
Gavino dan Danira sudah berada didalam sebuah helikopter. Gavino memilih tidak melewati jalur darat, dia ingin lebih cepat sampai ke bandara. Tak berapa lama helikopter yang membawa mereka sampai dilapangan landasan bandara internasional Supadio Pontianak Kalimantan barat, mereka turun lalu Gavino meraih tangan Danira, mengenggamnya. Mereka berjalan menujuh private jet milik Gavino yang telah siap lepas landas, mengantarkan mereka pulang kejakarta.
" Mas kenapa kita pulangnya buru-buru sekali, bahkan aku belum sempat berganti pakaian ". Tanya Danira, yang kini telah duduk dikursi kabin, berhadapan dengan gavino. Mereka berdua masih menggenakan setelan baju pengantin saat menikah tadi.
" Aku harus segera sampai Jakarta, bukankah aku sudah mengatakan padamu, bila sahabutmu melakukan peluncuran produk baru mereka hari ini, aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apa yang menjadi milikku". Jelas Gavino, sambil melihat layar tab yang ada ditangannya. Danira memilih diam, bila dia mencoba membuka suara tentang hal ini. Sudah bisa Danira pastikan, Gavino akan kembali tersinggung, merasa Danira lebih memihak pada perusahaan sahabatnya.
Suara pemberitahuan bila pesawat yang mereka gunakan akan segera lepas landas, mereka diharapkan mengunakan sabuk pengamannya. Danira duduk dengan Tenang, namun pikirannya pelayang entah kemana, dia masih tergiang dengan semua cerita Oma Laras tentang keluarganya.
Rasanya aku masih tak mempercayai ini, mengapa berita ini baru aku ketahui sekarang. Ya Allah, kak Shena.......tapi aku tak perduli, meski dia bukan kakak kandungku, aku sangat menyayanginya, aku akan selalu melindungi anaknya. Batin Danira, pandangannya terus mengamati awan-awan diluar jendela.
Gavino masih sibuk bertukar pesan dengan sean, terkadang memeriksa email-email yang masuk. Danira yang merasa perutnya sakit, beranjak dari tempat duduknya menujuh toilet, tanpa memberitahu Gavino. Dia juga ingin membasuh wajahnya yang sembab. Setelah hampir setegah jam, Gavino baru menyadari bila Danira sudah tidak berada dihadapannya. Gavino celingak-celinguk melihat kedepan dan kebelakang mencari sosok istrinya, namun dia tak melihat siapapun.
" Kemana dia ?". Gumam Gavino, meleletakkan Tab dan membuka sabuk pengaman dari pinggangnya. Gavino berdiri, lalu menujuh kamar yang ada didalam pesawat itu. Namun Danira tak ada disana, lalu dia menujuh toilet.
Tok
Tok
Tok
" Danira, apa kau didalam ?". Panggil Gavino, tapi tak ada sautan. Gavino mencoba menggeser pintu toiletnya, namun terkunci dari dalam.
" Danira ?".
" Danira, apa kau disana ?, Danira buka pintunya ". Ketuk Gavino semakin kencang, lagi-lagi Gavino tak mendengar jawaban, Gavino menjadi panik. Dia terus menggedor pintu baja itu sangat keras, membuat 2 orang peramugari mendekat.
" Ada apa tuan ?". Tanya mereka penasaran, apa lagi melihat wajah panik Gavino.
" Istriku ada didalam, sudah setegah jam berada didalam sana ".
" Cepat Cari benda apa saja yang bisa membobol pintu ini ". ujar Gavino memberi perintah, kedua peramugari itu saling tatap, diam sejenak.
" Kenapa kalian diam saja, apa kalian tidak mendegar perintahku hah?". Bentak Gavino marah melihat kelambanan kedua orang ini.
" Ba..ba..aik tuan ". Namun belum sempat mereka pergi, suara kunci pintu terbuka.
Klek*
Pintu toilet itu terbuka, Danira keluar dari dalam, Dia menautkan alisnya bingung melihat suaminya berada didepan pintu toilet bersama dua orang peramugari dengan wajah panik.
" Mas disini ?". Tanya Danira terkejut, Gavino langsung menarik danira kedalam pelukannya.
" Kenapa kau lama sekali didalam ?, mengapa tak menjawab panggilanku ?, apa kau tau betapa khawatirnya aku hah?". Ujar Gavino bernada keras, dia benar-benar khawatir, takut bila Danira tiba-tiba pingsan didalam sana.
" Maaf mas, Danira tidak mendengar ". Jawab Danira, tanpa diduga Gavino mengangkat tubuh danira lalu membawanya kedalam kamar pesawat, kedua peramugari tadi hanya tersenyum melihat tingkah tuan muda mereka.
" Tuan muda sangat menghawatirkan Nyonya, dia sangat mencintai istrinya ". Ujar seorang peramugari pada rekannya.
" Ya kau benar.....sangat terlihat dari wajahnya yang cemas ". Jawab rekannya lagi.
Didalam kamar, Gavino menurunkan Danira diatas tempat tidur yang berwarna putih nan empuk. Gavino melihat Danira sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana.
" Mengapa kau tidak bilang jika mau ke toilet ?, apa saja yang kau lakukan didalam sana, sampai setengah jam tidak keluar. Apa kau tidak bisa menjawab 'Iya' ketika aku memanggil mu tadi hah?, apa kau tau, aku hampir saja menghancurkan pintu itu". Omel Gavino kesal. Danira menunduk merasa bersalah.
" Maaf mas, tadi Danira lihat mas sangat sibuk, jadi Danira tidak mau menganggu waktu mas Gavin ".
" Danira juga tidak mendengar panggilan mas Gavin, perut ku sakit makanya lama. Maaf sudah membuat mas Gavin khawatir begini ". Ujar Danira bergetar, siap menangis. Gavino menghela nafas kasar, lalu berjongkok didepan Danira.
" Hhhaahh...!!! maafkan aku, aku tidak bermaksud mengabaikanmu tadi. Aku hanya sedang menyelesaikan masalah yang sedang terjadi diperusahaan, hingga aku tidak sadar telah mengabaikanmu lagi. Aku tidak bermaksud memarahimu, Danira aku sangat takut bila terjadi sesuatu dengan mu didalam sana. tolong jangan lakukan ini lagi hhhmmm?". Ujar Gavino menyentuh pipi Danira, lalu mengelusnya lembut. Danira menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
" Apa perutmu masih sakit ?". Danira menggeleng pelan. Gavino terus menatap Danira, kian dalam. Danira memalingkan pandangannya, dia malu bila Gavino telah memandangnya seperti itu.
" Bolehkah aku membukanya sekarang ?". Tanya Gavino meminta ijin, Danira kembali mengangguk sebagai jawabannya. Gavino perlahan menarik tali yang ada dibelakang kepala Danira, dan ingin membukanya......
Tok*
Tok*
Tok*
" Permisi tuan, maaf.... sebentar lagi pesawat akan Landing, Tuan dan Nyonya diharapkan kembali kekursi". Suara seorang wanita dari luar sana, menghentikan tangan Gavino yang sedikit lagi membuka penutup wajah Danira. Gavino mengeram, kesal. Lagi-lagi dia gagal melihat wajah istrinya, Danira yang paham dengan mimik wajah Gavino, kemudian menyentuh tangan suaminya.
" Tidak apa, bukankah nanti sesampainya dirumah, mas bisa membukanya ". Ujar Danira, mencoba menenangkan kekesalan Gavino. Gavino mencebik bibirnya kesal, lalu berdiri, kemudian dia mengulurkan tangannya.
" Baiklah, aku akan menunggu sampai kita tiba dirumah nanti, tapi sebelum itu kita akan mampir ke perusahaan dulu, tidak apa kan ? ".
" Iya mas, tidak apa-apa". Ujar Danira, menerima uluran tangan Gavino. Gavino mengandeng tangan Danira keluar dari kamar. mereka kembali duduk dikursi kabin.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, pesawat yang membawa pasangan suami istri itu mendarat dengan selamat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana, apalagi dengan kostum yang mereka kenakan, terlihat paling mencolok diantara ratusan orang yang berlalu lalang.
" Kau tunggu disini sebentar, aku akan menghubungi Sean dulu. Ingat jangan kemana-mana, jangan membuatku khawatir seperti tadi lagi ". Ujar Gavino memberi peringatan pada Danira, Danira hanya tersenyum lalu mengangguk patuh. Gavino pergi meninggalkan Danira, yang duduk dikursi tunggu bandara.
Di saat Danira memperhatikan orang-orang kesana kemari dari balik Burqanya, tiba-tiba matanya tertujuh pada seseorang yang tak asing baginya, Danira berdiri lalu mendekati pria yang tegah melakukan panggilan telpon itu.
" Mas Aryo?". Panggil Danira pelan, pria yang Danira sebut Aryo memutar tubuhnya melihat keasal suara.
" Ya...". Jawab pria itu, lalu memperhatikan Danira dari atas sampai bawah.
" Nanti aku menghubungi mu lagi ". Ujarnya, lalu mematikan ponsel kemudian menyimpannya kedalam saku jasnya.
" Maaf....!! Tapi saya tidak mengenali anda, karena saya tidak bisa melihat wajah anda ". Ujar Aryo tersenyum ramah.
" Aku....aku Danira mas, adiknya kak Shena ".
DEG*
Pria yang bernama Aryo itu tersentak kaget, mendengar mana wanita yang baru disebutkan Danira. Dia memelototkan matanya, bibirnya yang tadi tersenyum berubah kaku. Pikirannya terbang kebeberapa bulan yang lalu, dimana dia meninggalkan seorang wanita yang tengah hamil besar, dengan alasan perjalanan bisnis keluar negri.
" Mas Aryo kemana saja, mengapa tidak pernah mencari kak sh....".
" Apa kau benar Danira, a..aaddik Ayunda Shena Narendra?". Tanya Aryo memastikan lagi".
" Iya aku Benar Danira, mas Aryo masih ingat aku kan ?". Tanya Danira, Aryo mengangguk namun dari wajahnya terlihat kebingungan. Dia mengenal Danira, meski tak pernah bertemu secara langsung, tapi disaat Shena melakukan panggilan video call, beberapa kali Aryo turut serta berbicara dengan Danira. Dia selalu mengikuti peraturan dari Shena bila tegah menelpon Danira.
" Tapi bagaimana bisa kau....!!".
" Mas Aryo tak perlu tau semua ceritanya, tapi yang aku ingin tau mengapa mas Aryo tak pernah datang mencari kak Shena dan juga anak mas Aryo ". Ujar Danira langsung, menyela ucapan Aryo. Aryo kembali menegang, mendengar kata ' anak ' disebutkan.
" A..a..anak ?, a..a..apa maksudmu Shena telah melahirkan ?". Tanya Aryo terbata-bata, perasaannya menjadi tak tenang.
" Tentu, bahkan sekarang dia telah berusia 1 tahun, tapi kenapa mas Aryo tidak pernah mencarinya. Apa mas Aryo tau apa yang sudah terjadi pada kak Shena? ". Aryo terdiam, dia masih berusaha mencerna ucapan Danira, Haruskah dia merasa senang, atau sebaliknya. Aryo gelisah. Dia tidak tau harus menunjukkan ekspresi apa atas berita yang baru dia terima.
" Dimana mereka sekarang ....?". Tanya Aryo, mencoba menenangkan rasa gemuruh dalam dadanya.
" Kak Shena telah meninggal saat melahirkan dan bayinya Alhamdulillah sehat, sekarang dia ada padaku, aku memberinya nama Khalisa Ayunda Narendra. Apa mas Aryo benar-benar tidak tau ?". Danira terus memberikan pertanyaan yang sama pada Aryo, dia melihat ada rasa senang, sedih takut dan cemas diwajah Aryo.
" Aku.....".
__ADS_1
" Daddy...?" Panggil seorang anak kecil bergaun biru laut, dengan rambut kepang dua, berlari mendekat kearah Aryo, lalu memeluk kaki Aryo. Danira melihat gadis kecil itu yang mungkin berusia 7 tahun dan Aryo secara bergantian.
Mengapa wajah anak ini sangat mirip dengan....Batin Danira, lalu menutup mulutnya syok.
" Maaf Danira, aku harus pergi dulu. Aku akan menemuimu untuk menjelaskan semua ini, dan aku juga ingin mengetahui semua yang kau katakan tadi". Ujar Aryo pergi begitu saja, sambil menggendong gadis kecil yang lucu. Danira masih mematung ditempatnya, dia Tak menyangka, ternyata akan bertemu dengan suami kakaknya, tapi yang membuatnya terkejut adalah, seorang gadis kecil memanggilnya dengan sebutan Daddy.
Dari jauh Gavino melihat interaksi Danira dengan Aryo, meski dia tak bisa mendengar percakapan mereka. Tapi Gavino bisa melihat, pria itu seperti pernah memiliki hubungan dengan istrinya. Hati Gavino merasa panas, bahkan rahangnya mengeras menahan amarah. Dia melangkah menghampiri Danira
" Siapa dia ?". Tanya Gavino, mendengar suara suaminya, Danira kembali tersadar dari lamunannya.
" Siapa ?". Tanya Danira balik.
" Pria yang berbicara denganmu tadi ?". Ketus Gavino.
" Oh...dia mas Aryo, ayahnya Khalisa ". Ujar Danira jujur.
Dam*
Perasaan cemburu semakin membuncah, ketika mendengar Danira mengucapkan kata 'Ayah Khalisa ' dengan santai. Gavino membuang muka, lalu berbalik memunggungi Danira, tangannya mengepal gusar.
Berengsek....jadi dia pria pertama Danira ?, ayah dari anaknya. Kurang ajar, mengapa dia harus muncul sekarang. Batin Gavino geram bercampur cemburu.
" Ayo kita pulang sekarang ". Ketus Gavino, berjalan mendahului Danira, dia tak lagi menggandeng tangan Danira seperti tadi. Tanpa menyadari perubahan sikap Gavino, Danira hanya mengangguk, mengikuti langkah sang tuan muda yang tegah terbakar api cemburu dari belakang.
Kemudian mereka masuk kedalam mobil Rolls Royce yang telah menunggu mereka di lobby bandara. Mobil itu melaju, menujuh keperusahaan Gavino. Pasangan suami istri itu sama-sama diam. Gavino sibuk dengan rasa cemburunya, Danira sibuk dengan banyaknya pertanyaan didalam pikirannya.
Astaghfirullah Ya Allah, apa lagi ini, mengapa mas Aryo sangat terkejut mendengar nama kak shena, lalu gadis kecil tadi siapa ? mengapa dia memanggilnya dengan sebutan Daddy, apa itu artinya anak itu juga anak mas Aryo, jika benar berarti mas Aryo memiliki anak selain Khalisa. Batin Danira menerka-nerka, Danira meremas tangannya, seketika rasa amarah uncul dihatinya, membayangkan jika tebakannya ini benar. Gavino melirik Danira yang duduk sedikit gelisah.
" Apa kau masih menyukainya ?". Tanya Gavino, tanpa melihat Danira.
" Hah ?". Danira bingung.
" Cciiihhh...kau pura-pura tidak mengerti, jujur saja apa kau masih menyukainya, hingga membuat mu menjadi tak tenang seperti ini ". Tuduh Gavino mulai menaikkan nada suaranya.
" Maksud mas apa, aku tidak mengerti ?". Danira benar-benar tidak mengerti, mengapa Gavino menjadi marah seperti ini. Apa dia telah membuat kesalahan. pikir Danira.
" Pria tadi, mengapa dia menemuimu ?, apa dia ingin mengajakmu kembali?". Kini Danira paham, apa yang membuat suaminya ini tiba-tiba menjadi marah, apa dia cemburu. pikir Danira.
" Dia tidak menemuiku mas, apalagi mengajak kembali seperti yang mas pikirkan. karena kami berdua tidak pernah ada hubungan apa-apa. Aku yang datang menghampirinya, aku hanya ingin memberi tahu bila bayinya telah lahir, dan menyanyakan mengapa dia tak pernah mencari keberadaan anak dan ist...". Ucapan Danira terpotong dengan suara ponsel Gavino yang berdering. Dengan segera Gavino mengangkat telpon dari Sean.
" Bagaimana ?".
" Mereka telah meluncurkan produk terbaru mereka tuan ". Ujar Sean dari seberang telpon, Gavino yang tegah dikuasai amarah, semakin emosi dengan berita yang baru saja dia terima.
" BERENGSEKKKK....beraninya mereka ". Teriak Gavino, membuat Danira dan supir yang ada disana tersentak mendengar suara Gavino yang keras.
" Siapkan semua yang aku perintahkan kemarin, sebentar lagi aku akan sampai dikantor ". Ujar Gavino.
" Tapi tuan ".
" Apa lagi, tidak ada tapi-tapi lakukan saja apa kataku ". Ketus Gavino.
" Tapi mereka meresmikan produk tidak menggunakan desain milik kita, mereka menggantinya dengan milik mereka sendiri ". Jelas Sean, memberi tahu apa yang baru saja dia lihat. Bila perusahaan Radenayu Group tidak menggunakan desain produk milik Gavino.
" APA ?. Gavino melirik Danira, yang melihat keluar jendela.
......................
...Bersambung........
__ADS_1