CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
109. Yang Pertama


__ADS_3

Gavino membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya kembali. Matanya langsung tertujuh pada pakaian yang ada diatas tempat tidur, lalu beralih kesegelas susu hangat yang ada diatas nakas. Gavino menghela nafas pelan, mencoba meredam rasa amarah yang masih menguasai dirinya. Dia tak ingin Danira melihatnya dalam keadaan seperti ini, bukankah ini malam pertama mereka. pikir Gavino.


Gavino berjalan kearah tempat tidur, lalu mengambil pakaian yang telah disiapkan Danira. Dia membuka kaos yang dia kenakan, lalu memasang piyama tidur dibadannya, mata Gavino kembali beralih melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Gavino berdiri dibalkon kamar, matanya memandang kemerlap lampu-lampu gedung dan jalanan yang ada dibawah sana. Hatinya benar-benar berkecamuk.


Didalam kamar mandi, Danira berkali-kali melihat dirinya dipantulan kaca, malu dan gelisah makin Danira rasakan. Dia merasa geli melihat penampilannya sendiri. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Danira melepaskan pakaian panjang yang selalu menutupi dirinya dari pandangan nakal para lelaki, namun kali ini Danira mengganti pakaian itu dengan pakaian menerawang, yang mampu memancing syahwat laki-laki yang melihatnya. Untungnya laki-laki itu bukan orang lain, melainkan seorang pria yang telah sah secara hukum dan agama melihat bahkan menyentuhnya.


" Apa aku harus menggunakan pakaian ini keluar, rasanya malu sekali bila mas Gavin melihatku memakai pakaian menerawang seperti ini ". Danira menilai penampilannya.


" Tapi bukankah seorang istri memang diharuskan berpenampilan sexy dan menarik dihadapan suaminya, agar para suami tak sibuk mencari kesenangan diluar sana ".


Hhhuuhhhh....ayo Danira kamu pasti bisa, ingat jika seorang istri ingin mendapatkan keridhoan Allah, maka layanilah suamimu dengan baik, berika semuanya yang terbaik, tanamkan dalam hatimu untuk selalu menyenangkan suamimu. Bukankah melayani suami diranjang salah satu ladang pahala. Batin Danira menyemangati dirinya sendiri.


Danira kembali merapikan penampilannya, merapikan rambut panjangnya, menarik nafas dalam, lalu menghembusnya pelan menyemprotkan parfum kebagian pergelangan tangannya lalu menggosok-gosokkan kebagian belakang telinga dan leher. Sesuai dengan yang Danira pelajari di jejaring internet. Perlahan Danira membuka pintu kamar mandi, Dia melihat Gavino tegah berdiri memunggunginya, Danira berjalan pelan menghampiri gavino.


"Mas Gavin....?".


Mendengar suara lembut dan halus memanggilnya, Rasa amarah yang sempat hinggap dihati Gavino tiba-tiba sirna bagaikan butiran debu tertiup angin. Gavino mengukir senyum diwajahnya, lalu memutarkan tubuhnya ingin melihat Danira, Seketika.....


DUAR**


Gavino kembali mendapat kejutan yang tak terduga. Mata Gavino terbelalak seperti siap keluar dari tempatnya, mulutnya terbuka lebar, rasanya Gavino sulit sekali menghirup oksigen yang seakan berhenti masuk kedalam paru-paru nya. Gavino menjadi kaku, membeku bak patung Pancoran, matanya tak berkedip melihat penampilan Danira yang menggoda.


Danira berdiri menggunakan lingerie berwarna maroon, dengan modelan dress midi, belahan dada renda, serta terdapat belahan dibagian paha kiri, Sangat pas dan cocok dikulit putih bercahayanya. Pinggang yang ramping, dihiasi rambut terurai panjang hitam bergelombang dibagian bawah sampai ke pinggang, membuat pesona Danira beribu kali lipat meningkat. Semakin membuat Gavino merasakan sesak nafas.


Gavino ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya keluh, suaranya seakan tertahan ditengorokan. Bahkan untuk berjalan mendekati Danira pun kakinya terasa berat. Danira yang terus menunduk menyembunyikan rona malu diwajahnya, sambil memainkan jari-jari tangannya gugup, Danira melirik Gavino yang hanya diam tak bergerak.


" Mas...". Danira menyentuh tangan Gavino. Bagaikan tersengat listrik, sentuhan Danira melancarkan kembali aliran darah yang sempat berhenti dari keterkejutannya. Tapi Mata Danira menangkap luka dipunggung tangan Gavino, melihat itu membuat Danira terkejut, dia mengangkat tangan Gavino lalu melihatnya lebih dekat.


" Mas tanganmu kenapa ?". Gavino diam, tak menjawab atau memberikan respon apapun, dia masih terpaku melihat Danira.


" Mas jawab aku, tangan kamu kenapa. Jangan diam saja ". Tanya Danira, mulai menaikkan sedikit nada suaranya. Danira menarik Gavino masuk, lalu membawanya duduk dibibir tempat tidur. Danira berlari cepat mencari kotak obat, untuk mengobati luka suaminya, setelah dapat dia kembali menghampiri Gavino.


Danira membersihkan luka dibagian tangan gavino pelan sambil meniup-niup nya. diwajahnya terpampang jelas kekhawatiran, apa yang terjadi, mengapa dia bisa luka seperti ini ?, apa telah terjadi sesuatu. Batin Danira, dan saat itu juga air matanya luruh.


Gavino menangkup wajah Danira, membuat Danira menatap Gavino.


" Heii...kenapa kau menangis ?, tenanglah aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, aku hanya sedang kesal pada seseorang ". Ujar Gavino membasuh air mata di pipi mulus Danira. Danira hanya diam, matanya mengamati ekspresi diwajah Gavino.


" Dari mana kau mendapatkan pakaian ini ?". Tanya Gavino penasaran, matanya turun kebawah. Membuat Gavino menelan Salivanya dengan susah payah.


" Aku mengambilnya dilemari, aku lihat disana banyak sekali lingerie dan hanya ini yang masih cukup manusiawi untuk dipakai meski tetap menerawang. Apa ini terlihat buruk Dimata mas Gavin ?". Tanya Danira, menunduk.


Ini pasti kerjaan mami. batin Gavino, pasalnya dia tak pernah meminta Sean membelikan pakaian seperti ini, bahkan seingatnya semua barang-barang milik stevani pun telah Gavino buang.


" Tidak....ini malah sangat cocok untukmu, bahkan kau terlihat sangat sexy dan cantik, Aku suka. Kau sengaja menggodaku kan ?". Ujar Gavino yang telah mendekatkan wajahnya ketelinga Danira berbisik.


" Bu..bukan begitu, aku tidak bermaksud menggoda mas Gavin. Aku..aku hanya sedang menjalankan kewajiban ku sebagai istrimu, Aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Bila mas Gavin telah menerimaku apa adanya, maka aku akan mendatangimu membawa serta hak-hak yang kau miliki ditubuh ini ". Jelas danira menunduk malu-malu. Mendengar ucapan Danira membuat Gavino tak bisa menahan lagi raut bahagia diwajahnya.


" Jadi aku sudah bisa mengambil hakku sekarang, begitu ?". Danira mengangguk, tersenyum malu.

__ADS_1


" Benarkah ?, apa kau yakin dan sudah siap ?". Goda Gavino, menyentuh rambut panjang Danira, lalu menyelipkannya dibelakang daun telinga istrinya, membuat kulit Danira meremang. Danira mengangguk lagi sebagai jawaban.


Namun tanpa Danira duga, Gavino malah berlalu pergi meninggalkannya, membuat Danira mengerutkan dahinya. Tak berapa lama gavino telah kembali, dengan wajah basah.


" Mas ngapain ?". Tanya Danira bingung. Gavino berdiri didepan Danira.


" Bukankah didalam Islam, sebelum melakukan hubungan suami istri, kita diwajibkan berwudhu terlebih dahulu. Tenang saja, aku sudah membaca dan mempelajarinya dari internet. Aku tidak akan menggaulimu dalam keadaan yang buruk, karena aku telah berjanji padamu, bahwa aku akan berusaha menjadi suami yang pantas untukmu ". Ucap Gavino, menggenggam tangan Danira erat, membuat Danira tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Terharu.


Aku pikir dia tidak akan mencobanya, ternyata aku salah. Dia selalu menepati janjinya. batin Danira.


Gavino mengangkat tangan kananya menadah, dan sebelah kirinya menyentuh ubun-ubun Danira. Lalu Gavino mengucapkan doa.


بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


...Bismillahi Allahumma jannibnaa asy-syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa....


(Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkan setan dari kami dan jauhkan setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami,')


Gavino melingkarkan tangannya di pinggang ramping Danira, membuat mereka sangat dekat, Gavino menatap Danira kian lekat, tatapan mereka saling mengunci satu sama lain. Dia mengelus kepala Danira lembut, lalu mencium punggung tangan Danira. Mereka berdua tak bersuara, hanya ada suara detakan jantung keduanya yang berdetak seirama.


Gavino mendaratkan kecupan-kecupan singkat dikening, mata, pipi, hidung lalu dia berhenti sejenak memandang bibir ranum yang sudah menggodanya sejak tadi, Gavino mengelusnya dengan ibu jari, tanpa menunggu lagi Gavino mendaratkan ciuman dibibir Semerah buah Cherry milik Danira. Jantung Danira berdetak sangat kencang, merasakan ******* memabukkan dari bibir Gavino.


°Manis....itulah yang Gavino rasa. Dia ********** secara perlahan dan lembut, Tapi ada yang membuat Gavino bingung. Mengapa Danira tak membalasnya. pikir Gavino.


Dia kembali menikmati benda kenyal yang telah menjadi candu baginya, Gavino mengigit bibir bawah Danira, hinga mulutnya terbuka. Membuat Gavino dengan bebas menelusuri setiap isi didalam sana. Danira yang belum paham, hanya bisa diam menerima apa yang dilakukan suaminya, membuat Gavino menghentikan pangutannya.


" Bernapas....jangan ditahan, nanti kau bisa pingsan ". Ujar Gavino.


Apa dia tidak pernah berciuman. Batin Gavino bertanya-tanya.


" Bolehkah aku melakukannya ?". Tanya Gavino, meminta ijin. Danira mengangguk malu, dengan wajah bersemu merah. Gavino semakin gemas dengan tingkah malu-malu istrinya, lalu....


BRET**


Gavino menarik kain yang membalut tubuh Danira, hingga koyak menjadi beberapa bagian. Danira membelalakkan matanya, melihat apa yang dilakukan Gavino. Sedangkan Gavino memancarkan binar damba dan kegirangan, seakan tegah mendapatkan harta Karun paling berharga didunia. Gavino kembali membuka semua pakaian yang dia kenakan, lalu membuangnya kesembarang tempat. Kemudian dia kembali mendaratkan ciuman dibibir Danira yang awalnya lembut berubah kian menuntut, lalu berpindah ke telinga hingga turun ke leher, sehingga terciptanya suara rintihan-rintihan dikamar itu.


Adegan demi adegan pun terjadi, malam panjang baru dimulai......( Selamat membayangkan dengan imajinasi masing-masing 😁 ).


***


°Disaat hasrat Gavino sedang menggebu beberada dipuncaknya dan mereka hampir masuk pada intinya. Tiba-tiba Gavino kembali menghentikan kegiatannya, ketika merasakan sesuatu yang berbeda. Lagi-lagi Gavino menatap Danira yang terpejam sambil mengigit bibir bawahnya, menahan perih, Gavino menyipitkan matanya bingung. Ribuan tanda tanya bermunculan dikepalanya.


Dia masih Suci. Batin Gavino tercengang.


Merasakan suaminya tak lagi bergerak, Danira membuka matanya yang telah basah, Danira melihat raut keterkejutan diwajah Gavino. Dengan kerutan yang tercipta di dahinya.


" Danira kau....?!!".


" Tapi bagaimana bisa ?, lalu Khalisa ?".


Gavino sangat terkejut, Ketika melihat sesuatu yang keluar dari tubuh bagian bawah Danira. Danira mengigit bibir bawahnya pelan.

__ADS_1


" Khalisa bukan anak kandungku mas, Dia putri dari Alm. kakakku ". Jawab Danira pelan, menatap Gavino yang penuh tanda tanya.


DUAR **


Gavino kembali mendapat kejutan ditegah malam, pikirannya kembali mundur, menyadarkan akan kesalahannya yang lalu. Dia turun dari atas tubuh danira, mengambil piyama tidurnya lalu memakainya kembali. Gavino terdiam sejenak, Gavino melemas, dia menjatuhkan tubuhnya dilantai, hanya bertumpu dengan kedua lututnya.


Aku telah melakukan kesalahan lagi?. Batin Gavino. Gavino tertunduk, tanpa sadar air matanya keluar begitu saja. Perasaan Gavino bercampur aduk, rasa haru, bahagia, bangga, sedih dan penyesalan, masuk menjadi satu.


Danira menarik selimut lalu menggulungkan ketubuhnya, dia turun dari tempat tidur ikut bersimpuh menghampiri gavino.


" Mas kenapa ?, apa aku telah melakukan kesalahan ?". Gavino menggeleng.


" Bukan...bukan kau, tapi aku!!! ".


" Danira mengapa kau tak pernah melakukan pembelaan disaat aku selalu menghina dengan kata-kata kasarku. Bahkan aku telah menjatuhkan harga dirimu sebagai wanita, memfitnahmu begitu keji, mengapa kau masih memberikan aku kehormatan ini ". Ujar Gavino, matanya memerah, penyesalan kini menguasai hati Gavino.


" Apakah dengan aku memberikan pembelaan, mas Gavin akan langsung percaya begitu saja ?, tidak kan ? ". Ujar Danira halus.


" Mas Gavin tak perlu menyesali yang sudah terjadi, Mungkin hubungan kita memang harus dimulai dengan takdir saling menyakiti terlebih dahulu, setelah itu kembali dengan saling memaafkan. Danira tak pernah membenci mas Gavin, meski berkali-kali mas Gavin melakukannya pada Danira. Sampai kapan kita akan berhenti dengan penyesalan yang telah tertinggal jauh dibelakang ". Ujar Danira menangkup wajah Gavino. Gavino terdiam mengurai setiap kata-kata Danira.


" Andai aku tau sejak dulu, mungkin aku tak akan pernah menoreh luka di hatimu ". Danira terkikik mendengar ucapan Gavino.


" He..he..he...Mas Gavin tau, Danira lebih menyukai momen kita saat ini, dimana mas Gavin mencintai Danira tanpa memandang fisik dan status Danira. Jika dulu mas Gavin, telah melihat rupa Danira, belum tentu mas Gavin mencintai Danira setulus ini, melaikan hanya ada rasa ketertarikan semata ". Ujar Danira, mengeratkan genggaman tangannya dan Gavino, Gavino menagguk setujuh.


" Mengapa kau tak jujur, aku bahkan telah menuduhmu lagi dengan pria kemarin ". Sesal Gavino. Danira menghela nafas panjang, gemas melihat suaminya yang masih terjebak dalam rasa bersalahnya sendiri. Danira tampak berfikir, haruskah dia melakukan ini, Danira memejamkan matanya sesaat, kemudian Danira mendekat lalu mengecup bibir Gavino singkat, sambil tersenyum cerah, membuat Gavino terdiam terpaku dengan keberanian Danira, lalu Danira menatap mata Gavino dalam.


" Maafkan Danira mas, bukan maksud Danira ingin menutupi semuanya dari mas Gavin. Danira hanya ingin langsung membuktikannya, agar rasa ragu dihati mas Gavin berganti dengan kepercayaan. Bukankah sekarang Danira telah membuktikannya, bila hanya mas Gavin Pria Pertama dalam hidup Danira ". Gavino menatap Danira dalam, Danira benar. Dia tak perlu melakukan pembelaan apapun, bahkan sekarang pembuktian Danira telah mampu membungkam dan menampar keraguan dihati Gavino.


Sesaat ruangan itu menjadi hening....**


" Jadi...apa kita berhenti sampai disini. Karena mas Gavino masih meratapi penyesalan yang tak pernah ada habisnya ?. jika iya, Aku ingin memakai pakaian lagi, ini sangat dingin ". Goda Danira mengelus-elus lengannya yang masih terbuka.


" Enak saja!!! mana bisa aku berhenti ditengah jalan. Kita lanjutkan sampai pagi ". Ujar Gavino, meraih tubuh Danira, lalu mengangkat tubuh Danira dalam gendongannya. Kemudian mereka tertawa bersama.


Pasangan pengantin baru itu, sedang bergulung dibawah kerinduan serta kebahagiaan yang menyelimuti hati mereka.


Gavino kembali mencumbui Danira, kali ini lebih mesra karena Danira sudah bisa membalas perlakuannya. Hembusan nafas keduanya kian memburu, menciptakan Suasana yang romantis diatas kenikmatan yang sedang mereka ciptakan.


**


Danira....!! Wanita yang dijodohkan oleh mami yang kini telah menjadi istriku. Dia wanita yang aku perlakukan sangat buruk, wanita yang ku rendahkan hingga ku asingkan dari hatiku. Tapi dia juga wanita yang pertama, yang mampu menggetarkan jiwaku, hanya dengan mendengar suara lembutnya.


Danira....!! Wanita yang ku anggap hina, ternyata berlian yang paling berkilau diantara para permata yang ada. Dia wanita yang kupaksa mematuhi peraturan gila, tapi dia juga yang mampu menumbuhkan benih cinta dan kecemburuan tanpa aku melihat rupanya.


Danira.....!! Aku tak pernah menyangka atau membayangkan bisa memilikimu dalam hidupku. Bahkan saat kau menyerahkan mahkotamu, sungguh membuatku sangat terkejut bercampur Haru. Aku yakin kau tau, bila kau bukan wanita yang pertama untukku, tapi kau tak pernah mempermasalahkan itu, bahkan kau menerima setiap kisah dimasa laluku.


Danira.....!!! Aku sangat merasa terhormat, bisa menjadi pria satu-satunya dalam hidupmu. Bahkan aku merasa bila aku adalah pria paling beruntung dimuka bumi ini, bisa memiliki istri sepertimu. Meski perasaanku mengatakan, masih banyak rahasia yang kau simpan rapat dariku.


Danira....!! Meski kau tak bisa mendengar suara hatiku, tapi aku hanya ingin kau tau dan merasakannya, bila aku sangat mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri. Aku akan terus berdoa kepada sang pencipta agar kau selalu berada di sisiku, menemaniku hingga akhir, dan kita kembali dipersatukan diduniaNYA yang lain.


Danira....!! masih adakah kejutan lainnya yang akan aku terima setelah ini ?.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2