CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
6. Sofia & David


__ADS_3

keringat dingin sudah membasahi tubuh, rasa takut makin menjadi, detakan jantung yang kencang seakan bisa didengar oleh orang sekitar. Syok sudah pasti, bagaimana tidak terkejut, mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian teragis yang menimpa keluarga tetangga barunya itu. Belum juga genap 1 hari mereka pindah kerumah baru mereka sudah disuguhkan dengan kejadian yang tak terduga.


Rasanya Sofia ingin lari, tapi kemana !! dia takut sangat takut, rasanya untuk berdiri saja kakinya sangat lemas. Sofia masih duduk pinggir tempat tidur sambil dipeluk oleh suaminya.


" Apakah ini mimpi ?". Sofia mulai mengeluarkan suaranya dengan gemetar.


David yang mendengar itu langsung mengeratkan pelukan kepada sang istri, bermaksud untuk memberikan ketenangan.


"David,...kau melihatnya juga kan ?". tanya Sofia lagi memastikan bahwa yang dia lihat nyata adanya.


David hanya diam, dia hanya terus memberikan usapan lembut dipunggung Sofia. Dia juga bingung apa yang harus dia lakukan. Takut !!! sudah pasti, Siapa yang tidak takut melihat sekelompok laki-laki mengenakan jaket hitam, topi dan wajah yang ditutupi masker dengan warna yang sama, apalagi mereka memegang senjata api yang sewaktu-waktu bisa mengeluarkan timah-timah panas yang bisa bersarang di kepala mereka.


" David....,Jangan diam saja lakukan sesuatu." kesal Sofia melihat suaminya hanya diam sambil memeluknya saja.


David masih bergeming, dikepalanya masih berputar memikirkan apa yang harus dia lakukan.


" Bagaimana jika orang-orang itu tau kita melihat kejadian itu ?, Bagaimana keadaan Shena dan keluarganya?, kenapa mereka membunuh keluarga Shena dengan cara sadis seperti itu ?. Apa yang harus kita lakukan ?." tanyanya bertubi-tubi kepada sang suami.


Namun yang ditanya hanya diam bak patung yang tak bernyawa.


" David,... jangan diam saja." bentak Sofia mulai kesal karena sang suami hanya diam seribu bahasa.


David yang mendapatkan bentakkan dari sang istri, seketika tersentak dan tersadar dari lamunannya.


" Sepertinya mereka tidak melihat kita, dan orang-orang itu tidak tau kalau kita disini." ujar David meyakinkan Sofia.


"Apa kau yakin ?." tanyanya lagi memastikan.


David hanya menganggukkan kepalanya.


'Benar saja, orang-orang itu memang tidak menyadari ada orang lain disana, karena saat David menyusul istrinya kekamar, Dia lupa untuk menyalakan semua lampu dirumah itu sehingga rumah mereka gelap, masih seperti rumah kosong tanpa penghuni, hanya lampu kamar saja yang menyala itupun lampu tidur.


Sehingga sangat menguntungkan bagi para penjahat itu untuk meluncurkan rencananya, apalagi Rumah keluarga Shena tempatnya paling ujung perumahan yang disampingnya terdapat Danau buatan keluarga mereka, sedangkan 2 rumah bagian depan masih kosong tanpa penghuni karena pemiliknya hanya sesekali saja datang melihat rumah itu.


Hujan yang cukup deras, makin mendukung kejahatan itu berlangsung.


" Sebaiknya kita lapor Polisi saja.?" usul Sofia.


David melihat istrinya " Iya,...kau benar, sebentar aku akan menghubungi kantor polisi dulu." jawabnya sambil mengambil ponsel dari saku celananya.


Sesaat ponsel itu sudah terhubung ke pihak yang ditujuh " Hallo, selamat malam, Ada yang bisa kami ban......." Terdengar suara dari seberang sana, Tapi tiba-tiba sambungan itu terputus.


" Aahh...sial ". umpat David kesal.

__ADS_1


" Kenapa ?". tanya Sofia penasaran.


" Ponselku mati ". Jawabnya singkat.


" Coba pakai ponselku saja ." Sofia mengambil ponsel dari saku jaketnya, dan menyerahkan benda pipih itu kepada David. Namun hasilnya sama saja ponsel Sofia juga mati.


Aahh sungguh sial, kenapa Ponsel mereka sama-sama mati dalam keadaan genting seperti ini.


Mereka benar-benar bingung harus melakukan apa, karena kesibukan mereka sedari Pagi sehingga lupa mengisi daya handphonenya.


David masih saja menggerutu sambil mondar-mandir bak setrikaan yang belum panas.


Melihat itu, Sofia langsung berlari kearah tasnya yang ada diatas nakas mengambil charger dan menghubungkan ke handphonenya, sambil menunggu daya ponsel itu terisi mereka berinisiatif untuk melihat lagi situasi yang terjadi disana.


David membukakan sedikit tirai jendela itu, diikuti oleh Sofia yang ada dibawah David sambil menunduk.


Betapa buruknya pemandangan yang mereka lihat, tubuh para penjaga dan pelayan keluarga Shena sudah tergeletak bersimbah darah dilantai marmer yang sudah berubah warna.


David mencoba untuk melihat yang terjadi di bagian dalam rumah, tapi pandangannya terhalang oleh tembok pembatas antara ruang keluarga dan teras belakang rumah itu, samar-samar terlihat seorang wanita paru baya, yang diyakini David jika itu adalah Bu Inggit yang tangannya terikat kebelakang punggung dipaksa berdiri oleh seorang laki-laki bertubuh besar, sepertinya laki-laki itu menanyakan sesuatu tapi David tidak bisa mendengar percakapan mereka, karena jarak yang cukup jauh ditambah lagi suara hujan yang cukup deras membuat mereka tak bisa mendengarkan apapun.


Seketika mata David membola melihat laki-laki itu mengangkat tangannya yang memegang senjata api, lalu mengarahkan pistol itu tepat dikepala wanita itu. Dan.....


" DDDOOORRRR........" suara tembakan itu menggema lagi, seketika tubuh wanita itu terhempas begitu saja tanpa ada yang menahan beradu dengan lantai tempatnya berdiri.


Sofia yang juga melihat kejadian itu, refleks berteriak, sontak saja itu membuat para lelaki berbaju hitam menoleh mencari asal suara.


Jika para penjahat itu melihat mereka, entah apa yang akan mereka alami, mungkin saja mereka akan senasib dengan tetangganya, yang telah berpindah kedunia lain.


" Kau jangan berteriak ?." ucap David panik.


" Aku....aku sangat takut David, itu...itu ..pasti Bu Inggit yang mereka bunuh ". Jawabnya dengan suara terbata-bata. Tubuhnya kembali gemetar.


" Uuuhhhh...aku juga berfikir seperti itu, tapi kau jangan berteriak, bila mereka tau kita ada disini, mereka juga akan menangkap dan membunuh kita!!!. Apa kau mau ?." ujarnya geram sekaligus kesal pada sang istri.


Sofia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, mana mau dia mati konyol seperti itu.


Apalagi dia ingat kalau dia sedang mengandung, dia ingin melahirkan dan membesarkan anaknya hinga dewasa,


lalu mati dalam keadaan wajar bukan mati terbunuh seperti itu.


" Ya sudah, kamu tunggu disini saja, biar aku yang melihat lagi keluar." ucar David lagi lembut pada Sofia.


Sofia langsung menarik tangan suaminya.

__ADS_1


" Tidak, aku mau ikut.!! aku juga ingin melihat, aku janji aku tidak akan seperti tadi lagi." ujarnya meyakinkan David.


David menghela nafasnya dengan kasar.


lalu langsung membawa Sofia berjalan bersamanya.


Sesaat mereka masih mematung dibalik jendela melihat situasi makin mencekam, tiba2 mata Sofia tertujuh pada sosok wanita yang mengendap-endap keluar dari balik pohon mangga seperti ada ada jalan rahasia yang dikelilingi banyak tanaman pagar Asoka Jawa yang rapat.


Sofia menyipitkan matanya, mempertajam penglihatan untuk melihat siapa sosok itu.


Dan betapa terkejutnya melihat siapa wanita itu.


"David lihat kebawah, itu....itu... itu Shena." ucap Sofia pada David dengan nada sedikit berbisik.


David langsung melihat kearah yang ditunjuk sang istri, dan benar itu adalah Shena.


Pasangan suami istri itu saling bertatapan, persekian detik mereka bergerak sedikit berlari untuk menujuh pintu.


Namun saat ingin membuka pintu kamar David menghentikan langkahnya dan melihat kearah Sofia. Sofia yang melihat suaminya tiba-tiba berhenti sontak Sanja menjadi bingung.


"Ada apa, kenapa kau tiba-tiba berhenti, ayo kita harus cepat sebelum para penjahat itu menemukan Shen." ujarnya sambil melihat suaminya yang masih diam didepannya.


" Lebih baik kau tunggu saja disini, biar aku saja yang menolongnya." ucapnya kepada Sofia.


"Tidak, aku tidak mau tinggal sendirian disini, aku juga ingin membantunya." tolak Sofia kesal.


David melihat dan memegang kedua pundak istrinya. "Dengarkan aku, ini sangat berbahaya. Aku tidak mau membahayakanmmu dan calon anak kita. Tolong mengertilah." ujarnya lagi dengan nada selembut mungkin sambil mengelus perut rata istrinya.


Sofia yang mendengarkan permohonan suaminya langsung saja mengangguk, dia tau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mereka berdebat, apa lagi ini juga demi dirinya dan juga calon anak mereka. Sofia tidak bole mengabaikan keselamatan calon anaknya itu.


David melepaskan tangannya dari pundak Sofia, dan langsung membuka pintu berlari menujuh pintu belakang rumahnya.


......................


...Bersambung.......


Assalamualaikum Kakak-kakak semuanya.


Terima kasih banyak bagi yang sudah mampir untuk membaca karyaku 🙏


Mohon tinggalkan cintanya buat Author dong, dalam bentuk Like & Komentarnya.


Supaya Author makin semangat buat ceritanya...💪

__ADS_1


See you


Saranghae❤️


__ADS_2