CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
97. Aaaaa...Kecoak


__ADS_3

Beberapa anggota keluarga telah berkumpul di ruang tempat acara akan berlangsung, karena malam ini acara pengajian rutin akan dilaksanakan. Seharusnya, acara diadakan kemarin malam, tapi karena Gavino masih dirawat, jadi Oma laras mengambil keputusan bila acara tersebut diundur sampai Gavino keluar dari rumah sakit.


Gavino dan Danira masih berada dikamar mereka, untuk bersiap-siap. Gavino duduk diatas sofa, sambil memainkan benda persegi ditangannya dengan santai, seketika pandangannya beralih saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia melihat Danira keluar telah mengenakan pakaian panjang berwarna hitam, lengkap dengan penutup diwajahnya.


" Apa kau sudah selesai ?". Tanya Gavino. Danira menjawab dengan anggukan kepala. Gavino meletakkan ponselnya diatas nakas yang ada disisi kiri sofa, lalu berdiri melewati Danira dan masuk kedalam kamar mandi.


Danira akan melangkah mendekati koper mereka yang ada disudut ruangan, dia ingin menyiapkan pakaian untuk suaminya, namun langkahnya terhenti ketika mendengar getaran ponsel Gavino yang berada di atas nakas. Danira ingin mengacuhkannya, namun rasa penasaran mendorongnya berjalan mendekati ponsel Gavino. Di layar ponsel, Danira melihat nama Stevani tengah memanggil. Buru-buru Danira mengalihkan pandangannya, meninggalkan ponsel Gavino yang terus berdering.


Danira berusaha menenangkan gemuruh dalam hatinya, yang muncul secara tiba-tiba ketika melihat nama wanita lain di ponsel suaminya. Meski Danira menyadari, bila hubungannya dengan Gavino masih dibatasi dengan adanya wanita lain, namun tetap saja rasanya menyakitkan.


" Astaghfirullah...ya Allah. Mengapa rasanya tidak nyaman sekali, meski aku menyadari, akulah orang yang masuk kedalam hubungan mereka, tapi entah mengapa, hatiku tetap tidak terima ya Rab ".


" Ya Allah, haruskah aku mengakhiri semua ini sepulang dari sini ?, haruskah aku meminta padanya lagi, untuk berpisah ?. Bantu aku Ya Allah, agar bisa mengambil keputusan dalam keadaan tenang ". Gumam Danira, matanya telah berkaca-kaca, hatinya merasa sakit tika membayangkan sejauh mana hubungan Gavino dengan Stevani. Danira yang masih berfikir, bila Gavino masih menjalin hubungan dengan Stevani, terus berusaha menahan rasa cemburu, agar tak nampak. Dia memengang dadanya yang terasa sesak.


Saat Danira masih berperang dengan batinnya. Tiba-tiba dari dalam kamar mandi, Dia mendengar suara teriakan gavino yang mengelegar. Membuat kesedihan Danira, berubah menjadi terkejut dan cemas.


" Aaahhhhhhkkkkkkk...Aaahhhhkkkk...!!".


Mendengar teriakan suaminya, Danira segera berlari kearah kamar mandi, lalu mengetuk pintu berulang kali.


TOK...


TOK...


TOK ...


"Mas..?"


TOK..


TOK..


TOK...


" Mas Gavin, ada apa ?, mas... kamu tidak apa-apa kan didalam ". Teriak Danira, yang ikut panik mendengar teriakan Gavino yang tak berkesudahan.


" Mas....!! Buka Pint....".


BRAK**


Pintu kamar mandi terbuka lebar, membentur tembok hingga menimbulkan suara yang keras. Gavino berlari keluar dengan cepat. Dia melihat Danira yang berdiri tepat didepan pintu, tanpa pikir lagi Gavino langsung memeluk Danira, seperti seorang bayi pada ibunya, Dia ketakutan.


" To...to..tolong...tolong singkirkan hewan itu ". Ucap Gavino, sambil memeluk Danira erat, membenamkan wajahnya di tengkuk Danira, dengan gemetar.


" Ada apa ? hewan apa ? dimana ?". Tanya Danira, yang ikut panik.


" Itu...disitu ". Tunjuk Gavino, mengarahkan telunjuknya kedalam kamar mandi, tanpa mengalihkan kepalanya dari dalam pelukan Danira. Danira mengikuti arah yang ditunjuk Gavino, namun dia tak melihat apapun.

__ADS_1


" Mana ?...tidak ada apapun mas ".


" Ada...tadi dia terbang-terbang. Sangat mengerikan ". Jawab Gavino.


" Mana, coba mas tunjukkan dimana tempatnya ?".


" Disana...kau saja yang masuk. Aku akan tetap disini ". Ujar Gavino, namun dia tak melepaskan pelukannya. Dia tetap melingkarkan tangannya di leher Danira sangat erat, hingga membuat Danira kesulitan untuk bergerak.


" Haahh...!!! bagaimana caraku masuk kedalam, bila mas memelukku seperti ini, dan lihatlah pakaianku jadi basah semua karena ulah mas". Rengek Danira, kesal.


" Aku tidak perduli, nanti kau bisa ganti pakaian lagi. Sekarang cepat singkirkan hewan mengerikan itu ". Ucap Gavino, menggeser tubuhnya, beralih kebelakang punggung Danira. Danira masuk kedalam kamar mandi, mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut ruangan, mencari hewan yang dimaksud suaminya. Matanya menangkap seekor kecoak kecil, Yang menempel di tembok. Danira mengambil pakaian Gavino yang ada di keranjang pakaian kotor, lalu....


PLAKKK...


Seketika kecoak itu jatuh, dan mati. Danira segera mengambil kecoak itu, lalu memasukkannya kedalam tong sampah. Gavino yang mengintip dari balik pintu, menatap Danira kagum.


" Wwaahh..kau hebat sekali, bisa membunuh hewan mengerikan itu ". Ucap Gavino, yang hanya menampakkan kepalanya dari balik pintu.


" Ini hanya kecoak mas, kenapa kamu harus takut ". Ujar Danira, lalu membalikkan tubuhnya ingin keluar.


" Ya tetap saja, bila dia sudah terbang, dia berubah menjadi hewan yang mengerikan ". Ujar Gavino, menegakkan tubuhnya berdiri ditegah pintu sambil berkecak pinggang.


" Akkhh... !!! Astaghfirullah". Teriak Danira, membalikkan lagi tubuhnya, membelakangi Gavino, kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangan. Gavino yang terkejut mendengar teriakan danira, seketika melompat memeluk Danira kembali dari belakang. Dia pikir Danira melihat kecoak lagi.


" Ada apa....?Ada apa hah?, mengapa kau berteriak ?, apa ada kecoak lagi ?". Tanya Gavino, memeluk Danira kencang, kepalanya celingukan melihat kiri, kanan dan belakang.


" Bu..bukan kecoak, tapi..tapi itu mas keliatan ". Ucap Danira terbata-bata, Danira sangat malu.


" Itu.....kenapa mas keluar hanya menggunakan ****** ***** saja ". Ujar Danira. Gavino mengerutkan dahinya, perlahan melepaskan tangannya dari tubuh danira, kemudian dia menyerong melihat dirinya di pantulan kaca. Seketika mata Gavino membola besar, melihat kondisinya yang memalukan. Rambutnya masih penuh dengan busa shampoo, badannya masih licin karena sabun dan yang lebih parah lagi, dia keluar tadi dalam keadaan setengah telanjang. Hanya menggunakan ****** *****.


" Hekhemm...!! Bukankah ini hal biasa, jika orang mandi hanya menggunakan pakaian dalam ". Ucap Gavino datar, berusaha menutupi kegugupan dan rasa malunya


" Lebih baik kau keluar sekarang, karena aku harus menyelesaikan ritual mandiku, yang ternganggu akibat tamu tak diundang tadi ". Ucap Gavino, Danira berjalan mundur, meraba-raba mencari pintu keluar, tanpa membuka matanya yang terpejam. Dia tak ingin melihat, yang seharusnya telah sah baginya.


" Tunggu...!!". Ujar Gavino, menghentikan langkah Danira yang telah sampai diambang pintu, jantung Danira berdetak. Takut Gavino kembali memeluknya dalam keadaan seperti itu.


" Buang sekalian baju yang kau gunakan untuk membunuh hewan tadi ". Ujarnya, Danira menghela nafas lega, tanpa banyak bertanya, Danira dengan cepat mengambil baju itu, lalu berlari keluar dari dalam kamar mandi, dan menutupnya.


" Ya Allah, apa aku telah melakukan zina mata ?". Gumam Danira, mengerjap-ejapkan matanya, yang masih terbayang lekuk, bentuk milik Gavino. Danira memegang pipinya yang terasa panas.


Dibalik pintu, Gavino merutuki kecerobohannya sendiri. Meski dia berusaha agar terlihat normal-normal saja dihadapan Danira. Namun nyatanya, Gavino mengumpat dirinya sendiri didepan cermin.


" Aahhh...kau benar-benar bodoh, tolol Gavino. Bagaimana bisa kau mempermalukan dirimu sendiri seperti ini, dimana kau harus meletakkan wajah tampan rupawan mu itu lagi hah?, kau menjatuhkan harga dirimu sendiri Gavino, kau benar-benar...akhhh ". Umpatnya kesal, menunjuk-nunjuk dirinya didalam cermin. Gavino benar-benar malu, bahkan dia sampai engan untuk keluar dari dalam kamar mandi. Dia sangat malu untuk bertemu Danira, rasanya dia sudah tak memiliki muka.


Gavino telah selesai dan keluar, dia melihat Danira yang masih duduk didepan meja rias. Sambil membaca buku. Gavino mencoba menetralkan kembali wajahnya, dia berjalan perlahan mendekati pakaian yang telah Danira siapkan diatas tempat tidur. Gavino mulai memasangkan satu persatu pakaiannya, saat ingin memakai baju, luka akibat tembakan waktu itu kembali terasa nyeri, mungkin akibat Gavino yang tadi menggerakkan tangannya terlalu kencang, hingga membuat luka itu mengeluarkan darah lagi.


" Iiikksss....!!". Desis Gavino, saat ingin memasukkan baju kebagian tangannya. Mendengar itu, Danira mengangkat pandanganya melihat Gavino yang tegah kesusahan. Danira meletakkan buku ke atas meja, lalu berjalan menghampiri gavino.

__ADS_1


" Apa aku boleh bantu mas mengenakan pakaiannya ?". Tanya Danira pelan, Gavino menghentikan tangannya lalu melihat Danira yang telah berdiri dihadapannya. Gavino tak menjawab, dia hanya diam. Perlahan Danira maju mendekati Gavino, kemudian matanya melihat lengan suaminya kembali berdarah, dengan cepat Danira berlari mencari tas ransel, yang berisi obat-obatan Gavino. Danira yang telah menemukan tempat obatnya, perlahan mulai membersihkan darah dari lengan Gavino.


Dengan telaten Danira memberikan salep di sekeliling luka itu, dengan penuh hati-hati lalu dia menutupnya dengan kain kasa, berharap lukanya tak berdarah lagi. Gavino terus saja mengamati Danira yang mulai mengancingkan satu persatu kancing bajunya yang berwarna senada dengan gamis Danira.


" Maaf...". Kata yang tak lazim keluar dari mulut Gavino, berhasil menarik pandangan Danira, mendongak.


" Untuk apa ?". Tanya Danira bingung.


" Untuk perlakuan keluarga ibuku padamu tadi ". Ujar Gavino. Yang mengamati bagaimana interaksi antara Danira dan para tante-tante nya.


" Memangnya mereka kenapa ?, perasaan mereka tidak mengatakan apapun, mengapa mas meminta maaf ?". Tanya Danira kembali fokus melihat kancing baju, dengan tangan yang terus bergerak.


" Kau yakin tidak tau ?, atau hanya pura-pura?". Selidik Gavino. Danira diam tak menjawab pertanyaan suaminya. Dia fikir Gavino tak akan peka dengan perlakuan keluarga mami Calina, yang memandangnya rendah saat mereka sampai tadi. Bahkan sebagian besar dari mereka pergi begitu saja, ketika Danira ingin menyalami para saudara ibu mertuanya itu.


Namun perlakuan mereka berubah, ketika melihat sang keponakan yang datang. Mereka langsung menyambut Gavino dengan hangat, dan banyak melontarkan kata pujian. Meski Gavino menanggapi para saudara maminya dingin, tapi itu tak membuat mereka berkecil hati, bahkan mereka semakin mendekat dan memeluk Gavino.


" Sungguh aku tidak tau, apa yang mas Gavino maksud ". ucap Danira pelan.


" Ceekk...berhentilah berbohong, kau fikir aku buta, tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan padamu ". Ucap Gavino kesal, karena Danira masih terus menutup-nutupi. Danira kembali diam, tidak ingin membuat Gavino semakin kesal. Tak mendengar jawaban dari istrinya, Gavino memegang tangan Danira, hingga membuat tangan itu berhenti.


" Aku tidak tau, mengapa mereka terlihat sangat membencimu. Hingga mengacuhkanmu begitu. Tapi aku harap kau tak terlalu mengambil hati tentang hal ini, tetap berada didekatku. Agar aku bisa melindungimu, dari orang-orang yang tak menyukaimu. Mengerti Hhmm ?". Ujar Gavino, menunduk melihat Danira.


" Berarti aku juga tidak boleh terlalu dekat dengan mas Gavino".


" Kenapa ?". Tanya Gavino, menautkan alisnya bingung.


" Karena mas Gavin juga tidak menyukai aku, berarti dikeluarga ini, yang bisa melindungi aku hanya mami, Tante Santi dan Oma Laras ". Sindir Danira tersenyum mengejek, lalu berbalik meninggalkan Gavino yang terperangah dengan jawaban Danira.


***


Didalam kamar lain.


" Pah kamu harus bisa menyakinkan Gavino, agar mau menyuntikkan dananya keperusahaan kita ". Ujar seorang wanita pada suaminya, yang sedang berdiri didepan cermin.


" Iya...nanti akan aku coba lagi ". Ujar pria itu santai, sambil merapikan penampilannya.


" Cceekk....!!! Jangan cuma di coba, tapi kamu harus bisa membujuknya. Ingat loh pah, perusahaan kita sudah diujung tanduk. Hanya Gavino yang bisa menolong kita saat ini ".


" Bila perlu kita nikahkan saja ayu padanya, sebagai tanda kesepakatan. Anggap saja ini pernikahan bisnis ". Ujar Tante Sinta, yang tak lain adalah ibu kandung ayu. Om Anton melirik istrinya tajam.


" Kamu jangan aneh-aneh mah, masa anak sendiri mau kamu gadaikan hanya demi bisnis. Apalagi Gavino telah menikah, tidak mungkin dia mau dan tentu saja istrinya akan menolak ". Ucap Om Anton, yang tak habis fikir, bagaimana istrinya bisa mengusulkan ide seperti itu.


" Kitakan belum mencobanya pah, lagi pula anakku ayu sangat cantik dan menarik, berpendidikan tinggi, lembut, penuh sopan santun. Jauh sekali dengan istri Gavino saat ini. Bila kita utarakan kesepakatan ini, aku yakin Gavino setujuh ". Lagi-lagi Tante Sinta mengutarakan ide gilanya, Om Anton hanya menghela nafas pelan, lalu memutar tubuhnya menghadap sang istri yang duduk diatas tempat tidur.


" Sudahlah mah, aku sedang tidak ingin membahas rencana gila mu ini. Ingat, malam ini adalah acara pengajian untuk almarhum papa ku. Jadi jangan kamu rusak, dengan kegilaan-kegilaan yang sering kau lakukan itu ". Ujar om anton secara tegas, Tante Sinta hanya menatap suaminya kesal. Dia sangat geram, karena suaminya selalu saja menolak semua pendapat-pendapatnya.


Lihat saja, akan aku pastikan anakku mendapatkan apa yang dia mau. Akan aku wujudkan keinginan putriku, untuk memiliki pria yang dia inginkan. Batin Tante Sinta, menerbitkan senyum licik.

__ADS_1


......................


...Bersambung........


__ADS_2