
Gavino memasangkan kembali niqab Danira, setelah itu Gavino mengelus pipi Danira lembut mengunakan ibu jarinya, sambil tersenyum. Didalam benaknya mulai menyusun rencana-rencana gila. Gavino menyadari sesuatu yang kurang...
" Dimana kain yang biasa menutup matamu, mengapa hari ini kau tak menggunakannya ?". Danira menunduk, dia pikir Gavino tak akan menyadari tentang ini. pikir Danira.
" Eemmm...ada mas ".
" Iya, mana ?, mengapa kau tak memakainya ?". Tanya Gavino lagi.
" Sebenarnya dari awal aku hanya menggunakan cadar saja mas. Aku menggunakan Burqa karena takut ada yang mengenali dari mataku ". Jujur Danira, Gavino mengambil tas Danira lalu mencari Burqa itu. Setelah didapat Gavino pun memasangnya.
" Mulai detik ini, kau tidak boleh keluar tanpa menggunakan ini. Karena aku tidak akan pernah rela bila pria lain melihat matamu, semua ini hanya milikku, hanya aku yang boleh melihat dan menikmatinya ". Ucap Gavino, Danira menunduk malu mendengar ucapan Gavino. Wajahnya kembali bersemu merah, apa sekarang suami arogannya telah menambah gelar menjadi suami posesif. pikir Danira.
"SEAN....SARAH...!!". Teriak Gavino kencang, membuat Danira tersentak. Sarah dan Sean yang sudah merasa kebas berdiri hampir 5 jam didepan terkejut mendengar teriakan Gavino yang memanggil nama mereka. Mereka berdua saling lirik lalu masuk kedalam.
Sean yang masuk lebih dulu, membesarkan matanya melihat kondisi ruangan Gavino seperti habis terkena angin topan. Bahkan lebih parah. Sedangkan Sarah, dia yang sudah tau situasi didalam hanya memasang wajah dingin dan datar.
" Anda memanggil saya tuan ?". Tanya Sarah, lalu melirik Danira yang duduk dirangkul oleh Gavino.
" Ya...memangnya yang nama Sarah siapa lagi selain dirimu ?". Ketus Gavino, dia masih kesal pada Sarah dengan beraninya menodongkan pistol kekepalanya tadi. Sarah hanya diam, matanya tetap memperhatikan Danira, memastikan bila nonanya tidak apa-apa, dia sangat cemas apa lagi melihat Danira sesekali masi sesegukan sisa tangis. Danira yang paham, langsung berdiri menghampiri Sarah. memeluknya.
" Aku tidak apa-apa, tenang lah bukankah kau sudah mengenal bagaimana aku ?". Ucap Danira, Sarah akhirnya bisa bernafas lega, setelah mendengar gurauan sang nona.
" Hekhem... sayang, kembali kesini. Mengapa kau malah memeluknya. Apa kau lupa bila dia dengan beraninya menodong suamimu dengan pistol ?". Suangut Gavino kesal bercampur cemburu. Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Dia hanya melindungiku mas ".
"Apa mas juga lupa, bila mas meminta banyak sniper untuk membunuhku ?". Balas Danira yang kini telah duduk kembali disamping Gavino. Gavino terdiam, menggaruk-garuk alisnya sambil menyengir kuda.
" Itu diluar dugaan sayang, kalau saja aku tau kau yang akan datang, mungkin kau akan disambut dengan hujan bunga mawar ".
" Cckk alasan ".
" Aku serius, apa kau ingin aku membuktikannya sekarang hhmm...?". Ujar Gavino bernada manja, mendusel-dusel kepalanya dibahu Danira.
Sean dan Sarah membuang pandangan kesembarang arah, merasa geli melihat kelakuan Gavino seperti bayi kucing yang tidak cocok dengan imagnya selama ini. Bila orang-orang melihat tingkah lakunya sekarang, orang tidak akan percaya bila beberapa jam yang lalu, pasangan ini berbicara dengan gencatan senjata.
Apa aku dipanggil hanya untuk menyaksikan adegan kemesraan mereka ?. Batin Sarah berang.
" Mas malu ihh...disini masih ada Sean dan Sarah ". Ujar Danira, risih ketika Gavino bertingkah manja disaksikan orang lain.
" Biar kan saja, aku tidak perduli ". Jawab Gavino santai, masih terus mencium-cium pipi bahkan bahu istrinya, Gavino benar-benar menyukai wangi tubuh Danira.
Sial...apa tuan sengaja membiarkan kami menjadi obat nyamuk disini. Batin Sean kesal.
HEKHEM...
Sean berdehem keras, membuat Gavino memberikan lirikan mematikan karena kesal dinganggu kesenangannya.
" Mengapa kau seperti itu ?, apa tenggorokanmu tersumbat beton ?". Sean hanya diam, melihat bosnya datar.
HHHAAHH**
" Kalian menganggu saja..!!!.". Sungut Gavino.
Anda yang memanggil kami tuan. geram Sean dalam hati. Rasanya dia ingin sekali membungkam mulut Gavino yang sering kali menguji kesabarannya. Sedangkan Sarah hanya cuek, malas menanggapi suami bosnya yang rada menyebalkan.
"Baiklah kita mulai dari sini, Sean ambilkan surat perjanjian kerjasama kita dengan RA Group, kau juga Sarah ambilkan surat yang kalian bawa tadi". Titah Gavino, Danira menautkan alisnya bingung.
" Untuk apa mas ?".
" Lihat saja nanti ". Ucap Gavino mengedipkan sebelah matanya pada Danira. Tak berapa lama Sean dan Sarah pun kembali masuk kedalam ruangan bak kapal pecah itu.
" Ini Tuan...". Sean
" Ini Tuan " Sarah.
" Panggilkan Sonya ". Ujar Gavino, setelah menerima dokumen dari kedua nya. Sean mengeluarkan ponselnya menghubungi Sonya. Tak lama sonyapun masuk, dia tak kalah syoknya melihat ruangan Gavino yang biasa bersih dan rapi. Perasaan Sonya mulai tak enak, bila melihat situasi seperti ini.
" Permisi tuan, anda memanggil saya ?". Tanya Sonya menunduk.
" Hhhheemmm...!! Bereskan semua kekacauan ini ". Ucap Gavino enteng, Sonya memelototkan matanya, dengan mulut terbuka.
__ADS_1
" Sa...sa.saya tuan ?". menunjuk dirinya sendiri.
" Ya...siapa lagi ?, memangnya ada orang lain yang bernama SONYA disini ?". Tekan Gavino, menyilangkan kakinya melihat Sonya tanjam.
" Tapikan saya...!!".
"Kau menolak, Potong 30% gaji bulan ini ".
" Mas kamu apa-apaan sih, ini bukan pekerjaan Sonya, kenapa kamu mengancamnya seperti itu ?".
" Ruangan ini tanggung jawabnya, dia sudah tau peraturan mengenai ruanganku sayang, karena aku tak mempercayai siapapun dan tak boleh sembarang orang masuk kesini. IYA KAN SONYA ?". tanya Gavino menekan bait nama Sonya, membuat Sonya mengangguk pelan.
AAHHKK...mengapa selalu aku, mengapa juga aku harus memiliki bos yang sangat menyebalkan seperti tuan Gavino, bolehkah aku bekerja dengan istrinya saja. sepertinya lebih manusiawi bekerja dengan Nyonya Danira. Batin Sonya Geram, namun tetap memaksakan senyum.
" Tetap saja mas, setidaknya minta beberapa Office Boy atau Office Girl membantu Sonya, dia tak akan selesai membereskan semuanya sendiri ".
Nyonya anda baik sekali, sepertinya aku harus menyiapkan surat pengunduran diri lalu melamar ke perusahaan Radenayu Group. Batin Sonya senang.
" Hhhaahh*....! Bonus 50% tapi kau harus membersikan semuanya sendiri ". Ucap Gavino, Sonya membelalakan matanya, otaknya mulai menghitung banyaknya gaji yang akan dia terima bulan ini. Wajahnya langsung sumringah.
" Baik tuan...!! Nyonya saya tidak membutuhkan bantuan, saya bisa menyelesaikan semuanya sendiri ". Senyum Sonya girang, membayangkan akan menerima bonus yang banyak.
Eemmm...semangat Sonya, demi skincare. Ucap Sonya menyemangati dirinya dalam hati.
" Lihat bukan, dia sangat mata duitan ". Ucap Gavino, Danira hanya diam ikut tersenyum melihat semangat Sonya yang sedang membersihkan semua puing kramik.
BRETT
BRETT
Gavino merobek surat perjanjian kerjasama nya dan perusahaan Danira menjadi beberapa bagian. Danira membelalakkan matanya, begitupun Sarah dan Sean.
" Mas kenapa di robek ?".
" Kita sudah tidak membutuhkan ini sayang ". Jawab Gavino, membuang kertas-kertas itu kedalam tong sampah.
" Maksudnya...?". Danira belum mengerti.
" Mas, terima kasih banyak. Seharusnya mas tidak perlu memberikan saham itu, bukankah kita sudah sepakat membaginya ".
" Tidak, dulu aku memaksa karena aku tidak tau bila kau pemiliknya, sekarang sudah berbeda, apa yang menjadi milikku, itu juga milikmu. Semua yang aku punya itu milikmu ". Ujar Gavino, mengecup punggung tangan Danira.
" Terima kasih mas ".
" Hanya itu....?".
" Lalu apa lagi ?".
" Tidakkah kau ingin memberikan pelukan untuk suamimu yang paling dermawan dan baik hati ini sayang ?". Danira hanya tersenyum mendengar suaminya kembali dalam mode sombong, Danira mendekat lalu memeluk Gavino.
Krik*
Krik*
Krik*
Lagi-lagi Sarah dan Sean kembali menjadi kambing congek, menyaksikan kemesraan pasangan yang tidak tau diri. Bagaimana tidak, mereka sejak tadi selalu mempamerkan kemesraan didepan duo jomblo akut, yang tak tertarik mencari pasangan. Hingga membuat Sarah dan Sean salah tingkah sendiri, membuang pandangan kearah lain.
" Kau harus memberikan aku tanda terima kasih lebih dari ini ".
" Apa ?". Tanya Danira bingung.
" Malam panas, penuh gairah ". Bisik Gavino. Danira membolakan matanya, lalu mencubit perut Gavino.
" Aaww...!!! mengapa kau mencubitku ?".
" Mas tidak lihat disini masih banyak orang, malah membahas hal seperti itu. kan malu ". Kesal Danira, terkadang suaminya ini tidak melihat situasi dan tempat saat membahas hal-hal yang berbau aktifitas ranjang.
" Mereka tidak mendengarnya sayang, apa lagi Sean, dia tidak mengerti tentang kegiatan pasangan suami istri dimalam hari. Dia masih polos, usia saja yang sudah tua ". Ucap Gavino melirik Sean yang semakin masam melihat Gavino.
" Iya kan Sean ?". Sean hanya melirik sekilas, lalu mengangguk malas. Cari aman.
__ADS_1
Tring *
Tring*
Suara ponsel mencuri perhatian keempatnya, Sarah mengambil ponselnya yang terasa bergetar, dia melihat tertera nama ' Sam ' dilayar, Sarah mengangkatnya....
" Ya..!!".
"......,".
Entah apa yang dikatakan Sam disebrang sana, namun dapat disimpulkan bahwa kabar yang Sam berikan mengejutkan Sarah.
" Aku akan menyampaikannya pada nona ". Ujar Sarah, lalu melihat kearah Danira. Dia mematikan, dan menyimpan ponselnya lagi.
" Ada apa Sarah ?". Tanya Danira, merasa ada sesuatu terlihat dari raut Sarah.
" Nona....Tuan Aryo datang keperusahaan, dan membuat kegaduhan. Dia membawa banyak orang kesana, dan berteriak-teriak ingin bertemu dengan anda ".
" Sepertinya dia tidak mendengarkan peringatanku tempo hari ". Ujar Sarah Geram.
Danira hanya diam tak memberi respon apapun, hanya mendengar nama Aryo saja, hatinya kembali panas. Gavino melirik Sean, memejamkan matanya sekilas, memberi kode pada Sean. Sean yang paham pun langsung mengangguk.
Sean keluar dari ruangan, menghubungi seseorang.
" Bayu....bawa anak buahmu kegedung Radenayu Group sekarang. Tahan orang yang bernama Aryo ". Ucap Sean. Saat Sean akan masuk kembali kedalam ruangan, seseorang berlari menghampirinya.
" Ada apa ?".
" Tuan....di..di diluar banyak Wartawan dan awak media, mencari Nyonya Danira ". Ucapnya terbata-bata, ngos-ngosan akibat berlari. Tanpa mengatakan apapun, Sean langsung masuk kedalam ruangan Gavino lagi.
" Tuan..., diluar banyak awak media mencari Ny. Danira ". Ujar Sean memberitahu informasi yang baru dia terima, Gavino langsung berdiri berjalan kearah jendela kaca. Dan benar saja, dibawah sana sudah dipenuhi oleh para wartawan yang hampir mengepung seluruh gedung Garayudha Company.
Sarah mengambi tab nya, melihat situasi yang ada di gedung Radenayu Group dari Cctv yang terhubung dengan Tabnya. Terlihat disana juga tegah ramai, namun yang mencuri perhatian adalah Aryo berdiri didepan para awak media, entah apa yang dia katakan disana. Sarah melihat diruangan Gavino terdapat TV, dia mencari sesuatu.
" Apa yang anda cari ?". Tanya Sean, yang sedari tadi memperhatikan Sarah.
" Aku butuh Remote TV itu ". Jawab Sarah, menunjuk kearah TV yang ada ditembok. Sean berjalan mendekati laci, lalu mengambil remote TV, dan menyerahkannya pada Sarah.
" Ini..."
" Terima kasih ". Ucap Sarah, lalu menyalahkan TV. Gavino bertanya dengan bahasa isyarat pada Sean, Sean hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya, tanda tidak tau. Sarah mulai mencari siaran berita yang tegah tayang secara live. Dia menemukannya.
" Nona, lihatlah ini ". Keempatnya pun mengalihkan pandangan melihat siaran live yang sedang berlangsung. Namun yang paling menarik adalah wajah Aryo yang memenuhi layar televisi.
...Pemirsa, hari ini tanpa diduga kita bisa bertemu dengan pengusaha Aryo Narendra, mari kita tanyakan tanggapan beliau mengenai berita yang sedang menjadi trending topik satu hari ini....
Reporter : Tuan Aryo Kami turut bersedih dengan apa yang tegah menimpah anda. Semoga perseteruan anda dengan pimpinan Radenayu Group cepat terselesaikan. Apakah kami boleh meminta tanggapan anda mengenai kehebohan yang terjadi hari ini ?
^^^Aryo : Saya juga sangat terkejut melihat berita ini, namun sangat disayangkan mengapa dia harus menjadi pewaris tahta kerajaan yang sangat berkuasa itu.^^^
Reporter : Mengapa anda bisa mengatakan hal itu ?, apa anda mengenal baik beliau ?
^^^Aryo : Sangat, karena dia adik ipar saya, seharusnya Alm. Istri saya yang menjadi penerusnya, namun karena keserakahan wanita ini, istri saya sampai meninggal, dia juga mengambil anak saya, melarang saya bertemu dengan anak saya dan seluruh harta peninggalan istri saya. Dia wanita yang tak punya hati, dan belas kasih. Dia wanita yang tamak, menurut saya dia tidak cocok menjadi seorang penerus kerajaan.^^^
Aryo terus memprofokasi orang-orang melalui media, ini adalah cara terakhirnya untuk menjatuhkan Danira. Bila masyarakat termakan dengan ucapannya, maka akan lebih mudah baginya menyingkirkan Danira, lalu mengambil kembali semua yang menjadi miliknya. pikir Aryo.
Sarah melihat kearah Danira, yang masih duduk dengan tenang.
" Nona....Apa kita harus menutup semua laman berita ini ?". Tanya Sarah, Sean dan Gavino ikut melihat Danira yang tampak santai, seperti tidak terpengaruh oleh ucapan Aryo.
" Tidak perlu, kakak ipar ku sudah bekerja keras menarik awak media kepadanya, biarkan dia menjadi terkenal dalam beberapa waktu ". Ujar Danira santai, membuat Sean melirik Gavino yang tetap diam. Danira sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, karena Aryo akan menggunakan cara apapun untuk menjatuhkannya, apalagi dengan semua informasi dirinya telah dipublikkan, pasti Aryo akan memanfaatkan semua itu demi mencapai tujuannya.
" Semoga Allah mengampuni mas Aryo, atas finahan yang dia ciptakan ". Ucap Danira pelan.
Meski Danira berkata dengan nada lembut dan santai, namun bagi orang-orang yang sudah lama didunia bisnis dan permafiaan akan mengerti makna dibalik kata yang diucapkan.
Bila Danira bisa bersikap santai dan tenang, tidak sama halnya dengan Gavino. Sejak tadi hatinya sudah panas, darahnya sudah mendidih, geram dan emosi melihat istrinya difitnah begitu keji. Namun Gavino masih mencoba menahan, karena ada Danira didekatnya.
ARYO NARENDARA....nikmatilah udara selagi kau bisa. Batin Gavino, tersenyum iblis.
......................
__ADS_1
...Bersambung.......