CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
75. Rasa Sesal


__ADS_3

Sean mempercepat langkahnya menujuh Penthouses Gavino. Setelah tiba, Sean segera mendorong pintu masuk, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan tuannya. Mata Sean langsung tertujuh pada kamar Danira yang masih terbuka lebar, Sean melangkah dan melihat Gavino yang masih duduk dilantai.


" Tuan ". Pangil Sean berjongkok di sebelah gavino, namun Gavino tak menyahut, dia masih bertahan dengan posisinya.


" Tuan ada apa ?, mengapa Nyonya muda pergi membawa kopernya ?". Tanya Sean, Ketika dia tiba digedung penthouses, dia melihat Danira keluar dari dalam lift membawa 2 koper ditangannya, dia berjalan gontai. Sean menyapa dan memberi hormat seperti biasa, lalu menanyakan kemana Danira ingin pergi, bukannya menjawab Danira hanya menunduk kepalanya sekilas, lalu pergi melewati Sean begitu saja. Pasti telah terjadi sesuatu. pikir Sean.


Mendengar nama Danira disebut, membuat Gavino mengangkat wajahnya tapi tak ingin melihat asistennya.


" Dia sudah pergi ? Tanya Gavino pelan, nyaris tak terdengar.


" Iya tuan, saya melihat nyonya telah pergi menggunakan taksi".


" Maaf bila saya lancang tuan, jika saya boleh tau. Apa yang sebenarnya terjadi ?". Tanya Sean lagi masih penasaran, apalagi dia melihat ada sisa air mata diwajah tuannya.


Tuan Menangis. Batin Sean, hampir 19 tahun bekerja dengan Gavino, ini pertama kalinya dia melihat Gavino menitikkan air mata.


" Dia marah padaku Sean, sangat marah. Dia bahkan menumpahkan segala kekesalannya, yang sepertinya sudah lama dia pendam. Bahkan dia memintaku untuk menjatuhkan talak padanya. Dia telah mengabulkan keinginanku untuk berpisah, dia setujuh untuk Bercerai ".


" Tapi kenapa....? kenapa aku tidak bisa mengucapkan kata-kata yang selama ini ingin aku ucapkan padanya, kenapa hatiku sakit mendengar dia setujuh untuk berpisah. Kenapa aku tidak terima bila dia mengucapkan kata cerai ". Ujar Gavino lirih, dengan pandangan terus melihat langit-langit kamar. Sean bisa melihat kesedihan Dimata tuannya yang telah memerah dan berkaca-kaca.


" Itu karena tuan telah mencintai Nyonya muda tuan ". Ucap Sean yakin. Gavino menoleh kepalanya melihat Sean, yang juga ikut duduk dilantai bersamanya.


" Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu, sedangkan aku saja tidak bisa memahami perasaanku sendiri ". Ujar Gavino, tak percaya dengan ucapan Sean.


" Tuan selama saya bekerja dan mendampingi anda. Ini pertama kalinya saya melihat tuan menangis untuk seorang wanita kecuali Nyonya besar. Bahkan, saat Nona Stevani mengancam untuk memutuskan hubungan kalian pun anda tidak pernah memohon ataupun menangis kepadanya. Jadi bisa saya pastikan bahwa tuan telah jatuh hati dengan nyonya muda. Hanya saja, anda belum menyadarinya tuan ". Jelas Sean. Gavino diam, dia membenarkan ucapan Sean, memang benar saat Stevani pergi meninggalkannya tanpa kabar hampir 1 tahun pun, Gavino tak mencoba mencari keberadaan kekasihnya. Dia malah sibuk bekerja, hingga akhirnya Stevani kembali sendiri, Gavino adalah orang yang cuek, kurang peka. Tapi dengan Danira, apa benar aku mulai mencintainya. pikir gavino


" Kau Jangan sok tau, kau bahkan masih menjomlo sampai sekarang dan belum pernah merasakan jatuh cinta. Bagaimana kau bisa mengetahui yang mana cinta dan yang mana sekedar merasa bersalah ". Ketus Gavino, dengan meninju lengan Sean. Sean tersenyum kikuk, sambil mengaruk-garuk kepalanya tidak gatal.


" Maaf tuan, tapi menurut penilaian saya memang begitu adanya. Jika anda tidak percaya, coba saja anda tanya pada diri anda sendiri ". Ujar Sean, membenarkan dudukannya mengikuti Gavino bersandar didipan tempat tidur.


" Tapi bagaimana mungkin aku bisa jatuh hati padanya, aku bahkan belum pernah sedikitpun melihat wajahnya ?". Cicit Gavino, mengalihkan pandangannya ketembok kamar. Sean Hanya menjawab dengan menaikkan bahunya, tanda tidak tau.


" Kenapa tuan tidak mencoba mengejar Nyonya atau meminta maaf saja ? ". Gavino menghela nafas panjang, mendengar pertanyaan Sean.


" Untuk apa ?, pasti dia tidak akan pernah memaafkan aku, apa lagi besok dia akan mengajukan perceraian kami kepengadilan ". Jawab Gavino menunduk, tangannya menyugar rambutnya yang rapi. Sean melihat gavino, dia turut bersedih atas apa yang menimpa rumah tangga tuannya. Sean mulai berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Gavino.


" Apa anda akan diam saja, dan menunggu surat panggilan dari pengadilan tuan ?". Gavino hanya diam, tak merespon pertanyaan Sean, Sean menghela nafas jengah melihat Gavino yang tak ada inisiatif apapun.


" Berarti anda sudah siap, bila Nyonya akan dimiliki oleh tuan Doni ?". Mendengar itu, Gavino mengangkat kepalanya melihat Sean tajam.


" Apa maksudmu ?".

__ADS_1


" Hheemmhh...!! Apa tuan lupa, bila tuan Doni menunggu saat dimana tuan dan nyonya berpisah. Lalu dia akan segera menikahi nyonya muda ". Ujar Sean, mulai mematik api kecemburuan dihati gavino lagi. Gavino seakan tersadar, dia tiba-tiba berdiri dan berkecak pinggang, membuat Sean tersentak kaget. Gavino berjalan mondar-mandir, memaksa otaknya berpikir cepat.


" Kau benar Sean, aku tidak boleh melepaskannya begitu saja. Aku akan membuat dia tetap menjadi istriku ". Ujar Gavino penuh keyakinan.


" lalu bagaimana dengan Nona Stevani tuan ?. jika anda masih memiliki hubungan dengannya, pasti Nyonya tidak akan mau kembali kepada anda ". Tanya Sean, sambil berdiri dari duduknya. Gavino terdiam, dia baru ingat bila dia masih memiliki Stevani.


" Aahh sial, mengapa aku lupa dengan kekasihku sendiri ". Gumam Gavino.


" Maaf tuan, kalau saya boleh memberi saran. Alangkah lebih baik, bila tuan memilih Nyonya Danira, dan melepaskan nona Stevani ". Gavino melirik Sean.


" Apa harus seperti itu ?". Pertanyaan Gavino membuat Sean makin jengah, dia pikir Gavino telah menentukan pilihan, saat mendengar keyakinan penuh dari ucapannya tadi. Tapi nyatanya....


" Nanti akan aku pikirkan masalah itu, yang jelas sekarang aku harus menjemputnya pulang ". Tegas Gavino, melangkah keluar. Namun beberapa detik kemudian dia kembali menemui Sean, yang masih berdiri ditempatnya.


" Tapi aku harus menjemputnya kemana ?, aku bahkan tidak tau dia pergi kemana ". Ujar Gavino, hal itu membuat Sean benar-benar kesal. Kenapa bosnya menjadi bodoh seperti ini, apa masalah yang tuannya hadapi membuat dia kehilangan otak cerdas yang suka dia banggakan itu.


" Nyonya pasti ada di mansion keluarga anda tuan, bukankah putrinya masih berada disana. Pasti dia ada disana ". Ujar Sean memberi tahu. Mata Gavino berbinar, mendengar ucapan Sean.


" Yah kau benar..!! pasti dia ada ditempat mami ayo kita kesana sekarang ". Mereka berdua beranjak pergi menujuh kediaman Ny. Calina. Namun Secara Tiba-tiba Gavino menghentikan langkahnya lagi, membuat Sean semakin geram.


" Sean...!! Aku ada pekerjaan penting untukmu ". Ujar Gavino tersenyum miring, dan itu membuat Sean menautkan alisnya bingung.


Dikediaman keluarga Pradiksa.


" Danira, cerita sama mami apa yang terjadi antara kamu dan Gavino. Kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini nak ?". Tanya Ny. Calina, dengan derai air mata yang telah membanjiri pipinya. Bagaimana tidak, Ny. Calina sangat terkejut melihat Danira datang sendiri ke rumahnya, dengan membawa koper ditangannya. Hal itu membuat Ny. Calina menaruh curiga pasti telah terjadi sesuatu, apalagi Danira dengan tegas mengatakan keinginannya untuk berpisah dari Gavino.


" Tidak ada yang perlu Danira ceritakan mami, kami tidak ada masalah apapun, antara aku dan mas Gavino memang tidak cocok. Mungkin mas Gavino bukan jodoh Danira ". Ujar Danira, tak ingin memberi tahu ibu mertuanya, dia tak ingin masalah rumah tangganya menjadi beban pikiran Ny. Calina.


" Tidak..tidak..tidak,..!! mami tidak percaya, pasti ada sesuatu yang membuat kamu berani mengambil keputusan ini. Pasti bocah tengik itu, telah menyakiti kamu kan nak, jujur sama mami sayang. Biar mami yang akan memberi perhitungan dengan suami durhaka itu ". Ucap Ny. Calina, tak mempercayai perkataan Danira. Dia yakin dengan firasatnya. Danira tersenyum, lalu memeluk erat ibu mertuanya.


" Mami Jagan menangis seperti ini, mas Gavino tidak salah mi. Kami sudah mencoba mempertahankan rumah tangga ini, tapi mungkin kami tidak ditakdirkan bersama lebih lama ". Danira menghapus air mata Ny. Calina dengan sayang.


" Tolong Jagan meyalahkan mas Gavino, dia tidak salah mi. Walaupun aku dan mas Gavino berpisah, bukankah aku akan tetap menjadi anak mami ?". Tanya Danira lembut, dengan suara serak bergetar. Ny. Calina mengangguk cepat, dia sangat menyayangi Danira, bahkan dia tak perna menganggap Danira seperti menantunya. Melainkan seperti putri kandungnya sendiri.


Ketika dia mendengar langsung dari mulut Danira, bahwa dia akan menggugat cerai Gavino. Itu membuat Ny. Calina amat sangat syok, dia sangat terpukul dengan keputusan Danira. Tapi dia juga tak bisa menyalahkan Danira, semua ini pasti ulah Gavino putranya.


" Mi...!! Aku janji, akan sering datang untuk menjeguk mami. Mami Jagan sedih lagi ya, mami Jaga kesehatan. Aku dan Khalisa pamit dulu ". Ujar Danira pamit, membuat Ny. Calina semakin Menangis sejadi-jadinya. Dia tak bisa menahan Danira untuk tetap tinggal.


Danira telah berada didalam mobil taksi, dia mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor ponsel seseorang. Panggilan tersambung...


" Hallo, Sarah ".

__ADS_1


****


20 Menit kepergian Danira, Gavino dan Sean baru tiba dikediaman keluarganya. Gavino langsung berlari masuk, tanpa memperdulikan Sean yang masih tertinggal.


" Danira...?"


" Danira..?"


" DANIRA ..."


Teriak Gavino, membuat seluruh penghuni mansion keluar, mereka melihat penampilan tuannya yang kacau, tidak rapi seperti biasanya. Mendengar teriakan Gavino, Ny. Calina yang sedang berada diruang keluarga keluar menghampiri.


" Mami Dimana istriku ?". Tanya Gavino, saat melihat ibunya berjalan mendekatinya. Bukannya menjawab, Ny. Calina malah meneriakinya.


"Dasar anak kurang ajar, Bocah edan, suami durhaka kamu GAVINO..." pekik Ny. Calina sambil terus memukul Gavino dengan boneka Khalisa. Gavino tak mengelak, dia hanya diam menerima setiap pukulan yang ibunya berikan. Melihat dari wajah sembab ibunya, Gavino sudah bisa menebak. Pasti ibunya telah mendengar keinginan Danira.


" Kau apakan Menantu kesayangan mami Hah ?, sampai-sampai dia nekat mengambil keputusan seperti ini. Kau benar-benar laki-laki yang tidak tau diuntung. Sudah memiliki istri yang sempurna seperti Danira ,malah kau sia-sia kan". Ny. Calina terus saja mengomel dan memukul Gavino bertubi-tubi, Gavino masih memilih diam, membiarkan ibunya melampiaskan segala kekesalan dihatinya. Gavino mengakui bahwa ini memang kesalahannya, yang telah membuat ibunya bersedih seperti ini.


" Kau mau istri yang seperti apa lagi hah ?, dia itu benar-benar istri yang baik, setia dan Sholehah untuk kau. Asal kau tau, selama ini dia selalu menunggu kepulanganmu dari bekerja, walaupun kau pulang larut sampai jam 2 pagi sekalipun, dia selalu setia menunggu diruang tamu, dan berlari masuk kedalam kamarnya bila mendengar pintu telah terbuka. Makanan hangat yang selalu kau makan, itu Danira sendiri yang memasaknya, dia tak ingin kau merasa kelaparan saat pulang lembur. Dia melakukan semuanya secara diam-diam tanpa kau ketahui, dia selalu memanjatkan doa saat kau berangkat dan pulang kerja. Berterima kasih kepada Tuhannya karena telah melindungi mu ". Jelas Ny. Calina. Ny. Calina pernah beberapa kali melihat Danira melakukan kebiasaan itu, disaat Dia menginap di Penthouses anaknya.


" Tapi apa yang kau lakukan padanya, kau malah menyakitinya, kau lebih memilih wanita Jadi-jadian itu dibanding istrimu. Asal kau tau Gavino, bahkan hari ini sebelum dia pergi, dia tetap meminta mami tidak menyalahkan mu. Dia selalu melindungi mu, selalu menjaga nama baikmu, agar tak ada yang merendahkan mu ". Ujar Ny. Calina mengungkapkan semuanya, agar gavino menyesal.


Dam*


Gavino terdiam, nafasnya terasa sesak, mendengar semua kenyataan yang ibunya ucapkan. Matanya kembali memerah, rasa bersalah didalam dada semakin menjadi.


Jadi Danira sudah tidak ada disini. Batin Gavino.


" Dia yang melakukan semua itu ". Cicit Gavino tak percaya.


" Benar tuan, perihal yang membuka sepatu anda dan membersihkan kaki anda dimalam anda mabuk waktu itu, Itu juga Nyonya Muda sendiri yang melakukannya, bukan saya". Timpal Sean, dari belakang Gavino. Hati Gavino semakin gamang, rasa penyesalan mulai bermuncuran dalam dirinya.


Ny. Calina yang emosinya masih membara, semakin kesal melihat Gavino yang hanya diam.


" Gavino...Gavino..!!Kau benar-benar laki-laki bodoh, Mami sudah memberikanmu Berlian yang berkilau, kau malah membuangnya. Tapi kau malah memilih batu kali yang berlumuran daki". Ketus Ny. Calina dongkol.


" Ingat Gavino, kau jangan menyesal bila kelak Danira dimiliki orang lain". Ucap Ny. Calina, berlalu pergi meninggalkan Gavino.


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2