
Waktu telah menujuk pukul 01.00 Dini hari, Danira masih duduk diruang tamu menunggu kepulangan Gavino, walaupun kantuk telah menyerangnya, Danira masih terus mencoba menahan.
Ny. Calina telah kembali ke Mansion keluarga Pradiksa tadi sore, Dia mengajak Danira untuk tinggal saja bersama dengannya, namun Danira menolak halus, dengan alasan dimanapun suaminya tinggal, disitulah Danira pun akan tinggal. Ny. Calina tak memaksa, malah dia bangga memiliki menantu yang patuh seperti Danira.
Danira melihat kearah jam dinding, putarannya makin menunjukkan waktu tengah malam, namun sang suami bulum juga ada tanda-tanda pulang. Setiap malam memang Danira selalu menunggu kepulangan Gavino, tanpa sepengetahuannya. Bila Danira telah mendengar suara pin dari pintu, dia akan segera berlari masuk kedalam kamarnya, dan memanjatkan doa syukur atas kepulangan suaminya dengan selamat.
Sayup-sayup Danira mendengar suara tapak sepatu berhenti didepan pintu penthouses, Danira segera berdiri dan ingin masuk kedalam kamarnya, namun suara bel menghentikan langkah Danira. Ada yang aneh, jika itu Gavino, Dia tidak akan menekan bel berulang kali, pasti dia akan langsung masuk. lalu siapa yang datang tengah malam begini. pikir Danira bertanya-tanya.
Danira berjalan mendekat, melihat siapa tamu yang datang dari layar monitor kecil. Terlihat satu orang Pria tegah menopang tubuh pria yang setengah sadar, seperti orang mabuk. Danira tau siapa para pria itu. Bel berbunyi lagi, Danira segera membukakan pintunya.
" Selamat Mal..., Maksud saya Assalamualaikum Nyonya". Salam Sean, Sambil memegang tubuh gavino.
" Waallaikumsalam". Danira melihat Gavino yang kacau, bau alkohol menyengat dari tubuhnya, dengan mulut terus saja meracau tak karuan. Danira menahan nafasnya sejenak, lalu menghembusnya pelan.
" Apa yang terjadi dengan suami saya ?".
" Tuan mabuk berat Nyonya, tadi pihak Bar menghubungi saya untuk menjemput tuan disana".
" Boleh saya mengantar Tuan kedalam Nyonya ". Sean meminta ijin kepada Danira, yang sedari tadi hanya diam mengamati mereka.
" Ahh iya,...silahkan ". Ujar Danira memberi jalan. Lalu Dia mengikuti Sean dan Gavino dari belakang, namun secara tiba-tiba tubuh gavino berdiri sempoyongan, dia melihat Sean yang memapanya.
" Sean...!! Apa kau mencium aroma parfum ". Tanya Gavino dengan suara khas orang mabuk.
" Tidak ada bau parfum tuan".
" Ada...ini seperti parfum wanita Berjubah". Ujar Gavino dengan tangan digoyang-goyang kan kekanan kekiri.
" Kau tau Sean..!! Jika aku mencium aroma parfum dari tubuhnya, itu sangat memabukkan, bahkan membuatku seperti hilang akal". Tutur Gavino menunjuk-nunjuk kepalanya. Danira mengendus-endus tubuhnya.
Perasaan aku tidak pernah memakai parfum apapun. Pikir Danira.
" Sean..Sean... Sean.....!! aku melihat wanita itu disini ". Ujar Gavino menyipitkan matanya melihat kearah Danira, lalu mulai berjalan perlahan mendekat, Gavino hampir saja terjatuh, untung saja Sean dengan sigap memegangnya.
" Tuan, Nyonya tentu ada disini. Karena kita berada rumah kalian, ayo saya antarkan tuan istirahat kekamar. Anda sedang mabuk sekarang".
" Sssttttt..." Gavino mengarahkan telunjuknya kedepan muka Sean.
" Aku tidak mabuk Bodoh...!! ini bukan rumah, tapi kantor ku, apa kau buta". Bentak Gavino, menyangkal ucapan Sean. Danira hanya memperhatikan tingkah konyol suaminya yang seperti anak kecil.
__ADS_1
" Coba lihat itu, aku seperti melihat wanita Berjubah itu berdiri disitu". Tunjuk Gavino tepat kearah Danira, Sean mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Itu memang Nyonya, tuan. Anda sedang tidak berhalusinasi". Jawab Sean lagi.
" Aaiiss kau ini, mana mungkin dia ada di kantorku sekarang". Sangkalnya, mengerjab-ejabkan matanya berkali-kali, lalu mengangkat kedua tangannya, membentuk seperti teropong, melihat kearah Danira lagi.
" Nah Dia tidak ada lagi kan, wanita Berjubah itu sudah hilang". Ujar Gavino bertepuk tangan. Sean menghela nafas berat, memutar bola matanya jengah.
" Tuan, nyonya ada disini, bagaimana anda bisa melihatnya bisa tangan ada mengepal tertutup, bukan membentuk lubang terpong. Lebih baik saya antarkan kekamar anda sekarang tuan, Jagan buat diri anda malu didepan Nyonya". Bisik Sean diteliga Gavino.
Gavino menyipitkan matanya, merenggut melihat Sean tak suka. " Aku tidak ingin kekamar, apa lagi dengan mu. Aku pria Normal Sean, Senjataku masih berfungsi dengan baik, dia tak suka bermain pedang-pedangan". Jawaban absurt Gavino membuat wajah Sean memerah malu, dia senyum cangung kepada Danira. Danira hanya menikmati pertunjukan tegah malam ini, jarang-jarang dia bisa melihat sisi kekanak-kanakan suaminya. Biasanya yang dia lihat hanya wajah datar dan dingin Gavino.
" Sini...aku ingin membisikkan sesuatu kepadamu". Gavino menarik Sean lebih mendekat. " Jagan terlalu dekat, kau ingin menciumku hah ?". Teriak Gavino, Sean semakin geram, inilah mengapa dia selalu melarang Gavino minum hingga mabuk. Dia akan lebih menyebalkan dibanding dia sadar.
" Anda ingin membisikkan apa tuan?". Sean mendekatkan kupingnya kepada Gavino tetap sabar.
" APA KAU TAU...!! Bukannya berbisik, Gavino malah berteriak, membuat Sean menarik telinganya yang terasa berdengung, hal itu membuat Danira tertawa keras.
" Ha..Ha..Ha..Ha". Tawa Danira, membuat Sean dan Gavino menoleh serentak.
" Sean kau dengar tidak, bayangannya pun bisa tertawa...iihh sepertinya aku benar-benar sudah gila, bahkan tawanya pun tergiang-giang di telingaku". Sean hanya diam, sudah tak tau harus menjelaskan bahwa itu bukan bayangan Danira.
" Sean....!!!, akhir-akhir wanita Berjubah itu sering kali Berputar-putar dikepalaku, seperti burung elang. Apa lagi bila aku mendengar suaranya yang lembut, jantungku suka berdebar tak karuan". Ujar Gavino sambil menepuk-nepuk dadanya, bergerak kesana kemari membuat Sean yang mengikutinya kesal.
Pipi Danira menghangat, mendengar ucapan Gavino. Ada sesuatu rasa yang beda, namun Danira tak tau apa itu.
" Aku kesal melihat para pria yang banyak menyukainya, diakan istriku....seharusnya mereka tidak boleh mendekatinya, iya kan Sean?". Gavino seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada orang tuanya, dengan wajah yang dibuat sok sedih, lalu bibir dibuat manyun. Benar-benar bukan Gavino yang arogan.
" Tuan...!! Berhentilah bersikap seperti ini, jika anda sadar besok, maka anda akan kehilangan wajah anda dihadapan Nyonya". Sean berucap dengan merapatkan giginya, sudah bisa Sean bayangkan apa yang akan terjadi besok pagi, dan yang pasti dia akan kena amukan Gavino.
Sean mulai menarik tubuh gavino lagi, memaksanya berjalan.
" Berhenti...!! Mengapa ruangan ku berputar-putar seperti ini ?, apa kita sedang diruang angkasa ?, Wahhhh....aku ingin kepelanet Mars, mencari Alien". Ucapan Gavino makin tak karuan, rasanya Sean ingin berteriak, dan mengguncang kepala tuannya ini, agar segera sadar.
". Pak Sean....tolong bawa suami saya, kekamar saya saja. Kasihan jika harus membawanya menaiki tangga dalam keadaan seperti itu". Danira memberi usul, dia kasihan melihat wajah asisten Gavino yang sudah sangat lelah, apalagi meladeni gavino yang semakin tidak jelas.
" Baik Nyonya.." Sean Membawa Gavino kekamar tamu, dengan susah payah dia menarik Gavino yang terus saja berontak tak ingin masuk. Ketika sudah didalam kamar, Gavino berbaring diatas ranjang, langsung tertidur seperti orang pingsan. Sean menghembus nafas lega.
" Pak Sean, terima kasih banyak, karena anda sudah membantu suami saya".
__ADS_1
" Jagan panggil saya seperti itu Nyonya, panggil saja saya seperti tuan Gavino memanggil saya dengan Nama". pinta Sean, sebenarnya dia merasa tak nyaman bila Danira memanggilnya dengan sebutan pak. Seakan sangat tua. pikir Sean.
" Baiklah...!! Sekali lagi terima kasih banyak".
" Sama-sama Nyonya, itu sudah kewajiban saya. Kalau begitu saya permisi pulang dulu. Selamat malam".
"Assalamualaikum". Salam Sean, berlalu pergi meninggalkan kediaman Gavino.
" Waallaikumsalam". jawab Danira, lalu memastikan semua pintu telah terkunci. Kemudian Dia masuk kedalam kamarnya, melihat Gavino yang tidur telentang disamping Khalisa. Ada rasa haru dalam hati Danira, melihat pemandangan yang tak biasa ini. Dia berjalan mendekati Gavino.
" Maaf jika saya lancang, ijinkan saya untuk membuka sepatu anda". Danira berujar lembut.
" Eemmm". Gavino seakan mendengar seorang wanita berbicara dialam mimpinya. Danira mendekatkan tangannya kekaki Gavino, ini pertama kalinya bagi Danira menyentuh kaki sang suami. Danira dengan cepat membuka sepatu pantofel hitam itu, kemudian Dia berlari kedalam kamar mandi, keluar membawa nampan berisi air hangat dan handuk kecil. Lalu Danira membuka kaus kaki Gavino, Danira mengelap kaki Gavino secara perlahan, tak ingin suaminya sampai terbangun.
Setelah selesai, Danira melihat wajah Gavino yang tertidur pulas, tampan dan tenang. Terlihat Gavino menyunggingkan senyum dibibirnya, entah apa yang pria itu mimpikan, hingga tersenyum seperti itu, dengan cepat Danira mengalihkan pandangannya, tak ingin terlalu lama memandang wajah Gavino. Dia menarik selimut, dan menyelimuti Gavino dan Khalisa.
" Selamat malam, saya mohon maaf atas kesalahan saya dari pagi hingga malam ini, begitupun juga sebaliknya, saya telah memaafkan segala kesalahan anda kepada saya hari ini. Semoga Allah mengampuni kita...Aamiin". Itulah yang setiap malam yang Danira ucapkan sebelum tidur, Dia tak ingin tidur dalam keadaan membawa dendam ataupun amarah, bila dia tak Bangun lagi dari tidurnya, dia telah memaafkan segala kesalahan orang-orang yang menyakitinya.
Danira beranjak pergi membawa nampan yang dia gunakan untuk membersikan kaki Gavino, lalu mengambil Wudhu sebelum tidur. Danira melangkah menuju sofa yang ada dikamarnya, membawa bantal dan selimut cadangan yang ada didalam lemarinya. Malam ini Danira akan tidur di sofa, ini malam pertama baginya tidur dalam satu ruangan bersama Gavino. Tak butuh waktu lama, Danira memejamkan mata, lalu berkelana kealam mimpinya.
......................
...Bersambung.......
Assalamualaikum kakak-kakak Semua 😍
Bagaimana kabarnya hari ini ? semoga kalian sehat selalu ya 🤲
*
Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang selalu setia dan sudah meluangkan waktunya untuk membaca Novel ini .
Maafkan Author yang belum bisa Crazy Up, karena harus menyesuaikan dengan jam kerja dan mengurus anak. Tapi Author akan usahakan Up Bab Setiap hari.
Mohon tinggalkan cinta dan dukungannya dalam bentuk Like, Komen dan Vote nya yah ?
Biar author makin semangat buat ceritanya.
Jangan lupa VOTE yang banyak yah !...Agar lebih ramai yang membaca Novel ini.
__ADS_1
Terima kasih
Saranghae ❤️