
Sambaran kilat petir menampakkan garis warnanya di awan yang mendung. Sepersekian detik guyuran air hujan mulai menjatuhkan pasukannya untuk membasahi bumi. Jalanan beraspal yang kering dan barisan tanaman ditengah jalan seakan menyambut senang penuh syukur atas turunnya hujan sebagai Rahmat Tuhan, yang melenyapkan rasa panas dan kekeringan.
Wajah Gavino kian mengkerut tika melihat guyuran hujan telah lebih dulu menghadang langkahnya untuk membawa Danira pergi dari tempat itu. Niat hati ingin segera menyembunyikan istrinya dari pandangan para pria, apa daya hujan lebih dulu datang dari perkiraan Gavino.
" Yah...hujan mas ". Cicit Danira, bingung bagaimana caranya kembali ke kantornya yang berada di sebrang jalan. Mereka berdua hanya bisa melihat bangunan pencakar langit Radenayu group dari depan pintu keluar food court tempat mereka saat ini berdiri.
" Aku juga melihatnya ". Ucap Gavino singkat. Mendengar jawaban ketus Gavino membuat Danira memanyunkan bibirnya.
" Apa kita kembali kedalam saja mas, sambil menunggu hujannya red....".
" Tidak...!!". Potong Gavino cepat, dia tidak akan pernah sudi bila Gultom Sandez kembali mencuri pandang lagi pada istrinya. Dan apa yang dikhawatirkan Gavino benar adanya, dari tempat duduknya disudut ruangan, Gultom Sandez beserta kedua karyawan nya masih setia memandangi punggung pasangan suami istri itu.
" Lalu...apa kita akan tetap berdiri disini saja mas ?". Tanya Danira lagi, Dia tak habis pikir dengan sikap cemburu akut suaminya ini, bahkan dalam keadaan berdiri sekarang pun, Gavino memeluknya erat dari belakang, tak memberi jarak. Danira dapat mendengar bisik-bisik orang-orang yang ada disana tegah membicarakan mereka, tapi Gavino tak menghiraukannya. Dia terus memeluk Danira seakan melindungi Danira dari virus berbahaya.
" Mas lepas ihh..malu, kita jadi pusat perhatian tau ". Kesal Danira, mencoba melepaskan tangan Gavino yang melingkar di lehernya.
" Biarkan saja, biar semua orang tau, kalau kau sudah punya suami seorang Gavino yang tampan, kaya raya, sangat rupawan dan sangat melindungi istrinya". Sombong Gavino.
" Iya...tapi kan mas...!!".
" Sstttt....apa kamu mau aku menciummu disini agar kau diam tidak protes terus ?". Ancam Gavino berbisik, membuat Danira tak lagi bersuara. Takut bila suaminya benar-benar nekat menciumnya didepan umum.
Gavino tampak diam berfikir sejenak, dia tak ingin berlama-lama ditempat ini, dia mulai risih dengan pandangan banyak orang. Sedangkan Sean, Sarah dan Sam hanya membuang pandangan mereka ke sembarang arah, tak ingin melihat tingkah Gavino yang mereka anggap berlebihan.
" Sean...?".
" Saya tuan ".
" Siapkan jalannya ". titah Gavino, yang langsung di angguki oleh Sean.
Sean kembali kebelakang meminta Sarah memanggil beberapa pengawalnya, dia tak mungkin memanggil pengawal dari Garayudha company karena itu akan memakan waktu. Sarah mengangguk, lalu mengangkat tangannya, berbicara dari balik jam tangan. Tak berapa lama para pengawal RA Group datang, meletakkan Traffic cone atau kerucut lalu lintas dari depan food court hinga depan bangunan Radenayu group.
Kemudian para pria bertubuh tinggi besar mulai berbaris disepanjang jalan saling berhadapan, ditubuh mereka telah menggunakan jas hujan berwarna bening, tangan mereka mulai diangkat keatas membentangkan payung kearah depan.
Danira membelalakkan matanya ketika melihat apa yang sedang terjadi didepan sana. Banyaknya mobil terpaksa berhenti karena akses jalan tiba-tiba ditutup.
" Silahkan tuan ". Ujar Sarah, Gavino mengangguk, lalu tanpa aba-aba Gavino mengangkat tubuh Danira, masuk kedalam dekapannya, hal itu membuat Danira terkejut setengah mati.
" Mas...kenapa aku digendong ?".
" Aku tidak ingin pakaian mu menjadi basah, jadi lebih baik aku gendong saja. Lagi pula kita harus segera pergi dari tempat ini, karena aku tidak ingin istriku dilirik pria lain ". Tegas Gavino masih bernada cemburu.
" Iya..tapikan aku bisa jal...".
" Sssttt...pegang aku yang erat ". Potong Gavino. Lalu mulai berjalan melewati para pengawal yang tengah memayungi mereka.
Lagi-lagi pasangan itu kembali mencuri perhatian, apa lagi saat ini kondisi jalan dipenuhi kendaraan yang terpaksa berhenti baik dari sisi kiri maupun sisi kanan. Gavino menggendong Danira ala bridal style, tangan Danira sudah melingkar erat di leher Gavino.
Gavino mulai melangkahkan kakinya, melewati para pengawal yang sedang memayungi mereka berdua. Waktu seakan berputar kian lambat ketika Gavino melangkah, benda-benda pipih mulai bertengger di tangan para pemiliknya, mencuri momen romantis yang tegah mereka saksikan dibawah guyuran hujan, dan benar saja vidio maupun foto mereka kembali menjadi tranding di semua media sosial mengalahkan semua Artis papan atas.
^^^Ahhh gila, gila, gila...ini parah sih, ini terlalu romantis, aku iri parah.^^^
^^^Astaga....sisain satu doang pria seperti ini untukku.^^^
^^^Mau digendong juga.^^^
^^^Beruntung banget sih istrinya, terlihat sekali suaminya cinta mati.^^^
^^^Aku yakin istrinya cantik parah, makanya suaminya Sampai sebucin ini. Contohnya aja tadi banyak sekali foto-foto istrinya sedang makan siang dengan pria lain, tapi coba lihat sekarang semua foto-foto tadi menghilang.^^^
^^^Ya..benar, padahal belum 2 jam semua foto sekaligus akun yang menyebarkan langsung menghilang^^^
Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang berhamburan di laman akun-akun media sosial membicarakan pasangan fenomenal itu.
Danira mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya yang sejak keluar dari bangunan food court berubah dingin dan datar. Danira tau Kini Gavino tegah melakukan aksi mogok bicara akibat cemburu padanya.
" Mas...?" Panggil Danira lembut, namun Gavino tak menghiraukan, dia tetap menatap lurus ke depan.
" Mas...?"
" Mas Gavin marah ?". Lagi-lagi Gavino tetap diam, hatinya masih kesal.
" Mas aku hanya makan siang, tidak melakukan hal yang lain, lagi pula Sarah dan Sam ada bersamaku, dan juga kami makan di tempat umum ".
" Ada urusan apa dia menemui mu ?". Akhirnya suara bariton itu kembali terdengar, meski terdengar sangat dingin.
" Tuan Sandez datang mengajukan kerja sama karena mereka ditunjuk sebagai penyedia kostum parade olahraga terbesar beberapa bulan lagi, dan dia tertarik dengan beberapa rancangan dari perusahaan ku".
" Lalu kau menyetujuinya ?
" Aku belum memberi jawaban mas, aku harus membicarakannya dengan team ku dulu". Jelas Danira, Gavino kembali diam.
" Tapi kenapa harus makan siang bersama?".
" Aku menerima tawaran makan siang tuan Sandez karena merasa bersalah telah membuat mereka menunggu ku hampir 2 jam tadi pagi ".
" Itu hanya modusnya Danira, terlihat sekali bila dia punya niat lain padamu, pakai acara menggoda segala. Masa dia tidak tau bila kau sudah menikah, lancang sekali mulutnya ". Kesal Gavino, mengingat kata-kata dan tatapan Gultom Sandez pada istrinya tadi, membuat hatinya kian panas.
__ADS_1
" Sepertinya dia memang tidak tau mas, apa lagi pernikahan kita memang tidak di publikasikan ". Ujar Danira, Gavino seakan teringat kembali, bahwa dialah yang melarang pernikahannya dengan Danira dirahasiakan saat mereka melangsungkan pernikahan satu tahun yang lalu. Gavino menghentikan langkahnya saat mereka telah tiba didalam ruangan Danira, lalu dia menurunkan Danira diatas sofa.
Gavino kembali berbalik, akan pergi.
" Mas mau kemana ?".
" Kembali ke kantorku ". ketusnya, berbalik badan.
" Mas masih marah ?, aku minta maa.....!!". Belum juga selesai Danira berbicara, Gavino telah melangkah pergi, menghilang dibalik pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Membuat Danira menghela nafas pelan.
" Pastikan dia berganti pakaian, buatkan dia teh hangat ". Titah Gavino pada Sarah yang baru saja tiba didepannya bersama Sean.
" Ayo Sean kita kembali kekantor sekarang ". Ajaknya berjalan lebih dulu, Sarah dan Sean hanya saling pandang melihat wajah masam Gavino, lalu buru-buru Sean mengejar Gavino yang sudah hampir masuk kedalam lift.
Sarah membuka pintu ruangan Danira, sambil membawa pakaian beserta teh hangat sesuai instruksi Gavino tadi.
" Nona, ini pakaian dan minuman untuk anda ". Danira hanya diam termenung.
" Nona...". Panggil Sarah lagi.
" Ahh iya...terima kasih Sarah ". Ujar Danira setelah lamunannya menghilang.
" Ada apa nona, apa ada masalah ?". Tanya Sarah bingung melihat perubahan ekspresi Danira, dia tak seceria pagi tadi.
" Tidak apa-apa Sarah ". Jawab Danira, namun jawaban itu tak membuat Sarah puas, dia bisa melihat bila Danira tegah gundah.
Setelah berganti pakaian Danira mengambil ponselnya diatas meja, mencoba menghubungi nomor Gavino, namun panggilannya selalu diabaikan.
Danira mengetik sesuatu dilayar ponselnya, wajahnya terlihat cemas dan serius.
Me : Mas kenapa tidak mengangkat telpon dariku ?, apa mas masih marah ?.
Me :Mas aku minta maaf, tadi kami hanya membahas masalah pekerjaan, tidak ada yang lain. Lagi pula aku tidak melihat wajahnya. Mas tolong percaya sama aku, jangan marah lagi ya mas.
Danira mengirim pesan pada Gavino, dia tak ingin suaminya terlalu lama marah kepadanya, dia takut berdosa.
Pesan yang Danira kirim sudah centang dua berwarna, itu artinya sudah dibaca, tapi sayangnya Danira tak menerima balasan apapun dari Gavino. Hal itu membuat Danira kian cemas, dia berjalan mondar mandir dalam ruangannya bahkan dia tak menyadari kehadiran Sarah.
" Maaf nona, meeting nya sudah siap ".Danira masih sibuk mengutak-atik ponselnya, berharap segera dapat balasan.
" Nona ...apa meetingnya kita batalkan saja, atau kita res.....!!".
" Tidak Sarah, ayo kita kesana sekarang ". Ujar Danira yakin, menyimpan ponselnya dalam laci.
"Anda yakin nona ?". tanya Sarah lagi memastikan, Danira hanya mengangguk. Dia berusaha menetralisir perasaannya saat ini, dia harus profesional.
Bismillahirrahmanirrahim
***
Waktu telah menunjukan pukul 17.30 sore, Danira dan Gavino telah berada didalam mobil yang mengantarkan mereka ke mansion keluarga Pradiksa. Selama dalam perjalanan, Gavino hanya diam membuang pandangannya keluar jendela, sedangkan Danira masih terus setia menatap Gavino yang sejak tadi mengacuhkannya. Danira telah berusaha membujuk suaminya yang tegah merajuk, tapi sepertinya Gavino masih bertahan dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Sean yang sejak tadi memperhatikan sikap kedua bosnya dari balik kaca spion semakin mengkerut kan dahinya bingung.
Tak lama mobil yang membawa mereka berhenti tepat di halaman mansion mewah itu, tanpa menunggu Sean membukakan pintunya, Gavino telah lebih dulu membuka dan berjalan meninggalkan Danira didalam mobil begitu saja. Tanpa sadar air mata Danira menetes didalam cadarnya.
Ya Allah...apa sebesar itu kesalahanku, hingga mas Gavin marah seperti ini. Batin Danira sedih. Sean membukakan pintu untuk nyonyanya.
" Silakan nyonya..". Danira keluar dengan rasa sedih.
" Terima kasih Sean ". Jawabnya terdengar lirih. Sean hanya berdiri sambil memperhatikan punggung Danira yang mulai berjalan menjauh, tapi Danira berhenti dan berbalik.
" Sean apa aku boleh minta tolong ?
" Tentu nyonya ".
" Tolong berikan ini pada Sarah, tadi aku lupa memberikannya, sepertinya sekarang dia masih ada dikantor ". Ujar Danira sambil mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya, sean menerimanya.
" Terima kasih Sean, kalau begitu saya masuk dulu ". Sean hanya mengangguk patuh.
Didalam mansion, Gavino yang telah lebih dulu masuk langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa empuk yang berada diruang keluarga yang telah disulap menjadi tempat bermain anak. Melihat siapa yang datang, Khalisa langsung berlari kecil menghampiri Gavino.
" Pa..pa..pa..pa ". Teriaknya senang. Gavino mengangkat tubuh gembul itu masuk kedalam pelukannya.
" Apa kau sudah makan sayang ?". Tanya Gavino, sambil menciumi pipi chubby Khalisa, membuat balita itu tertawa geli. Nyonya Carlina yang baru keluar dari dalam kamarnya, terkejut melihat Gavino.
" Vino kamu sudah pulang ?".
" Belum, ini hantunya ". Ketus Gavino.
" Ciihh...mana anak mami, kok kamu send....!!".
" Assalamualaikum ". Suara lembut Danira telah lebih dulu menghentikan pertanyaan ny. Calina.
" Oh ini kesayangan mami ". Ny. Calina berjalan menghampiri Danira lalu memeluknya.
" Si kutu ayam kenapa ?, tumben sekali kalian datang terpisah, biasanya dia selalu menempel padamu seperti lem tikus ?". Danira melihat kearah suaminya tapi Gavino masih memasang wajah kesal padanya. Membuat Danira kembali menghela nafas.
" Mas Gavin sedang marah sama Danira mi ".
__ADS_1
" Kenapa ?".
" Karena tadi siang Danira makan siang dengan tuan Sandez, sepertinya mas Gavin tidak suka, lalu mendiamkan Danira ". Danira jelaskan mengapa dia sampai menerima tawaran makan siang dari Gultom Sandez.
" Huu..begitu saja cemburu. Sepertinya penyakit keturunan dari alm. Papinya sangat melekat pada anak-anak di keluarga ini, Gavino itu persis dengan papinya, cemburu tingkat nasional. Dulu papi juga begitu, sampai-sampai mami ke toilet pun dicemburui. Bukan dengan manusia, tapi dengan kloset WC pun papi cemburu, katanya papi tidak Sudi bila pantat mami bersentuhan dengan closet duduk !!!. Masa mami harus pup di kresek ". Ujar ny. Calina menceritakan hal konyol dimasa lalu.
" Ya sudah biarkan saja dia seperti itu dulu, nanti juga baik sendiri. Lebih baik sekarang kamu naik, bersih-bersih terus istirahat pasti lelah seharian bekerja.". Ujar ny. Calina mengelus punggung Danira lembut.
" Iya mi, Danira naik dulu ya mi ".
" Iya sayang".
Gavino melirik Danira yang mulai menaiki anak tangga, melihat itu membuat Gavino semakin cemberut.
Ccihhh...bahkan dia tak berusaha membujukku lagi, menyebalkan sekali. Kesal Gavino dalam hati.
Ny. Calina geram melihat tingkah anaknya ini, dia berjalan menghampiri Gavino. Lalu duduk di samping Gavino.
" Kau kenapa sih vino, berani-beraninya kau kesal dengan menantuku ?".
" Kau cemburu karena Danira makan siang dengan pria lain ?".
" Tidak".
" Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka melihat pria itu menatapnya dengan perasaan, itu membuatku jijik. Rasanya aku ingin mencongkel keluar bola matanya, agar tak menatap istriku lagi ". Jelas Gavino menggebu.
" Astaga.....perkara ditatap saja kau mau mencongkel bola mata orang lain, kau ini psikopat !!".
" Gavin dengarkan mami, berhentilah bersikap seperti anak kecil yang selalu merujuk seperti ini. Kau harus Ingat siapa Danira, dia bukan wanita biasa, dia adalah wanita terpandang, cerdas, cantik, berpendidikan tinggi dan jangan lupa dia juga keturunan bangsawan. Pria mana yang tidak mengincar apa lagi tergila-gila padanya. Mungkin saat ini kau dinobatkan sebagai pengusaha yang paling berkuasa di Asia, tapi kau juga tidak boleh lupa bila Danira memiliki kekuasaan jauh diatas mu, dia adalah Ratu dari sebuah kerajaan yang mana semua mata akan selalu tertuju padanya. Tidak mungkin kau harus mencongkel setiap bola mata orang yang melihat Danira, bumi ini akan jadi menyeramkan..iiihhhhh!! ". Jelas ny. Calina panjang lebar sambil membayangkan manusia tanpa mata. Gavino terdiam mencerna ucapan sang mami.
" Seharusnya kau membuatnya selalu tersenyum bahagia, buat hatinya selalu senang, ajak dia liburan, berikan dia perhatian, bukan menambah bebannya seperti yang kau lakukan saat ini. Umur saja sudah tua, pikiran mu jauh di bawah Khalisa ". Cibir Ny. Calina.
" Kita tidak tau apa yang Danira simpan dalam hatinya, dan kita juga belum tau keputusan apa yang akan dia ambil untuk mengambil hak nya yang masih dikuasi orang yang ada di kerajaan itu, jadi mami minta berhenti membuatnya semakin bersedih. Apa kau benar-benar mau Danira pergi meninggalkan mu ?".
" Mami bicara apa sih, aku kan cuma...!!".
" Cuma apa ?".
" Sudah sana, pergi susul istrimu, minta maaf padanya. Kau ini membuat asam urat mami naik saja. Buat rencana liburan untuknya, bahkan pernikahan kalian sudah sampai 1 tahun pun mami tidak pernah melihat mu membawa menantu kesayangan mami liburan, kau ini pria kaya yang sangat pelit, percuma saja wajah tampan, rekening tebal, tapi tidak bisa membahagiakan istri ".
" Lebih baik mami jodohkan saja Danira dengan orang lain....!!".
" Ya...ya..ya mami cerewet sekali, seperti nenek-nenek ". Kesal Gavino sambil mencebikkan bibirnya, lalu beranjak pergi meninggalkan ny. Calina Yang masih menyemburkan Omelan.
"Dasar kutu ayam, beraninya bilang mami nenek-nenek...hah..!!!"
***
Didalam kamar, Danira baru saja selesai mandi, di masih melilitkan tubuhnya dengan handuk, membuat area bahunya yang putih terlihat seksi. Danira mengambil hair dryer lalu menyalakannya dan mulai mengeringkan rambutnya yang panjang. Danira tak menyadari bila Gavino telah masuk dan berdiri tepat dibelakangnya, lalu merebut hair dryer yang ada ditangan Danira.
"Astagfirullah..mas ". Danira terkejut. Gavino tetap diam, memegang rambut hitam Danira sambil terus mengarahkan hair dryer diatas kepala Danira. Dia memperhatikan ekspresi Gavino dari kaca yang ada didepannya.
" Sudah mas, biar aku saja. Mas Gavin mandi saja, nanti biar aku siapkan pakaian gantinya ". Ujar Danira mencoba mengambil benda itu dari tangan Gavino, tapi Gavino tetap diam, lalu mematikan dan meletakkannya di tempat gantungan hair dryer seperti biasa.
Perlahan tangan Gavino melingkar di pinggang ramping Danira, menundukkan kepalanya di bahu mulus danira dan menghirup aroma wangi yang selalu memabukkan dari tubuh Danira, aroma candu bagi Gavino.
" Maafkan aku ". Cicit Gavino lirih.
" Aku benar-benar minta maaf, sayang....tolong maafkan aku ". Danira berbalik, langsung menutup mulut Gavino, sambil menggeleng.
" Mas bicara apa, kenapa harus minta maaf. Mas Gavin tidak salah ". Ujar Danira langsung memeluk tubuh Gavino erat, aahh baru saja setengah hari mereka tak saling bicara Danira sudah merasakan rindu.
" Aku salah sayang, seharusnya aku tidak marah padamu, tidak mendiamkan mu. Jujur saja ini membuatku kesulitan sendiri, bahkan aku tidak fokus kerja sejak dari kantormu tadi ".
" Tidak apa-apa mas, aku juga minta maaf karena sudah membuat mas Gavin cemburu, seharusnya aku memberi tahu mas Gavin dari awal. ". Ujar Danira, lalu melepaskan pelukannya.
Mereka saling pandang cukup lama tanpa sepatah kata pun, jantung keduanya sama-sama berdetak cepat. perlahan Gavino menundukkan kepalanya mendekatkan bibirnya dengan bibir merah Danira, dan ********** lembut. ******* yang tadinya lembut, kini berubah kian menuntut. Gavino mengangkat tubuh Danira, dan mendudukkannya diatas wastafel tanpa melepaskan panggutan nya, Gavino melepaskan ciumannya tika merasa Danira mulai kehilangan oksigen.
Matanya menyusuri setiap pahatan wajah indah Danira, menyentuh bibir merah yang basah karena Saliva nya, kemudian turun ke leher jenjang nan putih. Gavino menelan ludahnya sendiri saat matanya menangkap bagian dada Danira hanya ditutupi handuk. Gavino menurunkan lagi pandangannya, semakin turun dan tertuju pada paha mulus sang istri. Melihat Gavino menapanya terlalu intens membuat Danira salah tingkah.
" Mas jangan melihatku seperti itu, aku malu ". Cicit Danira menunduk. Tapi Gavino hanya tersenyum, mengangkat dagu Danira agar melihat kearahnya, dapat Danira lihat kabut gairah mulai menguasai Gavino.
" Sayang....aku menginginkanmu. Boleh ?". Danira menatap lekat kedua bola mata tajam itu, lalu mengangguk malu-malu. Secepat kilat Gavino kembali mencium bibir Danira, namun kali ini kian rakus. Membuat Danira kewalahan mengimbangi ciuman Gavino. Namun saat Gavino ingin menarik handuk dari tubuh Danira. Tiba-tiba Danira melompat dan berlari masuk ke kamar mandi, membuat Gavino tersentak kaget.
" Sayang ada apa ?". Teriak Gavino didepan pintu, khawatir. Tak berapa lama kepala Danira menyembul dari balik pintu.
" Mas...maaf, sepertinya mas Gavin harus puasa dulu ".
" Puasa, inikan bukan bulan puasa sayang ". Tanya Gavino bingung.
" Eemmm itu....!!!, aku sedang datang tamu bulanan, jadi mas Gavin harus puasa dulu ya selama satu Minggu ke depan ". Jelas Danira malu sekaligus merasa bersalah melihat mimik wajah Gavino yang melemas.
Dam*
Seketika nafsu yang menguasai Gavino melempem bak kerupuk tersiram air.
Satu Minggu......lamanya.....
__ADS_1
......................
...Bersambung........