CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
52. Emosi Stevani


__ADS_3

Suasana Didalam restoran itu tampak ramai, namun senyap menyelimuti meja yang diduduki 4 orang anak manusia. 6 pasang mata, masih terdiam melihat kerah Danira yang tak terlihat seperti biasanya. Danira yang merasa diperhatikan seperti itu, mulai mengumpulkan kesadarannya lagi yang hampir dibungkus oleh emosi.


Astaghfirullah wa atubu ilaih


Astaghfirullah wa atubu ilaih


Astaghfirullah wa atubu ilaih


Danira beristigfar didalam hatinya, sambil menurunkan pisau daging yang dia arahkan ditangan Stevani.


" Ma.maafkan saya, saya tidak bermaksud". Ujar Danira merasa bersalah. Namun Gavino masih diam mematung, ini kedua kalinya dia melihat sisi lain Danira.


" Enak saja maaf, kau hampir melukaiku, dan kau hanya mengatakan maaf. Bagaimana jika aku terluka hah ? kau tak akan sanggup membiayai pengobatan kulitku ini, wanita miskin sepertimu mana mungkin mampu". Ketus Stevani tak terima, dia masih terus melemparkan hinaannya. Danira memilih diam, tak ingin menanggapi lagi.


Danira sudah merasa tidak nyaman, dia melambaikan tangan memanggil pelayan. Sang pelayan pun dengan segera mendekat.


" Ada yang bisa saya bantu nona ?". tanya dengan sopan.


" Makanan saya tolong di bungkus saja, saya sudah tidak berselera makan disini". Ujar Danira, sambil menyerahkan piring berisi makanan yang baru dia makan 1 suap.


" Baik Nona, tunggu sebentar ". Pelayan itu mengambil lalu pergi menyiapkan pesanan Danira. Stevani makin membenci Danira, seakan belum puas ingin mempermalukan Danira, Stevani mulai mencari akal untuk menyerang Danira lagi.


" Ciihhh...!! makanan seperti itu saja pakai dibungkus, apa kau tidak pernah makan makanan enak seperti itu hah ?".


" Kalau aku sih, jika tidak habis ya dibuang saja". Ejek Stevani, sambil mengelap tangannya dengan tisu. Danira menghembus nafasnya pelan, rasanya ingin sekali Danira membaluri mulut wanita ini dengan saus sambal, namun dia tahan. Dia tak boleh terpancing emosi lagi.


" Apa anda tahu hukum membuang makanan ?". tanya Danira kepada Stevani, mendengar pertanyaan Danira membuat Stevani memotar bola matanya malas.


" Untuk apa aku tau hukum seperti itu, jika aku sudah merasa kenyang dan tidak berselera lagi ya tinggal buang. Iya kan Honey". Jawab Stevani santai, sambil melihat Gavino. Gavino hanya diam tak menjawab. Danira tersenyum sedih mendengar jawaban Stevani.


" Ketahuilah...Allah pernah menerangkan dalam surah Al-isro Ayat 26-27. Bahwa perilaku pemborosan adalah merupakan kebiasaan setan. Siapapun yang melakukan tindakan tersebut maka dikatakan sebagai saudara-saudara setan. Baik itu pemborosan harta atau makanan, semua sama-sama tidak baik karena itu sama saja Mubazir".


" Aku rasa, semua agama mengajarkan yang baik dan benar bukan". Jelas Danira, memberi pemahaman. Namun Stevani tak memperdulikan ucapan Danira malah dia makin geram, tidak terima dengan nasehat Danira.


" Berhenti menceramahi ku, kau pikir aku minta kau berceramah hah. Jika kau ingin tausiah pergi saja ke mesjid atau ketempat pengajian, jangan didepanku". pekik Stevani, Niatnya ingin membuat Danira yang emosi malah Dia sendiri yang semakin jengkel.

__ADS_1


" Saya tidak bermaksud ceramahi anda, saya hanya memberi tahu anda yang benar, mengapa anda jadi marah seperti ini, Apa anda merasa kalau anda dalam golongan Setan...!". Ujar Danira, hal itu semakin membuat Stevani hilang akal, dia ingin menjambak Danira. Namun tangannya ditahan oleh Gavino.


" Cukup Van...kau dari tadi selalu mencari masalah padanya, inilah mengapa aku menolak saat kau memaksa untuk makan bersama dengannya tadi, karena aku tau kau pasti akan membuat kegaduhan dan itu akan membuatku malu lagi seperti waktu itu". ujar Gavino menekan nada suaranya agar tidak didengar oleh pengunjung lain. Stevani syok, dia tak menyangka bila sang kekasih juga ikut menyudutkannya kali ini.


" Jadi kau membelanya honey ?". Stevani stegah berteriak kepada Gavino, suara Stevani berhasil menarik perhatian para pengunjung lain.


" Kecilkan suaramu wanita gila, apa kau tidak punya urat malu hah. Lihat semua orang melihat kita sekarang". Ketus Doni, yang sedari tadi sudah sangat geram dengan kelakuan kekasih sahabatnya ini, jika tidak memikirkan ada Gavino, Mungin sudah Doni seret keluar wanita seperti ini. Setevani melihat sekelilingnya, bukannya malu Stevani malah meneriaki semua pengunjung yang melihatnya.


" Apa yang kalian lihat hah ?, lanjutkan saja makan kalian, mengapa malah melihat urusan orang lain". Teriaknya, Gavino mengepal tangannya dia sudah tak tahan lagi.


" STEVANI.....bisakah kau tutup mulutmu". Gavino berbicara dengan gigi merapat, menatap Stevani dengan mata setajam pedang. Nyali Stevani mulai menciut melihat Gavino seperti itu.


Seorang pelayan menghampiri meja mereka lagi, memberikan bungkusan kepada Danira.


" Ini Nona".


" Terima kasih". Danira menerima, lalu berdiri mendorong kursinya ingin pergi.


" Saya pamit duluan, rasanya tidak nyaman sekali harus membuat kegaduhan ditempat umum seperti ini".


" Tidak perlu, terima kasih banyak atas tawarannya. Seharusnya suami saya sendiri yang mengantarkan saya pulang. Namun sepertinya itu tidak akan terjadi, mengingat suasana hati kekasihnya sedang tidak baik-baik saja...!! Iya kan mas ?". Ujar Danira Lalu melihat Gavino yang masih dengan wajah dingin tanpa mengalihkan tatapannya kepada Stevani.


" Saya permisi, Assalamualaikum". salam Danira, sambil mendorong stroller Khalisa berlalu pergi.


...****************...


Sepeninggalan Danira, Doni, Gavino dan Stevani masih diam, tak lama Doni pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi, dia kesal dengan Gavino yang menurutnya tidak tegas. Yang hanya berani mengintimidasi dengan tatapannya.


Gavino pun ikut berdiri, lalu meninggalkan Stevani sendiri, dia tak ingin menyakiti Stevani dengan kata-kata nya makanya dia lebih memilih pergi saja membawa serta emosinya yang butuh pelampiasan.


" Gavino kau mau kemana ?".


" Kau tega meninggalkan aku sendirian hah ?


" Gavinooo....!!". Teriaknya, Stevani makin marah, dia menggebrak meja dengan keras hingga tangannya berwarna kemerahan.

__ADS_1


" Aa.. Brengsekkk....ini semua gara-gara wanita sialan itu". pekik Stevani tak tahu malu, orang-orang makin berbisik-bisik mengatai Stevani sudah gila.


"Lihat saja, akan aku buat kau membayar penghinaan ini ". gumanya sambil tersenyum licik. Dari dalam tasnya terdengar suara dering ponsel, Stevani merogoh kedalam tas, mengambil poselnya lalu melihat nama si penelpon. Stevani langsung tersenyum manis dan menggeser tanda jawab.


" Hallo beb ". Suara Stevani kembali manja.


" Baiklah...aku juga sedang membutuhkanmu. Aku akan datang ke apartemenmu saja".


" Bye...You to". Jawab Stevani, menyambar tasnya lalu pergi tanpa perduli dengan pandangan orang-orang kepadanya.


Gavino mempercepat langkahnya, mengejar danira. Saat keluar dari dalam Restoran tadi. Gavino bertekad ingin mengajak Danira pulang bersama, dia mengedarkan pandangannya kesegala arah mencari Danira.Seharusnya dia belum terlalu jauh. pikir Gavino


Namun kakinya terhenti, saat melihat Danira tegah berbincang dengan pria asing dan mereka terlihat sangat akrab di depan lobby mall. Apalagi pria itu sambil menggendong Khalisa, terlihat Khalisa juga menikmati dekapan lelaki itu.


Siapa lagi laki-laki ini ?


Mengapa banyak sekali laki-laki yang mencoba mendekatinya ?


Apa ini ayah Khalisa, jika ini ayah kandungnya berarti yang kemarin...!!


Astaga..apa aku telah berbuat kesalahan dengan asal menebak. Batin Gavino.


Gavino tak bisa mendengar percakapan mereka, karena jaraknya lumayan jauh. Tapi bisa Gavino simpulkan jika pria itu memiliki perasaan khusus kepada Danira, terlihat jelas dari tatapan matanya yang hangat kepada Danira.


Gavino mengeraskan geram, dia tak terima bila ada pria lain yang menatap istrinya seperti itu. Namun Gavin masih belum juga menyadari bila itu adalah rasa cemburu.


Gavino mulai berjalan mendekati Danira dan pria itu. Sayup-sayup terdengar suara tawa kecil Danira, hal itu membuat hati Gavino makin panas.


Sial..Bahkan dia tak pernah tertawa seperti ini kepadaku. Batin Gavino lagi.


Hekhem....


......................


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2