
Jalanan tampak lengang, mungkin karena ini hari Minggu jadi pengguna jalan tidak terlalu ramai. Mobil yang membawa Danira melaju dengan sedang, Danira telah memberikan alamat yang dituliskan oleh Gavino kepada supir Taksi. Tak lama Taksi itu berhenti dipekarangan yang sangat terlihat kumuh dan kotor.
" Nona kita sudah sampai ". ucap supir Taksi memberitahu.
" Bapak yakin ini alamatnya". Tanya Danira memastikan, tidak mungkin rumah utama keluarga Gavino disini pikir Danira.
" Benar Nona, ini sudah sangat sesuai dengan yang ada di Google map". jelas sang supir.
" Danira turun dari dalam mobil, sambil menggendong Khalisa, Bik Marni membantu supir menurunkan koper-koper mereka dari dalam bagasi. Setelah Danira memberikan uang, supir taksi itu mengucapkan terima kasih lalu melaju pergi meninggalkan Danira.
Danira melihat sekeliling, kotor dan bau. terpampang jelas, plang bertuliskan ' Tempat Pembuangan Sampah'. Berjarak sekitar 20 meter, Danira bisa melihat 1 buah rumah.
" Non...nona yakin ini alamatnya ?". Tanya bik Marni yang sedari tadi diam mengamati sekeliling.
" Entah lah bik, saya juga belum tau, lebih baik kita kerumah itu saja dulu, untuk memastikan". ujar Danira sambil berjalan. Danira mencocokkan nomor rumah itu dengan yang ada dikertas.
"Astaghfirullah...jadi Dia memintaku tinggal disini". Gumam Danira pelan. Bik Marni menutup hidung dan mulutnya, benar-benar tidak tahan dengan bau menyengat dari tempat itu. Danira mengamati rumah itu, benar-benar tidak layak huni. lantai pecah, kaca rumahnya juga pecah, tembok penuh dengan coret-coret cat Pilok, pintu yang terbuat dari triplek bolong, orang luar biasa melihat keadaan berdebu dan kotor didalam.
Sebuah mobil Rolls Royce hitam, berhenti tepat didepan rumah itu, Danira sudah bisa menebak siapa yang datang. Itu suaminya, Gavino turun dengan menggunakan masker diwajahnya, melambaikan tangan meminta Danira mendekat.
" Bik..Tolong jaga Khalisa sebentar ya, saya ingin menemui suami saya dulu". Danira menyerahkan Khalisa pada Bik Marni, kemudian dia melangkah dan masuk kedalam mobil mewah itu.
Gavino duduk dengan angkuh, menggunakan stelan jas berwarna Navy, wajah tampannya ditutupi dengan masker berlapis.
" Bagaimana apa kau suka rumahnya".
" Kau jangan terlalu berharap aku akan membawamu kemansion utama keluarga Pradiksa, tempat itu tidak pantas untuk wanita sepertimu. Kau lebih pantas ditempat kotor seperti ini". Ejek Gavino, tanpa melihat Danira yang duduk dibelakang. Danira masih diam, mendengarkan semua yang ingin Gavino sampaikan. " Aku datang kesini, ingin menyampaikan beberapa kesepakatan untukmu, dan semua itu harus kau patuhi". Ujarnya lagi.
" Setelah aku bisa meyakinkan mami untuk menerima Stevani, maka kau akan aku Ceraikan".
Deg*
Jantung Danira berdebar kencang, mendengar kata keramat itu diucapkan Gavino
Bagaimana bisa dengan mudahnya dia mengucapkan kata cerai. Batin Danira lirih.
" Seperti yang aku ucapkan kemarin malam padamu, kita tetap berprilaku seperti orang asing, tanpa ikut campur urusan masing-masing"
" Kau bebas melakukan apapun yang kau suka, aku tak akan melarang dan begitu juga berlaku denganmu".
__ADS_1
"Setelah kita berpisah nanti, aku akan memberikan uang kompensasi, Namun jika kau ingin uang itu lebih cepat, ajukan saja perceraian kita ke pengadilan agama dan gugat aku". Ucap Gavino dengan enteng.
" Jangan coba-coba pergi dari sini, jika bukan aku sendiri yang memintamu pergi, apa lagi mencoba mengadu pada mami, maka kau tau apa akibatnya". Ancam Gavino. Apa perlu saya tuliskan diatas kertas, agar kamu selalu mengingatnya ?".
" Apa anda sudah selesai berbicara ?, jika sudah ijinkan giliran saya untuk berbicara kepada tuan Gavino yang terhormat". Danira berbicara dengan suara yang sangat lembut namun dingin, Gavino bisa merasakan itu, Dia melirik Danira dari Spion kemudi.
" Katakanlah".
Danira mengangkat kepalanya, melihat Gavino dikaca spion itu, tangannya dilipat kedepan dada, lalu kakinya disilangkan, dan punggung menyender ke jok mobil. " Anda tidak perlu menulisnya, anda tenang saja saya masih menggingatnya dengan baik, tanpa ada kata yang kurang sedikitpun, termasuk semua perkataan anda kemarin malam.
" Bukankah kita menikah karena 2 manusia, 2 nyawa dan 2 jiwa ? Jadi tidak logis rasanya, jika hanya anda yang banyak membuat peraturan sedangkan saya hanya diwajibkan mematuhi".
" Saya tidak ada masalah dengan kesepakatan atau peraturan yang ada sebutkan tadi. Saya akan siap mengikutinya, malah dengan senang hati akan saya patuhi, tinggal ditempat seperti ini, itu bukan hal yang buruk bagi saya. Tapi jika sampai rekan-rekan bisnis anda atau keluarga dan kerabat anda sampai tau anda menepatkan saya disini apakah itu akan tetap baik-baik saja untuk nama besar anda ?".
" Mengenai uang kompensasi, saya tidak membutuhkannya sama sekali. Simpan saja uang itu untuk anda sendiri". Jelas Danira lagi. Gavino mengeraskan gerahamnya, mendengar ucapan Danira. Dia merasa sekarang Danira berbalik mengancamnya.
" Beraninya ka.....!!!
" Stop...!!!Saya belum selesai bicara. Saya tidak suka jika saya sedang bicara ucapan saya disela". Danira mengikuti bagaimana gaya Gavino, memotong ucapannya kemarin malam, dan itu sukses membuat Gavino kesal setengah mati. Dari balik kaca mata hitamnya, Gavino membolakan matanya, melotot tajam melihat Danira.
" Dan karena anda mengingatkan saya dengan semua ucapan anda kemarin malam, jadi saya ingin menyanggah beberapa pernyataan atau tuduhan anda yang tidak benar kepada saya dan anak saya".
" Yang kedua..! Saya tidak tertarik untuk tau hubungan anda dengan kekasih anda itu, mau anda menikah atau tidak dengan dia itu bukan urusan saya, saya tidak perduli".
" Mengenai saya mengginginkan harta dan kedudukan dikeluarga Pradiksa, yang anda tuduhkan kepada saya itu anda salah besar, saya tidak membutuhkan itu, tanpa andapun saya masih sanggup memenuhi kebutuhan diri saya dan anak saya". Gavino berdecih mengejek mendengar penjelasan Danira.
" Yang keempat...! saya tidak pernah bermain dukun untuk menguna-guna ibu Calina, nauzubillah, itu adalah perbuatan musyrik yang dilaknat allah, Jika akhirnya saya setujuh menikah dengan anda, itu karena ibu anda yang meminta dan memohon kepada saya agar mau menerima anda. Jadi dalam masalah kita bukan hanya anda saja yang merasa terpaksa, tapi saja juga demikian".
" Dan yang terakhir...!! saya ingin bertanya kepada anda tuan Gavino yang terhormat. Anda bisa menganggap saya wanita murahan dan memiliki anak haram dari mana ? apakah anda sudah mengenal saya dengan baik, saya rasa tidak. Sejauh mana anda tau tentang diri saya, hingga anda bisa melemparkan fitnah seperti itu kepada saya?". Gavino melihat Danira dari kaca, mendengar pertanyaan Danira membuat Gavino berfikir, Danira benar sejauh dia mencari tau tentang Danira, dia tidak menemukan apapun. Dia hanya mengutarakan gosip yang beredar di pekarangan tetangga tempat Danira tinggal.
" Anda tidak berhak mengatakan jika Khalisa anak haram, tidak ada anak haram yang lahir di dunia ini, walaupun Anak itu terlahir dari orang tua tanpa ada ikatan pernikahan. Itu adalah kesalahan orang tuanya, bukan kesalahan sang anak. Tapi harus anda ingat baik-baik, Khalisa bukan anak yang seperti anda tuduhkan, Dia terlahir dari orang tua yang menikah secara sah baik itu hukum dan agama".
" Cihhh...omong kosong". Ketus Gavino.
" Tapi tidak ada gunanya juga saya menjelaskan semuanya kepada anda, bukan kah kita hanya orang asing, jadi saya tidak perlu menjelaskan apapun". Jelas Danira cuek, membuat Gavino geram, mengepal kedua tangannya.
" Ah ya...!!saya ingin menyampaikan ini, jika anda tidak mengenal saya atau tidak mengetahui apapun Tetang saya, lebih baik kunci mulut anda rapat-rapat. Agar tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untuk orang lain. Karena itu akan membuat amal shaleh anda berkurang akibat lisan anda yang terlalu menyakitkan". Ucapan monohok Danira, mampu membuat Gavino bungkam.
" Jika tidak ada lagi yang anda ingin katakan, saya turun sekarang". Ujar Danira, memegang kenop pintu mobil, ingin membukanya.
__ADS_1
" Tunggu dulu !!. Tahan Gavino, Dia mengambil dompet didalam saku celana bagian belakangnya, Dia menarik 1 buah kartu, kemudian menyerahkan kartu itu pada Danira
" Ambil ini, aku tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab, setidaknya hanya itu yang bisa aku berikan sebagai nafkah untukmu". Ujar Gavino tanpa melihat kearah Danira. Danira mengambil kartu dari tangan Gavino, lalu melihatnya Black Card.
Ini yang dia sebut tak butuh uangku, ciihh... munafik sekali. Batin Gavino, Dia tersenyum mengejek melihat Danira mengambil dan melihat kartu Black Card yang Gavino berikan.
Namun sedetik kemudian, mata gavino kembali melotot tak percaya, dengan apa yang Danira lakukan.
" Saya tidak butuh kartu ini, sudah Saya katakan Saya tidak memerlukan uang anda. Jadi lebih baik anda gunakan untuk membiayai kekasih anda saja". Danira meletakkan kartu itu diatas jok mobil.
" Kalau begitu, saya permisi turun. Masih banyak yang harus saya bereskan dirumah baru ini. Assalamualaikum". Ujar kemudian dia membuka pintu, keluar lalu menutupnya kembali tanpa menunggu sautan dari Gavino.
Melihat itu, membuat Gavino makin tak percaya. " Dia menolak kartu ini, bahkan Stevani saja mengamuk dan merajuk saat aku tak memberinya memegang kartu ini. Beraninya Dia menolak pemberianku". Batin Gavino, Dia merasa dipermalukan lagi oleh Danira.
" Lihat saja, kau akan memohon dan berlutut dihadapan ku. Meminta untuk pindah dari tempat kotor ini".
" Akan aku buat kau menyesal telah mempermalukan aku seperti ini, Hingga akhirnya kau menyerah dan mengemis meminta berpisah dariku". Gumam Gavino, dengan tatapan tajam, melihat punggung Danira menjauh, tangannya menggepal dan memukul stir mobil yang tak bersalah.
......................
...Bersambung.......
Assalamualaikum kakak-kakak Semua 😍
Bagaimana kabarnya hari ini ? semoga kalian sehat selalu ya 🤲
*
Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang selalu setia dan sudah meluangkan waktunya untuk membaca Novel ini .
Mohon tinggalkan cinta dan dukungannya dalam bentuk Like, Komen dan Vote nya yah ?
Biar author makin semangat buat ceritanya.
Jangan lupa VOTE yang banyak yah !...Agar lebih ramai yang membaca Novel ini.
Terima kasih
Saranghae ❤️
__ADS_1