CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
134. Mengikuti nasehat istri


__ADS_3

Jagat Maya dihebohkan dengan Vidio asusila seorang model ternama, jebolan dari sebuah ajang kecantikan. Vidio yang berdurasi 15 menit itu cukup menyita perhatian publik, bahkan kini akun media sosial sang artis pemeran, sedang diserbu warga net.


^^^"Apakah ini benar-benar dia ?".^^^


^^^" Iya...apakah ini benar-benar Ayu Anjani, pemenang dari ajang Dewi Fortuna itu ?".^^^


^^^"Sepertinya benar, bahkan wajahnya terlihat jelas ".^^^


^^^"Astaga...aku tidak menyangka wanita seperti dia bisa berbuat seperti ini ".^^^


^^^" Ya ampun...aku kira dia cupu, ternyata suhu. Bahkan goyangannya....CK..CK..CK...mampu menggetarkan jiwa kelelakianku".^^^


^^^" Wanita tidak tau diri, tidak punya malu. Bagaimana bisa kau merekam hal menjijikan seperti itu. Menyesal dulu aku pernah mendukungmu ".^^^


^^^" Ternyata yang kalem dan manis, belum tentu akhlak nya baik ".^^^


^^^" Aku penasaran, mau lihat. Bagi yang punya link shaer dong ".^^^


^^^" Nitip ..".^^^


^^^" Mau link Nya doang ".^^^


^^^" Apaan sih, aku ketinggalan ni, kepo aku ".^^^


Berbagai macam komentar, mulai dari yang penasaran, makian bahkan cacian bertengger di kolom komentar media sosial miliknya, bahkan rumah kediamannya sudah dikerumuni para wartawan.


Didalam kamar yang mewah, ayu berdiri disudut ruangan mengintip dari balik gorden berwarna putih, memastikan keadaan yang terjadi diluar pagar rumahnya, sambil menggigit-gigit kuku ibu jarinya. Bahkan Ayu sampai tidak berani membuka ponselnya yang pasti telah penuh dengan pesan ataupun panggilan masuk dari teman, sahabat, kerabat bahkan agensinya.


BRAK**


Pintu kamar ayu dibuka secara paksa, menimbulkan suara yang sangat keras. Mendengar suara itu membuat ayu terperanjat kaget, dan membukakan matanya melihat siapa yang masuk.


" Anak kurang ajar, tidak tau malu. Bagaimana bisa kau berbuat seperti itu hah ?". Pekik Anton yang masuk langsung menarik lengan ayu, dan...


PLAK*


PLAK*


Anton menampar wajah ayu berkali-kali, dia sangat marah dengan kelakuan putri tirinya ini. Wajah ayu telah memerah, bekas tamparan tampak jelas di pipi mulusnya.


" Pah....sudah, pah jangan pukul putriku lagi, tolong jangan pah ". Sinta memegang tangan suaminya, sambil berderai air mata. Anton tidak perduli dengan permohonan sang istri, dia menatap ayu tajam, wajah dan matanya memerah kesal, marah bercampur malu menjadi satu.


" DIAM....Ini juga karena salahmu, kau tidak bisa mendidik anakmu dengan baik. Kau terlalu memanjakannya, hingga dia berani melemparkan kotoran di wajahku. Bagaimana caraku menghadapi semua orang hah ?, bagaimana ?. Kasus ini sangat memalukan ".


" Kau....". Anton kembali menunjuk ayu yang tertunduk, takut. Ayu diam seribu bahasa, tubuhnya gemetar, air matanya telah lurus sejak tadi. Anton menarik tangan ayu kasar, lalu mendorongnya hingga ke pintu teras kamarnya.


" Lihat...lihat, berapa banyak manusia yang sedang menunggu kita keluar dari rumah ini. Lihat....masalah lagi, masalah lagi yang selalu kau buat, mengapa kau tak pernah bosan membuat masalah hah ?".


" Maafkan ayu pa..ayu...!!!".


" Mengapa kau tega melakukan ini padaku, apa karena aku hanya ayah tiri bagimu ?, apa aku pernah memperlakukanmu bukan seperti putri kandungku ?, aku bahkan selalu menuruti bahkan memanjakan mu. Disaat kau meminta membatalkan pernikahanmu secara sepihak pun, aku masih menurutinya, meski alasan yang kau berikan tidak masuk akal. Bahkan disaat semua keluargaku menjauhiku akibat ulahmu, aku masih tetap membelamu dihadapan mereka. Tapi apa yang kau lakukan sekarang, kau bahkan menginjak-injak harga diriku sebagai seorang ayah ".


" Papa..ma..ma..maafkan A..a..ayu, ayu yakin i..i..itu ulah seseorang yang ingin menjatuhkan ayu. Pa..pa..papa ayu dijebak pa ..!!". Ayu berbicara terbata-bata, ayu masih terus berfikir siapa yang telah menyebarkan Vidio po*no dirinya.


" Dijebak ?.....kau pikir papa bodoh hah ?, mana ada dijebak sampai memiliki lebih dari 3 Vidio dalam waktu dan tempat yang berbeda ? ". Ayu mengangkat kepalanya melihat Anton, matanya berkabut melihat ibu dan ayahnya bergantian.


Apa semua Vidio ku tersebar ?, ya tuhan....bagaimana ini bisa terjadi. Ya tuhan tolong aku, bagaimana bila Danu melihat semua Vidio itu, pasti dia akan melihat semua tanggal Vidio itu dibuat, dia pasti akan membunuhku, karena tau alasan aku meminta pernikahan dibatalkan!!. Batin ayu was-was, khawatir akan keselamatannya.


" Pa...tolong maafkan ayu, aku..aku..aku sendiri yang akan menghukum putriku, tapi tolong, tolong redamkan berita yang menyebar ini. Aku mohon pa". Bujuk Sinta lagi, terus memohon kepada suaminya, Anton melihat istrinya tajam.

__ADS_1


" Kau pikir mudah meredam berita yang terlanjur menyebar luas seperti ini, apa lagi ini sudah ke seluruh negri. Lagi pula aku sudah tidak memiliki kuasa sebesar dulu, semenjak perusahaan ku hampir bangkrut ". Sungut Anton kesal, berkecak pinggang.


" Lalu kita harus bagaimana pa ?, kita tidak mungkin membiarkan berita itu terus bertebaran di luar sana ".


" Aku tidak tau.....!! kalian selesaikan saja sendiri, aku sudah pusing memikirkan masalah yang lain, jangan tambah beban pikiranku lagi ". Anton ingin beranjak pergi, namun ucapan Sinta kembali menahannya.


" Pa....Bagaimana jika kita minta tolong Gavino, aku yakin dia bisa meredam semua ini ?!!". Ujar Sinta memberi ide. Anton memutar tubuhnya, kembali melihat kearah Sinta yang masih terduduk dilantai.


" Apa kau sedang bergurau sekarang ?, kau meminta aku memohon kepada Gavino, untuk hal memalukan ini ?. Apa otak mu sudah amnesia?....Kau ingin aku meminta pertolongan kepada pria yang telah anakmu fitnah ?, bahkan malu yang beberapa waktu lalu saja belum hilang, sekarang kau memintaku semakin mempermalukan diriku lagi ?".


" Tidak....kali ini aku tidak akan melindunginya lagi, kalian cari jalan keluarnya sendiri. Aku tidak ingin ikut campur lagi urusan putrimu ". Jelas Anton, berlalu keluar dari kamar ayu.


" PA....PA...PAPA ?". teriak Sinta, namun Anton pura-pura tuli tak ingin mendengar kata-kata dari istrinya lagi.


" Hiks..hiks...hiks...ma, ayu harus bagaimana ma ?". Tangis ayu semakin pecah, rasa ketakutan semakin menjadi.


PUK**


PUK**


PUK**


" Kau benar-benar anak yang bodoh, mengapa kau membuat Vidio seperti itu hah ?, apa aku pernah mengajarimu berbuat seperti itu, kau selalu saja membuat aku stres begini...!!". Sinta berkali-kali memukul ayu, dia sangat kesal dan marah, rasanya dia ingin sekali mencekik putri satu-satunya ini.


" Ma...!!?".


" Entah lah, mama tidak tau harus melakukan apa, kau pikir sendiri. Bukankah kau yang membuat kekacauan ini ..".


...****************...


BAG*


Pintu baja berukuran besar terbuka ke sisi kiri dan kanan. Gavino dan Sean masuk kedalam ruangan mengerikan itu lagi.


Ssstttt**


Ssstttt**


" Turunkan dia..." Ujar Gavino, menunjuk kearah Danu. Sang pengawal yang menjadi operator pun mengangguk patuh, kemudian mulai mengarahkan tuas yang dia pegang. Beberapa detik tubuh Danu telah melayang-layang, lalu dibawa turun dan dijatuhkan, hingga tengkurap keatas lantai kotor itu. Danu yang lemas tak berdaya, ditambah darah yang selalu keluar dari hidungnya, hanya bisa pasrah bila Gavino kembali ingin menyiksanya. Bahkan untuk membuka matanya pun terasa sulit.


"Siram dia...". Titah Gavino, seorang pria bertubuh besar pun langsung menyiram Danu dengan air Seember. membuat danu tersentak, perlahan memaksa membuka matanya.


" Dudukkan... ". Tubuh Danu kembali ditarik paksa, lalu didudukkan diatas kursi, tepat didepan Gavino. Gavino menyodorkan satu botol air mineral kehadapan Danu


" Ini minumlah...aku tau kau pasti sangat kehausan bukan ?". Tanpa pikir panjang, Danu langsung menerima botol mineral itu dengan tangan gemetar, langsung meminumnya hingga tandas. Dia tak peduli lagi meski air yang Gavino berikan telah dicampur racun, dia benar-benar kehausan, sejak dia dimasukkan kedalam tempat ini, Danu tidak diberikan minum sama sekali.


" Apa kau ingin lagi ...?". Danu hanya diam, menunduk. Gavino menjentik jarinya, Sean pun kembali memberikan sebotol mineral lagi kepada Danu. Gavino menurunkan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, lalu tersenyum sinis melihat keadaan Danu yang menyedihkan.


" Apa kau menikmati hukumanmu disini hhmm?, atau kau masih ing....!!".


" Tu..tuan G..ga..Gavin..vino....?, aku benar-benar memohon padamu, tolong....tolong maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Bila kau melepaskan aku, aku berjanji akan patuh dengan apapun yang kau perintahkan. Aku siap menjadi anak buahmu, atau apapun itu ". Ujar Danu terbata-bata, dia sangat berusaha menyelesaikan kata-katanya. Sedangkan Gavino hanya menatap Danu dengan tatapan Yang selalu mengintimidasi.


" Benarkah ...?, apa kau yakin dengan janji yang baru saja kau ucapkan itu ?". Gavino melipat tangannya didepan dada, lalu melihat Danu dengan tatapan merendahkannya.


" Ii..iiya, ....aku....aku ...aku tidak pernah ingkar bila sudah berjanji ". Gavino manggut-manggut.


" Tapi sayangnya anak buahku sudah terlalu banyak, hingga aku tidak membutuhkannya lagi ". Sombong Gavino, Danu semakin berkecil hati, kemungkinan dia akan bebas, semakin kecil. pikir Danu.


" Kau tau....aku masih ingin sekali menyiksamu, menyiksa hingga kau benar-benar tersiksa, dan tak bisa melupakan setiap detik yang kau lewati disini. Tapi sayangnya, aku harus mengikuti keinginan istriku untuk memberikanmu kesempatan terakhir ". Mendengar ucapan Gavino, Danu memberanikan diri mengangkat kepalanya, melihat Gavino.

__ADS_1


" Jujur saja, aku sangat tidak rela memberikanmu kesempatan ini. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa pungkiri, bila nasehat istriku mampu melunakkan hatiku yang sangat ingin membunuhmu....". Jujur Gavino.


" Jadi kau beruntung, karena berkat istriku, kau aku maafkan, aku akan melepaskan mu, hanya untuk kali ini. Bila kau melakukan kesalahan lagi, aku tidak menjamin hal seperti ini akan terjadi lagi. Karena sejujurnya, ini bukan sifatku yang bisa memaafkan dan melepaskan musuh hidup-hidup ". Ujar Gavino , Danu kembali merosot kelantai, dia menyeret tubuhnya mendekat kepada Gavino, lalu mencium kaki Gavino.


" Tem.te..terima ka..kasih tu..tuan Gavino. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini, aku berjanji, tidak akan mengusikmu lagi ". Danu berbicara gemetar sambil menangis. Dia tak menyangka bila seorang Gavino Garayudha Pradiksa akan mengampuninya. Padahal dia tau betul, bila ada orang yang bermasalah dengan Gavino, orang itu sudah pasti tak akan pernah diampuni. Seperti seseorang yang masih tergantung di atas kandang buaya.


" Selesaikan lah urusanmu pada wanita ja*ang itu, mungkin kau akan sedikit terkejut saat keluar dari sini ". Ujar Gavino, Danu tak menjawab, tapi yang jelas dia akan membalas segala siksa yang dia dapat di tempat ini kepada Ayu.


Ayu tunggu aku, aku akan segera menjelangmu setelah aku keluar dari tempat ini. Gumam Danu dalam hati.


" Sean....?".


" Saya Tuan ".


" Minta pengawal itu untuk menurunkan Aryo juga, kemari ". Titah Gavino, Sean mengangguk lalu menjalankan perintah Gavino.


BUG*


Tubuh aryo pun dibanting begitu saja keatas lantai, Aryo yang sudah hampir 1 Minggu digantung pun, sudah tak bisa merasakan sakit. Seluruh tubuhnya terasa kebas, bahkan tubuh aryo jauh terlihat sangat kurus, entah berapa banyak darah yang keluar dari hidungnya, selama dia digantung. Bahkan berkali-kali pun dia pingsan, akibat rasa takut, pusing dan kelaparan yang selalu menyerangnya. Melihat itu, Danu membelalakkan matanya, melihat kondisi yang mengenaskan orang yang sedang berbaring lemah disampingnya. miris.


Astaga....Dia sangat mengerikan. Bahkan dia menyiksanya hingga seperti ini. Danu hanya berani bergumam didalam hati. Danu bersyukur dalam hati, karena Gavino tak menyiksanya terlalu lama.


" SIRAM...!!!". teriak Gavino.


BYUR**


Tubuh aryo disiram menggunakan air Es, Aryo semakin gemetar bercampur menggigil. Gavino menggoyang-goyangkan kakinya, menikmati wajah-wajah ketakutan kedua tawanannya.


" Apa kau tau siapa dia, tuan Danu ?". Tanya Gavino menunjuk Aryo yang terkulai lemas. Aryo mengangguk pelan.


" Aku yakin kau sudah mendengar berita palsu yang dia sebarkan bukan....?!!". Danu tetap diam, dia mengingat siaran langsung yang dibuat Aryo untuk menjatuhkan Danira, lalu pandangan Danu kembali melihat Gavino yang memasang tampang tak bersahabat pada Aryo.


" T..t..tuan V..vino, a..aakku....!". Aryo tak bisa menyelesaikan ucapannya, dia terlalu sulit akibat tenggorokannya yang kering.


" SSSTTTT....aku tak ingin mendengar suara busukmu, itu sangat menganggu pendengaran ku. Aku yakin kau sangat menikmati moment-moment disini bukan, bahkan kau masih bisa bertahan hidup meski tak ada asupan makanan yang masuk dalam tubuhmu ".Aryo ingin sekali menjawab ucapan Gavino, namun Aryo benar-benar tak bertenaga.


" Kau jangan senang dulu, aku menurunkan mu bukan berarti aku akan membebaskan mu juga, hukumanmu masih panjang, siksaan yang akan kau terima, harus lebih menyakitkan dari apa yang telah kau lakukan pada kakak iparku. Karena ulahmu, istriku harus menerima segala cacian dan fitnahan karena dituduh memiliki anak diluar nikah, jadi....kau harus menerima pembalasan dari ku ". Ucap Gavino, bernada datar namun sangat kejam nan menakutkan. Membuat Danu yang masih duduk disana, menelan saliva nya dengan susah payah.


" A..aaku akan me..me..menerima semua hukumannya, tapi tolong jangan libatkan keluargaku. Mereka tidak bersalah ". Aryo berujar dengan nada sangat pelan, penuh perjuangan untuk menyelesaikan kalimatnya, mendengar itu, bukannya kasihan Gavino malah tergelak kencang.


" HA..HA..HA..HA...Kau pikir aku perduli, bahkan sekarang mereka telah menjadi gembel di jalanan. Aku tidak akan pernah membuat hidup orang yang telah berani bahkan sengaja, menyakiti keluarga yang aku sayangi menjalani kehidupan mereka tenang ". Tekan Gavino melihat Aryo, lalu beralih melirik Danu yang membeku ditempatnya. Mendengar penuturan Gavino, Aryo berusaha sangat keras menggapai kaki Gavino, lalu menyentuhnya.


" To...to..tolong jangan lakukan itu, anakku masih sangat kecil. Jangan libatkan anak dan istriku, aku mohon ".


" Jadi menurutmu khalisa dan Kak iparku boleh menerima perbuatan burukmu begitu ?, Ciihh kau menjijikan sekali. Dengarkan aku, mereka semua akan mengalami penderitaan yang lebih pedih dari yang kakak iparku rasakan ". Tekan Gavino, mengeraskan rahanya geram, dan emosi.


Aaggrrhhh**


Aryo berteriak, saat Gavino menginjak jari tangannya yang sejak tadi memegang kaki Gavino.


" Sean...masukkan dia kedalam ruangan itu ". Aryo dan Danu membelalakkan mata mereka, bulu-bulu halus ditubuh mereka kembali meremang, meski bukan dia yang akan dimasukkan kedalam sana, namun Danu bisa merasakan kengerian yang akan dialami Aryo nanti.


" JANGAN...AKU MOHON. Tolong beri aku kesempatan juga, aku mohon....tolong...aakhhhh". Pekik Aryo yang telah diseret oleh pria-pria bertubuh besar. Gavino berdiri dari kursinya, lalu menuju pintu keluar, namun saat didepan lift Gavino menghentikan langkahnya.


" Tuan Danu, aku harap kau bisa menjadikan ini pelajaran berharga dalam hidupmu, dan aku memegang semua kata-kata dan janji mu tadi ".


" Sean, perintahkan seseorang untuk mengantarkan tuan Danu ke kediamannya. Karena dia harus segera pulih, untuk menemui mantan calon istri tercintanya ". Titah Gavino, sekaligus mengejek Danu.


" Terima Kasih tuan Gavino ".

__ADS_1


......................


...Bersambung........


__ADS_2