
Gavino mendorong pintu, Dia masuk diikuti oleh Danira di belakangnya. Mata mereka terbelalak melihat siapa yang telah berada didalam rumah mereka, terutama Danira, dia mendogakkan kepalanya melihat Gavino. Nafas Danira memburu marah dan kesal secara bersamaa.
" Honey ..?".
" Kamu kemana saja, aku sudah lama menunggu disini hingga bosan ". Ujar Stevani manja, menggelayuti lengan Gavino tanpa memperdulikan Danira disana.
" Oh kau ada disini juga ". Stevani melirik Danira yang ada disamping Gavino, pura-pura baru menyadari.
" Aku kira kau masih dirumah sakit, padahal aku sangat berharap kau selamanya disana". Ujar Stevani santai.
" Vani...!!".
" Kenapa honey, bukankah kau juga mengharapkan itu bukan, makanya kau menahanya disana hampir seminggu ini ". Cetus Stevani tanpa dosa. Danira melihat Gavino tak percaya.
Jadi dia merencanakan ini bersama kekasihnya, mengharapkan aku selamanya tinggal dirumah sakit ?, kenapa dia jahat sekali. Batin Danira, matanya mulai memanas dan berembun.
" Tutup mulutmu Van ". Ketus Gavino, seraya berjalan meninggalkan kedua wanitanya, lalu duduk disofa.
" Katakan...kenapa kau kemari, dan masuk ke sini tanpa minta izin dariku ?". Tanya Gavino dengan sorot mata dingin. Stevani merenggut, mendengar pertanyaan Gavino.
" Honey, sejak kapan aku harus minta ijin darimu untuk masuk kesini, dari dulu juga aku sudah sering kesini bahkan tidur dikamarmu. Kenapa sekarang kau menanyakan hal semacam ini kepadaku ". Ujar Stevani sambil berjalan menghampiri gavino, Dia mulai memprovokasi Danira yang masih mematung ditempatnya. Gavino menatap Stevani tajam, dia bisa menangkap maksud dari setiap kata Stevani.
" Kau belum menjawab pertanyaanku ?". Ulang Gavino, dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
" Tentu saja karena aku sangat merindukanmu honey, kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Apa kau tidak merindukan aku hhmm?". Stevani bertanya, dengan kepala menyender manja di bahu Gavino. Dia terus berusaha memanas-manasi Danira, yang pasti melihat mereka saat ini. pikir Stevani tersenyum licik.
" Pergilah...bukankah kau sudah bertemu dengan ku sekarang. Jadi pergilah dari sini, nanti aku akan menemui mu ". Ujar Gavino, dengan mata terus menatap Danira. Stevani menegakkan tubuhnya.
" Kau mengusirku honey ?, kenapa ?, apa kau sudah mulai jatuh cinta dengan istrimu itu, hingga kau berani mengusirku sekarang hah ?". Stevani mulai tersulut emosi, tak terima Gavino mengusirnya pergi.
" Jagan lupa dengan janjimu honey, kau tidak akan pernah menyukai bahkan menyentuhnya sedikitpun. Ingat sumpahmu itu ". Pekik Stevani marah. Danira mengangkat pandangannya, mendengar ucapan Stevani yang amat sangat mencabik harga dirinya.
Jadi dia telah bersumpah tak akan menyentuhku didepan wanita ini. Ya Allah, apa sebegitu hinanya aku untuknya, apa tidak pernah ada sedikit artinya diriku selama ini dihadapannya. Aku tau ya Rab, dia tak menyukai bahkan mencintaiku, tapi rasanya sangat menyakitkan saat mendengar langsung dari mulut wanita lain. Batin Danira, dia meremas gamisnya menahan kepedihan dihati. Tanpa mengatakan apapun, Danira berlalu masuk kedalam kamarnya. Gavino melihat kepergian Danira, merasa tak nyaman dihatinya. Sedangkan Stevani tersenyum penuh kemenangan, merasa apa yang dia katakan cukup membuat Danira menyerah dan segera pergi dari kehidupan Gavino.
" Van apa yang kau katakan, kenapa kau mengatakan semua itu dihadapannya ?". ketus Gavino, tak suka dengan sikap Stevani.
__ADS_1
" Lohh...semua yang aku katakan fakta honey, kau sendiri yang telah berjanji kepadaku, dan aku hanya mengingatkanmu akan hal itu. Lalu salahku dimana ?".
" Lagi pula, bukannya bagus bila wanita penggoda itu tau semuanya. Supaya dia cepat pergi dari kehidupan kita, tak menjadi benalu lagi bagi hubungan kita berdua ". Ujar Stevani tanpa rasa berdosa sedikitpun. Gavino menghela nafas kasar dengan memutar bola matanya malas, jengah mendengar ucapan Stevani.
" Berhentilah, aku tau kau sedang memprovokasinya bukan ? ". Tebak Gavino, dan Stevani hanya menjawab dengan senyuman manis.
Disaat mereka masih berbincang, Danira datang menghampiri mereka, membawa nampan berisi 2 gelas Teh panas dan Air putih dingin ditangannya. Dia meletakkan minuman itu diatas meja.
" Silahkan diminum nona, maaf jika saya terlambat menyuguhkan minuman untuk tamu istimewa kami ini ". Ujar Danira, sambil menyodorkan teh panas dan air putih dingin yang ada es batu didalamnya. Mata Gavino terus mengamati setiap gerak gerik Danira, tak pernah berpaling sedikitpun dari Danira. melihat itu, Stevani merasa jengah.
Sialan..!! sepertinya wanita ini memiliki mental yang kuat juga, bahkan dia tak terpengaruh sedikitpun dengan serangan kata-kata yang aku ucapkan. Batin Stevani. Melihat Danira bengis.
" Aku sedang tidak haus, lagi pula Mengapa kau memberikan aku 2 gelas minuman ini. Apa kau telah mencampurkan minuman ini dengan racun ?". Tuduh Stevani, Danira duduk dikursi yang ada disisi kanan Gavino, hingga membuat Gavino seperti diapit oleh dua wanita sekaligus. Hal itu membuat Gavino seperti susah bernafas, merasa tertekan dengan keadaan yang terjadi saat ini.
" Untuk apa saya mencampuri minuman anda dengan racun, bila kenyataannya anda sendiri yang telah mendorong diri anda kedalam api neraka". Ujar Danira sambil tersenyum, membenarkan cara duduknya dengan menyilangkan kakinya, hingga terlihat bahwa dia wanita yang berwibawa.
" Bisakah anda sedikit bergeser, apa anda tidak melihat wajah tertekan suami saya, karena anda terlalu menempel seperti cicak ".
" Apa...!! Kau menyamakan aku seperti cicak ?". Ujar Stevani tak terima dengan perkataan Danira.
" Apa katamu...apa kau tidak salah hah ?, kau lah wanita yang tidak tau malu, dan kau lah yang merebut kekasihku. Jadi yang pantas disebut wanita penggoda itu hanya dirimu ". Ujar Stevani, dengan wajah telah memerah, bersama emosi yang siap meledak.
" Mas...apa selama kita tinggal bersama, apakah aku pernah mencoba menggodamu ?". Tanya Danira kepada Gavino, dengan nada sangat lembut. Membuat Gavino, tak berkedip mendegarnya kemudian menggelengkan kepalanya cepat.
" Nah, lihat bukan, suami saya telah menjawab dengan sangat cepat. Jadi anda telah salah menuduh saya". Ujar Danira dengan santai. Stevani melihat Gavino tajam, tidak terima karena gavino membela Danira.
"Gavin, kenapa kau membela wanita sialan ini, aku ini kekasihmu. Seharunya kau berpihak kepadaku bukan pada wanita ini ". Pekik Stevani marah dengan sikap Gavino.
" Vani...!! Danira benar, dia tak pernah sekalipun menggodaku. jadi aku hanya menjawab sesuai fakta yang ada ". Ujar Gavino, dia merasa tak ada yang salah dengan jawabannya. Mendengar jawaban Gavino, Stevani mengepal tangannya geram.
" Kenapa aku merasa kini kau banyak berubah honey, aku lihat caramu memandangnya sangat berbeda. tidak seperti awal kalian menikah, apa kau mulai mencintai wanita yang berstatus istrimu ini honey ?". Gavino tak menjawab, dia memilih diam. Karena dia pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu. hatinya telah bercabang, sudah tak utuh seperti dulu lagi. Gavino merasa bila bersama Danira ada kenyamanan Yang berbeda.
Sebetulnya Gavino belum bisa membedakan rasa cinta yang nyata, dengan rasa cinta karena keinginan semata. Gavino dilema, terjebak dengan perasaannya sendiri.
Melihat Gavino bergeming, tak berusaha menjawab pertanyaannya. Membuat Stevani bisa menyimpulkan jawabannya sendiri. hatinya panas, tak terima bila Gavino mulai ada rasa dengan Danira. Stevani mengambil minuman yang telah disuguhkan, lalu meminumnya...
__ADS_1
" Aahh...ini panas sekali ". Pekik Stevani, meletakkan gelas diatas meja lagi, lalu mengambil gelas berisi air putih dingin, bermaksud merendahkan rasa panas dilidahnya.
" Aaww..ini dingin sekali, Kau ingin membunuhku hah ?". Pekik Stevani, melepar gelas kelantai, hingga gelas itu pecah berkeping-keping. Stevani mengipas lidahnya terasa semakin panas.
" Danira, apa yang kau lakukan ". Ujar Gavino.
" Aku hanya memberi sedikit gambaran, ah tidak ini hanya perumpamaan. Kira-kira begitulah rasanya hukuman di akhirat karena selalu berusaha menghancurkan rumah tangga orang lain. Itu belum seberapa, jika anda tidak segera bertobat, maka rasanya akan lebih panas dan lebih dingin dari minuman itu ". Jelas Danira, melihat Gavino dan Stevani secara bergantian.
" Beraninya kau....!!!". Teriak Stevani, berdiri ingin menampar Danira. Tapi Gavino dengan sigap menahan tangan Stevani, dan lagi-lagi Stevani dibuat terkejut dengan sikap Gavino.
" Kau melindunginya Gavin ?". Cicit Stevani pelan. Gavino diam, dia hanya melihat mata Stevani, lalu menggelengkan kepalanya.
" Cciihhh...aku sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaanku dengan perubahan sikapmu ". Ucap Stevani sambil menarik kasar tangannya yang dipegang Gavino.
" Ingat Gavin, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Tidak akan aku biarkan wanita ini memilikimu. Dan kau harus menepati janjimu kepadaku...INGAT ITU". tekan Stevani, melirik Danira dengan tatapan ancaman, lalu menyambar tasnya diatas meja dan berlalu pergi.
Danira yang sedari tadi hanya duduk tenang, dengan senyum terus mengembang seperti tak terpengaruh dengan ucapan Stevani. Melihat kepergian Stevani, senyuman itu berubah dengan wajah yang dingin, Danira berdiri melangkah masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Gavino sendiri.
Gavino yang masih berdiri diruang tamu, dengan pikiran melayang, baru tersadar. Bila Danira sudah tidak ada disana. Dia segerah melangkah menujuh kamar Danira.
Tok..
Tok..
" Danira....Buka pintunya, kita harus bicara ". Ucap Gavino, terus mengetuk pintu kamar Danira. Namun tak ada jawaban dari dalam. Gavino menekan gagang pintu, ternyata pintu kamar Danira tidak dikunci. Dia segera memutar Handle pintu itu lalu mendorong masuk kedalam kamar istrinya. Gavino terkejut melihat apa yang Danira lakukan.
" Apa yang kau lakukan, mengapa kau mengemasi semua barang-barang mu ?". Tanya Gavino, berjalan mendekati Danira yang masih sibuk memasukkan pakaiannya kedalam koper.
" Berhenti disana...!!". Ucap Danira.
" Kita akhiri saja pernikahan ini ".
......................
...Bersambung......
__ADS_1