CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
122. Benci dan Cinta


__ADS_3

Hawa di Ruang meeting terasa sangat panas, padahal semua AC menyala mencapai 18°c. Sean melirik orang-orang yang berdiri dibelakang kursi Danira, lalu beralih pada Sarah yang duduk dengan tegap disamping Danira.


Ckk...pantas saja aku tidak pernah bisa membuka data diri Nyonya, ternyata semua hacker itu dibawah kendali wanita ini....mereka menyebalkan sekali, memberi alasan yang membuatku hampir frustasi. Batin Sean, dia baru menyadari ketika melihat beberapa wajah yang familiar saat di lobby tadi, ternyata ada 3 hacker yang pernah Sean minta untuk membobol keamanan data pimpinan RA Group, namun mereka hanya memberi alasan butuh waktu yang cukup lama. Ternyata mereka pengawal Ny. Danira. Pikir Sean kesal.


" Tuan Gavino....apa anda bisa menjawab semua pertanyaan saya ?". Tanya Danira datar. Gavino benar-benar bungkam, dia tak berniat menjawab semua pertanyaan Danira. Gavino masih fokus dengan keterkejutan yang tak ada habisnya.


TOK*


TOK*


TOK*


Ketukan pintu menghentikan Danira yang ingin kembali bertanya. Dua orang Office Girl masuk dengan membawa nampan berisi minuman hangat ditangan mereka, dan beberapa cemilan untuk menemani meeting yang sedang berlangsung. Setelah meletakkan minuman itu dengan hati-hati, OG itupun mempersilahkan Danira untuk meminumnya.


" Terima kasih....". Ucap Danira ramah, menundukkan kepalanya sekilas, sambil tersenyum. OG itupun tersenyum senang, berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Gavino masih duduk dengan tenang, dia memperhatikan ketika Sarah berdiri dan mendekati Danira, sambil meminta sesuatu kepada pengawal yang ada dibelakang mereka. Pengawal itu mengeluarkan satu buah tempat berwarna silver, lalu menyerahkannya kepada Sarah.


Set*


Sarah membuka tempat itu, lalu meletakkannya diatas meja, Gavino dan Sean menyipitkan mata mereka, melihat benda-benda itu.


Alat makan?. pikir Gavino merasa aneh. Namun sedetik kemudian, dia menyadari sesuatu.


BRUK*


Gavino berdiri hingga membuat kursi tempatnya duduk terjatuh. Danira memperhatikan langkah Gavino yang mendekati mejanya. Apa yang ingin dia lakukan. pikir Danira.


Tanpa mengatakan apapun Gavino mengambil gelas teh Danira lalu meminumnya setegah, lalu mengambil sebotol air mineral yang ada didepan Danira yang masih tersegel lalu meminumnya hingga setengah. Kemudian cemilan-cemilan yang ada didepan Danira pun Gavino coba satu persatu. Semua orang yang ada disana melongok melihat apa yang sedang Gavino lakukan.


" Aku tidak mungkin meracuni istriku sendiri ". Ucap Gavino melirik Sarah tajam, lalu menyodorkan sebotol air mineral yang ada ditangannya kehadapan Danira.


" Apa sekarang kau sudah percaya, bila aku tidak menaruh racun dimakananmu no.na ?". Danira memperhatikan ekspresi kesal Gavino, lalu mata Danira beralih pada botol air mineral yang Gavino berikan. Danira mengambil botol itu, lalu mengangkat sedikit cadarnya, meminum air itu hingga tandas. Setelah melihat Danira menghabiskan minumannya, Gavino berlalu pergi, tapi dia berhenti ketika ditegah pintu keluar.


" Apa kita bisa berbicara BERDUA saja Nona Sandanira ?". Tekan Gavino, melirik Sarah tajam, mengisyaratkan bila dia hanya ingin berbicara dengan Danira tanpa dinganggu siapapun. Setelah mengatakan itu Gavino pergi meninggalkan ruang meeting. Danira berdiri dari kursinya.


" Nona...!!!". Sarah ragu membiarkan Danira pergi seorang diri.


" Tidak apa, bukankah kau sudah mengenal bagaimana aku ?". Danira menepuk-nepuk tangan Sarah, menyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Danira melangkah melewati Sarah dan Sean.


Danira keluar dari dalam Lift, melangkah menuju ruangan Gavino, diikuti oleh Sarah dan Sean yang ada dibelakangnya. Sonya yang telah berdiri didepan meja kerjanya, menunduk setengah tubuh ketika melihat Danira datang. Sonya merasa merinding ketika melihat beberapa pengawal bertubuh besar, berwajah garang dengan senapan panjang didada mereka berjalan mengiringi Danira.

__ADS_1


" Sonya, bagaimana kabarmu ?". Ramah Danira, Sonya mengangkat kepalanya melihat Danira, Sonya terpesona ketika melihat bola mata biru yang cantik dihadapannya.


" Saya ba..baik Nyonya, terima kasih ". Jawab Sonya gugup. Danira mengangguk lalu mendorong pintu ruangan Gavino, masuk. Sean dan Sarah berdiri disisi pintu, begitupun ke-empat pengawal yang lainnya.


Saat Danira masuk, dia dikejutkan dengan ruangan Gavino sudah tak berbentuk, bahkan banyak pecahan kaca dan kertas-kertas berserakan dilantai. Tapi yang paling membuat Danira terkejut adalah banyaknya foto dirinya didalam ruang kerja Gavino, Danira mengedarkan pandangannya, melihat semua foto yang menempel disana.


PLAK**


Setumpuk kertas dilemparkan kehadapan Danira, hingga mengenai kaki Danira.


" Jelaskan apa maksud dari semua ini ? ". Ucap Gavino, yang duduk dikursi kebesarannya, dengan tangan yang berdarah. Danira menunduk mengambil kertas yang Gavino lempar. Dia melihat data kematiannya di usia 9 tahun. Danira menghela nafas panjang, bila Gavino bertanya tentang ini Danira pun bingung harus menjawab apa, karena sampai sekarangpun dia tidak tau alasan orang tuanya melakukan itu.


BAKH**


" JAWAB AKU DANIRA ...!!!?". Bentak Gavino kencang, memukul meja kerjanya, Danira tersentak mundur beberapa langkah kebelakang.


" Aku tidak bisa menjawab tentang ini, karena aku pun belum tau alasannya ". Singkat Danira.


" Ha..ha..ha..ha...!! jadi kau benar-benar putri dari pembunuh itu HAH ?".


" Ayahku bukan pembunuh mas, dia difitnah...kau hanya melihat sebagian dari buktinya ".


Gavino mendorong tubuh Danira hingga menempel ketembok, dia menekan leher Danira cukup keras.


" Akrh...!!". Pekik Danira pelan merasa sakit. Danira bisa melihat kilatan kebencian dan kemarahan yang sangat besar Dimata Gavino.


" Sebagian bukti apa hah ?, aku sudah melihat semuanya...dan kau masih membelanya ?". Danira memegang tangan Gavino yang melingkar erat dilehernya, melihat mata Danira memerah, Gavino segera mengendurkan cekikannya.


" AAAAKKKHHHHH....!!!". pekik Gavino kembali melempar guci yang ada ujung ruangan.


PYAR**


Guci itu pencah menjadi kepingan kecil, berhamburan dilantai. Danira memegang lehernya yang berdenyut sakit.


" Oma sudah menceritakan semuanya padaku, dan Oma Laras juga sudah sering memberi tahu mu, bila ayah ku bukan pembunuh ayahmu. Tapi mengapa kau masih tidak percaya, kau terlalu mempercayai Vidio rekayasa itu ". Ujar Danira. Gavino menyelang mendengar ucapan Danira.


Beberapa hari setelah kepulangan mereka dari Kalimantan, Oma Laras menghubungi Danira, menjelaskan sesuatu rahasia tentang hubungan ayah Gavino dan ayah Danira. Agar Danira tetap berhati-hati dengan Gavino, yang masih memiliki dendam terhadap seluruh keturunan Batara. Ayah Danira dan ayah Gavino menjalin kerjasama cukup lama, hanya saja ayah Danira tidak menggunakan nama kebangsawanannya. Ayah Danira tidak ingin bila rekan bisnisnya menerima kerja sama hanya karena dia keturunan raja, bukan karena kemampuannya sendiri. Ayah Danira sangat menjaga privasi keluarganya, hingga sedikit sekali rekaman tentang keluarganya yang bisa media publikkan.


Oma Laras telah berulang kali menyakinkan Gavino, bila Batara bukan pembunuh Pradiksa, karena Oma Laras sangat kenal bagaimana keluarga itu. Namun Gavino tetap mempercayai apa yang dia lihat, dia bahkan sempat memusuhi Omanya sendiri, karena dia berfikir Oma Laras terlalu membela Batara.


Danira mengambil ponselnya, lalu memutar sebuah Vidio rekaman Cctv 17 tahun yang lalu. Danira dan orang-orangnya sangat bekerja keras mencari rekaman yang asli, karena rekamannya sudah banyak yang direkayasa oleh pihak musuh.

__ADS_1


" Mas bisa melihat ini, agar mas yakin bila ayahku bukan pembunuhannya ". Ujar Danira, meletakkan ponsel diatas meja kerja Gavino, lalu dia berjalan kearah sofa yang ada diruangan itu. Gavino melirik Danira tajam, lalu mengambil ponsel Danira. Rekaman itu mulai berputar...


* Didalam rekaman Seorang pria beperawakan berisi, tinggi dan gagah berdiri tepat ditegah lobby Kencana Company, sedang menunggu seseorang yang datang, orang yang berdiri itu tak lain adalah ayah Danira, Batara. Tak berapa lama, seorang pria dan satu pria lainnya juga datang menghampiri Batara, Dia adalah ayah Gavino, Pradiksa, mereka saling berjabat tangan dan saling berpelukan. Mereka tampak sangat akrab terlihat dari ekspresi mereka seperti sedang bercanda. Namun diputaran ke menit 54. Suara tembakan terdengar nyaring, tanpa diduga ayah Gavino melihat si penembak langsung mendorong tubuh Batara hingga terjatuh kelantai, saat ayah Gavino juga ingin menghindar, tembakan dari sisi lain mengenai tepat dikepalanya. Sehingga ayah Gavino meninggal di tempat.


Gavino yang saat itu masih remaja, sangat terguncang ketika mendengar kematian dadakan sang ayah, apa lagi setiap malam dia selalu melihat sang ibu menangisi kepergian ayahnya, itu semakin membuat Gavino menutup diri. Hingga tak tau dari mana asalnya, tiba-tiba ponsel Gavino bergetar menandakan ada pesan masuk, ternyata Vidio yang berisi tentang kejadian yang menimpa ayahnya. Didalam vidio yang Gavino terima Ayah Danira sengaja menodongkan pistol kekepala Ayah Gavino, hingga kejadian itu terjadi. Sejak saat ini Gavino menyimpan dendam, dan bersumpah akan membunuh semua keturunan Batara hingga akhir dalam keadaan dan posisi yang sama seperti yang dialami ayahnya, namun sayang disaat pencariannya dimulai, dia mengetahui bila anak dari Batara telah meninggal dunia diusia 9 tahun, namun Gavino tak pernah menyerah dia bahkan terus mencari keberadaan Batara, yang tiba-tiba hilang ditelan bumi. Hingga tiba disaat Gavino menerima informasi bila Perusahaan Kencana Company dijual, dan pemilik RA Group masih memiliki hubungan dengan Batara, Gavino mulai menyusun rencana untuk menghancurkan orang itu. Tapi Gavino kembali terkejut, karena orang yang ingin dia bunuh ternyata Danira, istri yang sangat dicintainya.


"Tidak...ini tidak mungkin, pasti rekaman ini palsu ". Ucap Gavino, melempar handphone Danira. Gavino menyugar rambutnya kasar, dia tak mempercayai rekaman yang Danira berikan. Sulit bagi Gavino mempercayai semua ini, Gavino memutar tubuhnya membelakangi Danira. Gavino berdiri didepan jendel kaca dengan berkecak pinggang, pikirannya masih berputar-putar mengingat semua kejadian dimasa lalu, bagaimana mereka harus menyembunyikan kematian ayahnya yang teragis, dengan menyebarkan berita bila pengusaha Pradiksa meninggal karena serangan jantung. Itu sangat menyakiti hatinya, Sang ibu beserta adik-adiknya. Semua itu dilakukan Demi menjaga nama baik keluarga agar terhindar dari berita miring yang akan merusak mental keluarganya.


Melihat keadaan Gavino yang kacau, Danira menghela nafas, hatinya sakit melihat situasi seperti ini. Inilah mengapa Danira memilih menyembunyikan jati dirinya dari Gavino. Karena dia tau, Gavino memiliki tujuan lain saat mengajukan kerjasama, ditambah informasi dari Oma Laras, yang semakin menguatkan keyakinan Danira agar Gavino tidak boleh tau dulu, sampai dia menemukan bukti yang kuat untuk mengubah dendam Gavino yang telah mendarah daging. Karena Danira tau, sifat Gavino yang keras kepala dan kritis.


Danira membuka niqabnya, menaruhnya diatas sofa, dia berdiri lalu melangkah mendekati Gavino. Danira memeluk Gavino dari belakang melingkarkan tangannya didada Gavino. Membuat Gavino tersentak, dan terdiam.


" Mas....!!! rekaman itu asli, yang mas Gavino lihat dulu itu yang telah direkayasa. Aku mengetahui semua ini berkat info dari Oma Laras, yang sangat yakin bila ayahku tidak bersalah. Oma mengatakan dia sudah sering memperingati mas gavin, bila mas Gavin sedang dimanfaatkan oleh seseorang, tapi mas Gavin tak mempercayai itu, mas Gavin malah memusuhi oma. Bila mas bertanya, siapa yang melakukannya aku juga tidak tau, tapi yang jelas yang melakukan semua ini salah satu dari musuh-musuh ayahku, dan sampai saat ini mereka masih mengincar ku ". Ujar Danira, menempelkan kepalanya dipunggung Gavino, Danira dapat mendengar detakan jantung tak beraturan gavino, serta nafas yang masih memburu. Gavino hanya diam, sulit menerima yang Danira katakan.


" Tapi......jika mas Gavin, tetap tidak mempercayai aku, dan memilih percaya dengan rekaman dimasa lalu, aku pun tak akan memaksa karena itu hak mu, aku sudah siap membasuh dendam dihatimu saat ini juga ". Ujar Danira, menarik sesuatu dari dalam gamisnya, lalu meletakkan benda itu ditangan gavino, Dengan sekali tarikan Danira membuat Gavino memutar tubuhnya menghadap Danira, dan menarik tangan Gavino mengarahkan pistol yang Danira berikan tepat didepan keningnya. Gavino membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang Danira lakukan.


" Bukankah ini yang mas tunggu selama ini ?, lakukanlah....tuntaskan lah rasa dendam mu padaku. Tapi setalah itu, hiduplah dengan baik ". Ucap Danira masih menahan tangan Gavino diatas kepalanya. Netra mereka saling bertemu, Danira melihat Gavino tanpa meneteskan air mata sedikitpun, Dia sudah menyiapkan semua ini dengan matang. Dia sudah memperhitungkan semuanya, jika sampai suaminya tak mempercayai ucapannya, dia sudah siap mati ditangan suaminya sendiri, dalam keadaan tersenyum.


Danira memperhatiakan wajah tampan Gavino yang memerah, dengan rahang mengeras. Mata Gavino yang tajam memancarkan kebencian dan Cinta. Danira tersenyum.


" Lakukanlah....aku sudah siap ". Ujar Danira penuh keyakinan. Jari Gavino menarik pelatuknya.


" Kau yakin ?". Ucap Gavino datar. Danira mengangguk.


" Setelah kematianku, hilangkan lah rasa dendam ini, karena ayahku tidak bersalah. Tolong lanjutkan proyek amal ini demi mereka yang telah berharap bisa mendapatkan tempat yang layak, dan satu lagi hiduplah dengan baik dan bahagia ". Ucap Danira lembut, menatap Gavino penuh perasaan. Danira sudah pasrah, baginya dia telah berusaha meluruskan kesalahpahaman yang terlalu lama. Danira memejamkan matanya.


" Aku mencintai suamiku...". Ucap Danira.


DOR*


DOR*


Sarah dan sean yang berada didekat pintu terkejut mendegar suara tembakan berkali-kali dari dalam ruangan Gavino. Dengan cepat Sarah ingin membuka pintu, namun tangan Sean menghalangi Sarah.


" Apa yang kau lakukan, apa kau tidak dengar suara itu ?". Sungut Sarah panik, Sean hanya diam tetap memasang badan tak membiarkan Sarah masuk. Sarah yang sudah emosi mendorong tubuh Sean dengan kencang, Sean yang tak mengira mendapat serangan itupun menjadi limbung, menabrak meja Sonya.


Sarah mendorong pintu ruangan Gavino, matanya terbelalak ketika melihat situasi yang terjadi didalam.


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2