CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
140. Akibat


__ADS_3

Malam kian larut, kebanyakan dari penghuni pinggiran ibu kota mulai terlelap dalam tidur. Tapi tidak dengan penghuni sebuah rumah petak yang terletak di ujung perkampungan dekat kali. Para penghuni didalam rumah itu sibuk berteriak-teriak histeris, mengusir hewan-hewan kecil yang masuk kedalam kontrakan mereka.


" Aakkhhhh...ma...ma...mama usir tikus itu, aku takut !!!!". Pekik seorang gadis, yang berusia 18 tahun, dia adik bungsu Aryo bernama Nia.


" Iya ma...iiihhhkkkkk, itu...itu tikus kecil-kecil ma....!!! Aku tidak mau tinggal disini, tempat ini sangat tidak layak, jorok, kotor, bau. Aku ingin kembali ke rumah lama kita ma, atau kita kembali ke hotel yang kemarin saja.. ". Pekik Anya. Sambil melempar-lemparkan sendal kearah tikus kecil yang mengendap-endap di pinggir dinding ruangan itu, tubuh mereka meremang geli, melihat banyaknya tikus kecil berjalan, dan kecoak merayap-rayap di lantai, maupun di tembok.


" BERISIKKKKK ....!!! Apa kalian berdua tidak bisa diam, mama sudah sangat mengantuk, bila kalian tidak suka, tinggal pergi saja. Pintu keluar ada disebelah sana, menambah beban pikiranku saja ".


" Kalian pikir mama mau apa tinggal ditempat seperti ini, kita sudah tidak punya pilihan bodoh, apa otak kalian sudah amnesia ? ". Ujar Hera mengomeli kakak adik itu, tanpa membuka matanya yang masih terpejam. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk berat. Seharian ini membersihkan rumah kontrakan yang tidak seberapa besar, namun cukup menguras tenaganya yang tidak terbiasa bekerja, karena rumah yang mereka tepati benar-benar kotor dan sudah sangat lama tidak ada yang menepati. Kedua gadis itu mencebikkan bibir mereka kesal, mendengar ucapan ibu mereka.


" Memangnya mama bisa tidur ditempat jorok seperti ini ?, coba lihat itu, didekat kaki mama banyak bayi kecoak". Ujar Anya Geli.


" Biarkan saja, mama tidak perduli. Yang terpenting sekarang mama harus tidur, rasanya tubuh mama remuk, mama butuh istirahat yang cukup, untuk menerima kenyataan bila kita benar-benar sudah jatuh miskin sekarang, jadi berhentilah merengek suara kalian membuat kepala mama mau pecah". Hera bersusah payah memejamkan matanya, dia masih berharap bila semua ini hanya lah mimpi dan saat dia terbangun nanti semua kembali seperti semula, tapi sayangnya kedua putrinya tak bisa membiarkannya beristirahat, bahkan sejak mereka datang sampai sekarang mulut kedua putrinya tak berhenti merengek, selalu mengeluh dan mengeluh.


" Ma....mama, lalu aku dan kak Anya tidur dimana ?, kami tidak mau tidur di tempat seperti ini. Kenapa mama tidak cari kontrakan yang lebih mewah dan lebih baik sih ma ?, atau kita tinggal di hotel lagi ma, pasti uang tabungan mama masih ada kan? !!! ".


PUK*


Sendal merk Swallow berwarna hitam berhasil mendarat di pipi Nia.


" Aawww....kenapa mama melemparku, sakit tau". Kesal Nia menggosok-gosok pipinya sakit, cemberut.


" Jika mama masih punya banyak uang, mama tidak mungkin mengikuti keinginan wanita pembawa sial gila itu tinggal disini ". Kesal Hera, sambil melirik Dinda yang tengah menidurkan Naya didalam kamar yang berukuran sangat kecil, beralaskan karpet tipis. Melihat menantunya, membuat kantuk Hera menghilang berganti dengan emosi.


" Andai saja aku tau nasibku akan seburuk ini, aku tidak akan pernah merestui anakku menikah denganmu dulu. Sebelum kau datang dalam hidup putraku, kehidupan kami sangat baik, bahkan tak pernah ada bayangan akan melarat dan menderita seperti ini ". Sungut Hera, mulai melampiaskan kekesalannya lagi pada Dinda.


Dinda terus diam, sengaja tak ingin menanggapi ucapan-ucapan sang mertua yang selalu menyalahkannya. Dinda masih mencoba bersabar menghadapi sifat ibu mertuanya yang telah jauh berubah sejak semua harta yang biasa mereka nikmati diambil alih oleh Danira dan Gavino tanpa tersisa, bahkan tabungan merekapun dibekukan. Hal itu membuat Hera, melemparkan semua kemalangan ini kepada Dinda, dia merasa nasib sial yang menimpanya gara-gara Dinda dan Naya.


" Jika saja aku bisa memutar waktu kembali, aku memilih putraku tetap bersama anak pungut itu, meski aku kurang menyukainya, tapi setidaknya hartanya tetap bertahan denganku. Aku tidak akan pernah merasa melarat dan terhina seperti ini, tidak akan pernah tinggal ditempat kumuh ini. Aku sangat menyesali keputusanku dulu yang merestui putra berhargaku menikah dengan wanita pembawa sial sepertimu".


" Oh tuhan...aku ingin kembali ke masa-masa dulu, aku ingin semua hartaku kembali, kebahagiaanku kembali, kehormatan keluargaku kembali. Bila harus menukarnya, aku rela putraku berpisah dari wanita sialan ini dan kembali kepada Shena saja ". Dinda menahan sesak dalam hatinya, setiap kata-kata yang dilontarkan Hera terasa sangat menusuk, bahkan mencabik-cabik harga diri Dinda, sejujurnya dindapun menyesali keputusannya dulu.


Bila bukan karena benih yang telah terlanjur berkembang didalam rahimnya sebelum mereka menikah dulu, mungkin Dinda juga memilih berpisah dari Aryo yang telah menipunya. Saat mereka kembali bertemu di acara reunian sekolah, Aryo kembali mendekati Dinda, dia mengaku bila saat itu Aryo masih berstatus sendiri dan selalu menunggu cinta pertamanya yaitu Dinda.


Dinda yang masih memiliki rasa cinta, terbuai dengan rayuan Aryo yang selalu mengajaknya kembali bersama, ditambah Dinda juga merasa senang sekaligus bangga ketika melihat kesuksesan sang mantan kekasih. Namun ketika mengetahui bila Aryo telah menikah, Dinda sudah tak memiliki pilihan, dia tetap bertahan demi anaknya Naya, meski dia mengetahui jika dia telah menyakiti hati wanita lain dan menjadi duri dalam rumah tangga seseorang.


" Sekarang aku sadar, ternyata yang menjadi pembawa sial dalam keluargaku itu bukan anak pungut itu, melainkan kamu ". Lagi-lagi Hera melemparkan kata-kata yang sangat menyakitkan untuk Dinda. Hingga membuat Dinda berang, Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, rasa amarah dan kecewa menjadi satu, Dinda tak menyangka ibu mertua yang biasa menyayanginya bisa berkata sebegitu menyakitkan. Dia berdiri lalu menghampiri ibu mertuanya yang sejak tadi selalu memprovokasi Dinda.


" CUKUP....!!". Teriak Dinda lantang, membuat Hera dan kedua putrinya terkejut.


" Sudah cukup mama menyalahkan aku atas semua ini. Asal mama tau, semua ini bukan kesalahanku. Semua yang mama alami saat ini, ulah dan akibat dari ketamakan mama sendiri, jangan pikir aku diam karena takut. TIDAK.....aku tidak takut sama sekali dengan mama, aku diam karena masih berusaha menghormati mama sebagai mertuaku, menghargai mama sebagai nenek dari Naya ".


" Apa mama pikir aku tidak dirugikan dengan kejadian ini ?, Aku...aku dan putriku paling dirugikan. Kenapa mama malah menyalahkan aku, seharusnya mama instrospeksi diri, kenapa sampai semua ini terjadi ? ". Dinda berbicara lantang, sambil berkecak pinggang dengan wajah merah padam.


" Jika tadi mama mengatakan ingin memutar waktu kembali ke masa lalu, dan tidak ingin merestui aku menikah dengan Aryo. Aku pun ingin demikian, AKU SANGAT MENYESAL, menikah dengan putramu itu, aku sangat menyesal percaya dengan semua ucapannya. Dan aku paling menyesal memiliki ibu mertua yang tamak dan tidak tau diri sepertimu ". Pekik Dinda menunjuk wajah Hera dengan tatapan benci bercampur amarah, dia sudah tak memiliki rasa sopan santun lagi kepada Hera, seperti yang selama ini dia jaga. Dia meluapkan semua kekecewaannya juga pada Hera, Dinda sudah tak perduli lagi. Dia tidak ingin terus disalahkan oleh ibu mertuanya ini.


" Beraninya kau meneriaki aku HAH...!!!, apa kau lupa dengan siapa kau sedang bicara ?, turunkan nada bicaramu, menantu kurang ajar ". Sungut Hera tidak terima, Dinda tersenyum sinis.

__ADS_1


" Tentu saja aku tau, aku sedang bicara dengan siapa. Berbicara dengan manusia angkuh sepertimu harus lebih keras dengan nada tinggi, supaya telingamu bisa mendengar dan mencerna setiap kata-kata yang aku ucapkan ". Anya dan Nia sangat terkejut mendengar semua ucapan Dinda, Meraka tak pernah menyangka bila sang kakak ipar yang terkenal kalem dan penyabar, bisa mengatakan hal-hal seperti ini kepada ibu mereka, bahkan Dinda tidak lagi menyebut ibu mertuanya dengan sebutan mama.


" Kak Dinda, kenapa Kakak bicara seperti itu kepada mama..!! ". Bentak Anya, tak terima.


" Kenapa memangnya ?, apa kau tidak terima juga hah ?, sudah cukup selama ini aku sabar menghadapi sifat mama kalian yang tidak tau terima kasih ini, Masih syukur aku mau membawanya bersama denganku, jika tidak sudah bisa aku pastikan mama kalian akan menjadi gembel dijalanan ".


" Ohhh...jadi kau sudah berani bersuara sekarang hah ?, jadi seperti ini sifat aslimu ?, dasar wanita tidak tau diri, tidak tau balas Budi, apa kau lupa hah ????....kau bisa menikmati semua kemewahan dulu berkat siapa, dan sekarang kau malah berbicara keras padaku dan juga anak-anak ku. Apa kau sudah merasa hebat sekarang ?". Kemarahan Hera semakin menjadi, dia maju selangkah mendekati Dinda dan ingin menamparnya. Namun dengan cepat Dinda mencekal tangan sang mertua.


" Jangan coba-coba kau berani menamparku, aku bukanlah seperti menantimu yang malang itu, yang bisa kau hina dan permalukan sesuka hatimu. Sekali saja kau berani memukulku, maka aku akan membalas 2 kali lebih menyakitkan dari pukulanmu ". Ucap Dinda sambil menghempaskan tangan Hera ke udara.


" Kau....!!!".


" Ma...sudah ma, sudah....jangan ribut-ribut lagi, malu nanti ada yang mendengar. Dan kak Dinda juga, lebih baik kakak minta maaf sama mama sekarang ". Anya mencoba melerai perseteruan yang sedang terjadi, namun Hera masih terus berbicara asal, sedangkan Dinda terus menjawab setiap umpatan Hera, dengan posisi melipat tangannya kedepan dada, tak berniat berdamai dengan ibu mertuanya. Dia sudah terlanjur sakit hati.


" Ma...sudah lah, bila mama memang tidak bisa dekat dengan kakak ipar lagi, lebih baik kita pindah dari sini ya ma?, Nia benar-benar tidak sanggup tinggal ditempat seperti ini, jorok, bau, banyak hewan yang menggelikan ". Ujar putri bungsu Hera, yang sejak tadi hanya menjadi penonton antara ibu dan kakak iparnya.


" Kamu pikir mama mau tinggal ditempat seperti ini bersama DIA dan anak nya, Cuihh...najis. Cuma kita tidak punya pilihan, karena kakakmu belum kembali dari tahanan pria kejam it.......!!!".


BUG*


Suara benda padat terjatuh diluar sana, berhasil menarik sekaligus membungkam mulut ke empat wanita yang ada didalam kontrakan.


Bukannya keluar melihat apa yang terjadi, Nia dan Anya malah berlari dan melompat kedalam pelukan Hera, takut.


" It..it..itu suara apa ma ?".


" Jangan-jangan perampok ma, atau penjahat. Ma Nia takut...!!!". Rengek Nia semakin mengeratkan pelukannya, dia bersembunyi dibalik punggung Hera.


Sedangkan Dinda, tanpa rasa takut melangkah mendekati pintu, dia Ingin melihat benda apa yang menimbulkan suara yang cukup membuatnya penasaran. Hera dan kedua putrinya saling lirik ketika melihat Dinda telah membuka pintu.


" Biarkan saja, bila itu benar-benar penjahat, semoga dia yang dibunuh terlebih dahulu ". Ujar Hera.


Klek*


Pintu dibuka, Dinda keluar melihat kearah kanan. Alangkah terkejut ketika dia melihat seseorang tergeletak didepan kontrakan mereka dengan keadaan telungkup. Hera dan kedua putrinya hanya melihat Dinda dari balik jendela, tidak berani ikut keluar, mereka takut bila itu trik pencuri atau orang jahat.


Dinda berjalan perlahan mendekati orang itu, dia hanya ingin memastikan apakah orang ini masih hidup atau sudah mati. Dinda pun sudah bersiap-siap menghubungi polisi.


Dia memiringkan sedikit kepalanya, untuk melihat wajah pria yang tergeletak tak bergerak, mata Dinda membola besar, dia mengenali siapa pria yang tak berdaya ini.


" ARYO.....!!".


...****************...


Danira menggeliat diatas kasur empuk, dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Danira merasa kantung kemihnya penuh, dia sudah tak bisa menahannya lagi. Danira membuka matanya, seketika bola mata biru itu langsung terbelalak melihat waktu yang tertera didinding kamar, 08:15.


" Astaghfirullah....". Danira langsung duduk, menyibakkan selimut, lalu menurunkan kaki ingin segera ke kamar mandi. Namun Danira menghentikan tangannya yang sedang mengikat tali piyama, saat melihat Segelas susu dan Sepiring roti tawar yang telah dipotong-potong kecil, diolesi selai coklat diatas nakas. Dibawah kaki gelas ada selembar post it berwarna pink, Danira mengambil kemudian membacanya.

__ADS_1


...Selamat pagi cintaku....


...Maaf aku pergi kekantor tanpa berpamitan, karena ada pertemuan mendesak pagi ini, aku tidak tega membangunkan mu yang sedang tidur pulas. Aku sudah menyiapkan segelas susu dan roti untuk sarapan mu, aku yakin kau lapar dan sangat kelelahan....


...Terima kasih untuk semalam dan pagi ini....


...I LOVE YOU...


...Tertanda Suami tertampan mu...


Danira membaca surat cinta di pagi hari dari Gavino sambil senyum-senyum sendiri, membuat pipinya merona malu.


" love you too suami mesum ku". Cicit Danira, kemudian dia menyimpan post it itu kedalam laci. Danira membersihkan tempat tidur, mengganti dengan seprei baru. Setelah semuanya rapi, Danira bergegas ingin masuk ke kamar mandi, tapi sebelum itu dia ingin mengabari Sarah terlebih dahulu, bila dia akan datang kekantor setelah makan siang.


Ketika dia membuka ponselnya, ternyata dilayar sudah tertera pesan dari Sarah.


Sarah : Assalamualaikum nona, saya sudah dibawah.


Pesan dari Sarah masuk pukul 07.00 pagi, Danira bergegas keluar dari kamarnya sedikit berlari menuruni anak tangga, mata Danira langsung menangkap sosok wanita muda yang sedang duduk di sofa ruang tamu, jemarinya sibuk bergerak kesana kemari diatas keyboard laptop.


Mendengar suara langkah mendekat, Sarah berbalik melihat kearah belakang.


" Sarah maaf membuatmu menunggu terlalu lama, aku baru saja membaca pesanmu ". Danira merasa tak enak hati membuat sarah menunggu terlalu lama, karena dia telat bangun. Sarah hanya diam, berdiri tanpa berkedip. Dia selalu terpesona melihat nona nya yang sangat cantik, apa lagi kali ini dia melihat Danira masih menggenakan piyama tidur rambut terurai panjang sedikit berantakan, wajah batal masih sangat melekat. Sarah yang wanita normal saja selalu jatuh hati pada Danira, apa lagi para pria yang ada diluar sana. pikir Sarah.


" Sarah...?". Danira melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Sarah yang tercengang.


" Ah..iya Nona...!! tidak apa-apa. Tadi tuan Gavino telah memberitahu saya bila anda masih tidur, dan beliau mengingatkan saya agar tidak membangunkan anda ". Jelas Sarah, sebelum Gavino berangkat mereka berpapasan dan Gavino meminta sara agar menunggu hingga Danira bangun.


" Hahh...mas Gavin kebiasaan...!!, apa kamu sudah menjadwalkan ulang meeting yang telah aku lewatkan pagi ini ?".


" Sudah nona, mereka setuju meeting nya di mundur setelah makan siang ".


" Baiklah, kalau begitu aku siap-siap sebentar ". Sarah hanya menjawab dengan anggukan kepala, kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Mobil yang membawa mereka telah sampai didepan pintu lobby Radenayu Group, Scurity segera mendekat lalu membukakan pintu untuk Danira. Danira melangkah masuk diikuti oleh Sarah, saat mereka melewati meja resepsionis, seorang wanita mendekati Danira dan memberi salam.


" Assalamualaikum Nona ". Ucap wanita bercadar didepannya, sedikit menundukkan kepala.


" Waallaikumsalam".


" Maaf saya ingin memberi tahu bila Tuan Gultom Sandez telah menunggu anda diruang tunggu ".


......................


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2