CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
64. Harap - Harap Cemas


__ADS_3

Diruangan Gavino.


Wajah Gavino masih terlihat masam karena perkataan Gea dan Gio. pikiran Gavino melayang entah kemana, melihat Gavino yang hanya diam, Kevin menendang kaki Gavino.


" Kenapa diam Bro, kau cemburu karena adikmu juga menyukai istrimu yang misterius itu ?". Tanya Kevin, sambil melempar kulit kuaci kearah Gavino. Stevani melirik Gavino tajam, awas saja jika Gavino sampai cemburu. pikir Stevani.


" Mcek...kau jorok sekali Vin, lihat ruangan ku jadi kotor dan berantakan seperti ini". Gavino menepis-nepiskan kulit kuaci yang tersangkut dicelanya. " Aku tidak cemburu...aku hanya heran, mengapa semua orang mengatakan bahwa dia cantik, dan banyak sekali laki-laki menyukainya walau wajahnya tertutup". Ujar Gavino dengan nada sindiran untuk Doni, yang duduk asik bermain game.


" Kecantikan wanita sejatinya tak perlu dipamerkan, melainkan hanya untuk orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya". Ujar Doni, tanpa mengalihkan pandangannya. membuat ketiga orang yang ada disana serentak melihat kearah Doni.


" Mengapa kalian melihatku seperti itu ?".


" Apa kau memiliki mata diatas kepalamu Don ?, padahal kau tak melirik kami, tapi kenapa kau bisa tau jika kami sedang melihatmu ?, sepertinya sistem memakai Disenfektan berlaku untuk membersihkan mata batin ya Don". Ujar Kevin, terheran-heran dengan Doni.


" Apa kau belum juga melihat wajah istrimu vino ?". Kali ini Kevin yang bertanya, dia juga penasaran mengapa Gio bisa berbicara seperti itu kepada Gavino.


" Belum...".


Stevani yang mulai panas mendengar 3 sahabat ini membahas Danira, segera memikirkan cara untuk membawa Gavino pergi dari ruangan itu. " Honey, ini sudah waktunya makan siang. Kita makan diluar yuk ?". Stevani berbicara mendayu, mencoba merayu Gavino lagi. Gavino tak menggubris, dia merasakan sesuatu diindra penciumannya.


Mengapa aku mencium aroma parfum wanita itu ada disini ?,. Aahh...sepertinya otakku sudah gila, bagaimana bisa aku merasakan kehadiran wanita itu disini. Mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan. Batin Gavino.


" Honey, kok kamu bengong sih, ayo kita makan siang. Aku sudah sangat lapar ". Ajak Stevani lagi, menggoyang-goyangkan tangan Gavino.


Satu menit kemudian, pintu ruangan Gavino terbuka, menampakkan 3 orang manusia beda generasi dan gaya fashion. Mata Ny. Calina menyelang melihat ada Stevani disana, sedangkan Danira membuang pandangannya merasa risih, melihat tangan suaminya bertaut dengan tangan Stevani. Gavino terkejut melihat kehadiran Ibu dan istrinya, refleks saja dia langsung berdiri.


" Mami disini ?". Tanya Gavino lalu matanya mengarah kedaniran yang ada disamping ibunya. Ny. Calina mendengus kesal mendengar pertanyaan bodoh Gavino.


" Tentu mami ada disini, jika mami ada di taman safari pasti kau tidak akan melihat wujud mami dihadapanmu sekarang". Jawab Ny. Calina ketus, dengan wajah masih kesal.


" Mengapa wajah mami seperti benang kusut begitu ?". Tanya Gavino, tak biasanya wajah ibunya terlihat memerah, seperti sedang marah.


" Apa kau tidak bisa mencari karyawan yang memiliki intitut dan sikap bekerja yang profesional?". Ujar Ny. Calina mulai mengeluarkan kekesalannya.


" Maksud mami ?".


" Itu..!! karyawanmu yang dibaw...!


" Mi..". Danira menggenggam tangan Ny. Calina, dia tak ingin ibu mertuanya melaporkan kejadian yang baru saja terjadi kepadanya. Ny. Calina melihat Danira, lalu mengembuskan nafas kasar.


" Tidak jadi..." Ujar Ny. Calina kepada Gavino, ucapan maminya semakin membuat rasa penasaran Gavino menjadi. Gavino mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada Sean.


" MAMI...." Teriak Kevin, lalu melompat dari duduknya, sedikit berlari memeluk Ny. Calina.

__ADS_1


Doni melihat kehadiran Danira menjadi salah tingkah, dia berdiri merapikan kemeja yang tak kusut,, berjalan mendekat " Mami..". Sapa Doni, lalu mencium punggung tangan Ny. Calina.


" Assalamualaikum Danira, bagaimana kabarnya ?". Tanya Doni, tersenyum ramah hal itu menarik pasang mata yang ada disana melihatnya. Kevin sampai melogo tak percaya, sedangkan Gavino wajahnya semakin masam.


" Waallaikumsalam, Alhamdulillah baik". Jawab Danira menundukkan pandangannya, mendengar itu hati Doni menjadi berbunga-bunga, dia mengulum senyum senang, dan itu tak luput dari penglihatan Gavino.


" Tante..". Sapa Stevani lembut, ingin menyalami Ny. Calina, namun Ny. Calina malah melihat Stevani dari atas sampai bawah.


" Apa kau sudah tidak punya pakaian yang lebih pantas, paha ayam saja harganya mahal, mengapa pahamu kau umbar secara percuma ?". ketus Ny. Calina menilai penampilan Stevani yang terlalu sexy. Stevani memaksa tersenyum, menahan rasa kesal karena lagi-lagi dia dipermalukan Ny. calina.


" Hekhem...!! Sepertinya ada yang salah tingkah". Ujar Stevani sengaja. Doni melirik Stevani tajam.


" Tumben sekali kau berkata lembut seperti ini kepada wanita, apa kau juga menyukai istri sahabatmu Don ?". Celetuk Kevin bercanda, membuat semua yang ada disana menunggu jawaban Doni. Gavino sudah merasa ketar-ketir, apakah Doni akan jujur dihadapan semua orang. pikir Gavino.


" Ya wajar saja jika Doni menyukai Danira, berarti dia normal, siapa laki-laki yang tidak tertarik dengan wanita seperti Danira. hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan wanita yang nyaris sempurna ini". Ujar Ny. Calina melirik sekaligus menyindir Gavino, sambil merangkul tangan Danira. Doni semakin merasa diatas awan, karena Ny. Calina tak merasa keberatan bila dia menyukai Danira. pikir Doni.


" Jika dia benar-benar cantik, tunjukin doang wajahnya didepan kita semua, jangan hanya ditutupi terus". Stevani berucap santai, sebenarnya Stevani juga amat penasaran dengan Danira. Danira tersenyum dibalik cadarnya.


" Pernahkah anda melihat matahari dengan mata telanjang ?".Danira berbalik bertanya.


" Tentu saja itu tidak bisa".


" Begitu juga saya, anda tidak akan bisa melihat saya begitu saja. Karena wajah saya bukan untuk dipertontonkan oleh mata-mata Jahat seperti anda". Ujar Danira monohok, membuat Stevani hampir meledakkan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya, geram. Ny. Calina tersenyum mengejek melihat Stevani.


" Apakah anda juga berani membuka jati diri anda dihadapan semua orang?" bisik Danira pelan ketelinga Stevani, hingga tak ada satupun yang mendengarnya. Wajah Stevani berubah pucat, detakan jantung berubah cepat. Apa dia mengetahui sesuatu tentang aku. Batin Stevani menebak-nebak. melihat itu, semua yang ada disana bertanya-tanya apa yang dibisikkan Danira kepada Stevani, hingga membuat Stevani ketakutan.


"Ada apa mami membawanya kesini ?".


" Memangnya harus ada alasan mami membawa istrimu kesini, kau saja masih suka membawa wanita jadi-jadian ini kekantormu?". Ujar Ny. Calina melihat Stevani dengan tatapan tak suka.


" Mami....!! bukan begitu maks.....".


Tok..


Tok..


Suara ketukan pintu menghentikan ucapan Gavino, Sean masuk. " Permisi tuan, Nona Sarah dari Radenayu Group sudah datang". Sean memberi tahu.


" Bawa saja dia masuk ". Titah Gavino, lalu dia meminta semuanya duduk kembali disofa. Gavino telah duduk dikursi kebesarannya, Sarah masuk dengan membawa map ditangannya, disusul Sean yang juga ikut berdiri dibelakang kursi gavino.


Danira melihat kedatangan Sarah dengan penampilan yang berbeda, kepalanya telah ditutupi dengan kerudung simple. Danira ingat sudah hampir 2 Minggu ini Sarah selalu meminta saran kepadanya mengenai memantapkan diri untuk menutup aurat, sepertinya Sarah telah mendapatkan hidayahnya. pikir Danira tersenyum bahagia.


" Selamat Siang Tuan Gavino ".

__ADS_1


" Silahkan duduk". Pinta Gavino.


" Terima kasih ". Sarah duduk berhadapan dengan Gavino, lalu menyerahkan map yang dia bawa. Gavino mengambilnya, lalu meminta Sean membaca isi dari berkas yang Sarah berikan.


" Sepertinya ada yang berbeda dengan penampilan anda ". Ujar Gavino berbasa-basi, sambil menunggu berkas selesai diperiksa oleh Sean.


" Iya Alhamdulillah saya sedang belajar memperbaiki penampilan saya". Jawab Sarah, Gavino hanya mengangguk-angguk kan kepalanya.


Disisi ruangan, Kevin melihat Sarah tanpa berkedip, jiwa Casanova nya kembali muncul.


Cantiknya. Batin Kevin, Doni menendang kaki Kevin.


" Kau apa-apaan sih Don, sakit tau, kena tulang kering nih". Ujar Kevin, menggosok-gosokkan kakinya yang berdenyut sakit.


" Tutup mulutmu bodoh, air liurnya hampir saja keluar". Ejek Doni, membuat Kevin refleks mengelap bibirnya.


" Kau menipuku ya..." cicit Kevin, Doni hanya terkikik melihat wajah Kevin yang kesal.


Sean telah selesai membaca semua isi dari kontrak kerjasama itu, lalu memberikan lagi kepada Gavino. " Tuan...semua isinya sesuai dengan kesepakatan kita, anda bisa menandatanganinya disini". Tunjuk Sean, Gavino mengambil pulpen mahalnya, dia juga melihat disana sudah ada tanda tangan CEO dari Radenayu Group. Setelah selesai Gavino menyarahkan kembali salah satu kontak kerja itu.


" Kapan saya bisa bertemu dengan Atasanmu". Tanya Gavino dengan wajah serius.


" Seperti yang saya katakan diawal tuan, dalam waktu dekat saya belum bisa menjamin nona ada waktu luang. Bila dia telah siap, maka saya akan memberitahu Anda". Jelas Sarah tegas, dia sudah mengira pasti Gavino akan terus mendesak untuk bertemu dengan nonanya.


Sabar Gavino, setidaknya sampai tujuanmu tercapai. Gumam Gavino dalam hati. sejujurnya Gavino bukanlah orang yang mudah bersabar, namun demi menggapai tujuannya, dia mencoba menahan.


" Baiklah....saya harap bisa secepatnya". Tegas Gavino lagi. Danira bisa mendengar semua percakapan Gavino dan asisten pribadinya, bisa Danira lihat, bila ada sesuatu yang Gavino inginkan dari kerjasama ini.


" Kalau begitu saya pamit undur diri tuan Gavino, semoga kerjasama kita ini, membawa keberkahan bagi perusahaan-perusahaan kita". Ujar Sarah sambil berjabat tangan dengan Gavino.


" Ya...sayapun berharap begitu". Balas Gavino.


" Saya permisi ". Sarah memutar tubuhnya, namun tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang dia kenal, tanpa sadar tubuhnya langsung membungkuk 180°.


" Nona ". Sarah memberi hormat, semua mata sekarang mengarah kepada Danira, Gavino menautkan alisnya, dia mulai menebak-nebak ada hubungan apa istrinya dengan Sarah. Apa lagi melihat bagaimana Sarah memberi hormat yang tidak biasanya Sarah tunjukkan. Sedangkan jantung Danira sudah berdetak tak karuan, apakah ini saatnya jati dirinya akan terbuka. pikir Danira.


" Apa anda mengenal istri saya ?". Tanya Gavino menyelidik. Sarah tersadar, dia telah melakukan kesalahan, dia mulai berfikir cepat. Danira melihat dengan harap-harap cemas, apa jawaban yang akan Sarah berikan.


" Tentu saya mengenal beliau, dia adalah sahabat terbaik Atasan saya ". Ujar Sarah memberi alasan. Gavino menaikkan satu alisnya, lalu melihat Danira. Danira sedikit bernafas lega mendengar jawaban Sarah.


" Sahabat ?". 


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2