
Dentingan gerimis meramaikan suasana dipagi hari, hembusan angin menggerakkan dedaunan diranting pohon yang ada diatas Rooftop Penthouses Gavino. Didalam ruangan yang besar, sepasang pengantin baru masih berbaring nyaman, dibawah gulungan selimut tebal yang hangat.
Gavino yang telah bangun lebih dahulu, memiringkan tubuhnya menghadap kesebelah kiri, menyanggah kepalanya menggunakan tangan. Matanya kembali berbinar, menatap Danira yang masih tertidur pulas disampingnya. Gavino mengembangkan senyum secerah mentari, dia masih tak percaya apa yang baru saja mereka lewatkan.
Gavino merapikan helaian rambut Danira yang menutupi wajah cantiknya. Aahh...rasanya Gavino tak pernah bosan memandang wajah yang meneduhkan ini, perlahan jari telunjuk Gavino memainkan bulu mata lentik Danira, lalu turun kehidung mancung istrinya. Gavino menelusuri setiap lekukan diwajah Danira, mengelus pipi mulus bak sutra, beralih kebibir Semerah tomat segar nan ranum, menggoda.
" Kau ini benar-benar manusia atau bukan ?, mengapa bisa ada wanita secantik ini. Cckk...rasanya aku ingin menelanmu hidup-hidup". Gumam Gavino, tersenyum-senyum sendiri. Gavino kembali mengingat bagaimana Dia menarik Danira kembali hingga tak berdaya dibawah kukungannya ketika Danira baru selesai menjalankan ibadah subuh tadi.
Danira merasakan ada sesuatu yang mengelitik dipipinya, perlahan Danira membuka matanya. Saat itu juga mata Danira dan Gavino saling menatap lurus satu sama lain. Danira Melihat Pahatan wajah tampan Gavino, Rambut acak menutupi bagian kening, tercetak alis hitam tebal bak barisan semut yang rapi, pupil mata hitam tajam dihiasi bulu mata panjang, hidung mancung lancip bak prosotan anak TK, garis rahang yang tegas dan bibir merah berisi. Danira menganggumi ketampanan suaminya, wajah Gavino benar-benar menawan apalagi dilengkapi dengan lengkungan senyuman dipipinya.
Masya Allah....
Semoga kau selalu menatapku seperti ini mas, menatapku penuh dengan cinta yang tulus. Batin Danira.
Selama beberapa detik mereka berdua sama-sama terdiam. Gavino mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan kecupan manis dikening Danira
" Selamat pagi...sayangku ". Ucap Gavino.
BLAS***
Wajah Danira kembali merona, mendengar sambutan termanis dipagi hari. Danira menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya, Dia baru mengingat bila saat ini dia masih dalam keadaan tak berbusana, rasanya Danira ingin bersembunyi saat ini, dia sangat malu.
" Apa tidurmu Nyenyak ?". Tanya Gavino, mengelus kepala Danira lembut. Danira mengangguk pelan.
" Kenapa kau terlihat ragu begitu menjawabnya, apa masih sakit ?". Danira mengangguk lagi sambil menarik selimut lebih tinggi.
" Benarkah...?, bagian mana, sini biar aku memeriksanya ". Gavino mencoba menarik selimut Danira, namun sekuat tenaga Danira menahannya.
" Mas ihh...jangan begitu, Masa harus aku menunjukkannya, itu sangat memalukan ". Jawab Danira melirik Gavino. Gavino yang melihat wajah istrinya memerah, semakin bersemangat ingin menggodanya.
" Oohhh...!! apa yang membuatmu malu hmm, bukankah aku sudah melihat semuanya, sini biar aku mengobatinya ". Ujar Gavino, duduk, lalu....
" Ha..ha..ha..mas...ha..ha jangan...ini sangat geli ". Tawa Danira menggema, akibat Gavino mengelitiknya.
" Mas sudah...ampun, ampun. Jangan gelitik lagi ". Danira sudah tak tahan, rasanya dia ingin buang air kecil. Gavino menghentikan kejahilannya, kini dia berada diatas tubuh Danira, dengan posisi seperti push up. Danira mengerjap-ejapkan matanya, melihat apa lagi yang ingin tuan muda ini lakukan padanya.
Cup *
Cup*
Gavino kembali mendaratkan kecupan singkat di bibir Danira, membuat Danira kembali kaget, karena belum terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Danira menutup mulutnya dengan tangan.
" Kenapa ditutup ?". Tanya Gavino, mengerutkan dahinya.
" Jangan cium dulu, aku belum gosok gigi ". Gumam Danira, merasa risih. Gavino tersenyum jahil, Dia semakin bersemangat menggoda Danira dengan memberikan banyak kecupan memenuhi seluruh wajah Danira.
" Mas...!!". Danira menutup wajahnya dengan tangan.
" Kenapa...., apa mencium pipi juga tidak boleh, karena belum cuci muka ".
" Bukan begitu, tapi aku masih bau belum mandi ".
" Tidak masalah...aku tetap suka meski kau tak mandi ".
" Benarkah...? berarti jika aku tidak mandi bertahun-tahun mas Gavin tetap suka ?". Goda Danira.
" Eemmmhh...Tergantung !!".
" Tergantung apa ?". Danira penasaran. Gavino hanya menjawab dengan senyuman penuh misteri.
Dan...terjadi lagi....
***
Gavino turun dari lantai kamarnya, dengan senyuman puas terpampang jelas diwajahnya. Karena ini hari libur, jadi tidak ada kegiatan pekerjaan. Gavino berencana akan menghabiskan waktu hanya berdua dengan istrinya di rumah. Tak lama Danira pun ikut menyusul, dengan wajah bersemu merah.
" Sudah siap ?". Tanya Gavino, ketika melihat Danira telah rapi dengan pakaian lengkap panjangnya, Danira mengangguk.
" Ayo..". Gavino mengulurkan tangan, lalu disambut oleh Danira. Mereka berjalan bergandengan menujuh pintu keluar. Saat pintu terbuka Gavino dikejutkan dengan seseorang yang telah berdiri didepan pintu.
__ADS_1
" Astaga....". Pekik Gavino terkejut melihat Sean telah berdiri tempat didepan pintu penthousesnya, dengan keadaaan memperihatinkan.
" Kenapa kau kemari, bukankah ini hari sabtu?". Tanya Gavino, tanpa menjawab Sean menyodorkan paper bag kehadapan Gavino, dengan muka datar.
" Apa ini ?". Gavino menerima, lalu membuka paper bag yang diberikan Sean.
" Handphone ?". Ujar Gavino, mengeluarkan isinya. Kemudian dia teringat bila semalam, saat dia berdiri dibalkon, dia menghubungi Sean, untuk datang mengantarkan ponsel baru untuknya. Gavino kembali melihat Sean.
" Sejak kapan kau ada disini ?".
" Sejak tuan memerintahkan saya datang semalam ". Jawab Sean, seadanya. Sean sangat kesal, dia telah menunggu tuannya dari jam 10 malam, sampai jam 10 pagi. Hingga kakinya terasa sangat kebas dan pegal, karena Dia hanya berdiri didepan pintu penthouses Gavino, berulang kali Sean menekan bel dan menghubungi ponsel Danira, namun tak ada sekalipun jawaban. Rasanya dia ingin pergi, namun dia tau bagaimana sifat Gavino, bila keinginannya belum didapat.
" Oh...". Jawab Gavino singkat, tanpa rasa bersalah.
" Aaww,...". Tanya Gavino, melihat Danira mencubit pinggang suaminya, tak percaya dengan respon yang diberikan.
" Kenapa mencubitku ?". Tanya Gavino, mengosok pingangnya terasa seperti digigit semut rangrang. Danira menghela pelan.
" Sean...maaf sudah membuatmu menunggu sangat lama. Aku tidak tau jika mas Gavino memintamu datang kesini semalam, aku juga tidak memegang ponsel ". Ucap Danira, merasa tak enak hati melihat Sean yang wajahnya tampak lelah, dengan kantung mata menghitam.
" Tidak apa-apa Nyonya ". Jawab Sean.
" Sayang...kau tak perlu meminta maaf, salah dia sendiri mengapa datang. Bukankah dia tau bila tadi malam kita sedang menikmati....!!". Danira menutup mulut suaminya, yang akan mengatakan yang tidak-tidak didepan Sean. Sean hanya melirik tuan dan Nyonya nya dengan wajah datar.
Sabar Sean....bukankah kau sudah mengenal tuanmu sangat lama, ini tak seberapa dengan Yang pernah kau alami selama ini. Batin Sean menguatkan dirinya sendiri.
" Sayang, mengapa kau menutup mulutku. Aku ingin memberitahu bila dia datang diwaktu yang tidak tepat, jadi salah dia sendiri, mengapa tidak pulang saat tak ada jawaban ". Ujar Gavino, setelah melepaskan tangan Danira dari mulutnya.
" Mas, dia tidak akan datang bila mas tidak memintanya. Apa mas tidak kasihan pada Sean, lihatlah wajahnya tampak lelah menunggumu semalaman "Ucap Danira. Gavino melirik Sean tajam. Sean hanya menghela pelan menyaksikan perdebatan pasangan suami istri didepannya ini.
" Mengapa kau membelanya, bukan membela aku suamimu ". Ujar Gavino, memajukan bibirnya kesal. Sean tercengang melihat bosnya yang berubah merajuk.
Apa ini, mengapa tuan bersikap seperti ini. kemana sikap dingin dan sangar yang biasa dia tunjukkan pergi?....apa memang begini sifat asli seseorang bila sedang jatuh cinta?. Batin Sean merasa aneh dengan perubahan Gavino, dia belum pernah melihat Gavino menjadi kekanak-kanakan seperti ini.
" Mas...aku tidak membelanya, aku hanya mencoba menjelaskan padamu. Jangan marah ya...". Ucap Danira halus, menyentuh lengan Gavino, dia tau Sekarang suaminya sedang berubah menjadi bayi besar yang tegah merajuk.
" Nyonya, tuan kalau begitu saya permisi pulang dulu ". Pamit Sean, dia sudah tidak ingin mendengar perbincangan pasangan yang ada dihadapannya ini lagi, dia sangat lelah dan mengantuk, Sean membutuhkan kasurnya yang empuk.
" Eehh..siapa yang menyuruhmu pulang. Ikut aku keruang kerjaku dulu, ada yang ingin aku bahas ".
" Sayang..kau tunggu disini sebentar ya. Ini tak akan lama ". Gavino mendaratkan kecupan di kening Danira, membuat Sean kembali menghela nafas panjang lalu mengikuti Gavino dari belakang.
" Jika kau ingin seperti ini juga, maka menikahlah. Jangan menjomblo terus menerus ". Ejek Gavino, Sean hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Saat ini dia tak butuh menikah, dia butuh tempat tidurnya. Gerutu Sean dalam hati.
Danira melihat Gavino dan Sean telah menghilang dibalik pintu, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Sarah.
Tersambung....
" Assalamualaikum Nona ". Salam Sarah dari balik telpon.
" Waallaikumsalam Sarah ".
" Apa nona sudah kembali kejakarta ?".
" Sudah, bagaimana perkembangan yang kemarin. Apa kau sudah mengetahui siapa yang mengambil Desain milik perusahaan mas Gavin ?". Tanya Danira, sambil mengawasi ruang kerja Gavino.
" Sudah nona, saya sudah menemukan orangnya. Dia mengaku mendapatkan desain itu dari temannya yang bekerja di Pradiksa company itu sendiri, temannya menjual desain itu dengan alasan bahwa tuan Gavino tak menyukai desain rancangan miliknya. Karena dia butuh uang, makanya orang itu menjual kepada karyawan kita yang ada di team Desain grafis ". Jelas Sarah, yang telah mengintogasi orang yang bersangkutan.
" Apa kau percaya Sarah ?".
" Maksud nona ?
" Aku rasa tidak sesederhana yang dia katakan. Jika mas Gavino tidak menyukai desain rancangannya, tidak mungkin surat keputusan kepemilikan keluar dan dipatenkan untuk launching dibulan depan. Ini sangat tidak masuk akal ".
" Ya anda benar nona, saya pun berfikiran seperti itu. Maka dari itu, saya masih menahannya ".
" Eemhh...aku ingin kau selesaikan masalah ini secepatnya, karena mas Gavin sudah mulai mencurigai aku. Dia sudah merasa, bila akulah yang meminta desain itu diganti. Pasti saat ini mas Gavin kembali mencari tau semuanya Tentang aku". Ucap Danira, Sarah diam sejenak.
" Baik nona, saya akan segera menyelesaikan permasalahn ini. Dan untuk data anda, saya jamin tidak akan bocor sedikitpun, sampai anda membukanya sendiri ".
__ADS_1
" Apa ada lagi nona ?". Sarah kembali bertanya, mungkin ada tugas lain yang harus dia kerjakan.
" Oh iya....Sarah. Aku butuh bantuanmu. Aku butuh data seseorang yang bernama Aryo Narendra, cari tau semua tentangnya selama ini ".
" Aryo Narendra ?". Ulang Sarah, nama itu seakan familiar ditelinganya.
" Bukankah dia suami kakak anda nona ?".
" Iya kau benar Sarah, dia mas Aryo suami kak Shena. Kemarin aku bertemu dengannya di bandara. Nanti akan aku ceritakan semuanya kepadamu, untuk saat ini aku belum bisa menemuimu. Siap kan saja semua riwayat tentangnya, Senin aku akan datang ketempat biasa ". Ucap Danira, kembali melirik pintu yang masih tertutup. Meski Sarah sangat penasaran, namun dia tidak akan memaksa Danira menceritakannya saat ini.
" Baik nona ".
" Kalau begitu, aku tutup dulu telponnya ".
" Nona, selamat untuk pernikahan anda dan tuan Gavino, semoga anda selalu bahagia ". Ucap Sarah tulus, Danira tersenyum.
" Terima kasih Sarah, doa terbaik untukmu juga ". Ucap Danira, sambungan telpon itu pun berakhir. Danira menyimpan ponselnya kembali kedalam tasnya. Tak berapa lama, Gavino dan Sean pun keluar dari dalam ruang kerjanya.
" Tuan, Nyonya saya undur diri dulu ". Pamit Sean, Menunduk memberi hormat sebelum pergi.
" Eemhh ". Gavino mengangguk. Sean pun berlalu keluar dari penthouses Gavino.
" Sayang maaf telah membuatmu menunggu lama. Apa kau telah merindukan suamimu ini ?". Gavino memeluk Danira, membuat Danira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap suaminya ini, seakan tak bertemu dalam jangka waktu yang lama, padahal hanya 1 jam, itu pun masih dilingkungan yang sama. Benak Danira.
" Apa kita akan seperti Teletubbies terus mas ?". Gavino melepaskan pelukannya, lalu melihat Danira, Gavino yang mengerti menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
" Baik Nyonya, kita akan berangkat sekarang ". Ujar Gavino lalu menarik tangan Danira. Saat mereka telah sampai diluar, Gavino menghentikan langkahnya.
" Kenapa mas ?, apa ada yang tertinggal ?". Tanya Danira, Gavino menghadap Danira, hal itu membuat Danira bingung, apa ada yang ingin dia katakan. pikir Danira.
Gavino mengangkat Burqa Danira, lalu menatap bola mata biru kesukaannya. Dan...
Cup*
Cup*
" Jaga pandanganmu, karena semua ini milikku. Aku tak suka bila kau diam-diam melirik pria lain, selain aku. Ingat, hanya aku yang boleh kau pandang ". Ujar Gavino, mencium mata kiri dan kanan Danira. Lagi-lagi Danira tercengang, mendapatkan serangan dadakan. Jantungnya langsung berdetak kencang, seakan siap keluar dari rongga dadanya. Jangan ditanya bagaimana warna pipi Danira sekarang, sudah pasti semerah kepiting rebus yang sangat panas.
***
Gavino telah memarkirkan mobil mereka di parkiran Supermarket, mereka akan berbelanja untuk keperluan di penthouses. Sebenarnya Gavino ingin meminta jasa pengantar saja, namun Danira ingin berbelanja sendiri, karena dia ingin membeli sesuatu, Gavino pun menyetujui keinginan Danira tapi tidak dengan cuma-cuma, Gavino memberikan persyaratan yang harus Danira penuhi.
Danira sudah siap membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi Gavino menahan tangannya.
" Sayang, kau jangan lupa sepulang dari berbelanja kau memiliki hutang kepadaku ". Bisik Gavino, memberikan senyuman menawan namun mengerikan Dimata Danira.
Glek**
Danira menelan ludahnya sudah payah, sudah membayangkan apa yang akan suaminya lakukan nanti. Dia mengangguk.
Gavino turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Danira, tangannya menahan kepala istrinya agar tak terbentur bagian atas mobil. kemudian Gavino menarik tangan Danira lalu menganggenggamnya erat. Danira hanya tersenyum melihat cara Gavino memperlakukannya.
" Apa tidak sebaiknya kita duduk di sana saja sayang, biar para karyawan itu yang menyiapkan belanjaanmu ". Tawar Gavino mencoba membujuk Danira, ketika mereka sudah berada didalam supermarket yang ramai.
" Jangan mas, mereka sedang banyak pekerjaan. Coba lihat, disini sedang ramai pembeli, jika mas meminta beberapa orang menyiapkan belajaan kita, itu sama saja kita sudah menambah daftar antrian semakin panjang, kan kasian mereka harus menunggu lebih lama". Ucap Danira, dia tak ingin karena kepentingannya, banyak yang terkena imbas.
Gavino menghela, lalu mulai mendorong troli ditangannya.
" Sepertinya jika kau ingin berbelanja lagi, aku harus meminta supermarket ini dikosongkan dari pengunjung lain dulu, agar kita tak perlu ikut dalam antrian seperti itu ". Ujar Gavino, Danira tergelak mendengar ucapan Gavino.
" Dasar tuan Arogan ". Ujar Danira, tertawa pelan.
" Biar saja, aku yang punya...!! Ahh bukan aku, tapi kita yang punya ". Sombongnya, lalu merangkul tubuh Danira, berjalan beriringan. Disaat mereka sedang asik memasukkan belanjaan kedalam troli, dua orang datang menghampiri mereka.
" Gavino ? ".
......................
...Bersambung.......
__ADS_1