CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
48. Meminta Ijin


__ADS_3

Tak terasa pernikahan mereka sudah bertahan selama 1 bulan, meski Gavino masih seperti sebelumnya, angkuh, sombong dingin dan cuek. Tapi dia selalu pulang ke Penthouses, tak seperti waktu awal-awal menikah. walau mereka bertemu hanya saat sarapan pagi dan makan malam saja, tanpa ada obrolan, hanya sesekali Danira melempar candaan dan dibalas kata-kata kasar dan umpatan, itu tak membuat Danira patah arang. Menurut Danira hubungannya dan Gavino sedikit banyak sudah ada kemajuan. Danira tak memperdulikan cacian dari suaminya, dia sedang berusaha membuat Gavino nyaman dengan kehadirannya, begitupun sebaliknya. Dia akan bersabar menghadapi sifat Gavino dan menerima segala kelebihan dan kekurangan suaminya.


Danira sedang duduk dipinggir ranjang, tangannya memegang buku nikah mereka. Danira mengeluarkan pas fotonya dari dalam dompet, lalu menempelkan foto itu tepat disisi kanan pas foto Gavino. Saat mereka menikah waktu itu, Danira memang belum menyerahkan pas fotonya kepada Ny. Calina, Danira beralasan Dia tak ingin orang lain atau para team dari KUA melihat wajahnya walaupun hanya dari foto. Itu sebabnya, saat Gavino memegang buku nikah itu, dia tak melihat foto Danira hanya ada fotonya sendiri disana.


Danira mengelus foto tampan Gavino disana, sambil tersenyum manis.


..." Ya Allah, bila dia memang jodohku maka kuatkanlah pernikahan kami ini hingga ajal yang memisahkan. ...


...Kuatkan hatiku untuk bisa menghadapi segala cobaan yang ingin menghancurkan ikatan ini....


... Lembutkanlah hati suamiku, jauhkan suamiku dari segala kemurkaanmu. ...


...Limpahkanlah keberkahan disisa usianya dan Lindungi dalam setiap langkahnya. ...


...Aku hanya bisa mengutarakan rasa cintaku kepadaMu Ya Rab, semoga Engkau membalas dengan melimpahkan rasa cintaMu kepadanya...Aamiin"....


Ting..


Ting..


Terdegar suara bel dari luar, menandakan ada tamu yang datang, jika itu Gavino pasti dia akan langsung masuk tanpa menekan bel. pikir Danira. Danira menyimpan buku nikahnya kedalam lemari pakaian, lalu Dia menyambar Burqa dan memakainya. Danira melihat dari layar monitor kecil yang ada disamping pintu, untuk memastikan siapa tamu diluar, Danira tidak dapat melihat wajahnya, yang terlihat hanya bagian punggung.


Cklek


Danira membuka pintu setengah. " Maaf anda mencari siapa". Pria itu memutar tubuhnya, melihat asal suara yang mengalun merdu menyapanya. Pria tampan itu tersenyum ramah kepada Danira. Danira langsung menundukkan pandangannya.


" Assalamualaikum". Salam pria itu.


" Waallaikumsalam".


" Apa Gavino ada ?". tanya pria itu sopan.


" Maaf suami saya sedanga bekerja, jika anda ada perlu mendesak silahkan hubungi kenomor telponnya saja". Jawab Danira tak kalah sopan memberi tahu.


" Oh iya saya lupa, perkenalkan saya Doni sahabatnya Gavino". Doni mulai berbasa-basi, sambil mengulurkan tangannya namun Danira tak menyambut uluran itu.


" Saya Danira,...!! saya sudah tau siapa anda". Danira sambil mengatup kedua tangannya, sebagai balasan uluran tangan Doni. Doni merarik tangannya kikuk.


" Kamu tau saya?". Doni bertanya penasaran.


" Iya... bukankah Anda juga datang dengan rekan anda kepesta pernikahan kami waktu itu". jelas Danira. Doni tersenyum senang, dia merasa bahwa waktu itu Danira memperhatikannya dari balik kain yang menutupi wajah cantiknya. pikir Doni pede.


" Ahh..iya, ternyata kau masih mengingatnya".


" Eemm... apa saya bole menunggu Gavino didalam ?". tanya Doni meminta izin. Danira melirik Doni sebentar lalu melihat kelantai lagi


" Maaf...!! saya tidak bisa menerima tamu saat suami saya tidak ada dirumah, apa lagi tamu itu seorang pria. Saya tidak ingin terjadi fitnah, jika anda tetap ingin menunggunya disini, saya akan mengambil kursi untuk anda duduk". ujar Danira memberitahu, dan hal itu makin menarik kekaguman Doni pada sosok wanita Solehah dihadapannya ini.


" Tidak perlu, saya akan pulang ada hal lain yang harus saya kerjakan. Nanti saya akan menghubunginya saja". Ujar Doni, memberi alasan.


" Kalau begitu saya permisi pulang dulu".

__ADS_1


" Assalamualaikum ". salamnya, berlalu.


" Waallaikumsalam ". Tapi Doni menghentikan langkahnya, berbalik mundur melihat Danira lagi.


" Ada apa, apa ada yang tertinggal ?".


" Tidak ada, ini ambilah...!!". Doni memberikan sebuket bunga lili putih kepada Danira, Danira tak langsung menerima, malah dia melihat bunga itu dengan tatapan bingung.


" Maaf saya tak bisa menerimanya". tolak Danira halus.


" Terima saja...sebenarnya tadi saya membeli bunga untuk seorang wanita yang saya sukai ( Wanita itu adalah kamu). Batin Doni, tapi sayangnya wanita itu sudah milik seseorang, saya pikir dari pada dibuang lebih baik saya berikan saja kepadamu. Mungkin untuk menghias Vas bungamu yang telah kosong". Ucap Doni asal, tak mungkin Doni berkata jujur bahwa bunga itu memang untuk Danira bukan. Sudah pasti itu akan langsung ditolak oleh nya, jadi Doni harus memiliki alasan agar pemberiannya diterima.


Danira merasa ucapan Doni ada benarnya, sangat disayangkan bila bunga secantik ini harus berakhir di tong sampah.


" Baiklah aku terima bunganya". Danira mengambil bunga yang sedari tadi Doni sodorkan.


(Yes..) Batin Doni senang. Doni tersenyum.


" Kalau begitu aku pergi dulu". pamitnya lagi


" Iya...!! terima kasih". ucap Danira, lalu masuk menutup pintu dan secara otomatis terkunci.


Danira meletakkan bunga lili putih itu dalam vas diatas nakas yang dibawahnya tersusun sepatu dan sendal rumah.


...****************...


Pukul 5 sore, Gavino telah pulang dari kantor. Dia memasukkan pin pintu lalu terbuka. Mata Gavino menyipit melihat ada buket bunga diatas nakas, yang masih terlihat sangat baru. Dia membuka sepatunya, berganti dengan sendal lalu berjalan masuk kedalam rumah, Dia melihat Danira sedang duduk disofa sambil bermain dengan Khalisa. Timbul rasa ingin ikut bergabung bersama Meraka dalam hati Gavino, namun secepat kilat Gavino menepis rasa itu.


Danira yang menangkap sosok suaminya tegah berdiri memperhatikan mereka, lalu datang mendekat sambil menggendong Khalisa.


" Apa anda sudah makan, jika belum biar saya siapkan". Ucap Danira menawari, sejujurnya Danira ingin sekali menyambut tangan Gavino mencium punggung tangan suaminya selayaknya seorang istri menyambut kepulangan sang suami, sebagai tanda hormatnya lalu menggambil tas dan jas yang ada ditangan gavino. Tapi Danira tak ingin melewati batasannya, walaupun Gavino adalah suaminya, dia tetap ingat akan peraturan yang suaminya berikan.


" Bunga dari siapa itu ?, apa kau membeli buket sendiri?". cetus Gavino langsung, tanpa basa basi. dia tak ingin berlama-lama dalam rasa penasaran. Danira yang paham maksud suaminya melihat kearah vas yang ada didepan.


" Oh...itu bunga dari sahabat anda yang bernama Doni". Ujar Danira singkat. Mendengar nama Doni disebut, alis Gavino bertaut.


" Doni ??".


" Iya, tadi siang dia datang kesini mencari anda". Lalu Danira menceritakan kejadian tadi siang saat pertemuannya dengan Doni.


Gavino tak langsung mempercayai ucapan Danira, dia berfikiran jika Danira berbohong dan mereka berduaan didalam rumahnya.


Gavino langsung berbalik, melangkah pergi kelantai atas tanpa memperdulikan Danira yang masih bercerita. Danira bisa melihat perubahan dari mimik wajah suaminya itu.


" Ada apa dengannya...aneh sekali". gumam Danira pelan.


" Ayo kita main lagi ". ajak Danira pada Khalisa, dan disambut tawa oleh bayi gembul itu.


Gavino masuk kedalam ruang kerjanya, membuka layar laptop, mengecek CCTV. Dia ingin memastikan sendiri semua yang Danira ceritakan padanya jujur atau bohong. Setelah menemukan rekaman hari ini, Gavino mengeraskan audionya guna mendengar percakapan yang terjadi diantara mereka.


Gavino melihat isi rekaman itu, dan Danira benar, dia tidak berbohong, terlihat jelas disana Dia tidak melewati batas apapun bahkan tidak membuka pintu secara lebar, pintu hanya terbuka seukuran tubuhnya, dan menjaga jarak dengan doni. Gavino mendengar Danira tak mengijinkan Doni masuk. itu membuat Gavino sedikit lega.

__ADS_1


Namun Gavino mengepalkan tinju, saat melihat bagaimana tatapan Doni yang sangat memuja Danira, cara senyum Doni yang berbeda dari biasanya. Doni tak pernah tersenyum seramah itu kepada setiap wanita yang mendekatinya tapi dengan Danira berbeda.


" Brengsekkk....!! Ternyata Dia membuktikan ucapannya waktu itu, Bangsat...!!". Geram Gavino, sambil menggebrak meja, marah.


*Flashback on


Doni masuk kedalam ruangan Gavino tanpa ijin, melihat itu wajah Gavino berubah masam, raut wajah tak suka terlihat jelas, dia masih marah kepada sahabatnya itu.


" Ada perlu apa kau kemari hah?".


" Apa ingin melanjutkan perdebatan kita tempo hari?". Ketus Gavino dengan emosi yang mulai meluap. Doni duduk depan Gavino santai, dia tak ingin terpancing oleh ucapan provokasi Gavino.


" Aku kesini tidak ingin ribut, untuk kejadian malam itu aku minta maaf". Ujar Doni santai menjawab pertanyaan Gavino, Gavino melipat tangannya kedepan dada, melihat Doni tajam mengintimidasi.


" ayolah...tak perlu merajuk seperti itu". Ujar Doni lagi, Gavino memutar bola matanya malas.


" Hheemmhh'.., Ada apa kau kemari, tak biasanya kau datang kesini sendiri biasanya selalu dengan sigondrong". tanya Gavino dengan nada datarnya.


" Aku memang berniat datang kesini tanpanya, karena ada yang ingin aku sampaikan kepadamu".


" Tentang apa?". Gavino penasaran.


" Tetang Istrimu ". Jawabnya singkat, Gavino mengeryitkan dahinya bingung.


" Memangnya ada apa dengan wanita itu?". Tanya Gavino, mulai merubah suaranya bengis.


" Tenang lah...aku kesini bermaksud meminta ijin kepadamu".


" Ijinku, apa maksudmu ?".


" Aku meminta ijin, karena aku ingin mendekatkan diriku kepada istrimu". Ujar Doni mengutarakan niat dan keinginan ya.


Deg*


Timbul rasa tak nyaman, mendengar permintaan aneh Doni. Bagaimana bisa sahabatnya ini meminta ijin kepadanya untuk mendekat kepada wanita yang masih berstatus istrinya, apa dia sudah gila. pikir Gavino.


" Bagaimana ?, kau menyetujuinya kan, bukankah kau sendiri yang bilang malam itu, jika aku mau ambil saja, karena kau tak membutuhkannya ?".


" Makanya aku datang kesini secara khusus kepadamu, aku ingin mendekati istrimu, karena aku menyukainya". Ujar Doni secara terang-terangan kepada Gavino. Gavino melihat Doni makin tak percaya, rasanya Gavino ingin melempar bogem mentah kewajah Doni. Tapi bukankah ucapan Doni benar, malam itu dia sendiri yang mengucapkan kata-kata seperti itu, bukankah dia memang tidak mencintai Danira dan juga tidak mengharapkannya, tapi mengapa disaat ada seseorang yang terang-terangan mengakui bahwa pria itu mencintai istrinya, ada rasa tidak suka dan tidak rela, ada apa dengannya.


" Apa kau serius ?". tanya Gavino memastikan.


" Tentu, bukankah kau telah lama mengenal aku, kita telah menjalin persahabatan hampir seumur hidup, jadi kau sangat hapal bukan bagaimana aku?". Ujar Doni, Jawaban Doni membuat jantung Gavino melemas tanpa alasan.


" Kau tenang saja Bro...aku tidak akan langsung merebutnya darimu, aku ingin membuatnya terbiasa dulu dengan kehadiranku, dan aku juga ingin memantaskan diriku terlebih dahulu untuk wanita Solehah seperti dia. Aku akan menikahinya setelah kalian resmi bercerai nanti". Doni mengutarakan niatnya, dan kata cerai yang biasa Gavino ucapkan sukses membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Gavino hanya diam, tak memberi tanggapan atau jawaban apapun kepada Doni. Hatinya gamang, bingung tak menentu, ada rasa tidak rela, namun Gavino belum tau alasannya.


*Flashback off.


" Aku kira dia hanya bercanda, ternyata dia benar-benar melakukannya..!! Cihhhh". Umpat Gavino kesal.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2