
Semua orang terdiam Memegang ponsel masing-masing, tercengang tak percaya, dengan apa yang baru saja mereka lihat. Mereka tak menyangka, bila Seorang gadis yang lugu nan manis seperti Ayu bisa melakukan hal yang memalukan seperti itu.
Oma Laras menganggakat tongkatnya, lalu....
BRAK**
PYAR**
Membuat semua makanan dan piring yang ada diatas meja berhaburan dan pecah. Semua terkejut, takut melihat kemarahan Oma Laras.
" Kau memang gadis kurang ajar, bagaimana bisa kau melakukan perbuatan yang rendah seperti itu ?". Aku bahkan sudah menganggapmu seperti cucu kandungku sendiri, bahkan aku tak pernah membedakan kasih sayangku pada cucu-cucu yang lain, tapi lihat. Apa yang kau lakukan benar-benar memalukan ". Ucap Oma Laras pada Ayu yang terus menangis, tubuhnya gemetar.
" Lalu kau sinta, ibu macam apa yang tega menggantikan anak gadisnya pada kekuasaan, apa kau bukan manusia hah ?, bahkan kau memaksa meminta Gavino menikahi putrimu, memangnya KAU SIAPA?, berani berkata seperti itu?, kau memang menantu dirumah ini, tapi kau tak memiliki hak apa pun ". Tante Sinta terdiam, dia tak berani mengangkat kepalanya.
" Kau Anton, dari dulu kau tak pernah berubah, terlalu takut pada istri, terlalu buta karena cinta. Dan lihatlah apa yang telah istrimu perbuat. Dia menghancurkan acaraku, menghancurkan semuanya. Kau pikir ibu tidak tau, mengapa perusahaanmu bisa mengalami kerugian yang besar ?, itu semua karena gaya hidup istrimu yang terlampau tinggi, hingga tak bisa memijak tanah lagi. Selama ini ibu memilih diam, karena melihat putraku sangat bahagia. Tapi apa nyatanya, istrimu bahkan tak pernah menghargaimu sama sekali bukan ?, bahkan dia selalu mengabaikan ucapanmu. Apa memang seperti ini sifat istri yang sering kau puji itu ?, kemana tata Krama yang sering kau agung-agungkan tentangnya ? ".
"Apa dengan begini matamu sudah bisa terbuka lebar, sudah bisa melihat seperti apa istrimu yang sebenarnya ". Ujar Oma Laras keras, memarahi om Anton sampai nafasnya terengah-engah. Dia benar-benar emosi. Mendengar itu membuat Tante Sinta terkejut bukan main, bagaimana bisa ibu mertuanya ini mengetahui semuanya. Sedangkan om Anton, masih bergeming tak percaya dengan apa yang telah dia lihat. Dia tak menyangka Ayu yang telah dia sayangi seperti putri kandungnya sendiri, berani melakukan perbuatan yang membuatnya sangat malu seperti ini. Hingga membuat dirinya sulit berkata-kata lagi.
" Bu sudah...tahan emosi ibu, ingat nanti tekanan darah ibu naik lagi ". Ucap Tante Santi memegang tubuh Oma Laras, yang mulai bergetar karena amarah. Nafasnya naik turun tak beraturan.
" Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin mengeluarkan segala kekesalanku sedari tadi aku tahan, mereka seakan tidak menganggap ku ada disini, apa kalian sudah merasa hebat semua hah ?". Ucap Oma Laras, menunjuk-nunjuk wajah Ayu, Tante Sinta dan Tante Ningrum secara bergantian menggunakan tongkatnya.
" Dan kau Ningrum, jika kau tidak tau duduk permasalahannya seperti apa lebih baik diam, jangan ikut-ikutan membenci padahal kau tidak tau apa-apa. Apa kau pikir, dengan ikut membenci Danira kau terlihat pintar dan hebat HAH ?". Ucap Oma Laras, Tante Ningrum menunduk tak berani melihat ibunya.
" Maafkan aku Bu, aku tidak.....".
" Diam kau, aku tak ingin mendengar pembelaanmu. Biar aku beri tahu pada kalian semua, Danira tidak pernah mengusir Ayu dari rumah sakit waktu itu, tapi aku...aku lah yang meminta ayu pulang lebih dulu, karena Gavino memperlihatkan ketidak sukaannya terhadap ayu. Demi menjaga perasaannya agar tidak terlalu sakit hati atas ucapan kasar Gavino, makanya aku meminta dia untuk pulang. Tapi ternyata dia menyebarkan fitnah kebencian untuk Danira, kau benar-benar gadis tidak tau diri. Jadi begini sifat aslimu yang sebenarnya, pantas saja cucuku sangat membenci dirimu". Ucapan Oma Laras menunjuk-nunjuk ayu, menggunakan tongkat kayunya. Mendengar ucapan Oma membuat semua yang ada disana saling lirik, mereka benar-benar tak habis fikir ternyata mereka telah melakukan kesalahan besar dengan membenci Danira, hanya karena ucapan Ayu yang pulang dari rumah sakit sambil menangis, mengaku telah diperlakukan tidak baik oleh Danira hingga diusir olehnya. Terutama Tante Ningrum, dia menunduk penuh penyesalan.
" Ma..ma.mmaafkan Ayu o..o..Oma ". Ucap ayu terbata-bata memohon pada Oma Laras, bersujud memeluk kaki Oma Laras, sambil menangis sesenggukan.
" Ayu sungguh-sungguh menyesal, A..a.ayu khilaf ".
" Apa katamu khilaf ?, Cciihh kau pikir aku percaya ". Ucap Oma Laras mencebikkan bibirnya, mendengar ucapan ayu.
" Ibu...ibu tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kekacauan ini, niatku sangat baik, aku hanya ingin ikatan keluarga kita semakin erat. Dan aku juga tidak tau, ternyata putriku melakukan hal kotor seperti itu. Bu aku mohon tolong maafkan aku dan ayu Bu, aku mohon ". Pinta Tante Sinta, ikut berlutut dikaki Oma Laras, sama seperti yang tengah ayu lalukan. Oma Laras melihat Tante Sinta semakin geram, dia tak habis pikir kenapa dia bisa memiliki menantu seperti ini.
" Anton.....bawa Dua wanita ini pergi dari rumahku, aku sudah tak ingin melihat mereka datang lagi kemari ". Cetus Oma Laras, pada om Anton yang terus saja diam tak mengeluarkan sepata katapun.
" Bu sudah, lebih baik kita masuk saja. Tidak perlu ibu capek-capek memarahi mereka, toh juga mereka tidak akan mendengarkan. Sekarang mereka berlutut meminta maaf, pasti besok-besok mengulanginya lagi. Jadi biarkan saja, biar adikku yang super tampan dan sabar ini yang menangani istri dan anak kesayangannya. Jika mata dan hatinya tidak bisa melihat kebenaran juga, setidaknya mata batinnya sudah bisa terbuka, melihat kelakuan dua manusia menyebalkan ini ". Ucap Ny. calina menyindir om Anton, lalu mengandeng Oma Laras, Oma Laras menoleh melihat Ny. Calina yang berada disampingnya sambil menggendong Khalisa, dia melihat mata balita itu.
" Ya kau benar, ayo kita masuk. Ibu ingin bertemu Danira dan Gavino ". Ucap Oma Laras mengangguk mengikuti ucapan Ny. Calina.
" Oma..tolong maafkan ayu...!!".
" Ibu tolong Bu, tolong maafkan aku Bu...!!".
Oma Laras tak memperdulikan teriakan ayu dan juga Tante Sinta, dia terus saja melangkah meninggalkan taman belakang rumahnya. Para keluarga yang lain pun ikut pergi meninggalkan Tante Sinta, Ayu, om Anton dan Tante Ningrum.
__ADS_1
" Oh ya Tuhan, kepalaku rasanya sakit sekali. Aku benar-benar tidak menyangka, dia bisa berbuat seperti itu pada Gavinoku. Ohh tuhan, mengapa dia bisa melakukan hal memalukan seperti itu, apa dia tidak berfikir dulu sebelum melakukannya ?".
" Apa dia tidak berpikir hal itu akan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita ?". Gumam Oma Laras, sambil memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
" Benar Bu, aku juga tidak menyangka Ayu bisa berbuat nekat seperti itu. Aku mengenalnya sebagai gadis yang baik dan lugu, tapi ternyata...". Ujar Tante Santi, masih tak mempercayai semua ini.
" Ya...Namanya juga wanita yang butuh digaruk ". ucap Ny. calina, membuat Tante Santi dan Oma Laras melihat kearahnya.
" Butuh digaruk ?". Tanya mereka serentak, bingung.
" Iya..dia kan wanita gatal, jadi butuh digaruk ". Jawab Ny. calina, membuat Oma Laras dan Tante Santi menghela nafas. Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana bisa anakknya ini mengeluarkan kata candaan disaat seperti ini. pikir Oma Laras.
***
Didalam kamar.
Danira yang melihat Gavino semakin emosi, dengan segera dia menarik tangan Gavino pergi meninggalkan taman belakang lalu membawanya kembali kedalam kamar mereka. Dia tak ingin Gavino semakin murka, lalu menimbulkan masalah baru akibat amarahnya.
" Apa yang kau lakukan ?, mengapa kau membawa aku kesini ?, aku belum puas memaki wanita sialan itu, aku juga belum memberikan perhitungan pada ibunya ". Sungut Gavino kesal dengan tindakan Danira, yang membawanya pergi. Dia semakin marah, wajahnya memerah, semua urat-urat di kening dan wajahnya menonjol, menandakan bila dia sangat emosi.
" Mengapa mas Gavino sangat marah, aku yang mereka provokasi. Seharusnya mas Gavino jangan terpancing. Lagi pula apa dengan memaki-maki ayu dan ibunya, kekesalan mas Gavino akan reda ?, aku rasa tidak bukan, lihatlah bahkan mas Gavino semakin emosi seperti ini ". Ujar Danira lembut, mencoba memberi pengertian pada Gavino yangasih dikuasai amarah.
" Semuanya bisa dijelaskan secara baik-baik mas, tidak perlu menegangkan urat leher. Apalagi sampai menggunakan otot. Tidak baik, mereka juga keluargamu ".
" Jelas aku marah, mereka sudah sangat keterlaluan. Sudah cukup aku diam membiarkan mereka mengejek status istriku, dan aku sudah tak bisa mentolerirnya lagi. Aku tidak akan bisa diam saja, ketika orang yang aku sayang disakiti".
Seketika jantung Danira berdetak cepat. Mencoba mengingat apa yang baru saja suaminya ini katakan. Namun karena Gavino terus saja berbicara, membuat pikiran Danira kembali tersadar.
" Kau juga, mengapa selalu mengalah ?, kau ini terlalu dugu atau bodoh Hah ?. Jika ada yang mengejekmu lawan, jangan diam saja ". Sungut Gavino, menggebu-gebu.
" Bukan begitu mas, apa mas tidak melihat bagaimana wajah Oma yang sedih melihat keadaan seperti tadi. Aku mengalah demi Oma, Seharusnya mas Gavino juga bisa menahan emosi mas ".
" Sudahlah...kau sama saja. Bahkan kau lebih menyebalkan dari ibu dan anak itu ". Ketus gavino kesal.
" Cepat bereskan semua pakaian kita, kita pulang kejakarta malam ini juga, aku sudah tak bisa tinggal disini barang semalam pun, bersama orang-orang itu". Mendengar perintah dadakan suaminya, membuat Danira terkejut, dia melihat mata Gavino yang masih memancarkan kekesalan.
" Tapi mas.....!!".
" DANIRA....bisakah kau tidak membantah perintahku. Sudah aku katakan jika aku tak suka dibantah. apa kau sangat BODOH HAH? ". Teriak Gavino keras, dengan memberi tatapan tajam. Kemudian pergi meninggalkan Danira begitu saja.
TES*
Tanpa sadar air mata Danira menetes begitu saja, hatinya tiba-tiba terasa sakit ketika Gavino meneriakinya. Meski dia tau Gavino masih dalam pengaruh emosi, tapi entah mengapa dia merasa sedih saat Gavino berbicara keras padanya, walaupun ini bukan yang pertama kalinya Gavino berkata kasar padanya, tapi entah mengapa kali ini rasanya berbeda. Tanpa berkata lagi, Danira memutar tubuhnya berjalan kearah koper mereka yang ada dipojok ruangan. Dia berjongkok, tangannya mulai bergerak memasukkan pakaian-pakaian mereka kedalam koper.
Gavino pergi keteras kamar, dia berdiri disana dengan tatapan lurus kedepan, anggin malam berhembus menyentuh kulit wajahnya. Dari dalam saku celana terasa ponselnya bergetar, Gavino mengambil lalu melihat nama yang tertera dilayar.
" Ada apa ?". Ucap Gavino ketus.
__ADS_1
" Maaf menganggu waktu anda tuan, saya hanya ingin memberitahukan bila 2 hari lagi anda akan ada pertemuan dengan Mr. Ryu Akirama dari Jepang ". Ujar Sean cepat.
" Dan juga....!!". Ucapan Sean terputus, ragu ingin memberi tahu.
" Juga apa ?, bicara yang jelas ". Sungut Gavino semakin kesal.
" Eemm...!! maaf tuan, Desain prodak terbaru kita bocor tuan, jadi desain yang akan kita luncurkan untuk bulan depan sudah dipakai perusahaan Radenayu Group, besok mereka akan melauchingkan produk mereka menggunakan desain yang sama persis dengan desain milik kita ".
" APA???...BAGAIMANA BISA BOCOR HAH ?". Teriak Gavino, membuat Sean menjauhkan ponsel dari telinganya. Telinganya terasa berdengung akibat teriakan Gavino.
" Maaf tuan, saya pun belum tau bagaimana ini bisa terjadi, tapi sepertinya ada pihak yang berkhianat atau mata-mata dari perusahaan Radenayu Group yang mencuri desain itu ". Jelas Sean. Gavino semakin mengeraskan rahangnya kekesalannya semakin berlipat ganda, rasanya dia ingin sekali membunuh orang malam ini.
" BERENGSEKKKK....!!Siapa yang berani berhianat dengan Gavino hah ? ".
" Jika benar mereka memiliki mata-mata di perusahaanku, lihat saja. Akan aku pastikan perusahaannya hancur bagai debu ". Ujar Gavino mengepalkan tangannya. Dia diam sejenak....
Apa dia yang membocorkan desain itu pada temannya ?, tapi tidak mungkin. Karena aku tak pernah bercerita tentang perusahaan padanya, lagi pula Danira tidak akan mengerti mengenai perusahaan. Batin Gavino.
" Aku akan pulang kejakarta malam ini, siapkan penerbanganku ". Ujar Gavino memerintah.
" Anda akan pulang malam ini tuan ?".
" Ya...memangnya kenapa ?".
" Maaf tuan, bukannya saya lancang melarang tuan untuk pulang. Jika saya boleh memberi saran, alangkah lebih baiknya bila tuan pulang besok pagi saja, disaat sudah terang. Mengingat kejadian yang tempo hari menimpa tuan dan Nyonya. Saya takut, Nyonya masih memiliki trauma akibat kejadian itu ". Ucap Sean memberi pendapat. Gavino memutar tubuhnya, melihat kearah Danira yang masih berjongkok dilantai, sambil membereskan pakaian mereka. Namun matanya menangkap hal yang lain, dia melihat bahu Danira bergetar, seperti orang yang tegah menangis.
Apa dia menangis ?, kenapa ?. Batin Gavino. Gavino tampak berfikir sejenak, menimbang-nimbang haruskah dia menerima usulan Sean.
" Ya kau benar Sean, sepertinya aku harus menunda kepulanganku sampai besok pagi ". Ujar Gavino, pandangannya terus saja tertujuh pada punggung Danira. Diujung telpon, Sean bernafas lega mendengar tuan mudanya menyetujui usulan darinya.
" Siapkan kepulangan kami besok pagi, dan pastikan kau sudah menangkap tikus penganggu di perusahaanku sebelum aku sampai kekantor besok ". Titah Gavino.
" Baik tuan..". Jawab Sean, setelah itu panggilan mereka terputus. Gavino masih saja menatap tubuh danira yang memunggunginya.
Kenapa dia menangis, apa ada kata-kata ku yang membuatnya sedih. Batin Gavino bertanya-tanya.
Gavino melangkah masuk menujuh kearah Danira, sambil memasukkan ponselnya kedalam saku. Dia berhenti sejenak, ketika mendengar isakan Danira. Gavino menghela nafas pelan, lalu menundukkan setengah tubuhnya, kemudian memegang pergelangan tangan Danira, membuat Danira terkejut dan hampir terjungkal ke belakang, dengan sigap Gavino menahan punggung Danira agar tak terjatuh.
" Hati-hati...kenapa kau ceroboh sekali, lihat kau hampir terjungkal, itu bisa membuat mu terluka, mengerti tidak ?". Omel Gavino, Danira hanya diam tak mengatakan apapun. Dia hanya melirik Gavino sekilas, lalu mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
" Apa kau tidak mendengarkan aku ?". Ucap Gavino, karena Danira tak memberikan jawaban apapun. Gavino kembali menghela nafas kasar. Lalu dia menarik tangan Danira untuk berdiri.
" Ayo ikut aku....".
......................
...Bersambung........
__ADS_1