
Suara azan magrib berkumandang di penjuru ibu kota. Para muslim pejalan kaki maupun yang berkendaraan mulai mencari mesjid terdekat untuk menunaikan kewajiban mereka, menghadap ke sang pencipta sebagai wujud rasa syukur telah diberikan umur hingga saat ini.
Didalam gedung Radenayu group ada satu ruangan yang lampunya masih menyala, ruangan yang cukup besar bernuansa putih abu yang melekat ditembok menampakkan kesan bersih nan natural. Sarah masih duduk tenang dibalik meja tanpa berniat bergeser sedikit pun. Tatapannya fokus pada layar laptop dan jemarinya menari lincah diatas keyboard, sesekali melihat setumpuk kertas yang ada disamping tangan kirinya.
Tap*
Tap*
Tap*
Suara kepakan sepatu sayup-sayup terdengar di pendengaran Sarah, dia mencoba mengabaikannya, tapi makin lama suara itu semakin terdengar jelas menuju kearah ruangannya. Sarah mulai waspada, karena dia teringat bila tadi scurity yang bertugas sedang ijin ke mesjid melaksanakan solat magrib. Sarah berdiri, mendorong kursinya perlahan, lalu berjalan mendekati pintu, sambil memegang sesuatu dari balik jas yang sedang dia kenakan.
Sarah menempelkan sedikit telinganya kearah dinding, dia mendengar dengan jelas, bila kepakan sepatu itu berhenti tepat didepan ruangannya, Sarah mulai memposisikan dirinya, menenangkan rasa tegang yang mulai masuk kedalam dadanya.
Krek*
Handle pintu ditekan kebawah, perlahan pintu ruangan itu didorong masuk, seketika pintu terbuka. Dengan cepat Sarah mengarahkan pistol berisi timah panas kearah kepala pria tampan berwajah dingin yang muncul dari balik pintu.
" Kamu...?". Ujar Sarah, terkejut melihat Sean yang berdiri dihadapannya. Sean pun tak kalah terkejutnya dengan aksi yang dilakukan Sarah. Dia mengarahkan benda yang sangat berbahaya tepat didepan matanya saat ini, yang mana salah sedikit saja sudah pasti kepalanya saat ini telah mengeluarkan cairan merah mengerikan.
" Ada apa anda kemari ?". Tanya Sarah yang masih belum menurunkan senjata api itu. Sean bergeser sedikit, lalu mengangkat tangannya, mengambil pistol yang berada didepan wajahnya.
" Saya hanya mengantarkan ini ". Sean mengangkat kotak kecil, yang bergambar sketsa setengah tubuh wanita, yang mana Sean pun tak tau obat apa itu. " Ini dari nyonya Danira ". Ujar nya lagi, menyerahkan pada Sarah. Buru-buru Sarah mengambil kotak itu, lalu menyimpannya kedalam saku jasnya, dia memang sedang membutuhkan obat ini karena perutnya sangat terasa melilit akibat datang bulan, sejak tadi Sarah terus menahannya karena dia lupa mengambilnya dari Danira, untung saja nona nya Ingat. Pikir sarah.
" Ini pistol mu, hati-hati menggunakannya, kau hampir saja membunuhku ". sindir Sean kembali menyerahkan pistol itu pada Sarah.
" Terima kasih ". Tanpa dipersilahkan Sean langsung masuk kedalam ruang kerja Sarah, yang terlihat sangat rapi dan bersih. Dia berjalan mendekati sofa berwarna hitam yang ada di ruangan itu, Sean meletakkan secangkir kopi panas di atas meja yang tadi dia beli di cafe tepat didepan gedung Radenayu group.
" Dan ini juga kopi untukmu, ini juga dari nyonya ". Ujarnya berbohong, sambil menghempaskan bokongnya ke sofa. Sarah hanya mengikuti setiap gerak-gerik Sean, dia masih berdiri disamping pintu.
" Baiklah...terima kasih atas bantuannya, tapi kenapa anda malah duduk bukannya pergi ". Ujar Sarah tanpa basa basi. Sean hanya melihat Sarah sekilas, lalu menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, sambil meletakkan kedua pelapak tangannya dibelakang kepala.
" Saya juga di minta nyonya Danira untuk menemani dan mengantar anda pulang sampai kerumah dengan keadaan baik dan selamat ". Bohong Sean lagi, entah mengapa Sean terus berbohong menggunakan nama Danira pada Sarah, hal itu membuat Sarah menaikkan sebelah alisnya, tak percaya.
" Nona yang memintamu begitu..?". Tanya Sarah lagi, memastikan, dia ragu dengan penuturan Sean.
" Ya, jika kamu tidak percaya, ini silahkan saja hubungi Nyonya, tanya kebenarannya ". Ujar Sean sambil memberikan ponselnya penuh percaya diri, meski dalam hati dia ragu sekaligus takut bila Sarah benar-benar menghubungi Danira, bisa-bisa kebohongannya ketahuan, bahwa Danira tak pernah memintanya membawa kopi, menemani bahkan memerintah untuk mengantar Sarah pulang.
Sean merasa deg-degan saat melihat Sarah berjalan mendekatinya, lalu Sarah membungkuk tubuhnya, kemudian mengulurkan tangan mengambil kopi yang ada diatas meja ". Baiklah aku percaya, tapi anda tidak perlu menemani apa lagi mengantar saya pulang, saya bisa sendiri ". Ujarnya, kembali berjalan menuju meja kerjanya. Sean bernafas lega dalam hati, dia sempat khawatir bila Sarah benar-benar mengambil ponselnya lalu menghubungi Danira tadi.
" Aku tidak bisa melanggar perintah nyonya, jadi jangan membuat aku menjadi seorang yang tidak patuh ". Ucap Sean, tak perduli bila Sarah terus mencoba mengusirnya. Sarah berhenti sebentar tanpa berbalik, lalu dia menarik kursinya kemudian duduk.
" Hheeemmhh...!! terserah ". singkat Sarah pasrah, dia sedang tak ingin berdebat dengan pria ini, karena akan merusak suasana hatinya saja, ditambah rasa tidak nyaman dari dalam perutnya membuat Sarah semakin engan untuk terlibat obrolan lebih jauh dengan Sean. Sean hanya melirik sekilas lalu tersenyum sangat tipis bahkan sarah pun tak bisa melihat senyumannya.
Sarah kembali fokus mengerjakan pekerjaannya yang harus selesai malam ini, karena semua pekerjaan ini akan dia laporkan pada Danira besok pagi. Sarah menyeruput kopi yang diberikan Sean tadi, sesekali melirik kearah sofa dimana tempat Sean berada.
Didalam ruangan itu tak ada obrolan apapun, hanya dentingan jam yang terdengar nyaring. Sean yang memang merasa tubuhnya telah lelah bekerja, perlahan memejamkan matanya, niat hati hanya ingin menghindari kontak mata pada Sarah, dia malah benar-benar tertidur dalam posisi duduk, tangan terlipat didepan dada. Garis wajahnya terlihat jelas bila dia benar-benar kelelahan. Tanpa Sean sadari, dia mengeluarkan suara dengkuran yang cukup keras.
Apa dia sangat lelah, sampai-sampai mendengkur seperti itu. Batin Sarah melihat Sean yang tertidur disana.
Ah biarkan saja, itu bukan urusan saya. Lelah atau tidak bukankah sudah resiko dalam bekerja. Batin Sarah lagi menepis rasa kasihan pada Sean.
Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam, Sarah mengerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan hingga menimbulkan suara kretek pada tulang, tubuhnya terasa kaku bercampur pegal, apa lagi di bagian perut bawah masih terasa nyeri meski dia telah meminum obat khusus wanita yang sedang datang bulan. Sarah mematikan laptopnya, lalu merapikan kertas yang berantakan di meja, dia telah selesai mengerjakan pekerjaannya.
Sarah berjalan mendekati dimana tempat Sean yang masih dengan setia menunggunya, ada rasa tak enak hati membangunkan Sean yang terlihat sangat pulas, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan orang yang sudah rela menemaninya, meski hanya didasari dengan kata perintah. Sarah mengulurkan telunjuk kan, menyentuh lutut Sean.
" Tuan Sean..."
" Heyy..tuan Sean, bangun". Perlahan suara dingin Sarah berhasil membangunkan Sean dari alam mimpi, matanya mulai mengerjap-ejap, pandangan nya langsung menangkap sosok wanita cantik tanpa ekspresi yang tegah berdiri dihadapannya. Cukup lama Sean tertegun menikmati wajah cantik itu, dia masih mengira bila saat ini dia masih berada didalam mimpi, tapi nyatanya....
" Ayo cepat bangun, apa anda ingin tidur disini saja ?". Sean tersentak, langsung menegakkan punggungnya, mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang belum kembali secara sempurna.
" Maaf...saya ketiduran ". Cicit Sean, lalu mulai berdiri, mengembalikan ekspresinya seperti semula, datar.
__ADS_1
" Apa kamu sudah selesai ?". Sarah tak menjawab, hanya ekspresi datar yang dia berikan.
" Tuan Sean terima kasih sudah menemani saya, sekarang anda sudah bisa pulang. Anda tidak perlu mengantar saya, saya bisa pulang sendiri ". ujar Sarah dingin, Sean tak menjawab dia mulai berjalan melewati Sarah, lalu membukakan pintu.
" Ayo...!!". Sarah menautkan alisnya.
Apa Manusia ini tidak mengerti kata-kata yang aku maksud. Batin Sarah mulai kesal, namun tanpa berdebat dia langsung melangkah keluar dari pintu yang telah dibuka Sean. Mereka berdua berjalan beriringan melewati koridor ruangan yang tampak sepi dan gelap, lalu mereka masuk kedalam lift. Sean menekan tombol lantai basemen, dimana tempat kendaraan mereka terparkir.
"Apa kau lapar ?". Tanya Sean, tanpa melihat Sarah.
" Tidak ". Singkat Sarah, percakapan itupun terputus. Lagi-lagi keheningan yang lebih mendominasi.
Mereka berdua masih setia dalam kebisuan tak ada yang mengeluarkan suara, mereka berdua hanya diam dengan pikiran masing-masing. Tak berapa lama lift berhenti dan pintunya terbuka. Sean keluar lebih dulu, berjalan menuju mobilnya, lalu membuka pintu bagian lain, berbalik untuk mempersilahkan Sarah masuk, tapi hal tak terduga malah terjadi, Sarah tak berjalan mengikuti Sean, sarah berjalan menuju arah lain, dan berhenti tepat didepan sebuah motor sport berwarna merah menyala.
Melihat Sarah yang telah siap mengenakan sarung tangan dan helm membuat Sean membuang nafasnya kasar.
" Dasar wanita keras kepala, bukannya mengikuti ku malah memilih naik motor, apa dia pikir ini masih siang, dasar kepala batu..!!". Gumam Sean kesal, lalu membanting pintu mobil dengan cukup keras.
BRUG*
Suara itu masih dapat didengar oleh sarah, namun dia tak perduli, dia mengambil helm full face nya dan memakainya. Saat dia hendak menaiki motor sport itu, Sean telah lebih dulu menaiki dan duduk menguasai kemudinya. Membuat Sarah tersentak, memundurkan selangkah kakinya kebelakang.
" Hei...anda mau apa, cepat turun dari motor saya !!".
" Cepat naik, kamu mau naik sendiri atau saya paksa ". Sarah makin menunjukkan tatapan tidak sukanya, dia masih berdiri mematung, tak takut dengan ancaman Sean. Yang ada saat ini dia ingin memukuli Sean.
" Baiklah...baiklah...saya tau kamu wanita kuat dan mandiri. Kamu bisa melindungi dirimu sendiri, tapi kamu harus ingat ini sudah terlalu malam bagi seorang wanita pulang sendirian, akan sangat berbahaya. Bagaimana bila ada sesuatu dijalan sana, apa lagi wajahmu sejak tadi terlihat sangat pucat. Bagaimana bila kamu pingsan atau terjatuh dijalan, Jagan terlalu keras kepala ". Ujar Sean pajang lebar, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Sarah yang terkadang meringis menahan sakit. Sean ingin sekali menanyakan apakah Sarah saat ini sedang sakit, tapi lidahnya terasa keluh dan malu untuk terlihat perhatian.
Sarah tampak mencerna ucapan Sean, memang benar adanya kondisinya saat ini sedang kurang baik, rasa nyeri diarea perut bawah semakin menyiksa. Sarah menimbang-nimbang tawaran Sean, perlahan dia maju, lalu memegang pundak Sean untuk naik dan duduk tepat dibelakang Sean. Sean menyunggingkan kembali senyum tipis dibibir nya.
Entah mengapa hatinya merasa senang. Sean Tak pernah mengalami perasaan seperti ini sebelumnya, ternyata rasanya sangat menyenangkan. pikir Sean.
***
Gavino dan Danira baru saja menuruni anak tangga menuju ruang makan, dimana disana Mereka telah ditunggu oleh semua anggota keluarga yang lain.
" Kakak Gavin mengapa lama sekali, memangnya lagi mengerjakan apa sih dikamar dengan kakak ipar, kita sudah kelaparan tau, menunggu kalian berdua turun. ". Ujar Gea, yang mulai berkicau ketika Gavino telah duduk di kursinya. Gavino tak menggubris, dia hanya diam dengan tampang lemas seperti kurang darah, bahkan kini dia sedang tak berselera makan.
" Kenapa lagi dia ?". Tanya Ny. Calina pada Danira.
" Tidak apa-apa mi..!". Jawab Danira malu, mana mungkin Danira menjelaskan bila wajah suaminya seperti itu akibat gagal bercocok tanam. Pikir Danira.
" Si kutu ayam sudah tidak bertingkah lagi kan sayang ?".
" Tidak mi, kamu sudah berbaikan. Terima kasih mami ".
" Syukurlah...berarti otaknya masih bisa berpikir waras...takut dia mami mau jodoh in kamu sama yang lain ". Ujar Ny. Calina sambil tergelak. Danira hanya tersenyum mendengar guyonan sang mertua, lalu beralih melihat Khalisa yang sudah asik menikmati makan malamnya, di kursi khusus balita.
" Khali...apa makanannya enak ?". Tanya Danira lembut. Khalisa tak menjawab, karena mulutnya telah dipenuhi dengan makanan kesukaannya yaitu telur dadar dengan toping wartel, membuat pipi chubby nya semakin mengembung seperti ikan buntal. Benar-benar lucu.
" Pelan-pelan saja khali, tidak akan ada yang mengambil makanan khali ". Ujar Danira lagi, sambil mengelus kepala Khalisa. Balita itu tak menghiraukan ucapan sang bunda, dia terus saja memasukkan tiap potongan telur kedalam mulutnya. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi gemas karena tingkahnya.
Berbeda dengan Gea, Gio malah asik tersenyum-senyum malu saat Danira telah duduk tepat didepannya, bahkan wajahnya memerah ketika melihat sang kakak ipar tersenyum padanya, Gio jadi salah tingkah.
" Mata mu Gio, apa kau sudah bosan melihat isi dunia...? ".
" Apa sih kak, memangnya aku melakukan kesalahan apa ?". Balas Gio, tapi tatapannya terus tertuju pada wajah cantik Danira yang terlihat sangat segar tanpa ditutupi cadarnya, walau Danira tak menggunakan polesan makeup sedikitpun, namun kecantikannya mampu membuat tiap pasang mata jatuh hati.
Danira hanya menggunakan gamis rumahan serta kerudung pajang tanpa menutupi lagi area wajahnya. Danira tak lagi khawatir, karena Gavino telah membatasi setiap pekerja pria dilarang masuk kedalam rumah bila saat Danira tegah berada di mansion mereka.
" Kak Danira tidak lelah cantik terus ?". Ujar Gio tak perduli dengan tatapan tajam Gavino yang sejak tadi mengintimidasinya.
" Waahhh....kau benar-benar menguji kesabaran ku Gio, berhentilah menatap istriku seperti itu ". Pekik Gavino, membuat Gio semakin merenggut, sebal.
__ADS_1
" Kak Gavin kenapa sih...tidak suka sekali bila adiknya senang. Aku sedang memandang bidadari, jadi jangan nganggu aku dulu ya ...!!? " Ujar Gio semakin menjadi memancing emosi cemburu Gavino.
"GGGIIOOO...Kau...!!".
" Mas....". Suara Danira menghentikan Gavino yang siap berdiri menghampiri Gio.
" Dia menyebalkan sayang ". Rengek Gavino, bernada manja. Membuat Gea dan Gio bergidik ngeri mendengar rengekan Gavino yang sok manja, yang mana sangat jauh dari sifat asli Gavino selama ini.
" Astaga....tuhan...!!! Bisa tidak kalian damai sehari saja, mengapa kalian selalu membuat keributan. Gio berhenti memamerkan tampang seperti itu, mami geli melihatnya. Dan kau Gavino, berhentilah marah-marah sejak datang wajahmu sudah kusut seperti buntalan kain yang belum disetrika ". Gavino dan Gio sama-sama melempar tatapan tajam.
" Aku hanya tersenyum kepada Kakak ipar mi, tidak melakukan hal-hal yang aneh, memangnya aku salah ?".
"Bukannya agama kita mengajarkan tebar lah senyuman, karena senyuman sebagian dari iman". Ujar Gio membuat Ny. Calina memutar bola matanya malas.
" Iya kan kakak ipar ?". Danira hanya menjawab pertanyaan Gio dengan anggukan sambil tersenyum.
" Astaga....kakak ipar jangan teruskan !!". Ucapan Gio membuat tangan Danira yang sedang menyendok kan nasi ke piring Gavino mematung di udara.
" Jangan diteruskan ?, apanya ?". Tanya Danira bingung.
" Jangan teruskan Senyumnya, itu terlalu manis membuatku terkena diabetes melitus....".Ujar Gio melemparkan gombalannya, yang mana membuat Gavino makin kepanasan.
" Matamu meletus ". Kesal gavino. Danira hanya menggeleng-geleng kan kepalanya mendengar gombalan Gio. Danira sudah mulai terbiasa mendengar gombalan-gombalan adik iparnya ini, bahkan dilarang pun akan percuma, hanya buang-buang energi.
" Diihhh kak Gavin sirik ya, tidak bisa gombal kayak aku ya...kasian..". Ejek Gio, kuping Gavino telah berubah merah, matanya menyelang tajam dan siap memuntahkan Omelan, ditambah melihat Gio yang tertawa geli kesenangan mengejeknya.
" Ha..ha..ha..ha...ueekkk ". Mulut Gio telah tersumpal segulung sayuran segar, yang dimasukan oleh Gea, membuat Gio tersedak.
" Apa-apaan sih Gea ". Kesal Gio, mengelap matanya basah karena air mata yang tiba-tiba keluar akibat tersedak sayuran.
" Kau terlalu berisik Gio, suaramu menganggu ketenangan ku yang sedang makan ". Sungut Gea yang sudah menahan kesal mendengar kedua kakaknya yang bertengkar sejak tadi.
" Ciihh...kau seperti orang benar saja, kau juga sering membuat kegaduhan..menyebalkan sekali". Kesal Gio, mengelap mulutnya dari sayuran yang baru saja dia muntahkan.
" Memang...!!! tapi aku tidak berisik seperti mu, aku selalu menjadi gadis cantik yang baik ketika makan ".
" Weekkk...gadis cantik dari mananya sih, Ahh..!! dari truk pasir ya...Ha..ha..ha..ha". Lagi-lagi Gio menggoda Gea yang cengeng.
" Mami....Gio menyebalkan, masa aku dibilang cantik dari truk pasir ...aku tidak mau mami...!!". Rengek Gea.
" Ya...TUHANNNN....Tolong lah aku ". Ujar ny. Calina yang sejak tadi menahan geram mendengar perdebatan anak-anaknya. Semenjak kedua anak kembarnya kembali, rumah mereka tak pernah ada lagi kedamaian, selalu saja ribut bahkan dalam hal kecil sekalipun, termasuk saat ini, dimeja makan.
" Gea...Gio ..habiskan dulu makanannya, nanti dingin sudah tidak enak. Perdebatannya bisa dilanjutkan lagi nanti, sekarang biarkan mami dan yang lain menikmati makan malamnya dulu ya ". Kali ini Danira yang coba melerai pertengkaran kakak beradik itu, dan benar saja suara lembut Danira berhasil membungkam mulut si kembar rusuh, dan mengangguk serentak. Meski usia mereka tidak terlalu jauh, tapi entah mengapa Gea dan Gio seakan segan bila Danira yang telah bersuara.
Lidah mereka berdua terasa keluh untuk membantah. Gavino menyunggingkan senyuman mengejek kepada kedua adiknya yang diam secara tiba-tiba.
" Terima kasih sayang, kau memang putriku yang paling pengertian". Ny. Calina mengelus wajah Danira penuh rasa sayang, sambil mencebik kearah anak kembarnya.
" Sepertinya setelah makan malam ini selesai, aku harus menghubungi Richard ".
" Mami sakit ?". Tanya Danira, Gavino dan Gea, Gio pun ikut melihat kearah ibu mereka. Menunggu jawaban.
" Tidak sayang, mami baik-baik saja, mami hanya ingin memastikan lagi, apakah dulu saat mami melarikan mereka terjadi kesalahan ".
" Kesalahan ?".
" Iya...sepertinya anak-anak mami yang asli sengaja ditukar dengan titisan Sun Goo Kong ini ". Ujar ny. Calina yang membuat Gea dan Gio teriak kencang.
" MAMIIIIIIIIII......!!!".
......................
... Bersambung........
__ADS_1