangkat tubuh danira masuk kedalam gendongannya seperti bayi koala, melangkah masuk kedalam kamar tamu yang ada disana tanpa melepaskan panggutan nya, lalu kaki Gavino menendang pintu hinga tertutup sempurna.
***
Danira sudah berdiri didepan kompor, dia sedang memanasi lauk dan sayur untuk Gavino. Gavino yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan wajah sumringah, Dia telah selesai mandi dan berganti pakaian rumahan, dia langsung menghampiri Danira dan memeluknya dari belakang.
" Mas duduk saja, aku hampir selesai ". Danira mulai meletakkan masakannya kedalam piring. Gavino pun menurut, dia duduk di kursi makan. Pandangannya tak pernah lepas dari Danira.
Danira mulai meletakkan nasi dan lauk didalam piring, lalu meletakkannya dihadapan Gavino. Tanpa bertanya masakan apa yang Danira hidangkan, Gavino langsung menyantap makannya dengan lahap.
" Apa seenak itu mas ?". Tanya Danira, tercengang melihat Gavino makan dengan sangat lahap.
" Sangat...!!" Terus memasukkan suapan demi suapan kedalam mulutnya, masakan Danira memang sangat enak dan cocok dilidah Gavino . Danira tersenyum senang.
" Sepertinya mas sangat sibuk hari ini ?". Tanya Danira, dan diangguki oleh Gavino.
" Iya, ada beberapa meeting dan juga menyelesaikan tumpukan dokumen yang harus aku tanda tangani ".
" Bagaimana denganmu, apa tadi menyenangkan disana ?". Gavino bertanya, sambil memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya. Danira terdiam sesaat, lalu mengukir senyum terpaksa dibibirnya.
" Ya...". Singkatnya.
" Mas....kapan mami kembali kesini ?". Tanya Danira pelan, setelah melihat suaminya telah selesai makan.
" Kenapa, apa kau merindukan bayimu ?". Ujar Gavino, meletakkan gelas diatas meja. Danira mengangguk. Menunduk. Matanya kembali memanas, ingatannya kembali mengingat informasi dari Sarah tadi siang. Buru-buru Danira mengambil piring dan gelas kotor Gavino, lalu menyimpannya di wastafel. Dia tak ingin Gavino melihat air matanya yang sudah meluncur dari genangannya.
Merasa ada yang aneh, Gavino Bagun dari duduknya mendekati Danira.
" Ada apa ?". Gavino memutar tubuh danira, agar menghadap kepadanya. Danira semakin menundukkan kepalanya. Gavino menangkup wajah Danira, tangannya terasa basah, dia menangis. Dengan cepat Gavino mengangkat wajah istrinya.
" Ada apa ?, mengapa kau menangis ?, apa ada yang menyakitimu hah ?, atau ada yang berkata kasar padamu tadi ?, katakan padaku, siapa yang melakukannya ?, aku akan buat perhitungan bagi siapapun yang telah berani membuat istriku menangis ". Sungut Gavino, dia terkejut melihat Danira tiba-tiba menangis tanpa sebab, hatinya menjadi cemas dan panas.
Tanpa aba-aba Danira memeluk tubuh gavino erat, dia melingkarkan tangannya dipinggang sang suami. Danira menangis sejadi-jadinya, dia tak bisa membendungnya lagi. Danira sudah berusaha menahan rasa sesak didadanya, tapi dia tetap butuh tempat, tempat untuknya menumpahkan segala kesesakan dihatinya, dia butuh Gavino.
Gavino tetap diam, membiarkan Danira menyelesaikan segala tangisnya, meski hatinya perih berselimut penasaran, namun Gavino tahan.
" Sayang....?!". Elus Gavino dikepala Danira.
" Mas....aku ingin Khalisa, aku ingin bertemu bayiku...Hiks..Hiks...Hiks...!!". Ucap Danira sesegukan.
" Besok mami pulang, kau akan segera bertemu dengan bayimu ". Ucap Gavino lembut. Danira semakin mengeratkan pelukannya.
" Mas....hiks, hiks...Maaf,!! mungkin saat ini mas bertanya-tanya. Tapi bolehkah Danira meminta waktu. Meminta pengertian mas Gavin, agar memberikan waktu bagi Danira. Saat ini Danira belum siap menceritakan semuanya pada mas Gavin, tapi Danira janji suatu hari nanti Danira akan mengatakan semuanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Danira hanya meminta, agar mas Gavin mau bersabar sampai hari itu tiba. Ujar Danira disela tangisnya.
Gavino diam, mencoba mengurai setiap kata yang Danira ucapkan, alisnya mengeryit, kebingungan dan rasa penasaran semakin menjadi. Tapi mendegar permohonan Danira, Gavino menyadari kali ini dia tak boleh egois, dia harus memberikan ruang untuk privasi Danira, meski Danira telah menerimanya sebagai suaminya kembali. Namun Gavino menyadari, bila hati Danira belum 100% mempercayainya, masih ada keraguan dalam diri Danira padanya, Gavino tak menyalahkan Danira, kesalahan ada padanya. Kesalahan yang lalu pasti masih membekas hingga saat ini. Dia tak akan memaksa, dia akan menunggu hinga Danira siap mengatakan segalanya.
Danira istriku...aku akan menunggu sampai kau siap menjadikanku tempat bersandar ternyamanmu.
Tempat dimana kau mau mencurahkan segalanya, Aku siap menunggu hinga keraguan sirna dari hatimu.
......................
...Bersambung......
__ADS_1