
Mobil yang membawa Danira telah melaju dengan kecepatan sedang, banyak pasang mata dari pengendara lain yang melihat kearah kendaraan mereka, karena dibarisan mobil yang lewat, mobil yang membawa Danira yang paling mencolok dan mencuri perhatian. Bagaimana tidak, Danira menggunakan mobil Rolls Royce Boat Tail New Chapter berwarna Rose gold yang hanya ada 3 unit didunia.
Tak berapa lama 13 mobil mewah itu berhenti digedung pencakar langit Garayudha Company. Mobil Danira yang berada dibarisan tegah, dihimpit oleh 6 buah mobil berwarna hitam didepan dan 6 buah mobil warna hitam dibelakang berhenti tepat didepan pintu lobby.
Serentak semua pintu mobil berwarna hitam terbuka, pria-pria bertubuh besar berpakaian jas serba hitam, dengan logo RA Group di jas mereka keluar lalu membentuk barisan pengamanan bagi pimpinan mereka. Semua orang yang ada disana dibuat takjub sekaligus takut diwaktu yang bersamaan, bahkan semua penghuni gedung pencakar langit itupun turut keluar melihat siapakah yang datang dengan rombongan mobil sebanyak ini. Biasanya hanya Pimpinan mereka yang bisa melakukan hal semacam ini, namun kali ini berbeda, ada pihak lain yang lebih menarik, terutama mobil berwana cantik dibawah sana.
Gavino telah berdiri ditegah bangunan yang dikelilingi dengan tembok yang terbuat dari kaca, dia siap menyambut tamu agungnya, yang sebentar lagi akan akan tinggal nama. pikir gavino. Namun dia sedikit terkejut melihat banyaknya pimpinan RA Group membawa pasukan keamanan, Gavino melirik kearah jam 12 dia tersenyum miring ketika melihat semua rencananya telah tersusun rapi. Kini dia tinggal menunggu yang sudah lama dinanti keluar, menghampirinya.
Saatnya menuntaskan dendam. Batin Gavino, tersenyum sinis.
" Sarah apa harus seperti ini ..?". Tanya Danira, yang merasa terlalu berlebihan membawa pasukan keamanan.
" Harus nona...., coba anda perhatikan ini. Ini adalah sinyal bahwa gedung ini sudah dipasang senjata api dibeberapa titik ". Danira melihat tab yang ada ditangan Sarah, disana ada sekitar 5 titik berwarna merah menyala berkedip-kedip, Danira mengalihkan tatapannya kearah atas, samar-samar danira dapat melihat bahwa sudah ada seseorang yang telah stand by menembakkan timah panas ditangannya. Danira menghela nafas panjang.
Haruskah kita seperti ini mas. Batin Danira.
" Sarah berjanjilah padaku, jangan sampai kau melukainya ". Sarah hanya diam, dia tak bisa menjanjikan apapun pada Danira, bila Gavino berbuat nekat.
Danira memasang niqabnya, lalu memasang kaca mata hitam menutupi mata indahnya. Sarah keluar dari belakang kemudi, memutar mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Danira. Danira mulai mengatur detakan jantungnya yang entah mengapa menjadi tak beraturan, dan mengatur emosinya. Dia datang bukan sebagai istri, melaikan rekan bisnis. benak Danira.
" Bismillah....". Ucap Danira, mengeluarkan kakinya yang ditutupi sepatu heels boot hitam, senada dengan gamis panjang yang dia kenakan. Danira keluar dari dalam mobil, dan saat itu juga hembusan angin seakan ikut menyambut kedatangannya, membuat pakaian panjang yang dia kenakan ikut bergoyang-goyang mengikuti irama angin.
Danira melihat bangunan yang menjulang tinggi dihadapannya. Dulu waktu pertama kali dia datang kesini, sebagai istri yang tidak diharapkan oleh Gavino, dan sekarang dia datang untuk kedua kalinya tapi tidak membawa title seorang istri, melaikan lawan bisnis.
Danira mulai melangkahkan kakinya, pintu lobby pun terbuka secara otomatis, saat itu juga semua pengawal bertubuh tegap dan besar ikut berbaris disamping kiri, kanan dan belakang Danira, mereka telah menggunakan jas anti peluru, dan ditelinga mereka sudah terpasang headset Handsfree HT yang bisa menghubungkan mereka ke team yang berjauhan. Tak lupa kaca mata yang bisa mendeteksi senjata api dari jarak jauh.
Gavino berdiri dengan tangan sebelah masuk kedalam saku celana, dan sebelahnya lagi dibiarkan saja diluar. Dibelakangnya sudah berdiri pengawal setia yang tak lain adalah Sean. Gavino menatap lurus kearah pintu lobby yang telah terbuka, dia menampilkan wajah sombong dan senyum sinis samar dibibirnya. Namun Gavino mulai menajamkan penglihatannya ketika mulai menyadari siapa yang datang. Gavino melihat kesisi lain, mencari keberadaan yang yang dia benci, tapi Gavino tak menemukannya malah yang semakin mendekat adalah wanita yang paling dia cintai, yang anehnya lagi wanita itu berjalan dikelilingi oleh pengawalan yang ketat dan disamping kanannya Sarah si tangan kanan pimpinan Radenayu Group.
Aura Danira sangat kuat, membuat banyak pasang mata tertarik untuk melihatnya. Danira melirikkan matanya keatas melihat banyaknya orang-orang melihat kearah mereka. Danira kembali menatap lurus kedepan, dia melihat Gavino.
TRIG**
Alarm dijam Sean berbunyi, menandakan sesuatu yang dia tunggu selama ini terbuka. Sean mengeluarkan Tab nya, menekan notifikasi yang masuk.
BAM**
Mata Sean terbelalak melihat informasi yang tertera dilayar tab nya. Dia mengangkat kepalanya melihat kearah pimpinan RA Group yang masih berjalan kearah mereka. Sean maju mendekat pada Gavino.
" Tuan....". Sean menyodorkan Tab dari tangannya kehadapan Gavino, hal itu membuat Gavino menarik pandangannya.
DEG*
Gavino langsung merebut Tab dari tangan Sean membaca berulang-ulang kali data yang tertera dilayar tab. Matanya bergerak kekanan dan kekiri, memastikan semua yang dia lihat tidak benar. Disaat Gavino masih fokus dengan informasi yang ada ditangannya, Danira telah berdiri tepat dihadapannya.
" Assalamualaikum...... Tuan Gavino ".
DUAR**
Gavino mengenali suara ini, suara yang paling dia sukai, suara yang menyejukkan hatinya, suara yang selalu membuat Gavino merasa damai. Gavino langsung menarik pandangannya melihat kearah asal suara. Gavino terdiam membeku, tak menjawab ucapan salam Danira.
Danira membuka kaca mata hitam yang bertengger diwajahnya, mata indah itu langsung menatap netra pria yang terlihat Syok dihadapannya.
" Perkenalkan Saya Sandanira Batara Putri dari Bapak Batara, pimpinan perusahaan Kencana Company yang kini telah berubah nama menjadi Radenayu Group ". Danira mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam kepada Gavino. Gavino terdiam, matanya menajam merah, dia mengepalkan tangannya, rahang mengeras, jantung Gavino berdegup kencang, lalu beralih melihat tangan yang terulur dihadapannya.
~TEK**
Para pengawal Danira dapat mendengar suara pelatuk senapan mulai ditarik meski jaraknya cukup jauh.
BRUK**
BRUK**
BRUK**
__ADS_1
Hentakan sepatu terdengar nyaring, Para pengawal itu mengambil posisi membelakangi Danira, menarik senapan panjang didepan dada mereka, lalu mengarahkannya ke beberapa titik yang yang mereka lihat dari balik kaca mata pendeteksi itu.
Bisik-bisik makin terdengar jelas, banyak yang mulai ketakutan melihat CEO mereka ditodong oleh banyaknya senjata mematikan.
^^^" Apa yang terjadi, mengapa orang-orang itu mengarahkan senjata kepada tuan Gavino ".^^^
^^^" Coba lihat, pria itu mengarahkan senapannya keatas gedung ".^^^
^^^" Bukankah itu istri tuan Gavino, yang dulu pernah datang kesini ".^^^
^^^" Masa sih ?, tapi kenapa dia datang membawa senjata api, apa lagi orang-orang itu terkesan melindunginya dari tuan Gavino ".^^^
^^^" Hei...hei coba lihat ini ". Seseorang karyawan berlari mendekati kerumunan teman-temannya yang ada dilantai atas.^^^
^^^" Apa ?".^^^
^^^" Lihatlah berita ini, berita tentang pimpinan Radenayu Group. Data pribadinya telah terbuka ".^^^
^^^" Benarkah, mana aku mau lihat ". Mereka mengeluarkan ponsel masing-masing, mulai membaca News Line yang membuming pagi ini. Berbagai macam berita online mulai mengeluarkan Headline Tetang data diri dari pimpinan Radenayu Group, yang selama ini tidak diketahui halayak umum. Berita itupun menjadi trending topik hanya dalam beberapa menit setelah diipublikkan.^^^
...News Line...
...Terbaru !! Ternyata selama ini Pimpinan dari RA Group seorang wanita bercadar....
...Masyaallah...Wanita muda bercadar ini ternyata pimpinan dari Radenayu Group, perusahaan terbesar ke-2 di Indonesia....
...Ter Update...
...Berikut data diri dari pimpinan Radenayu Group yang selama ini menutupi diri dari publik....
...Nama masa kecil : Sandanira Batara...
...Nama Asli : Sasmaya Anak Agung Jandanira Radenayu Brahmacari...
...Putri dari : Tuan Batara, atau Sultan Agung Adiwilaga Batara Brahmacari....
...Pewaris tunggal Dari perusahaan Kencana Company yang kini berganti menjadi Radenayu Group. Dan Pewaris Sah penerus tahta dari kerajaan kekeratonan Samudra Brahmacari, kerajaan terbesar di pulau Jawa....
...Menurut Informasi yang beredar selama ini, putri Sandanira telah meninggal dunia diusia 9 tahun. Tapi hari ini sungguh mengejutkan halayak. Bagaimana tidak, Dia datang membuka segala tanda tanya yang melekat di kepala seluruh masyarakat, dia masih hidup. Namun sampai saat ini, belum diketahui pasti mengapa keluarga sang putri memalsukan identitas kematiannya. Kita tunggu saja informasi kebenarannya.......
^^^" Astaga....jadi dia penerus yang sebenarnya ?".^^^
^^^" Ya ampun, aku tak menyangka di masih hidup ".^^^
^^^" Ck..CK..CK..ternyata dia sultan guys, masih muda sudah menjadi ratu. Aduhh...aku jadi penasaran ingin melihat wajahnya. Coba lihat bola matanya saja cantik sekali, apa lagi wajahnya ".^^^
^^^" Iya.."^^^
^^^" Iya aku setujuh ".^^^
^^^" Iya kau benar,..wah beruntung sekali yang bisa mendapatkan dia ".^^^
^^^" Bukankah dia sudah menikah ?".^^^
^^^" Benarkah ?, dengan siapa ?".^^^
^^^" Ada berita yang mengatakan bila dia istri dari Raja Bisnis Asia. Pemilik dari Garayudha Company ".^^^
^^^" Hah ??., wah..wah..wah, mengapa orang kaya selalu mendapatkan pasangan yang sama-sama kaya sih. ini tidak adil sekali ".^^^
^^^" Beruntung sekali pria itu, bisa menikahinya. Bayangkan saja berapa besar kekuasaan yang dia miliki, bahkan lebih besar dari kekuasaan yang pria itu miliki sekarang ".^^^
^^^" Ya kau benar".^^^
__ADS_1
Sahut-sahutan dari berbagai macam kalangan masyarakat mulai memenuhi laman komentar disosial media maupun di dunia nyata. Berita ini benar-benar menggemparkan jangat raya. Terutama rakyat kerajaan, banyak dari mereka menangis membaca berita yang tersebar, ada yang sampai sujud syukur ketika mengetahui keturunan dari raja sebelumnya masih hidup, terutama para tetua mereka sangat senang dan tak sabar ingin melihat keturunan dari kekeratonan Brahmacari.
***
Di gedung Garayudha Company, Gavino masih menatap Danira tajam dengan tanda tanya memenuhi isi kepalanya. Melihat Gavino tak menerima uluran tangannya, Danira menarik kembali tangannya lalu membalas Tatapan Gavino.
" Saya yakin anda mengenal nama Ayah saya bukan ?". Ketika Danira mengatakan itu, sorot kebencian tercetak jelas dimata Gavino.
" Saya minta maaf, telah membuat tuan Gavino menunggu pertemuan ini terlalu lama, saya tau Anda begitu menunggu pertemuan ini bukan ? Saya juga ingin meluruskan beberapa kesalahpahaman yang terjadi diantara anda dan ayah saya ".
DOR*
Satu tembakan dari Sniper Gavino yang ada diatas gedung, meluncur kearah Danira. Untung saja para pengawal Danira cepat sigap melindungi pimpinan mereka dengan melingkari tubuh Danira, hingga tembakan itu melesat kearah dada pengawal. Gavino tersentak, langsung melihat kearah snipernya. Gavino ingin mendekati Danira, namun beberapa senjata telah mengarah kepadanya, termasuk Sarah yang berdiri tepat didepan Danira mengarahkan pistol kearah Kepala Gavino.
"SEAN...HENTIKAN MEREKA ". teriak Gavino, Sean langsung mengangkat tangannya, mengatakan sesuatu, dibalik pergelangan tangannya. Gavino memiringkan sedikit kepalanya supaya bisa memastikan Danira baik-baik saja.
" Mereka sudah pergi tuan ". Ucap Sean memberitahu.
" Sam, kau tidak apa-apa?". Tanya Danira pada pengawalnya.
" Tidak apa-apa nona ". Sam menepuk baju anti peluru ditubuhnya. Danira memejamkan matanya sejenak, jantung Danira terasa akan lepas dari rongganya ketika mendengar suara tembakan yang nyaring mengarah kepadanya. Danira membuka matanya, kemudian melihat Gavino yang masih tak bergerak ditempatnya dengan raut cemas.
" Sarah...!!". panggil Danira, Sarah yang mengerti langsung meminta semua anak buahnya menurunkan senjata.
" Turunkan ". Titah Sarah. Semua pengawalpun menurunkan senjata mereka dan membuka formasi perlindungan bagi Danira, kini mereka kembali keposisi awal. berdiri dengan tegap.
" Tuan Gavino sepertinya sambutan anda untuk kedatangan saya sangat meriah dan disiapkan secara matang, saya sangat tersanjung ". Ucap Danira datar. Gavino tetap diam, dia tak mengalihkan tatapannya dari Danira. Dia merasa istrinya berbeda.
" Apakah kita akan membahas masalah bisnis ini, dengan gencatan senjata tuan..Ga.vi.no...!!". Tekan Danira datar.
" Sean...bawa tamu kita masuk ". Ujar Gavino, berlalu pergi terlebih dahulu meninggalkan Danira dan rombongannya.
" Mari Nyonya...".Sean memberi jalan. Danira mengikuti langkah Sean, menujuh ruang meeting. Gavino yang telah lebih dulu berada didalam sana, duduk dikursi utama, menoleh melihat pintu terbuka. Pandangannya tak pernah beralih dari Danira yang baru masuk, dia terus mengamati bagaimana cara Danira dudul dengan anggun, dan berwibawah.
Ingatan Gavino langsung kembali mundur, dia mengingat tentang informasi kematian anak dari orang yang dia benci di usia 9 tahun dari Sean. Black Card yang selalu Danira tolak, Sarah yang selalu melindunginya, banyaknya pengawal yang berkeliaran disekitar Danira, Ucapan Oma dan sang mami, hingga tatapan Danira ketika melihat berita tentang perebutaan Shen-Shen Galery dan Shen Diamond. Semua itu berputar-putar dikepala Gavino. Dia masih tak mempercayai semua ini, pikiran Gavino masih mengawang diudara.
" Tuan Gavino ".
" Tuan, apa anda bisa mendengar saya...". panggil Danira ulang, yang sejak tadi telah berbicara panjang lebar, namun Gavino seakan terjebak dalam pikirannya sendiri.
" Heemmm...!!" Gavino hanya menanggapi dengan deheman, membenarkan posisi duduknya, lalu mengalihkan pandangannya kelayar proyektor.
" Sarah...". Danira memberikan kode agar Sarah memberikan dokumen itu pada gavino, sarahpun mengangguk lalu memberikannya pada Sean. Gavino melirik dokumen itu.
" Tuan Gavino, seperti yang saya katakan tadi bahwa saya datang kesini bermaksud ingin menanyakan beberapa hal kepada anda ". Gavino hanya menanggapi dengan mengangguk kecil.
" Yang pertama, saya sudah tau sejak lama bila team management anda sering kali membuat ulah dengan menyebarkan isu miring terhadap beberapa perusahaan dan Resort-resort saya yang ada dibali dan daerah lain, dampak dari hal itu kami mengalami kerugian yang sangat besar. Namun saya masih memilih diam, selagi anda tidak membahayakan nyawa karyawan-karyawan saya ".
" Yang kedua, prihal Desain produk anda yang dijual oleh oknum yang tidak bertanggung jawab kepada perusahaan saya. Sejujurnya itu bukan kesalahan saya, tapi tidak apa saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas keteledoran team kami yang tidak memastikan detail perancangnya ".
" Yang ketiga, saya juga sudah mendengar prihal anda mengalihkan villa disamarinda, atas nama anda, tanpa mengkonfirmasikan dulu kepada team kami. Sebenarnya ini sudah termasuk menyalahi perjanjian antara ayah saya dengan ayah anda dahulu, tapi itu pun tak masalah bagi saya. Karena villa itu dibangun untuk mengeratkan jalinan kerjasama mereka, makanya villa itu tidak memiliki pemilik yang sah, tapi bila anda menginginkannya silahkan, insyaallah Alm. Ayah sayapun telah mengikhlaskannya ".
" Dan yang ke empat.....!!!". Danira menghentikan sejenak ucapannya, menarik nafas dalam, mengatur emosi yang ingin keluar. Lalu menatap Gavino dingin. Sehingga membuat ruangan itu terasa mencekam.
" Sesuai dengan perjanjian yang tertera, anda tidak boleh mengambil saham lebih dari 50%, tapi mengapa anda berbuat curang dengan memaksa tuan Liu menjualnya kepada anda, dan anda juga mengancam semua investor untuk berhenti memberikan bantuan dalam pembangunan yayasan itu, bukankah Anda sendiri tau itu adalah proyek amal yang diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan Khusus, yatim piatu dan kaum Dhuafa. namun mengapa anda ingin menarik semua saham anda dan melakukan kelicikan tak bermoral seperti ini ? ".
" Bila anda memiliki dendam atau membenci saya, setidaknya tidak melibatkan kehidupan orang lain, tidak mengusik kehidupan anak-anak yang membutuhkan tempat berlindung. Apakah hati anda sudah sangat tertutup untuk saling berbagi dan membantu mereka?, atau memang begini cara berfikir seorang pembisnis terbesar di negri ini ?". Keluar sudah kekesalan Danira, dia mengungkapkan semua kegeraman yang dia pendam pada Gavino.
Deg*
Ucapan Danira benar-benar menusuk Gavino, hingga membuat Gavino tak berkutik. Ini pertama kalinya dalam sejarah, Gavino tak menyanggah atau mengeluarkan sepatah katapun kepada rekan bisnisnya. Biasanya, bila ada rekan bisnis yang menyinggung atau tak sesuai dengan prinsip Gavino, maka orang itu akan langsung diusir atau Gavino langsung memutuskan kerja sama mereka, tanpa dia harus mendegarkan penjelasan panjang lebar mereka seperti yang Danira lakukan saat ini. Namun kali ini berbeda, meski sorot matanya tak beralih dari Danira, tapi bibirnya tak bisa mengeluarkan suara barang sedikitpun. Gavino mendadak bisu.
Gavino benar-benar tak mengenali Danira yang duduk dihadapannya saat ini, aura kepemimpinan yang sangat kuat terpancar jelas dari sorot mata indahnya. Tatapan yang biasanya teduh dan hangat, hari ini Gavino tak menemukannya disana, yang ada hanya ketegasan. Kemudian dari cara Danira menjelaskan setiap detail komplainannya kepada Gavino, Danira benar-benar berbeda. Begitupun dengan Sean, dia terperangah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ny. mudanya. Mereka masih tak menyangka seorang Danira yang mereka kenal lemah lembut, adalah orang yang sangat berkuasa.
__ADS_1
......................
...Bersambung........