CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
141. Tamu


__ADS_3

Danira melangkah masuk kedalam gedung perkantoran. Beberapa karyawan yang masih diluar menundukkan kepala mereka sambil memberi salam. Danira menjawab salam dan menyapa para karyawannya dengan sangat ramah, membuat semua orang yang mendengar suaranya ikut terbawa ceria karena energi semangat dan positif yang Danira miliki.


Saat Danira melewati meja resepsionis, seorang wanita bercadar dari balik meja berjalan mendekatinya, wanita itu kembali memberi salam sambil menundukkan sedikit kepalanya, sebagai tanda hormat.


" Assalamualaikum Nona ".


" Waallaikumsalam".


" Maaf Nona, saya ingin memberi tahu bila tuan Gultom Sandez menunggu anda diruang tunggu ". Tangannya terangkat menunjuk arah ruang tunggu menggunakan jari jempolnya.


" Gultom Sandez?". Danira menolehkan kepalanya kearah Sarah meminta jawaban. Sarah langsung menggeleng pelan tanda dia pun tidak tahu.


" Iya Nona, katanya Beliau Presdir dari Big Sport ". Jawab Wanita yang bernama Sindy. Danira tampak berfikir sejenak, ketika mendengar nama perusahaan yang disebutkan sindy, namun dia tetap tak tahu Perusahaan apa itu.


" Big sport perusahaan penyedia alat sekaligus pakaian olahraga terbaik di negri ini nona, Big Sport memiliki beberapa sekolah olahraga seperti badminton, basket, renang dan sepakbola dan mereka juga mendirikan beberapa sekolah Gratis bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus ". Jelas Sarah dia pernah melihat di sebuah surat kabar harian dan pemilik perusahaan itu yang menjadi cover majalah tersebut, namun Sarah tidak ingat nama pemiliknya, itupun Sarah hanya sekilas membaca profil perusahaan itu.


" Apa mereka ada membuat janji bertemu hari ini ?". Tanya Danira pada Sarah.


" Tidak ada Nona ". Singkat Sarah, Danira kembali melihat sindy.


" Dari jam berapa mereka datang ?".


" Tuan Gultom Sandez beserta Dua orang karyawan nya datang sejak pukul 8:30 pagi tadi nona ". Danira melihat jam di ponselnya 10.15.


" Mereka sudah menunggu hampir 2 jam, mengapa kamu tidak mengabari saya ?". Ucap Danira dengan nada suara sedikit naik, kesal karena sindy tidak memberi tahu Sarah ataupun dirinya. Meski pihak Big Sport tidak membuat janji terlebih dahulu, namun Danira tetap merasa bersalah telah membuat tamunya menunggu terlalu lama.


" Maaf Nona, saya telah memberi tahu mereka bila anda akan datang siang. Apalagi mereka belum membuat janji apapun sebelumnya, tapi asisten Tuan Gultom mengatakan bila mereka ingin menunggu anda ". Jelas Sindy menunduk takut, dia tau bila saat ini Danira sedang marah padanya, ini pertama kalinya dia mendengar sang nona muda menaikkan sedikit nada bicaranya, itu sangat membuat sindy takut.


" Lain kali bila ada tamu lagi seperti ini, langsung hubungi saya atau sarah ". Tegas Danira lagi, Sindy mengangguk tanda mengerti.


" Hemmhh...!!! ya sudah sekarang minta seseorang untuk membuatkan mereka minuman dan membawakan beberapa cemilan".


" Sudah Nona, Office Girl sudah menyuguhkannya tadi ".


" Kamu boleh kembali ke pekerjaanmu ".


"Sekali lagi saya minta maaf nona". Ucap sindy penuh penyesalan. Danira hanya mengangguk pelan, berlalu pergi.


***


Sarah membukakan pintu ruang tunggu, lalu mempersilahkan Danira masuk. Mata Danira langsung melihat Dua pria dan satu wanita yang sudah berada didalam ruangan itu. Dua di antaranya duduk saling berhadapan seperti sedang membahas sesuatu, dan yang satunya lagi sedang menatap layar ponsel dengan wajah serius, ibu jarinya bergerak dengan lincah di atas layar.... Danira berjalan mendekat.


" Selamat pagi Tuan Sandez?". Merasa namanya disebut, pria tampan berpenampilan rapi yang sedang sibuk dengan gadget ditangannya langsung menghentikan sejenak kegiatan jarinya, ketika mendengar suara lembut nan halus masuk kedalam Indra pendengarannya. Ketiga orang yang ada disana serentak mengangkat kepala, melihat kearah pemilik suara. Bola mata Gultom langsung tertuju pada wanita yang ditutupi kain panjang Serba hitam.


Apa ini orangnya ?.Tebak Gultom dalam hati, sambil mengamati wanita yang didepannya dari atas sampai bawah.


Sepertinya benar, sesuai dengan informasi yang aku baca pemilik dari Radenayu group selalu menggunakan pakaian yang sangat tertutup, dia memang wanita yang tak bisa dilihat...Menarik. Batin Gultom, lalu Dia bergegas berdiri.


" Selamat pagi, anda nona Jandanira? ". Tanya nya sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman, namun Danira membalas uluran tangan Gultom Sandez dengan mengatupkan kedua tangannya didepan dada. Membuat Gultom Sandez tersenyum canggung, sambil menarik tangannya kembali lalu ikut mengatup tangannya mengikuti cara Danira.

__ADS_1


" Benar tuan,....Maaf membuat tuan dan lainnya menunggu terlalu lama. Saya tidak tau bila tuan Sandez akan berkunjung kemari ". Suara Danira terdengar sangat lembut, hinga terasa sejuk di telinga pendengarnya, sangat candu.


" Ah...tidak apa!!!, ini bukan kesalahan anda, memang saya sendiri yang ingin datang kemari dan meminta menunggu anda. Sejujurnya saya sudah sering mengirim pesan melalui alamat Email perusahaan anda dari beberapa bulan yang lalu, namun belum ada jawaban ". Jelas Gultom Sandez dengan nada bercanda, namun penuh makna.


" Benarkah ?!!". Danira melirik Sarah yang tetap memberikan tatapan dingin dengan wajah datarnya pada Gultom. Seakan sedang memasang alarm kewaspadaan.


" Maaf Tuan Sandez, mungkin Sarah tak melihat ada email masuk dari anda ".


" No..no..jangan minta maaf, saya paham nona Sarah juga sangat sibuk. Pasti pesan dari saya terlewatkan, tidak apa saya mengerti, yang penting sekarang saya sudah bisa bertemu dengan nona Jandanira ".


" Danira....panggil saja Danira ". Timpal Danira cepat.


" Ah iya, baiklah Nona Danira ". Jawab Gultom Sandez tersenyum. Danira pun mempersilahkan ke tiga tamunya duduk kembali. Tubuh Danira sedikit menyerong, menghadap karyawan wanita Gultom Sandez. Danira tak ingin duduk terlalu berhadapan dengan pria yang bukan mahramnya.


" Ngomong-ngomong apa yang membawa tuan Sandez datang kemari ?, sepertinya ada hal penting ?". Danira tak ingin berbasa basi terlalu lama, dia ingin tau apa maksud kedatangan Pemilik Big Sport menemuinya.


" Ahh..iya....eemhh..!! Apa anda pernah membaca atau mendengar tentang perusahaan saya Big Sport ?". Danira mengangguk, meski dia baru saja tahu dari Sarah tadi.


" Begini nona, dalam beberapa bulan ke depan, negara kita akan ikut serta dalam parade olahraga terbesar tingkat internasional, Big Sport ditunjuk sebagai penyedia kostum selama negara kita ikut dalam perlombaan tersebut. Saya ingin membuat inovasi terbaru dengan membuat pakaian olahraga jubah besar seperti yang digunakan nona Danira ". Danira mengerutkan keningnya bingung.


" Maaf menyela ucapan anda tuan Sandez. Bukankah akan merepotkan bila seorang atlet lari, renang atau lompat indah harus menggunakan pakaian syar'i seperti ini ?". Gultom Sandez tersenyum mendengar pertanyaan Danira, dia mengerti atas kebingungan Danira.


" Anda benar nona, tapi saya ingin membuat pakaian olahraga yang jauh lebih longgar hanya diperuntukkan bagi muslimah yang mengikuti perlombaan memanah, berkuda dan menembak. Karena sekarang banyak atlet-atlet yang berkompeten di bidang tersebut memilih mundur karena pakaian olahraga yang mereka kenakan sudah tidak sesuai dengan pakaian syar'i mereka. Menurut saya, akan sangat disayangkan bila para atlet-atlet berbakat seperti itu tidak diikut sertakan hanya karena masalah pakaian, jadi saya ingin membuat inovasi tersebut supaya para atlet wanita muslimah bisa tetap ikut tanpa takut tubuh mereka terekspos karena menggunakan pakaian olahraga yang ketat ". Jelas Gultom Sandez. Danira masih mendengarkan sambil membaca lembaran kertas yang diberikan asisten Gultom Sandez, Dia membaca secara teliti setiap garis besar yang tertera disana.


" Jujur saja, saya tertarik dengan beberapa rancangan pakaian syar'i milik perusahaan nona yang sedang booming saat ini, dan kedatangan saya kesini ingin mengajak nona berkerja sama untuk mewujudkan keinginan yang telah saya jelaskan tadi, bagaimana apa nona Danira setuju ? ". Gultom Sandez bertanya dengan nada penuh harap, entah mengapa dia sangat ingin bekerja sama dengan Danira, menurutnya ini adalah kesempatan besar untuk menarik simpati Danira, melalui kerjasama ini.


Hampir beberapa tahun ini Gultom Sandez menetap di Eropa, namun belakangan ini dia mendengar kabar bila ada sebuah perusahaan di Indonesia yang mengalami peningkatan yang cukup mencuri perhatiannya, ditambah dia melihat minat pasar yang sangat menggilai produk-produk dari perusahaan tersebut, hingga membuat Gultom Sandez merasa penasaran lalu meminta asistennya mencari tau siapa pemilik perusahaan itu, saat dia membaca profil Danira, dia sangat terkejut ketika mengetahui pemilik atau CEO perusahaan itu adalah seorang wanita yang baru berusia 20 tahun. Hal itu membuat Gultom Sandez semakin tertarik dan memutuskan untuk bertemu, dia ingin melihat secara langsung, dan benar saja dia sungguh terpesona meski hanya mendengar suaranya saja.


" Tapi maaf tuan Sandez, saya belum bisa memberikan jawabannya saat ini. Jujur saja, kami belum pernah membuat kostum khusus olahraga, apa lagi ini adalah acara besar, pakaian yang digunakan para atlet harus sesuai standar yang bisa membuat mereka nyaman, serta bahan dan kain yang pas. Team kami belum pernah merancang untuk pakaian seperti itu. Saya harus membicarakan tentang ini terlebih dahulu kepada team produksi dan lainnya, bila saya mengambil keputusan tanpa membicarakannya dulu, sepetinya kurang baik bagi team saya. Saya tidak ingin membuat anda beserta para atlit yang menggunakan rancangan kami nanti menjadi tidak nyaman karena bahannya tidak sesuai standar ".


" Lagi pula, kami harus membuat contoh dan melakukan uji coba terlebih dahulu supaya nanti saat digunakan tidak ada kesalahan apapun ". Jelas Danira, dia tidak ingin mengambil keputusan tanpa koordinasi kepada teamnya, meski Danira pemilik perusahaan itu, namun dia selalu mengutamakan pendapat dan masukan dari para karyawannya terlebih dahulu.


" Atau begini saja nona, untuk bahan kain yang akan digunakan, semuanya akan kami siapkan, namun untuk rancangan dan pengerjaannya itu menjadi tanggung jawab perusahaan nona, bagaimana ?, sepertinya ini sangat saling menguntungkan bukan ?". Gultom Sandez masih mencoba bernegosiasi agar Danira menerima tawarannya ini. Danira tampak diam sejenak, berfikir.


" Tawaran ini akan saya pikirkan terlebih dahulu tuan, seperti yang saya sampaikan tadi, saya akan membicarakannya dulu kepada team saya, karena yang akan mengerjakan semua ini adalah mereka, jadi sangat penting bagi saya untuk mendengarkan pendapat mereka ". Jelas Danira belum mau memberikan persetujuannya.


Wajah Gultom Sandez nampak berubah, yang tadinya cerah, langsung berubah mengecut kecewa. Walau dia sangat berharap Danira langsung memberikan jawaban 'Setuju', namun dia tetap tak ingin terlihat terlalu memaksa. Tapi dibalik kekecewaannya atas jawaban belum pasti Danira, Gultom Sandez semakin menyimpan kekaguman dengan cara Danira memimpin, Dia saja yang sudah hampir 15 tahun memimpin perusahaannya, tidak pernah sekalipun menanyakan atau mendengar pendapat dari para karyawannya, semua harus mengikuti keinginannya. Sekarang dia paham, apa yang membuat perusahaan Radenayu group cepat meroket di dunia bisnis.


Wanita cerdas dan mempesona, dia benar-benar wanita diluar ekspektasi ku. Batin Gultom Sandez, Dia pikir Danira hanya wanita muda yang masih memiliki sifat labil seperti kebanyakan gadis yang baru berusia 20 tahun pada umumnya, namun semua prasangka Gultom Sandez salah, Danira melebihi semuanya. Meski dia tidak bisa melihat wajah Danira, namun bisa dia simpulkan bila Danira adalah sosok wanita yang mengagumkan. Karena di setiap ucapan lembutnya selalu terasa ketegasan yang tidak dapat digoyahkan. Gultom Sandez semakin tertarik dan penasaran.


" Baiklah saya siap menunggu keputusan dari nona Danira, semoga jawabannya kelak sesuai harapan saya ". Ujar Gultom Sandez, sambil tergelak ringan, Danira hanya menanggapi dengan senyum tipis.


Sarah mengangkat tab yang ada ditangannya, alarm berbunyi menandakan waktunya untuk Danira makan siang, dia berbisik ditelinga Danira. Sang nona pun mengangguk paham.


" Maaf menyela tuan, sepertinya pembahasan ini harus terhenti sampai disini dulu, karena ini sudah masuk waktu nona Danira makan siang. Untuk keputusannya, akan segera saya sampaikan melalui email atau telpon bila nona sudah memberikan jawabannya ". Ujar Sarah datar tanpa ekspresi, mengakhiri pertemuan ini. Gultom Sandez mengangkat tangan, melihat arlojinya.


" Emm.. ternyata sudah jam 12 saja, cepat sekali....!!". Ujar Gultom Sandez berat hati, dia merasa belum puas berbicara dengan Danira.


"Baiklah kalau begitu, kami juga mohon undur diri, saya tunggu kabar baiknya nona Danira ". Mereka pun berdiri dan beranjak keluar dari ruang tunggu, Danira mempersilahkan tamunya untuk keluar terlebih dulu.

__ADS_1


" Sekali lagi saya ucapkan terima kasih nona, karena sudah bersedia menyempatkan waktunya untuk menyambut kedatangan dadakan kami ".


" Sama-sama tuan Sandez, saya juga berterima kasih karena anda mau datang ketempat kami ". Jawab Danira santun.


" Senang bertemu dengan anda nona Danira, semoga dilain waktu kita bisa bertemu kembali ". Gultom Sandez tersenyum lalu di kembali mengulurkan tangannya ingin bersalaman, namun asistennya yang ada dibelakang mendekat dan berbisik. Gultom Sandez seakan teringat, lalu menarik tangannya kembali, berganti seperti yang dilakukan Danira diawal.


" Iya tuan ". Jawab Danira kembali mengatupkan kedua tangannya.


Gultom Sandez dan kedua karyawan nya mulai berjalan meninggalkan Danira yang masih berdiri didepan pintu ruang tunggu, namun saat mereka ingin berbalik menuju lift suara Gultom Sandez kembali terdengar.


" Maaf nona Danira, apa anda bersedia makan siang dengan saya ?".


****


Suasana di food court siang itu cukup ramai, mungkin bertepatan dengan waktu makan siang semua karyawan dari beberapa perusahaan yang ada diarea sana.


Gultom Sandez menyuruh asistennya untuk meminta pelayan menyiapkan satu ruangan khusus untuknya dan Danira. Danira yang mendengar perintah Gultom segera menyela dan menolak dengan halus. Danira mengatakan dia ingin makan di tempat biasa, seperti orang lainnya, dia tak ingin didalam ruangan tertutup apa lagi hanya berdua.


Kini mereka duduk di ruangan yang sudah diisi penuh oleh banyak orang, mereka mendapatkan tempat duduk di pojok ruangan, dengan 3 meja dijadikan satu yang sudah tersaji beberapa makanan junk food beserta minuman untuk mereka ber enam yang telah dipesan tadi.


Sejujurnya Gultom Sandez merasa risih harus makan ditempat yang sangat ramai dan bising seperti ini, dia terbiasa makan di private room dalam keadaan senyap dan sepi, namun demi mengetahui banyak tentang Danira, dia menyetujui usulan Danira untuk makan disini.


" Apa anda tidak nyaman makan ditempat umum seperti ini tuan Sandez?". Tanya Danira, yang sesekali memperhatikan raut wajah gelisah pria yang berada didepannya.


" Tidak nona, hanya belum terbiasa saja". Pungkasnya sambil tersenyum, namun matanya terus mengabsen orang-orang yang ada didalam sana, yang sibuk makanan sambil tertawa dan mengobrol, tetapi banyak juga yang melihat kearah mereka.


" Nona bolehkan saya bertanya sesuatu ?".


" Ya...silahkan ". Jawab Danira, sambil memasukkan garpu yang telah terisi spaghetti kedalam mulutnya.


" Saya melihat berita tentang anda di media sosial, apa benar ada keturunan dari raja Brahmacari ?". Tanya Gultom sambil memperhatikan cara Danira makan yang menurutnya cukup repot, harus mengangkat sedikit kain penutup diwajahnya.


" Sesuai dengan berita yang anda baca tuan ". Singkat Danira. Gultom Sandez tampak terdiam beberapa detik, terpaku dengan jawaban Danira.


" Jadi berita itu benar ?!!!..saya tidak menyangka bila saat ini saya sedang duduk dan makan satu meja dengan seorang Ratu dari sebuah kerajaan terbesar di negri ini ". Ujar Gultom masih ada rasa tak percaya, begitupun dengan kedua asistennya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan para bos besar ini. Sedangkan Sarah dan Sam hanya sibuk menyantap makan siang mereka sambil sesekali melirik kearah Gultom Sandez yang terlihat dari sorot matanya memiliki ketertarikan kepada Danira, karena sejak tadi Gultom Sandez tak menyentuh makanannya sedikitpun, melainkan selalu memperhatikan nona nya.


"Tapi bukankah saat ini di kerajaan itu masih ada seorang raja yang memimpin ?, bila nona adalah penerus tahta, kenapa orang itu yang menjadi raja ?, apa beliau keluarga anda nona?". Pertanyaan Gultom Sandez seperti para wartawan yang tegah mencari berita, hal itu membuat Danira semakin tak nyaman, Danira yang tadinya hendak menyuapi spaghetti nya kembali, menjadi urung saat mendengar rentetan pertanyaan Gultom. Danira melirik Gultom sekilas, lalu meletakkan garpunya diatas piring kemudian mengambil gelas yang berisi air putih, meminumnya.


" Maaf tuan, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda barusan, karena itu masalah internal dalam keluarga saya, mohon untuk tidak menanyakan hal-hal yang berbau privasi". Tegas Danira, seketika senyum sumringah Gultom Sandez menghilang, dia terkejut mendengar jawaban tegas nan dingin Danira. Sarah bisa merasakan bila saat ini nona nya mulai tidak nyaman.


" Aahh...iya, anda tidak perlu menjawabnya nona, maafkan saya. Tidak seharusnya saya lancang menanyakan hal seperti itu ". Ucapnya canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Tapi saya sungguh sangat kagum kepada anda nona Danira, di usia anda yang masih sangat muda, anda berani mengemban tanggung jawab yang sangat luar biasa, anda sudah menjadi seorang CEO, memimpin perusahaan besar serta menyandang status Ratu dari sebuah kerajaan yang semua orang tau betapa kuatnya kerajaan itu. Saya benar-benar kagum kepada anda ".


" Terima kasih tuan Sandez, tapi saya tidak sehebat seperti yang anda katakan".


" Eemm...no..no..no anda sungguh hebat nona, bahkan saya saja yang baru pertama kali bertemu dengan anda, mengakui itu. Saya jadi penasaran siapa pria yang sangat beruntung bisa memiliki nona nanti !!". Danira mengerutkan keningnya. Begitupun dengan Sarah dan Sam.


" Apa mungkin pria itu saya ?!!!....He.he.he.he ". Ujar Gultom Sandez sambil tergelak, mencoba bergurau meski dalam hati kecilnya meng amini sendiri ucapannya.

__ADS_1


" Sepertinya berita yang anda baca kurang lengkap TUAN GULTOM SANDEZ...!!!!".


...Bersambung............


__ADS_2