
Diperjalanan, Sean dan Sarah saling diam, tak ada percakapan diantara mereka, mereka hanya fokus melihat jalan. Sean yang fokus dengan kemudi, Sarah duduk tegap dengan pandangan lurus kedepan. sesekali Sean melirik Sarah, dari balik kaca mata hitamnya.
Apa wanita ini pernah ikut wajib militer, kenapa duduknya tegap sekali. Bahkan tatapannya lebih dingin dan datar. Batin Sean.
" Lebih baik anda fokus melihat jalan, saya tidak ingin mati atas kelalaian anda, dan berhentilah berpikir yang macam-macam tentang saya. Saya tidak pernah ikut wajib militer seperti yang anda pikirkan". Ucap Sarah tegas, tanpa basa basi. mendengar ucapan Sarah, Sean terperagah, terkejut.
" Bagaimana anda tau, apa anda memiliki kekuatan supranatural, yang bisa membaca isi pikiran seseorang ?". Tanya Sean, Sarah memilih diam, tak ingin terlibat percakapan bersama Sean.
" Hekhem...boleh saya bertanya sesuatu ?".
" Tidak ". Jawab Sarah cepat. Sean dibuat semakin terperangah dengan jawaban Sarah. Sean kembali diam, tak ingin memulai percakapan lagi. Suasana didalam mobil itu semakin dingin, karena ditumpangi oleh dua manusia es.
Setelah menempuh perjalanan setegah jam, mereka berdua telah sampai di sebuah pergudangan tua, dikawasan tak berpenghuni. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Bayu.
" Selamat datang bos ". sambut Bayu, menundukkan sedikit kepalanya. Dan diangguki oleh Sean. Bayu mengalihkan pandangannya kepada sosok wanita yang ada dibelakang sean.
" Siapa ini bos, calon Nyonya ya bos ?, anda pintar sekali mencari calon istri bos. Dia sangat cantik, sepertinya karakter kalian sama, sama-sama dingin dan datar Ibaratnya kalian ini pasangan Es Balok dan Es Serut Jadi kalau kalian berdua memiliki anak, maka anak kalian menjadi es campur atau es teler. Tidak seperti tuan Gavino, punya istri tidak bisa dilihat rupanya seperti apa, kan saya jadi penasaran ". Ucap Bayu, tanpa filter.
DUK **
"Aawwww...!!". Pekik Bayu merasa nyeri dan kesakitan, dia mengagkat setengah kakinya memegang tulang keringnya yang ditendang oleh Sean.
" Kau terlalu banyak bicara, lebih baik cepat kau tunjukkan dimana para cecunguk itu ". Ketus Sean, Sarah hanya diam melihat interaksi kedua orang yang ada didepannya ini. Dia tak ingin terlibat apapun, dia tetap fokus pada tujuan awalnya ingin ikut kesini bersama Sean.
" Iya iya, mereka ada didalam..., anda terlalu sekali bos, tulang ku rasanya patah ". Sungut Bayu, masih merasa kesakitan. Mereka bertigapun mulai memasuki bangunan tua itu. Didalam, mereka melihat para pria dengan postur tubuh besar duduk diatas kursi yang berjejer, dengan wajah sudah babak belur, tangan dan kaki terikat.
" Apa mereka sudah mengaku siapa yang menyuruh mereka ?".
" Belum bos, mereka tidak ada yang mau membuka mulut sedikitpun ". Ujar Bayu, Sean kembali melihat para pria itu.
" Kau bilang, orang-orang yang menyerang tuan dan Nyonya ada sekitar 20 orang, tapi mengapa ini hanya ada 11 orang ?, apa yang lainnya kabur ?".
" Tidak bos, 9 dari mereka sudah mati, terbunuh oleh orang-orang dari Radenayu Group ". Mendengar penjelasan dari Bayu, Sean langsung memutar kepalanya melihat Sarah yang berdiri disampingnya. Sarah tatap terlihat tenang, tak perduli dengan tatapan tanya Sean padanya. Sean lalu mengalihkan Lagi pandangannya kepada seorang pria, yang tak lain adalah ketua geng. Sean berjalan mendekatinya, dia menarik kursi lalu duduk didepan pria itu.
" Apa kau akan tetap bungkam tak ingin memberitahu siapa orang yang menyuruhmu ?". Suara Sean, terdengar sangat menyeramkan membuat seapapun yang mendengarnya bergidik ngeri, tapi tidak dengan ketua geng itu. Dia malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Sean.
" HA..HA..HA..HA..., kau benar-benar bodoh apa tuli hah, HA..HA..HA. sudah jelas-jelas anak buahmu mengatakan bahwa kami tidak ingin mengatakan siapa bos kami, kenapa kau masih bertanya pertanyaan yang tidak penting seperti itu. Dasar Bodoh......HA..HA..HA ". Tawanya terus mengejek Sean, Sean hanya diam, tak terpancing dengan ejekan si ketua geng. Dia menegakkan tubuhunya lalu menyandarkan punggung disandaran kursi, menyilangkan kaki dan melipat tangannya didepan dada.
" Sepertinya kau bahagia sekali disini, apa kau tidak takut aku berbuat sesuatu yang lebih mengerikan dari yang anak buahku lakukan padamu?". Ujar Sean dengan tatapan mengintimidasi, namun dibibirnya tersenyum sinis, penuh misteri.
" Cccuuiihhh...!! kau pikir aku akan takut dan membuka mulutku bila kau mengancam aku dengan ancaman remeh seperti itu hah ?, bahkan aku rela mati dari pada harus ingkar janji pada bosku ". Sean semakin melebarkan senyum misteriusnya, membuat si ketua geng dan anak buahnya mulai merasakan hawa yang berbeda disana.
" Ternyata kau pengikut yang setia juga yah...wah, wah, wah. Aku sungguh salut mengetahui ini, tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu ". Ujar Sean santai, sambil mengelus-elus bulu-bulu harus di dagunya.
CTEK **
Sean menjentikkan jarinya keatas, seketika tembok kosong yang ada disisi kiri mereka menampilkan rekaman Vidio aktivitas sehari-hari seorang anak dan wanita yang sedang duduk di teras rumah. Semua mata Yang ada disana beralih melihat kearah Vidio, kecuali Sean dan Sarah, mereka berdua terus mengamati ekspresi yang ditampilkan para penjahat yang ada dihadapan mereka ini.
__ADS_1
" Apa kau mengenali mereka ?". Tanya Sean pada ketua geng, sang ketua mengalihkan perhatian melihat Sean lagi. Ekspresi nya terlihat Syok, matanya memerah penuh amarah. Namun dengan cepat dia berusaha mengontrol emosinya.
" Tidak...aku tidak mengenali siapa mereka. Jika kau ingin mengancamku dengan orang-orang yang ada dividio itu, kau salah besar. Karena mereka bukan anak dan istriku ".
" Aku tidak menanyakan apakah mereka itu anak dan istrimu, aku hanya bertanya apakah kau mengenali mereka. Tapi sepertinya dari jawabanmu aku sudah tau ". Ucap Sean. Si ketua geng membuang pandangannya kesembarang arah, tak ingin melihat tatapan Sean yang terus mengintimidasinya. Ditembok itu, terus saja menampilan berbagai macam Vidio dari beberapa keluarga.
" Apa kalian yakin masih ingin tutup mulut ?, baiklah lakukan saja. Tapi kalian sudah lihat bukan video-video itu, aku yakin kalian mengenali orang-orang yang ada dilayar tadi. Dan aku bisa membunuh mereka sekarang dengan hanya menjentikkan sekali saja jari ini, maka mereka semua akan menjadi mayat ". Ujar Sean penuh penekanan, mendengar itu membuat beberapa penjahat yang ada didepannya semakin tak tenang, Cemas.....
Sarah yang sedari tadi hanya diam mengamati para pria itu. Kini mulai geram dengan kebisuan para penjahat yang lainnya, dia melangkah mendekati salah satu penjahat yang menampilkan wajah ketakutan sambil menunduk. Sarah berdiri tepat didepan pria itu, sambil memasang sarung tangan karet berwarna hitam ditangan kanan dan kirinya. Sean menaikkan sebelah alisnya melihat Sarah.
Apa yang wanita ini ingin lakukan. Batin Sean.
" Kau tidak ingin mengatakan siapa yang menyuruh kalian ?". Tanya Sarah sudah berjongkok didepan pria itu, si pria melihat Sarah dengan wajah ketakutan. Dia masih bungkam.
" Tenang saja, kau tak perlu takut. Aku tau kau menghawatirkan istrimu yang tegah hamil tua bukan ?". Pria itu makin terkejut mendengar ucapan Sarah. Dia mengangkat wajahnya yang penuh luka melihat Sarah, dengan peluh membasahi dahinya.
" Kau tenang saja, istri dan calon bayimu akan aman dan selamat jika kau memberitahuku siapa dalang semua ini...hhmm, bagaimana ?". Pria itu tampak berfikir, tangannya gemetar, sesekali dia melirik bosnya yang melotot melemparkan tatapan ancaman. Sarah menyadari hal itu, diapun ikut lihat kearah ketua geng.
" Kau tak perlu takut, aku akan menepati janjiku bila kau mau mengatakan yang sebenarnya ".
" Se..Se..seben....."
" Jangan pernah mau terpancing dengan ucapannya BODOH...!!, dia berbohong, dia tidak akan melindungi keluargamu, kau jangan mau buka mulut ". Teriak ketua geng, mendengar itu membuat Sarah semakin geram, dia sudah tak bisa menahannya lagi. Dia mengeluarkan sesuatu dari punggungnya, Dan......
DOR*
" Calon istrimu sungguh kejam bos, dia mengerikan sekaligus memukau ". Bisik Bayu ditelinga Sean. Sean hanya memicingkan matanya tak suka mendengar ucapan Bayu. Melihat ekspresi wajah dingin Sean, Bayu buru-buru membenarkan posisi berdiri dengan tegap dibelakang Sean, seperti semula.
" Jadi kau ingin melihat aku menembakkan isi pistol ini kekepala ketuamu, atau kekepala ist....".
" Jangan....Jangan...Jangan...aku mohon, tolong lindungi istri dan calon anakku. Mereka tidak salah, aku akan mengatakan yang siapa orang yang menyuruh kami ". Potong pria itu cepat, tak ingin Sarah menyelesaikan ucapannya.
" A..a.aaku memang belum pernah melihatnya secara la..langsung, tapi beberapa kali aku mendengar ketua tegah Vidio call dengan wanita itu, suaranya serak, dia masih muda, dibelakangnya ada seorang pria juga yang ikut memerintah untuk kami membawa wanita bercadar itu, tapi untuk yang menembak suaminya, a..a.aku tidak tau, itu bukan dari anggota kami ". Jelas pria itu terbata-bata, gemetar terus menunduk. Sarah terus mendengarkan ucapan pria itu.
" Apa kau pernah mendengar namanya ?". Tanya Sarah lagi. Pria itu menggeleng samar.
" Aku tidak mendengar jelas, tapi ketua sering menyebutnya dengan sebutan bos Zi ".
" Bos Zi ?" Ulang Sarah, pria itu mengangguk.
" Aku sudah mengatakan semua yang aku tau, jadi tolong jangan nganggu keluargaku ". Pintanya terus memohon pada Sarah, Sarah berdiri dan berbalik badan memunggung pria itu, sambil memasukkan pistolnya kedalam blazer.
" Kau tenang saja, keluargamu aman. Dan anakmu akan lahir dengan selamat ". Ujar Sarah, membuka sarung tangannya berlalu pergi menujuh pintu keluar gedung tua itu. Sean dengan segera menyusul Sarah.
" Kau mau kemana ?". Tanya Sean, yang sudah belahan dibelakang Sarah.
" Pulang ".
__ADS_1
" Apa kau mengetahui siapa yang mereka maksud bos Zi ?".
"Sudah "
"Siapa ?".
" Saya rasa anda juga sudah tau siapa wanita itu, bukankah Anda pria yang cerdas dan peka tuan Sean ". Ucap Sarah, melirik Sean sekilas lalu beralih ke arloji yang ada ditangannya. Sean tampak berfikir sebentar, lalu dia seakan menemukan siapa orang dibalik nama itu.
" Tapi bagaimana mungkin dia ?". Sean masih tak percaya, bila benar ini perbuatannya, kenapa ?, apa alasannya ". Pikir Sean.
" Tidak ada yang tidak mungkin, bila cinta sudah berganti dengan obsesi ". Jelas Sarah, bernada tegas penuh amarah.
" Saya yakin anda pernah menaruh curiga padanya bukan, bahkan anda juga pernah menyelidikinya secara diam-diam, dibelakang tuan anda. Tapi hasilnya nihil ?". Sean tampak terkejut dengan tebakan Sarah yang benar adanya.
" Biar saya beritahu sedikit rahasianya, anda tidak akan bisa melihat siapa dia sebenarnya. karena keamanan datanya dilindungi oleh seseorang yang berkuasa di satu negara. Lalu data yang anda temukan itu hanya data palsu yang dia tampilkan. Sebenarnya ini bukan ranah saya memberi tahu tentang rahasia seseorang, tapi karena dia sudah berani mengusik nona, maka diapun menjadi lawan saya". Sean semakin mengerutkan dahinya, mendengar setiap kata-kata yang Sarah ucapkan. Ada rahasia, disetiap kalimat yang Sarah lontarkan.
" Bagaimana kau bisa tau semua itu ?". Tanya Sean menyelidik.
" Anda tidak perlu saya tau dari mana, yang jelas saya tidak akan tinggal diam, karena dia sudah berani menganggu nona Danira ". Tekan Sarah, Sean dapat melihat kilatan kemarahan dan dendam Dimata Sarah. Kemarahan yang bukan hanya sekedar suruhan seseorang, tetapi ini melebihi kemarahan orang kepercayaan, yang penuh rasa sayang dan hormat, yang tak terima bisa orang yang dia lindungi tersakiti.
" Baiklah, kalau begitu mari saya antar anda kebandara ?". Ujar Sean menawarkan.
" Tidak perlu, terima kasih banyak. Orang saya sudah diperjalanan, mungkin sebentar lagi akan sampai ". Tolak Sarah. Sean hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
" Sepertinya anda sangat perduli dengan Nyonya Danira ?".
" Bahkan anda rela pergi sejauh ini hanya untuk mencari tau siapa orang yang telah melakukan penyerangan kepadanya. Apa ini salah satu tugas dari bosmu, atau Nyonya itu.....". Sarah menatap Sean sinis, menandakan dia tak suka dengan pertanyaan Sean. Sean ingin menggali lebih banyak info dari Sarah, tapi sayangnya tidak semudah yang Sean bayangkan.
" Saya memiliki hak untuk tidak menjawab setiap pertanyaan anda, bila anda memang secerdas yang saya dengar dari pemberitaan diluar sana. Pasti anda bisa menjawab pertanyaan Anda sendiri ". Jelas Sarah, sambil melangkah masuk kedalam mobil yang telah berhenti tepat didepan mereka. Sarah menghentikan langkahnya sebentar lalu berbalik melihat Sean.
" Tuan Sean, terima kasih banyak atas tumpangan anda tadi ". Ucap Sarah, lalu berlalu masuk duduk dikursi penumpang. Setelah pintunya tertutup rapat, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Sean yang masih mematung ditempatnya.
" Sepertinya saya mencium aroma-aroma ketertarikan ". Suara Bayu, membuyarkan lamunan Sean. Sean melirik Bayu tajam, membuat senyuman jahil itu menghilang dari wajah bayu.
"Dia benar-benar wanita yang tegas dan menarik ya bos. Tapi untuk apa dia mengetahui dalang dibalik penyerangan tuan dan Ny. Gavino bos ?, apa dia ada hubungan dengan tuan Gavino ? ". Tanya Bayu yang sedari tadi menyimpan banyak rasa penasaran melihat bagaimana cara Sarah memperlakukan para penjahat, Sean diam tak ingin menjawab pertanyaan Bayu.
" Pindahkan orang-orang itu kepenjarah bawah tanah saja, pastikan mereka tidak bisa kabur. Dan juga beri mereka hukuman yang tidak bisa mereka lupakan seumur hidup ".
" Siap bos ". Jawab Bayu, berlalu pergi meninggalkan Sean. Sean kembali melihat jalanan yang telah kosong. Sean memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
Bagaimana dia bisa mengetahui jika aku pernah menyelidiki latar belakang kekasih tuan Gavino. Dan juga, bila perkiraan ku ini benar berarti Nyonya Danira, dia adalah pimpinan dari Radenayu Group?, tapi bagaimana mungkin ?. Sean mulai berdialong dengan batinnya sendiri.
Haruskah aku memberi tahu apa yang dikatakannya pada tuan muda, atau lebih baik aku menyelidiki semuanya terlebih dahulu.
......................
...Bersambung........
__ADS_1