
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
Gavino memarkirkan mobilnya di besement khusus penghuni Penthouses, sekeliling gedung sangat sepi dan sunyi, hanya suara tapak kaki Gavino yang menggema, Penthouses-nya terletak dilantai paling atas. Gavino sudah berdiri tepat didepan pintu penthousesnya dengan tangan kiri memegang jas dan memasukkan pin terdengar suara " Cklik" lalu Gavino membuka dan menutupnya kembali.
Mata hitam pekatnya menangkap sosok wanita cantik tegah duduk di sofa empuk miliknya dengan posisi menyilang-kan kaki dan tangan memegang Libbey gelas berisi minuman berwarna hitam sambil memutar-mutarkan isinya. Dia tersenyum senang melihat kedatangan Gavino..
" Kau...disini Van ". tanya Gavino masih berdiri ditempatnya. Stevani meletakkan gelas diatas meja, berjalan perlahan menghampiri Gavino. Gavino dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh Stevani yang hanya dibaluti lingerie tipis bak saringan tahu, bahkan lebih tipis lagi. berwarna hitam, rambutnya dibiarkan terurai panjang, menutupi sedikit bagian dada, sangat sexy dan menggoda keimanan kaum adam.
Bukannya menjawab, Stevani malah mendaratkan kecupan singkat dibibir Gavino.
Stevani mengalungkan tangannya ditengkuk Gavino dengan senyum yang terus mengembang dibibir sexynya. " Sudah hampir tegah malam, mengapa kau baru pulang honey, ! aku sudah menunggumu dari tadi". Setevani bersuara sedikit mendesah, lembut. Sambil menurunkan satu tanggan memainkan telunjuknya di dada kekar Gavino. Stevani memanyunkan bibirnya, agar gavino tau kalau dia sedang merajuk.
Gavino masih diam, otak dan hatinya sedang tidak baik-baik saja. Semua ucapan maminya masih berputar-putar di kepala, biasanya tanpa menunggu Stevani menggodanya dia akan langsung menyerang wanita itu. tapi kali ini dia sedang tidak bersemangat sama sekali. Gavino mundur selangkah kemudian berjalan menuju sofa menghempaskan bokongnya disana, Gavino bersandar dengan kedua tangan berbentang sambil memejamkan mata.
Stevani berbalik, mengernyit heran ada apa dengan kekasihnya, tidak biasanya Gavino seperti ini " kamu kenapa honey?". bertanya sambil berjalan menghampiri Gavino lalu duduk disampingnya.
" Apa ada masalah dikantor, dan kenapa matamu ini, apa kau tidak tidur semalaman honey ?". Stevani mencecar banyak pertanyaan yang membuat Gavino semakin pusing.
"Mari kita menikah besok ". ucapnya masih dengan mata terpejam, dengan kepala mendongak keatas. " Dan segera atur pertemuanku dengan keluargamu atau ayahmu, aku ingin memintamu kepadanya".
Stevani terkejut mendengar penuturan Gavino yang menurutnya sangat mendadak. Memang ini bukan ajakan pertama kali, Gavino sudah sering kali menggungkapkan keinginannya untuk menikah tapi apa katanya tadi ' Besok'.
" Honey...!! apa maksudmu kau bercanda ya". Stevani tertawa garing menanggapi ajakan Gavino. Gavino membuka matanya, menoleh kekiri melihat Stevani yang masih tertawa.
" Apa aku kelihatan bercanda sekarang ". mata hitam pekatnya memancarkan keseriusan, seketika tawa Stevani terhenti.
"Menikahlah denganku besok, agar mami tidak punya alasan lagi untuk memaksaku meninggalkanmu".
Stevani menatap wajah serius Gavino "Honey, kenapa harus buru-buru, buk....!!"
" Buru-buru katamu...ini sudah yang ke 1000 kali aku mengajakmu untuk menikah, tapi kamu selalu memiliki banyak alasan". ucapan Stevani terputus dengan suara Gavino yang mulai meninggi. Stevani terhenyak mendengar perkataan Gavino, Stevani menggigit Bibir bawahnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
Gavino mulai bangun dari sandarannya, memperbaiki posisi duduknya menghadap Stevani, Dia menggenggam tangan Stevani dengan lembut.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu, tolong mengertilah aku ingin segera meresmikan hubungan kita. Aku tidak mau kau pergi-pergi keluar negri sendiri lagi, aku ingin selalu bersama denganmu". Gavino menatap wajah Stevani, berbicara dengan nada lembut.
Stevani memang kerap kali pergi keluar negri sendiri tanpa sepengetahuan Gavino, dalam sebulan Stevani suka bolak balik 3-4 kali keluar negri. Tiap kali Gavino bertanya alasannya selalu sama karena ada urusan pekerjaan, Gavino pernah memintanya untuk diam saja tanpa harus bekerja, Gavino akan menanggung semua kebutuhan dan keinginan Stevani. Tapi lagi-lagi Stevani selalu menolak dengan alasan ini cita-citanya sejak lama.
" Atau begini saja, bagaimana kalau kau mengalah dan ikut keyakinanku agar mami segera merestui kita, hanya itu cara satu-satunya".
__ADS_1
Stevani menggangkat wajahnya, melihat Gavino tajam " Kita sudah sering membahas ini honey. Dan kau sudah tau jawabannya kalau aku tidak akan pernah berpindah keyakinanku." Stevani mulai terpancing emosi.
"Sayang, tolong lah ini demi hubungan kita, berkorban lah sedikit untuk kita". Gavino kembali meminta pengertian.
Stevani mulai emosi, matanya memerah " Apa katamu, berkorban ?. Kau pikir selama ini aku kurang berkorban apa, kita sudah tidur bersama, bahkan aku rela dipermalukan ibumu berkali-kali kau bilang aku harus berkorban. Aku selalu melakukan berbagai cara agar ibumu menyukaiku, tapi apa yang aku dapat hanya hinaan dan kebencian, kau tau itu." Stevani sudah tidak bisa menahan emosinya lagi dia benar-benar marah.
" Dan kau tau, kenapa aku belum mempertemukanmu dengan papa, karena papa juga menentang hubungan kita. Dia ingin aku juga meninggalkan mu karena keyakinan kita berbeda, tapi aku selalu berusaha menyakinkan papa bahwa kita bisa bersama tanpa harus meninggalkan keyakinan masing-masing, aku tidak ingin papa memperlakukanmu seperti ibumu memperlakukanku. itulah mengapa selama ini aku tidak mempertemukan kalian. Dan kau tau papa sudah mulai membuka hatinya untuk bisa menerimamu." Stevani berteriak menjelaskan panjang lebar alasannya selama ini dengan emosi yang menggebu-gebu.
Gavino mematung, hatinya mulai dipenuhi rasa bersalah. Jadi selama ini kekasihnya berkoban sebanyak ini untuknya, sedangkan dia selalu memaksa Stevani mendekat pada ibunya. Gavino benar-benar merasa tertampar.
" Sayang maafkan aku, aku tidak tau kalau kau begitu memperjuangkan hubungan kita ". Gavino menatap mata Stevani dalam penuh dengan rasa bersalah dan cinta.
" Baiklah...bagaimana kalau kita menikah keluar negri saja, tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing".
Stevani membolakan matanya, jantungnya berdegup kencang, dia pikir dengan memberikan penjelasan seperti itu gavino akan mengurungkan niatnya untuk menikah sementara waktu. Tapi Stevani salah Gavino memiliki cara yang membuat Stevani kehilangan akal.
" Bagaimana ini, alasan apa lagi yang harus aku berikan padanya...!!" gumamnya dalam hati.
"Bagaimana...heeemmm!! kau setujuh kan?, dengan begitu kita bisa menikah tanpa harus meninggalkan keyakinan kita. Kau tetap milik tuhanmu dan aku tetap milik tuhanku. Kau setuju kan ?".
"Tidak Honey, aku tidak setujuh!!. Gavino memundurkan sedikit tubuhnya yang sedari tadi mencondong kedepan mendekati Stevani.
"Apa maksudmu tidak setujuh ?"
Helan nafas Gavino terdengar jelas ditelinga Stevani, dia tau saat ini kekasihnya pasti sangat emosi. Terlihat dari kepalan tangannya yang membentuk tinju dan urat-urat didaerah kening membentuk garis keras.
"Jadi mau-mu bagaimana sekarang ?".Gavino bertanya dengan mata terpejam dan kepala menunduk frustasi.
" Intinya aku tidak kan mau menikah denganmu , jika mami-mu belum memberikan restunya." jelasnya lagi dengan wajah serius dan tegas.
" Jadi kau menolakku lagi Van". suara lirih terdengar memilukan.
Stevani geram melihat Gavino masih berusaha memaksanya " sudahlah aku malas berdebat denganmu masalah ini lagi...ini lagi!!! Stevani berdiri dan mengambil dan memakai blazer panjang untuk menutupi lingerie yang dia pakai , lalu menyambar tas-nya yang tergeletak disamping Gavino. Gavino yang melihat Stevani ingin pergi segera mencekal tangannya.
"Kau mau kemana ?"
" Aku mau pulang, aku sedang tidak ingin melihat wajahmu".
" ini sudah terlalu malam, lebih baik kau tidur disini atau biar aku yang mengantarkan-mu pulang"
__ADS_1
" Tidak perlu, aku bisa sendiri". Wajah Stevani masih memerah, dengan emosi yang belum mereda.
Stevani melangkah pergi, membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.
Brakkk
Gavino terdiam ditempat, mematung dengan emosi meminta keluar.
" Aaaakkkkkkk...sial..sial " Gavino berteriak, memukul udara yang tidak bersalah.
*
Stevani masuk kedalam lift, melihat pantulan dirinya didinding lift. Ada rasa tidak nyaman dihatinya meninggalkan Gavino sendirian dalam keadaan seperti ini. Stevani menyandarkan tubuhnya pojok lift, mendongakkan wajahnya keatas.
Dretzzz
Dretzzz
Dretzzz
Getaran Handphone didalam tas mengalihkan pandangannya. Stevani mengambil dan melihat nama orang yang menelpon.
" Hallo ". suara Stevani melembut halus, tak lagi terdengar emosi di dalam suaranya.
" Baiklah, kirimkan aku alamatnya, aku akan segera kesana ". Stevani mematikan ponselnya dan menyunggingkan senyum setengah bibirnya.
......................
...Bersambung.......
Assalamualaikum Kakak-kakak semuanya 😍
Terima kasih banyak bagi kakak-kakak yang sudah mampir untuk membaca karyaku 🙏
Mohon tinggalkan cintanya buat Author dong, dalam bentuk Like & Komentarnya.
Boleh juga share cerita author dengan teman atau keluarganya ya.
Supaya Author makin semangat buat ceritanya...💪
__ADS_1
See you
Saranghae❤️