CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
83. Tidak ingin datang


__ADS_3

Sarah berlari dengan cepat masuk kedalam mansion Danira. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan nonanya.


" Bik dimana Nona ?". Tanya Sarah kepada bik Marni, yang baru keluar dari ruang keluarga.


" Nona ada ditaman Belakang, sedang bemain denga nona Khalisa ". Jawab Bik Marni, menunjukkan dimana Danira. Sarah langsung berlalu ketaman belakang, tak memperdulikan tatapan para pelayan yang merasa aneh dengan wajah khawatir Sarah.


" Ada apa dengan nona Sarah, apa telah terjadi sesuatu ?". Bisik seorang pelayan pada rekannya.


" Entahlah, mungkin ada masalah di kantornya ". Jawab yang lain.


" Sudahlah...itu bukan urusan kita, ayo kita kembali bekerja. Jangan sampai nona Sarah melihat kita mengobrol seperti ini, bisa-bisa kita akan diomeli. Dia kan lebih galak dari Nona Danira ". Ujar seorang pelayan, dan diangguki oleh yang lainnya. Mereka semua, kembali mengerjakan sesuai dengan rutinitas mereka sebelumnya.


Sarah telah sampai dipintu penghubung, antara ruang keluarga dan teras belakang. Dia bisa melihat Danira sedang mengajak Khalisa, memberi makan ikan-ikan yang ada didalam kolam.


Ya Allah, terima kasih Engkau masih melindunginya. Batin Sarah, bersyukur melihat Danira baik-baik saja. Sarah berjalan mendekati Danira dan khalisa, Sarah menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkannya pelan.


" Assalamualaikum Nona ". Salam Sarah, Danira menoleh kebelakang melihat Sarah.


" Waallaikumsalam, Sarah kau sudah datang ".


" Bagaimana hasilnya ?". Tanya Danira langsung, beranjak dari pinggir kolam ikan. Sarah melihat sekeliling, sebelum menjawab pertanyaan Danira.


" Maaf nona, bisa kita bicara diruang kerja anda saja ?".


" Baik...ayo ". Ajak Danira, sebelum itu dia menitipkan Khalisa kepada bik Marni. Lalu mereka berdua berjalan menujuh ruang kerja Danira yang ada dilantai dua. Sekarang mereka telah duduk saling berhadapan. Sarah memberikan sebuah amplop putih, yang Danira yakini itu adalah hasil dari laboratorium.


" Anda benar nona, seseorang telah mencampurkan minuman anda dengan racun. Menurut penjelasan dokter, bila racun itu sampai masuk kedalam tubuh manusia, akan berakibat fatal, karena racun itu akan langsung menyerang pembulu darah dan menghentikan aliran oksigen dalam tubuh ".


" Tapi bagaimana anda bisa tau bila didalam kopi itu ada racunnya nona, sedangkan menurut dokter, racun itu sangat cepat larut bila dicampur dengan minuman yang bersifat asam ". Tanya Sarah, yang juga bingung bagaimana bisa nonanya mengetahui hal itu.


" Entahlah....!! aku juga tidak tau, tapi aku merasa aroma kopinya sangat aneh, dan pinggiran gelasnya juga berwarna berbeda. Dan firasatku mengatakan, kalau aku tidak boleh meminum kopi itu ". Jelas Danira, mengatakan apa yang dia lihat dan rasakan.


" Mungkin ini cara Allah melindungi anda nona ".


" Ya kau benar Sarah, Allah masih melindungiku ". Danira mengucap syukur yang tiada henti dalam hatinya.


" Apa kamu sudah mengetahui siapa orangnya ?".


" Kami sudah berhasil menangkap orang itu nona, namun saat orang-orang kita menanyakan siapa yang menyuruhnya. Dia langsung menggigit sesuatu yang tersimpan dibalik lidahnya, dan saat itu juga dia meninggal karena meminum racun ". Jelas Sarah, dan menunjukkan rekaman Vidio dari dari orang-orang suruhan mereka. Danira menutup mulutnya, saat melihat pria itu mati dalam keadaan mengeluarkan busa dari mulutnya.


" Ya Allah ..siapa orang yang tega melakukan ini. Kenapa mereka sangat kejam ". Gumam Danira, matanya berkaca-kaca. Timbul rasa takut dalam dirinya, meski Danira tau, setiap mahluk yang bernyawa di muka bumi ini telah memiliki garis takdir dan kematian masing-masing. Namun tetap saja, dia juga manusia yang memiliki rasa takut.


" Nona, mulai sekarang anda harus lebih berhati-hati lagi. Dengan kejadian ini, kita jadi tau, bahwa mereka sudah mengetahui anda nona ".

__ADS_1


" Iya kau benar Sarah. Tapi untuk mengetahui siapa dalangnya, sepertinya aku harus membuka jati diriku, untuk memancing orang itu keluar ". Ujar Danira, sambil melihat rekaman Vidio yang ada di ponsel Sarah.


" Tapi nona...!!! itu akan sangat berbahaya bagi anda ". Ucap Sarah Khawatir dengan keinginan Danira.


" Kamu tidak perlu khawatir Rah, aku tidak akan memintamu membuka indentitas ku sekarang. Nanti aku akan memberi tahumu kapan waktu yang tepat, untuk mereka mengetahuinya".


" Maaf nona, apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan Tuan Gavino, suami anda. Hanya dia yang mampu melindungi anda saat ini ". Usul Sarah.


" Tidak rah, aku tidak ingin melibatkan dia dalam masalah keluargaku. Lagipula, dia juga belum tau siapa aku. Bukankah kamu tau sendiri, dia menjalin kerjasama dengan perusahaan kita karena ada sesuatu, dan bila dia mengetahui bahwa akulah pemilik perusahaan itu, apakah menurutmu dia akan tetap melindungiku ?". Sarah diam sejenak, memikirkan ucapan Danira. Nonanya benar, Gavino gencar ingin menjalin kerja sama karena ada sesuatu hal yang dia inginkan. Meski Sarah sudah mengetahui, bila Gavino sudah mulai ada rasa dengan Danira. Namun itu tidak menutup kemungkinan perasaan itu akan berubah lagi, bila Gavino mengetahui bahwa danira lah pemilik dari Radenayu Group. Apalagi, mengingat kondisi rumah tangga nonanya yang belum tau arah, Sarah tidak bisa lebih membahayakan keselamatan Danira.


" Baiklah nona, jika itu keputusan anda ".


" Oh iya...!! Minggu depan aku akan pergi ke Kalimantan. Aku akan menghadiri acara keluarga besar mami Calina atas permintaan Oma ".


" Anda sudah bertemu dengan Ny. Calina, nona ?". Tanya Sarah penasaran. Danira Mengangguk.


" Iya, tadi saat aku membagikan makanan di jalan, ternyata dia mengenali aku. Dan menyampaikan keinginan Oma untuk bertemu denganku ". Jelas Danira, menceritakan pertemuannya dengan Ny. Calina tadi siang.


" Jadi anda akan ikut pergi kesana nona ?". Tanya Sarah lagi memastikan.


" Heemm...!! kau tau sendiri bukan, aku tak sanggup bila menolak keinginan mami Calina, apa lagi ini juga keinginan Oma. Kau juga tau, kalau aku tak pernah merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Dengan Mami Calina, aku bisa merasakan itu semua, dia menyayangiku dengan sangat tulus, dan aku tak bisa menolak permintaannya ini ". Ujar Danira, Sarah bisa melihat kepedihan dan kerinduan didalam mata Danira.


" Jika anda pergi, pasti tuan Gavino juga ada disana nona, apa anda sudah siap untuk bertemu dengannya ?". Tanya Sarah lagi. Danira menghela nafas pelan, lalu melihat kelangit-langit rumahnya.


...****************...


Di tempat lain, Gavino masih berdiri didepan jendela kaca yang besar diruangannya. Kepala gavino rasanya hampir pecah, bagaimana tidak, Stevani mengamuk saat mendengar kata putus dari Gavino, dia tak terima bila Gavino memutuskannya. Stevani melempar dan membuang semua yang ada didalam ruangan Gavino, alhasil ruangan itu persis seperti kapal pecah, yang telah menabrak terumbu karang. Seperti belum lengkap tekanan untuk Gavino, Omanya menelpon, memaksa Gavino harus datang keacara keluarga Minggu depan. Gavino juga harus membawa Danira bersama dengannya, mendengar itu semakin membuat Gavino stres. Bagaimana caranya membawa Danira, meski sekarang dia tau Danira ada dibawah perlindungan pimpinan Radenayu Group, tapi tidak mungkin Gavino bisa membawa Danira untuk ikut dengannya ke acara keluarga itu begitu saja. Pasti Danira menolak, bila Gavino tetap memaksa, maka Danira akan semakin marah dan membencinya. pikir Gavino.


" Aarrgggg....!!" Teriak Gavino, sambil menyugar rambutnya, hingga berantakan.


" Apa yang harus aku lakukan sekarang ". Gumam Gavino, membalikkan tubuhnya. Matanya semakin sakit, melihat semua dokumen yang berserakan dilantai.


" SEAN.....!!!" teriak Gavino, memanggil asisten pribadinya, mendengar namanya dipanggil. Sean dengan cepat masuk kedalam ruangan bosnya itu.


" Iya tuan ". Mata Sean membola, melihat keadaan ruangan Gavino yang kacau. Sean sempat mendengar kegaduhan yang terjadi, namun di tak menyangka, bila separah ini.


" Jagan dilihat saja, bereskan semua ini. Rapikan semuanya seperti semula ". Titah Gavino, Sean menelan ludahnya susah payah.


" Boleh saya meminta bantuan Sonya saja tuan, bila saya sendiri. Sepertinya tidak akan selesai hari ini ". Ujar Sean.


" Terserah...!!". Singkat Gavino, sambil melangkah dan duduk dikursinya. Tak lama Sonyapun masuk, sama halnya dengan Sean. Sonya juga tak kalah terkejut melihat kondisi ruangan bosnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia yang harus membereskan semua ini.


Aahh...sial, kenapa harus selalu aku sih yang kena. Nenek lampir ini yang membuat kekacauan ini, tapi malah aku yang kena getahnya. Batin Sonya bersungut-sungut, tak terima bila dia lagi yang harus menyelesaikan semua ini. Sean melihat wajah masam Sonya, dia tau pasti wanita ini sedang merutuki atasannya.

__ADS_1


" Berhentilah merutukinya, karena jika kau hanya seperti itu. Ini semua tidak akan selesai".


" Apa kau mau, kita lembur sampai tegah malam hanya membereskan berkas-berkas ini ?". Ketus Sean, sambil memunguti lembar demi lembar kertas yang berserakan dilantai. Sonya menggeleng kepalanya cepat, tanda menolak bila harus lembur lagi.


" Sean...kemarilah, biarkan dia saja yang menyelesaikan semua itu ". Ujar Gavino, mendengar ucapan tuanya, Sean dengan senang hati memberikan kertas-kertas yang ada ditangannya kepada Sonya. Hal itu membuat Sonya melotot dan terduduk lemas dilantai. Sonya mengeraskan rahangnya, meremas kertas yang ada ditangannya dengan kencang. Dia sangat kesal dengan Gavino.


" Kenapa, apa kau tidak terima jika aku memintamu membereskannya sendiri ?". Ketus Gavino, melihat Sonya dengan tatapan tajamnya.


" Ti..tidak tuan, justru saya sangat senang sekali mendapat pekerjaan seperti ini ". Ujar Sonya terbata-bata, sambil memberikan senyuman yang dipaksa kepada Gavino.


" Bagus...!! hari ini harus selesai dan rapi semua. jika tidak, kau harus lembur, sampai semuanya selesai ". Titah Gavino tak bisa dibantah lagi.


" Ba..ba..baik tuan ". Ujar Sonya pelan.


Aahhhkk...kenapa aku sial sekali sih, kenapa aku harus memiliki bos yang tak punya hati seperti dia. dan lihatlah si asisten kutup Utara ini, dia bahkan duduk dengan santai tanpa memperdulikan aku yang bekerja sendiri seperti ini. Hhuuhh...andai aku punya tongkat Harry Potter, sudah ku sihir mereka berdua menjadi jangrik. Batin Sonya kesal. Meski demikian, dia tetap mengerjakan semuanya.


" Sean, apa dia baik-baik saja disana ?". Tanya Gavino, sambil memainkan pulpen ditangannya.


" Maaf tuan, menurut orang-orang suruhan kita, mereka tidak bisa melihat Nyonya, tapi sejauh ini tidak ada kabar buruk apapun yang menimpah nyonya. Berarti dia baik-baik saja disana ". Jelas Sean apa adanya. Merasa tak puas dengan jawaban Sean, Gavino mencebikkan bibirnya kesal.


" Apa orang-orang suruhan mu tidak ada yang kompeten satupun hah ?, Mencari identitas istriku sampai sekarang tidak ketemu, saat istriku hilang tak ada yang berhasil menemukannya dan sekarang, saat sudah tau dimana keberadaannya, kalian masih juga tidak tau keadaannya. Lalu untuk apa aku mengeluarkan uang yang banyak, bila melakukan pekerjaan yang mudah seperti itu kalian tidak bisa hah ". Ucap Gavino, meneriaki Sean yang hanya menunduk dihadapan Gavino.


" Maaf tuan, bukankah Anda sendiri yang melarang orang-orang kita agar tidak membuat nyonya takut, dan anda juga yang melarang orang-orang kita membawa nyonya secara paksa, karena anda tidak ingin nyonya semakin membenci anda ". jawab Sean dengan mengangkat wajahnya melihat gavino sebentar lalu menunduk lagi.


" Cihhh...banyak sekali alasanmu. Jadi sekarang kau melimpahkan kesalahanmu padaku hmm ?". Ketus Gavino tak suka dengan jawaban Sean.


" Maaf tuan, saya tidak akan berani menyalahkan anda. Saya hanya mengatakan sesuai yang pernah Anda sampaikan saja ". Jawab Sean jujur. Gavino menyelang melihat Sean tajam.


" Kenapa sekarang kau lebih menyebalkan dari mami". Kesal Gavino, sambil membuang pandangan. Sean hanya diam, tak ingin membuat tuannya semakin kesal.


" Hhuuhh...!! Bagaimana caraku mengatakan kepadanya, bila Oma memintaku mengajaknya keacara yang menyebalkan itu. Aku yakin, Danira tidak akan mau, apalagi hubungan kami masih belum menemukan titik terang. Pasti dia akan menghindar bila aku nekat menemuinya kesana ". Ujar Gavino, bingung apa yang harus dia lakukan.


" Anda belum mencobanya tuan, sepengamatanku nyonya bukanlah orang yang pendendam. Dia orang mudah sekali memaafkan, Namun jika anda juga belum siap menemui Nyonya. Anda datang sendiri saja keacara itu ".


" Bukankah kau sudah tau kalau aku tidak pernah mau datang keacara seperti itu. Apa lagi menyangkut acara keluarga itu benar-benar membosankan. Tapi bila aku tidak datang lagi kali ini, Oma pasti akan memarahiku. Apalagi bila aku datang tanpa membawa orang yang dia inginkan, Oma akan semakin murka ". Ucap Gavino pelan, lalu menghela nafas kasar. Sean kembali diam, tak berniat memberi masukan lagi.


" Kau Jagan diam saja, berikan aku ide. Agar aku tidak perlu datang ke acara itu ?". Ujar Gavino, melihat Sean yang hanya diam didepannya.


Apa sebaiknya aku pergi memeriksa projek yang ada di luar negri saja. Ahh....!! ya, sepertinya hanya itu pelarian yang tepat untuk saat ini. Batin Gavino.


" Sean...!! siapkan perjalanan dinasku keluar negri pertanggal acara itu berlangsung ".


......................

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2