
Gavino membawa Danira keluar, melewati Oma dan Ny. Calina begitu saja. Gavino melebarkan langkahnya, hal itu membuat Danira berjalan dengan terburu-buru, mengimbangi langkah kaki Gavino yang panjang.
" Gavin, kamu mau bawa Danira kemana ?". Tanya Ny. calina, namun yang ditanya hanya diam tanpa mengatakan apapun, bergegas pergi.
" Bayu.....?".
" Bayu...? Siapkan mobil cepat ". Teriak Gavino, menggegerkan seisi rumah. Mendengar tuannya memanggil, Bayu dengan
segera mungkin berlari menyiapkan apa yang diminta oleh tuan mudanya. Mobil Gavino pun berhenti tepat didepan mereka, Gavino membuka pintu untuk Danira masuk, tangannya menada diatas kepala Danira agar tak terbentur.
" Masuklah...". Titah Gavino, tanpa banyak bertanya Danira masuk kedalam mobil, lalu Gavino menutup pintu.
" Vin....Vin..? Kamu mau bawa menantu mami malam-malam begini kemana?". Tanya Ny. calina yang masih penasaran, apalagi melihat wajah Gavino yang masih tampak kesal, membuat Ny. Calina takut, bila Gavino akan berbuat sesuatu pada Danira.
" Mami tak perlu khawatir, aku tidak akan mencelakainya. Tenang saja ". Ujar Gavino, memutari mobilnya, lalu masuk dan duduk dibelakang kemudi. Dia membuka kaca mobilnya setegah.
" Bayu, bawa beberapa pengawal. Kau sudah tau bukan, apa yang harus kau lakukan ?". Ucap Gavino pada anak buahnya.
" Sudah tuan, kami sudah siap ". Jawab Bayu cepat, menunjuk 5 mobil yang ada dibelakang mereka.
" Bagus...".
Gavino memiringkan badannya, memasangkan sabuk pengaman Danira. Danira tak penghiraukan apa yang dilakukan Gavino, dia mengalihkan pandangannya keluar, melihat Khalisa yang berada dalam gendongan Ny. Calina.
Aku sudah lama tidak menggendong khali, aku sangat merindukan bayiku. Maafin bunda ya khali, nanti setelah pulang dari sini, kita sama-sama lagi ya cantik. Batin Danira, Matanya mengembun lagi. Gavino menegakkan tubuhnya, lalu mulai menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Mereka pergi dengan diiringi 5 mobil lainnya.
Gavino melihat arloji yang ada ditangannya, waktu telah menunjukkan pukul 8.10 malam. Gavino kembali melirik Danira yang terus diam tanpa bergerak ataupun bersuara.
" Kenapa kau diam saja ?".
" Apa kau marah padaku ?". Tanya Gavino. Danira tak menjawab, dia tetap fokus pada pemandangan malam yang kelam diluar sana. Dia hanya mengamati, pepohonan yang mereka lewati tanpa perduli pada Gavino. Dia tak ingin terlibat percakapan apapun pada suaminya, dia masih kesal kepada sang suami.
" Ceekkk...apa kau tuli ? aku sedang berbicara padamu ?". Danira tetap bergeming, dia diam seribu bahasa. Mulutnya seakan terkunci rapat, seperti dilem.
HHHMMMAAHH...
Helaan nafas Gavino, terdengar jelas ditelinga Danira. Namun dia tak perduli, dia masih kecewa dengan kata-kata suaminya. Danira memilih memejamkan matanya, dia sudah tak perduli bila Gavino akan membawanya kemana, Dia tak ingin tau dan tak berniat bertanya, meski rasa penasaran yang sangat besar, namun mampu Danira tahan.
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, kini mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah kawasan kosong nan gelap. Danira mengedarkan pandangannya dari dalam, merasa bingung mengapa Gavino membawanya kemari, apa Gavino ingin membunuhnya disini. pikir Danira.
__ADS_1
" Ayo turun, kita sudah sampai ". Ucap Gavino, yang telah membuka pintu mobilnya. Danira keluar dan melihat kesekeliling. Sepi, gelap tak ada yang menarik. Timbul rasa takut dalam dirinya, membuat Danira kian waspada. Gavino menarik tangan Danira, lalu mengenggamnya, mereka berjalan masuk kedalam hutan, hanya menggunakan pencahayaan dari senter.
Kemana dia akan membawaku ?, apa dia ingin membunuhku dengan cara meninggalkan aku disini ?, Apa karena aku tidak mau menjawab pertanyaannya, hingga dia nekat ingin menghukumku dihutan ini ?. Batin Danira menerka-nerka. Namun Sayup-sayup Danira bisa mendengar suara angin yang kencang dan deburan ombak yang saling bersautan.
Tak lama, setelah mereka berjalan hampir 8 menit, mereka keluar dari balik sebuah pohon yang sangat besar, lalu muncul di tepi pantai. Mata Danira membesar melihat pemandangan yang tak biasa dihadapannya, Laut terbentang luas, dengan bertaburan bintang diatas langit yang cerah, ditemani rembulan bulat yang bersinar terang. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Danira melihat sebuah rumah kayu dibawah pohon rindang, yang dihiasi lentera-lentera.
" Masya Allah.....indahnya ". Ucap Danira kagum, Gavino kembali menarik tangan Danira, membawanya mendekati rumah itu. Didepannya sudah ada sebuah meja berukuran sedang dan dua buah kursi santai.
" Selamat datang tuan, Nyonya ". Sapa seorang pria paru baya, Mungkin usianya sekitar 50 tahunan, dia membungkuk memberi hormat pada Gavino dan Danira.
" Hhhmmm...pergilah ". Ujar Gavino, mengangkat tangannya memberi kode. Pria itu mengangguk lalu pergi menjauh dari pasangan itu.
" Ini adalah rumah kayu miliku, dulu jika sedang berlibur kekalimatan aku selalu datang kesini. Karena aku sangat jarang sekali datang, jadi aku memintak pak Danang merawat tempat ini. Bagaimana apa kau suka ?". Tanya Gavino, Danira mengangkat kepalanya melihat Gavino. Danira hanya menjawab dengan anggukan singkat. Gavino mencebikkan bibirnya kesal dengan kebungkaman Danira, dia sangat tak suka bila Danira mendiamkannya.
" Kau sungguh menyebalkan ". Ucap Gavino, berlalu pergi meninggalkan Danira begitu saja, Danira yang bingung melihat kepergian gavino, hanya bisa berpasrah bila memang Gavino meninggalkannya sendirian disini, setidaknya ada tempat baginya berteduh malam ini. pikir Danira.
Dia berjalan kearah bibir pantai, lalu berdiri disana. Angin malam yang berhembus kencang membuat menembus pakaian yang Danira kenakan menyentuh kulit mulusnya. Danira mendongakkan kepalanya keatas, melihat langit yang dihiasi milyaran bintang berkelap-kelip.
" Masya Allah, indahnya ciptaanMu ya Rab. Tiada yang bisa menandingi kuasaMu. Hanya Engkau Zat yang Maha Sempurna, lagi Mulia. Segala puji bagiMu Ya Rab. Terima kasih, telah memberikan hamba kesempatan melihat segala keagungan Mu ". Gumam Danira kagum, penuh rasa Syukur. Namun tiba-tiba hatinya merasa nyeri, perasaannya menjadi sedih, ketika melihat hamparan laut yang luas didepannya, memorinya kembali menariknya pada kenangan dimasa lalu.
" Bapak, ibu...Danira rindu, Sangat rindu. Apakah Bapak dan ibu bisa melihat dimana Danira sekarang ?, Danira sedang berada di pantai Pak, tempatnya sangat indah. Apa bapak ingat, dulu bapak pernah membawa Danira kepantai juga, lalu Bapak berjanji akan membawa Danira untuk melihat pantai lagi. Tapi kenapa Bapak ingkar, kenapa bapak sama ibu meninggalkan Danira sendiri disini, apa bapak dan ibu tau, Danira sangat kesepian, Danira butuh kalian ". ucap Danira lirih, meremas dadanya yang terasa sesak, akibat kerinduan yang tak tersampaikan. Pipinya kembali basah karena air mata yang keluar tanpa permisi. Danira terus melihat keatas, seakan berharap bisa melihat pahatan wajah orang tuanya dari bintang-bintang.
Tanpa Danira sadari, sedari tadi Gavino telah berdiri tepat dibelakangnya, mendengar semua ucapan Danira. Gavino mendekat lalu memeluk Danira dari belakang. Tentu saja perlakuan Gavino membuat Danira terkejut, Danira ingin melepaskan tangan gavino yang melingkar di lehernya, namun dia tak kuasa akibat kesedihan yang tegah Danira rasakan.
Hiks
Hiks
Hiks
" Apa kau sangat merindukan orang tuamu ?". Tanya Gavino, Danira hanya menganggukkan kepalanya. " Mereka pasti juga merindukanmu, tapi kau jangan bersedih nanti mereka disana ikut bersedih, melihat putrinya seperti ini. Tersenyumlah, nanti mereka pikir aku telah menyakitimu hinga membuatmu menangis ". Ujar Gavino, mencoba menghibur Danira, Danira hanya tersenyum samar mendengar ucapan Gavino. Gavino meletakkan dagunya diatas kepala Danira, dengan posisi punggung Danira menempel didada gavino.
" Danira ..? Maafkan aku ?".
"Aku tau, perkataan ku tadi telah menyakiti dirimu, hingga membuat kau menangis seperti tadi. Maukah kau memaafkan aku ?". Ujar Gavino, Danira kembali mengangguk sebagai jawaban.
" Apa kau masih marah padaku ?". Tanya Gavino, Danira menggeleng.
" Jika kau sudah tidak marah, mengapa kau masih tak ingin berbicara padaku ?". Sungut Gavino, memasang wajah sedihnya. Danira melepaskan lingkaran tangan Gavino dipundaknya, lalu memutar tubuhnya menghadap Gavino.
__ADS_1
" Danira tidak marah, aku telah memaafkan semua kesalahan mas, sebelum mas meminta maaf. Aku hanya kesal, karena mas Gavino berkata keras kepadaku. Jadi tolong maafkan atas sikapku juga". Ujar Danira. Gavino menatap Danira, lalu tangannya menyentuh kebagian wajah Danira yang tertutup. Danira terus mengamati apa yang ingin Gavino lakukan.
" Tolong jangan menangis lagi heemm, aku belum bisa membasuh air mata diwajahmu, karena kau masih melarang ku melihatnya ". Ujar Gavino, terus mengelus-elus kain di pipi Danira. kemudian tangan Gavino berhenti diikatkan burqa Danira, dia ingin menarik ikatan itu, namun diurung. Dia tak ingin lancang membukanya, tanpa persetujuan dari Danira. Danira menyerongkan tubuhnya, mensejajarkan berdiri disamping Gavino, pandangannya lulus kedepan.
" Aku tidak pernah melarang mas melihat wajahku, karena itu hakmu. Aku tidak pernah melarang mas menyentuhku, karena sesungguhnya tubuh ini memang milikmu. Aku tak pernah melarang apapun yang mas ingin perbuat padaku, karena aku memang istrimu. Mas memiliki Hak penuh atas diri ini. Tapi....!!! Aku hanya menangguhkan Hakmu, atas ucapanmu dulu, mas sendiri yang melarang ku untuk menampakkan wajah ini, dengan alasan aku tak pantas untukmu. mas sendiri yang telah mengharamkan tubuh ini untuk kau sentuh. Jika kini aku tak menghindar ketika mas Gavin mengengam tangan ku, itu karena masih ada kain yang membatasi kulitku bersentuhan langsung denganmu". Gavino menoleh menatap Danira kian dalam, dia mengingat semua perbuatan dan ucapannya diawal pernikahan mereka, yang sangat kejam dan menyakitkan.
" Aku tahu, diawal pernikahan kita itu adalah masa sulit dimana mas harus menerima keberadaan ku, dengan statusku yang telah memiliki seorang bayi. Apalagi mas memiliki seorang kekasih yang teramat sangat mas cintai. Aku paham, perbedaan kita terlalu jauh, aku tak membantah ketika mas mencemooh ku dengan kata-kata yang menyakitkan, karena aku menyadari kekuranganku tak sesempurna wanitamu. ".Ucap Danira memberanikan diri memulai obrolan, Ini pertama kalinya Danira bisa berbicara dengan Gavino seseluasa ini, dia sudah tak perduli bila kelak Gavino marah atas kejujurannya, dia ingin melepaskan apa yang dia rasakan. Gavino menunduk melihat bayangan mereka, mencoba mendengarkan semua Danira katakan.
" Apa mas tahu, dulu saat mami meminta aku menikah denganmu, aku sampai berfikir dan menjalankan solat istikharah berkali-kali hanya untuk menyakinkan hati ini, berkali-kali juga aku mencoba menolak permintaan itu, tapi nyatanya aku tak pernah tega melihat keadaan mami yang melakukan tindakan nekat dengan melukai dirinya sendiri. Akhirnya aku menyetujui permintaannya".
" Bila ditanya apakah aku menikah denganmu meresa terpaksa, bisa jadi iya. Namun ketika aku berfikir lagi, mungkin ini memang jalan takdirku menjadi istrimu. Meski kau tak pernah menganggapku ". Ujar Danira tersenyum miris, atas apa yang telah dia jalankan.
" Tapi jika ditanya lagi apakah aku menyesal menikah denganmu, maka jawabannya tidak. Aku tak pernah menyesalinya, karena semua sudah ada garis dan hikmah dibalik yang terjadi. Menikah denganmu mengajarkan aku lebih bersabar, lebih menahan diri dan lebih dewasa ".
" Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak, berkat kehadiran mas Gavino, aku bisa merasakan semua ini, berkat menikah dengan mas Gavin aku bisa merasakan memiliki keluarga terutama ibu". Ujar Danira terdengar sangat tulus, lalu pandangannya beralih melihat Gavino dia memberikan senyuman terindah diwajahnya untuk Gavino, meski Gavino tak bisa melihatnya.
" Danira aku....!!".
" Mas Gavin, Danira sudah siap bila mas Gavin ingin berpisah sekarang. Danira akan membantu mas untuk meminta restu dari mami, Danira tak akan mencoba mempertahankan pernikahan ini lagi. Danira telah menyadari, bila kita berdua memang sulit untuk bersama. Apalagi dihati mas Gavin tak pernah ada nama Danira ".
DEG*
Jantung Gavino berdegup kencang, matanya memanas, hatinya sakit mendengar perkataan Danira yang begitu tenang ketika meminta berpisah. Gavino menatap Danira nanar.
" Danira sangat senang bisa berbicara seperti ini dengan mas Gavino, ini moment yang sangat indah, bukankah ini pertama kalinya kita bisa berbicara santai tanpa emosi ?". Tanya Danira, kembali melihat Gavino yang tengah menatapnya, Danira dapat melihat mata tajam yang biasa Gavino berikan berubah menjadi merah berkaca. Dengan cepat Danira mengalihkan perhatian, mencari objek lain.
" Danira tidak akan mengambil keputusan secara terburu-buru seperti waktu itu lagi, Danira ingin perpisahan kita secara baik-baik, dan diputuskan dengan kesepakatan bersama, agar tak menimbulkan rasa dendam Dan kekecewaan dihati masing-masing. Danira rasa ini akan mudah bagi mas Gavino, bukankah mas Gavino tak pernah memiliki rasa apapun untuk Danira kan ?, atau mas Gavino masih menganggap Danira orang asing ?". Gavino masih bungkam, dengan tatapan terus tertujuh pada Danira yang terus saja berbicara disampingnya.
" Mas Gavino bisa merancang masa depan dengan wanita yang mas Gavino cintai, meski sempat Danira mendengar tadi mas mengatakan pada ayu bahwa mas telah berpisah, tapi Danira rasa itu hanya buaian saja, karena mas Gavino mencoba melindungi nama baik Danira saja didepan mereka, iya kan ?".
" Hhheemmm....!!!kenapa mas gavin membawa aku kesini malam ini sih, tempat ini terlalu indah menjadi tempat untuk memutuskan hubungan ". Ujar Danira kembali mendongakkan kepalanya melihat langit.
" Apa kau sudah selesai berbicaranya ?, bolehkah sekarang giliran aku yang bertanya ?". Ucap Gavino, menyela ucapan Danira.
" Ya....?". Danira refleks menoleh melihat Gavino.
" Danira....Bolehkah aku memelukmu ?".
" Hah ?".
__ADS_1
......................
...Bersambung........