
Danira berjalan keluar dari dalam bangunan pengadilan agama, melangkah menujuh parkiran dimana Sarah telah menunggunya. Tadi disaat Sarah menunggu Danira diruang tunggu, Sarah menerima panggilan telpon. Dia meminta ijin kepada Danira untuk kembali kedalam mobil.
Melihat Danira berjalan kearahnya, dengan sigap Sarah keluar dan membuka pintu mobil untuk Danira masuk.
" Terima kasih rah ". Ucap Danira lesu. Sarah juga ikut masuk dan duduk dibelakang kemudi.
" Bagaimana Nona ?, apa anda sudah mendaftarkan ya ?". Tanya Sarah ingin tau.
" Hemmmmhhh...!!" Danira menghela nafas panjang, lalu mengangkat burqanya kebelakang, hingga menampakkan bola mata berwarna biru itu saja.
" Ada apa nona, mengapa tatapan anda seperti sedang bingung ?". Tanya Sarah jadi khawatir.
" Sarah..., Apa kamu pernah mendengar atau membaca berita tentang adanya peraturan baru, yang baru saja disah kan oleh pemerintah ?". Bukannya menjawab, Danira malah melemparkan pertanyaan yang membuat Sarah semakin bingung.
" Peraturan seperti apa nona, maaf karena saya belum membaca berita apapun dalam Minggu ini ". Jawab Sarah jujur.
" Peraturan tentang pernikahan ". Ujar Danira lagi. Sarah diam, otaknya mulai menebak-nebak apa yang dimaksud nonanya.
" Maaf nona, saya tidak mengerti apa yang anda maksud. memangnya ada apa ?, apa didalam tadi anda diperlakukan tidak baik, atau ada yang mempersulit anda ?". Tanya Sarah lagi, bila ada yang melakukan hal itu kepada Danira, Sarah ingin membuat perhitungan kepada orang itu.
" Tidak rah, bukan itu ". Sangah Danira cepat, kemudian Danira mulai menceritakan semua apa yang dia dengar didalam sana.
Flashback on.
" Ada yang bisa saya bantu nyonya ". Tanya Petugas wanita yang mengenakan kerudung berwarna biru itu sopan, dengan mengatupkan telapak tangannya didepan dada.
" Saya ingin mengajukan permohonan gugatan perceraian saya". Ujar Danira, menjelaskan maksud kedatangannya
" Apa anda membawa semua dokumen-dokumen nya ?".
" Iya...ini ". Danira menyodorkan amplop berukuran besar berwarna coklat kehadapan petugas itu. wanita itu menerimanya.
" Silahkan isi form ini dulu, sambil menunggu saya cek kelengkapan dokumennya". Ujar petugas wanita, berlalu pergi meninggalkan Danira.
3 menit kemudian petugas wanita itu datang lagi menemui Danira, dengan senyuman ramah yang terus terukir dibibirnya.
" Maaf membuat anda menunggu lama Nyonya ". Ujar wanita itu lembut, merasa tak enak hati.
" Tidak apa-apa mbak ".
" Jadi nama anda Danira, berusia kurang 2 bulan, 20 tahun dan anda baru saja menikah sekitar 3 bulan yang lalu?". Sebuat petugas itu, membaca biodata Danira.
" Iya benar mbak ". Ujar Danira membenarkan. Wanita itu menutup berkas-berkas Danira, lalu memasukkannya lagi kedalam amplop coklat seperti semula. melihat apa yang dilakukan petugas wanita itu, membuat Danira mengerutkan dahinya bingung.
" Nyonya, saya mohon maaf. Kami belum bisa menerima permohonan gugatan anda". Ujar petugas itu.
" Kenapa mbak, apa ada dokumen saya yang salah, atau kurang ?".
" Bukan Nyonya, semua berkas-berkas ada sudah sangat lengkap dan benar. Hanya saja sesuai dengan peraturan terbaru dari pemerintah, bahwasannya pernikahan yang belum genap 2 tahun tidak bisa mengajukan gugatan perceraian ". Jelas petugas wanita itu.
" Maaf mbak setahu saya, bukannya ada yang baru menikah seminggu sudah ada yang bisa melakukan permohonan gugatan, lalu kenapa yang saya ditolak ?". Tanya Danira, dia benar-benar bingung dengan apa yang di tuturkan oleh petugas yang ada dihadapannya ini.
" Iya anda memang benar nyonya, tapi itu peraturan yang lalu, dan sekarang itu sudah tidak boleh. Sesuai dengan peraturan yang sudah disahkan kemarin oleh pemerintah, pasangan yang ingin mengajukan gugatan perceraian minimal pernikahannya telah mencapai usia perkawinan 2 tahun".
" Peraturan ini diperuntukkan, untuk pasangan baru. Bila ada masalah dalam rumah tangga mereka, cukup saling instrospeksi diri dan tidak cepat mengambil keputusan perceraian, yang akan menimbulkan penyesalan diakhir nanti ". Jelas petugas wanita itu lagi. Danira hanya diam menyimak penjelasan itu, dia merasa ada yang aneh.
Flashback off
Aneh, bahkan kemarin karyawan yang ada dikantor meminta ijin cuti karena sedang mengurus perceraian dengan istrinya yang baru menikah 3 hari. Kenapa nona disarankan menunggu usia pernikahan 2 tahun. Batin Sarah.
" Bukankah ini aneh rah ?, atau memang aku yang tidak tau tentang ini ". Ujar Danira Bingung. Sarah diam, dia belum bisa menjawab pertanyaan Danira karena dia pun merasakan hal yang sama. Sarah melihat keluar, tiba-tiba matanya senangkap seorang pria mengunakan topi tegah menelpon dan melihat kearah mobil mereka.
Apa jangan-jangan ini semua ada hubungannya dengan tuan Gavino ?. Batin Sarah menerka-nerka.
__ADS_1
Jika ini benar ulah tuan Gavino, berati dia tidak ingin nona menceraikannya, apa ini artinya tuan Gavino telah jatuh hati kepada nona ?. Batin Sarah terus berdialong sendiri. Sarah mengulum senyum
" Aahhh...lalu aku harus bagaimana ?, apa aku harus mencoba kepengadilan yang lain saja ".
" Jangan Nona ". Potong Sarah cepat, membuat Danira terkejut.
" Kenapa ? ".
" Eemm itu, bukankah ini peraturan yang sudah di sah kan oleh pemerintah. Berarti sudah berlaku diseluruh pengadilan di negri ini ". Jelas Sarah memberi alasan. Untuk kali ini Sarah akan membantu Gavino, meski tidak secara terang-terangan dia akan mencoba membantu menahan Danira agar tak kepengadilan yang lain.
" Hhmmm...kau benar rah ". Ujar Danira lesuh.
" Mungkin ini cara Allah menunjukkan jalannya, bahwa nona dan tuan Gavino masih berjodoh". Danira menoleh melihat Sarah.
Apa iya, ini petunjuk dari Allah. Batin Danira.
...****************...
Di perusahaan Garayudha Company.
Seorang pria bertubuh tinggi, kulit sawo matang, mata bulat, hidung sedang, dengan badan tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Dia menggunakan setelan jas berwarna Abu-abu, dan dikakinya dibaluti dengan sepatu pantofel mengkilap. Rambut yang disisir rapi kebelakang. Mungkin usianya sekitar 31 tahunan, hampir seusia dengan Gavino. dia melangkah masuk kedalam ruangan Gavino.
" Selamat siang tuan Gavino ". sapa Danu Tirta ramah. Mengulurkan tangannya.
" Selamat siang juga tuan Danu ". ucap Gavino, membalas jabat tangan Danu.
" Akhirnya, kita bisa berjumpa juga ". Ujar Danu Tirta basa basi, Gavino hanya menanggapi dengan senyum tipis.
" Ayo silahkan". Gavino mempersilahkan tamunya duduk . Danu dan asistennya duduk disofa.
" Jadi, apa yang membawa tuan Danu datang kemari ?". Gavino langsung bertanya tanpa basa basi, dia bertanya dengan kepala sedikit mendongak, kaki disilangkan dan tangan dilipat didepan dada. Danu tersenyum mendengar pertanyaan Gavino, lalu mengangkat jarinya meminta asistennya memberikan map yang mereka bawa.
" Jadi kami kemari ingin menawarkan kerjasama, silahkan dibaca dulu ". Ujar Danu. Gavino membuka map itu, lalu mulai membaca poin-poin yang tertera disana.
" Benar sekali tuan Gavino, jika anda setujuh untuk menjalin kerja sama ini, maka akan banyak sekali keuntungan yang bisa kita dapatkan ". Jelas Danu. Gavino hanya mengangguk-angguk kan kepalanya, tanda mengerti.
" Saya tidak bisa memberi keputusan sekarang, Karena saya harus memikirkannya terlebih dahulu. Nanti bila saya sudah memutuskan jawabannya, asisten saya akan mengkonfirmasi kepada anda ". Ujar Gavino. Tuan Danu seperti tidak puas dengan keputusan Gavino, namun dia tak ingin terlalu memperlihatkan kekecewaannya yang dia tutupi dibalik senyum ramahnya.
" Baiklah, saya tunggu kabar baiknya".
" Kalau begitu, kami permisi dulu ". Pamitnya berdiri, lalu berjabat tangan dan ingin berlalu pergi. Namun suara Gavino menghentikan langkah kaki tuan Danu.
" Tuan Danu, bolekah saya menanyakan sesuatu ?". Tuan Danu meminta asistennya keluar terlebih dahulu.
" Tentu ...!".
" Apakah anda mengenal Stevani ?". Gavino yang sedari tadi mengamati Danu, seperti pernah melihat, dia ingat waktu itu Stevani pernah memperlihatkan foto undangan pernikahan temannya yang bernama Danu. Tuan Danu Tirta menautkan alisnya melihat Gavino mendengar pertanyaan Gavino.
" Zioni Stevani ?" Tanya tuan Danu memastikan.
" Iya...". Gavino membenarkan.
" Tentu aku mengenalnya, kami dulu adalah teman 1 SMA, dia sangat hebat kalau usuran ranjang. Apakah tuan Gavino juga menjadi teman ranjangnya ?". Tanya Tuan Danu, membuat Gavino seakan tak percaya dengan pendengarannya.
" Apa maksud anda ". Ketus Gavino, mulai emosi, namun tetap mencoba meredamnya.
" Iya maksud saya seper.....!!". Suara Dering ponsel Tuan Danu memotong pembicaraan mereka.
" Maaf tuan Gavino, sepertinya pembicaraan kita harus terhenti sampai disini dulu. Jika anda ada waktu, maka datanglah ke bar milikku, maka aku akan menjawab semua pertanyaan anda barusan ". Tuan Danu menyerahkan kartu namanya, yang tertera alamat bar miliknya. Gavino menerima kartu itu, tanpa mengatakan apapun lagi.
Sepeninggalan Tuan Danu, Gavino berdiri didepan jendela kaca diruangannya. Matanya seperti mengawasi pergerakan kendaraan yang ada dibawah sana, namun pikirannya masih memikirkan ucapan tuan Danu tentang Stevani.
Tok..
__ADS_1
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu, membiarkan lamunan Gavino.
" Masuk ".
Sean masuk terburu-buru dengan membawa Tab ditangannya.
" Tuan, nyonya sudah datang ke pengadilan hari ini ". Ujar Sean memberi tahu, mendengar itu, Gavino segera membalikkan tubuhnya berjalan mendekati Sean.
" Bagaimana, apa rencana kita berhasil ?".
" Tentu tuan, pihak pengadilan telah mengkonfirmasi, bahwa mereka telah menolak permintaan Nyonya ". Jelas Sean. mendengar penjelasan Sean, tanpa sadar Gavino mengembangkan senyum senangnya.
" Bagus...!! Apa kau sudah meminta orang untuk membuntuti kemana dia pergi ?".
"Sudah tuan, ini rekaman Cctv nya, anda bisa memantau dari sini ". Ujar Sean, memberikan tab ditangannya, dan dilayar tab tersebut telah menampakkan mobil yang membawa Danira mulai bergerak meninggalkan parkiran pengadilan. Gavino terus saja mengamati, kemana arah mobil Danira, namun secara tiba-tiba rekaman Cctv yang sedang Gavino lihat berubah menjadi gelap, semenit kemudian menyala kembali, tapi rekamannya telah berubah, sudah tak menampakkan kendaraan Danira.
" Kenapa ini ". Teriak Gavino.
" Ada apa tuan ". Tanya Sean bingung.
" Ini, coba kau lihat ?, rekaman Cctvnya menghilang, dan berganti seperti ini ". Ujar Gavino kesal. Sean mengambil tab dari tangan Gavino, lalu mulai memperhatikan rekaman itu. Sean berjalan kearah meja Gavino, lalu membuka sesuatu di laptop bosnya.
" Tuan..., ini adalah rekaman Minggu lalu ". Ucap Sean, Gavino melirik Sean tajam.
" Rekaman Minggu lalu ?".
" Benar tuan, sepertinya ada yang menyabotase rekaman Cctv ini. Coba anda lihat, rekaman yang saya lihat kemarin malam dan yang hari ini waktu dan tempatnya sama". Jelas Sean, melihat itu membuat Gavino mengepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya.
" Brengsekkk....". Gavino mengebrak meja, geram.
" Berarti ada orang yang mencoba membantunya lari dariku". Sungut Gavino, mulai menebak-nebak siapa yang berani menyembunyikan istrinya.
" Apa ini ulah Doni ?". Tebak Gavino, jika benar ini ada campur tangan Doni maka akan Gavino pastikan dia mendapatkan perhitungan, tak peduli bila Doni adalah sahabat karibnya. Gavino sudah ingin pergi menemui Doni.
" Tunggu tuan, sepertinya bukan tuan Doni yang membantu Nyonya ". Ucap Sean, menghentikan langkah Gavino. Gavino mengerutkan dahinya melihat Sean.
" Coba tuan lihat wanita ini, bukankah dia Nona Sarah, direktur perusahaan Radenayu Group?, Dia yang mengantarkan nona kepengadilan hari ini tuan ". Tunjuk Sean, kerekaman sebelumnya. Gavino memperhatikan wajah wanita yang ada didalam rekaman Cctv secara saksama, benar wanita itu adalah Sarah.
" Apa menurutmu, ini semua ada campur tangan dari pemilik Radenayu Group?".
......................
...Bersambung......
Assalamualaikum kakak-kakak Semuanya.😍
Mohon maaf, baru bisa Up sekarang.🙏
Karena Author sedang demam ( Flu dan pusing).🤢🤮
Jadi author belum sempat nulis.🙏
Terima kasih selalu setia mantengin cerita ini.
Dan maaf sudah membuat kakak-kakak semua menunggu terlalu lama.🙏
Tetap jaga kesehatan ya🤗
Salam sayang dari Author
__ADS_1
Saranghae ❤️