CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
145. Masa lalu Stevani


__ADS_3

Di negara lain, tepatnya negara yang terkenal dengan julukan negri gajah putih. Seorang wanita meringkuk di lantai yang dingin, dengan keadaan cukup menyedihkan. Matanya terlihat bengkak dan sembab, area pipi dan bibir memerah dan diarea punggung terdapat banyaknya luka memar bekas cambukan. Dia mencoba berdiri, memegang pinggiran tempat tidur, tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara pintu kamar mandi telah dibuka, dan kaki jenjang seorang pria bertubuh kekar keluar dari dalam sana hanya menggenakan handuk yang menutupi area pinggangnya.


Pria itu berjalan kearah sofa, lalu memakai kembali pakaiannya, yang tadi dia lepas saat menggauli sekaligus menyiksa wanita itu.


Saat pria itu memasang celana jeans nya, Suara dentingan kepala gesper terdengar sangat menakutkan ditelinga sang wanita, bagaimana tidak, dia masih dapat merasakan perihnya ketika gesper yang terbuat dari kulit asli itu menyentuh punggungnya dengan sangat keras, perih.


Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang masih terdiam sambil meringis dibawah sana, dia berjalan mendekat.


" Kemari lah sayang ". Ajak si pria, berjongkok sambil mengulurkan tangannya pada Stevani. Stevani mengangkat wajahnya yang memerah, lalu melirik uluran tangan yang berada didepannya. Pria itu tersenyum menawan, menandakan bila Stevani akan baik-baik saja. Dengan gemetar, Stevani memberikan tangannya, mulai berdiri dan didudukan diatas tempat tidur.


" Apa ini sakit hmm?". Pria itu menyentuh pipi dan bibir Stevani lembut. Stevani hanya menggeleng pelan namun tatapannya mengisyaratkan bila dia sangat kesakitan.


" Dimana kau meletakkan salep untuk luka-luka mu?".


" Di tas ". Jawab Stevani cepat, pria itu bergegas berdiri mengambil tas Stevani lalu mencari benda kecil berwarna putih, kemudian dia mulai mengeluarkan isi seperti pasta gigi dan mengoleskannya di pinggir bibir Stevani dengan hati-hati ,sambil meniup nya.


" Maafkan aku...!! Aku tidak bermaksud ingin menyakitimu, tapi kau tau sendiri bukan, penyakit ini sulit untuk aku kendalikan ". Ujarnya menatap lekat mata Stevani. Pria yang bersama dengan Stevani saat ini memiliki penyakit penyimpangan seksual yang mana dia selalu melakukan hubungan dengan cara menyiksa lawan mainnya atau yang disebut dengan Sadomasokisme.


Sadomasokisme adalah salah satu bentuk penyimpangan seksual yang perilaku pelakunya mencari kepuasan dengan melakukan kekerasan terhadap diri sendiri (Masokisme) dan pasangannya sebagai pasangannya sebagai objek pemuas kebutuhan seksual (Sadisme).


Stevani memberikan senyum kaku sebagai jawaban, dia tidak tau harus menjawab apa. Jika ditanya dia tersiksa, sungguh perbuatan pria ini sangat menyiksa dan menyakiti fisiknya, namun bila ditanya apakah dia akan tetap bertahan, 'Ya' Stevani akan terus bertahan karena sudah tak memiliki pilihan lain, dia telah terikat mati oleh pria ini.


Terkadang Stevani sering membandingkan perilaku pria ini dengan Gavino. Jauh...sangat jauh berbeda. Selama mereka menjalin hubungan Gavino sangat memanjakannya, melimpahkan dengan cinta dan kelembutan. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi, Stevani tak bisa lepas begitu saja dari genggaman pria ini. Dia sudah terjerat untuk selamanya.


" Kemana saja kau kemarin, mengapa tidak menjawab panggilanku ?, kau tidak sedang bersama pria lain kan ?".


Deg*


Jantung Stevani semakin memompa cepat, bingung harus menjawab apa. Stevani tidak mungkin jujur bila beberapa hari ini dia ditahan oleh anak buah Gavino di Bali. Kalau sampai pria ini tau, bisa-bisa nyawanya hilang saat ini juga. Pikir Stevani.


Disaat Stevani sedang berpikir keras mencari alasan, tiba-tiba getaran ponsel pria itu terdengar.


DRETZZ**


Mereka berdua sama-sama mengalikan pandangan keatas nakas. Pria itu beranjak lalu menyambar ponselnya...


" Ya Istri ku...!!". Panggilan romantis nan lembut itu membuat hati Stevani berdenyut nyeri.


Apakah akan selalu seperti ini, sampai kapan aku bertahan dengan hubungan yang selalu menyiksaku. Batin Stevani lirih. Dia sadar hubungan mereka ini salah, karena selamanya Stevani hanya akan disimpan dan menjadi yang kedua.


"Hhumm...baiklah sayang, penerbanganku sekitar 2 jam lagi, aku akan segera pulang ". Ujar pria itu lagi, sambil tersenyum bahagia melirik Stevani yang sedang menunduk menahan tangis. Dia mengakhiri panggilan telponnya.


Jangan menangis Vani..bukankah kau sudah biasa diperlakukan seperti ini. Ingat kau hanya budaknya, bukankah kau sudah melewati hal seperti ini bertahun-tahun dengannya. Stevani menguatkan dirinya dalam hati.


" Aku harus pergi....!! aku sudah mentransfer sejumlah uang seperti biasa ke rekeningmu. Pergilah ke dokter yang biasa mengobati luka-luka yang ada di punggungku ". Stevani tak menjawab, dia tetap menundukkan kepalanya kian dalam. Menahan genangan air mata telah memenuhi kelopaknya.


Tanpa menunggu jawaban Stevani, pria itu menyambar jaket kulitnya, dan siap pergi meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti kemudian berbalik, berjalan mendekati Stevani lalu menundukkan setengah tubuhnya.


" Jangan melakukan kesalahan seperti kemarin lagi hhmm?, karena aku tidak suka bila panggilanku di abaikan. Kau tau peraturan hubungan kita bukan, bila aku mengatakan kau harus datang, maka saat itu juga kau harus datang, aku tidak bisa terima alasan apapun, paham ?".


" I...i..iya, maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi ".


" Dan satu lagi...!! Jangan pernah berani kau bermain api di belakangku Stevani !!". Tekannya. Membuat Stevani menelan ludahnya, lalu mengangguk gugup.


" Bagus....!!! Jadilah gadis yang pintar dan penurut ". Ujarnya sambil mengelus kepala Stevani lembut. Tanpa mengatakan apapun lagi, pria itu berjalan lalu menghilang dibalik pintu, meninggalkan Stevani seorang diri. Dia meringkuk menahan peri fisik dan sakit dalam hati.


Stevani menurunkan kedua kakinya, lalu mengambil handuk yang digunakan pria tadi, melilit tubuhnya yang tak mengenakan apapun. Dia berjalan perlahan mendekati balkon apartemen, lalu melihat kearah bawah, dimana sang pria terlihat masuk kedalam mobilnya. Dia berdiri pinggir balkon, sambil meremas ujung handuknya.


Pikiran Stevani mundur jauh ke beberapa tahun yang lalu, dia teringat penyebab dia bisa terikat dalam hubungan gila ini. Dia teringat masa dimana dia bertemu untuk pertama kalinya dengan pria yang menjadi penolongnya, hingga membuatnya jatuh cinta. Namun pria ini juga yang membuatnya tak percaya lagi tentang cinta hingga terjebak hubungan yang perlahan membunuh perasaannya.


Flashback on


12 Tahun yang lalu....


Di sekolah swasta ternama, seorang gadis polos nan lugu berseragam putih abu abu, hanya bisa terdiam saat menerima perlakuan buruk dari teman-teman di sekolahnya. Dia setiap hari selalu di bully dan menerima perlakuan yang tidak baik dari para siswa maupun dari beberapa oknum guru disana.


PYURRR**


Minuman berwarna merah membasahi baju putih abu-abunya. Stevani reflek berdiri karena terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu.


" Aakkh...siapa yang menyiram ku ?". Ujar Stevani kaget.


" Uupppss...sorry !!! Sengaja....Hahaha ". Ujar seorang gadis berambut ikal bernama Violla, sambil tertawa diikuti semua siswa yang ada di ruang kelas itu. Stevani menunduk saat tau siapa yang telah sengaja menyiramnya.


" Violla kenapa kau selalu menggangguku ?". Cicit Stevani memberanikan diri.


" Karena aku ingin, kenapa ?...kau keberatan ?, jika kau tidak suka ya tinggal keluar saja dari sekolah ini, gampang kan ". Stevani ingin sekali melawan Violla, tapi dia sadar dia tak punya power apapun, dia hanya anak seorang pemulung dan buru cuci yang hanya bernasib baik mendapatkan beasiswa di sekolah bergengsi ini. Bila dia membuat kegaduhan, bisa dipastikan beasiswa yang dia perjuangkan selama ini hilang.


" Aku tidak habis pikir, kenapa sekolah elit dan berkelas seperti ini mau menerima orang miskin dan kumuh sepertimu ".


" Iya kau benar, aku juga sering bertanya-tanya kenapa anak pemulung seperti dia bisa diterima disekolah kita ya. Sangat-sangat menjijikan, apa lagi kita harus satu kelas dengannya ". Semua siswa yang ada disana silih berganti menyindirnya, bahkan kata-kata kasar sudah seperti makanan sehari-hari bagi Stevani. Dia tak tahan, lalu memilih beranjak, ingin pergi ke toilet. Dia ingin menumpahkan segala bentuk kekesalannya disana. Namun saat dia ingin melangkah, kakinya sengaja di sandung hingga membuatnya limbung.

__ADS_1


BRUK**


Tubuh Stevani terhempas membuat kepalanya terbentur lantai.


" Heh....lain kali lihat-lihat dong kalau mau jalan ". Cibir Mia, sambil tertawa melihat Stevani yang tengkurap dilantai. Stevani segera berdiri, lalu berlari keluar dari ruang kelas, hampir tiga tahun selalu diperlakukan buruk oleh orang-orang yang ada di sekolahnya. Bahkan Stevani tak memiliki satu teman pun, orang-orang akan baik bila saat ada tugas dari guru saja, bahkan tak jarang dia diancam untuk menyelesaikan tugas-tugas siswa yang lain.


Didalam toilet Stevani menangis sejadi-jadinya, sambil membersihkan bajunya yang putih telah berubah warna menjadi merah karena ulah Violla dan teman-temannya.


Kenapa selalu aku...?kenapa harus aku yang menerima penghinaan ini?. Kenapa kehidupan sangat tidak adil, aku bahkan tidak melakukan apapun, tapi kenapa semua orang selalu merendahkan ku. Batin Stevani lirih. Stevani melihat dirinya di pantulan kaca, menyedihkan....itulah yang Stevani simpulkan untuk dirinya.


Andai aku terlahir dari keluarga kaya, pasti mereka tidak akan merudung ku seperti ini. Ini semua gara-gara Ayah dan ibu, kenapa mereka melahirkan ku dalam keadaan miskin, ayah ibu aku benci kalian.... Batin Stevani semakin menyalahkan kedua orang tua nya, dia semakin membenci kedua orang tuanya. Bagi Stevani semua perilaku buruk orang-orang disekolah karena keadaan miskin orang tuanya.


Setelah puas menangis, dia kembali kedalam kelasnya dengan pakaian yang kotor, semua mata menatapnya jijik, namun Stevani tak perduli yang dia harapkan hanya cepat-cepat lulus dari sekolah ini dan mendapatkan pekerjaan yang layak.


***


Jam pelajaran pun telah selesai, Stevani telah bersiap-siap untuk pulang, namun langkahnya terhenti oleh kelima gadis didepannya.


" Vani...!!". Stevani tertegun mendengar violla untuk pertama kali memanggilnya dengan sebutan namanya, biasanya violla selalu memanggil nya dengan sebutan gembel.


" I..i..ya...Aa.aada apa ?". Tanya nya takut-takut, dia tidak ingin dikerjai lagi.


" Vani aku dan teman-teman ku minta maaf ya, soal yang tadi pagi... sorry udah buat baju kamu jadi kotor seperti ini ". Permintaan maaf violla membuat Stevani terkejut setengah mati, dia tak percaya seorang violla anak politisi ternama mau meminta maaf padanya. Apa ini mimpi. Pikir Stevani.


" Iya Van, aku juga minta maaf ". Ujar Mia.


" Aku juga ". Mereka serentak meminta maaf kepada Stevani. Stevani tak menjawab, dia hanya diam mendengarkan permohonan maaf dari kelima wanita yang selalu membully nya.


" Oh iya...ini baju seragam baru buat kamu. Kita tau, kamu cuma punya satu seragam sekolah kan, karena tadi kita yang sudah buat baju kamu rusak, jadi ini kami ganti dengan yang baru...terima ya ". Ujar violla memberikan paper bag ke tangan Stevani.


" Ti..tidak perlu, aku tidak apa-apa. A..aaku pulang dulu ". Ujar Stevani mengembalikan paper bag nya.


" Tuh kamu belum maafin kita ".


" Aku sudah memaafkan kalian, sungguh...". Jawab Stevani cepat, dia tak ingin terlibat percakapan terlalu lama dengan Violla.


" Kalau benar begitu, berti kamu harus terima pemberian kami ". Stevani tampak ragu untuk menerimanya, namun violla dan teman-teman nya terlalu memaksa.


" Baik lah, terima kasih ". Ucap Stevani sambil menunduk.


" Oke jadi sekarang kita berteman ya, dan untuk menebus kesalahan-kesalahan kami selama ini, kami mau ajak kamu makan keluar.. Mau ya....".


" Ahh..itu tidak perlu, aku...aku...harus segera pulang sekarang. Terima kasih atas kebaikan kalian ". Tolak Stevani, dia masih merasa aneh dengan perubahan dadakan kelima wanita dihadapannya ini.


Tak berapa lama mereka sudah sampai disebuah restoran mewah dengan bangunan luas dan tinggi 4 lantai bernuansa klasik, dapat Stevani simpulkan betapa mahalnya makanan disini, dia semakin insecure.


" Ayo kita masuk ". Ajak violla, Stevani masih mematung ditempatnya semula, dia tak berani melangkah sedikitpun.


Sebaiknya aku pulang saja, tempat ini tidak cocok untukku. Lagi pula aku tidak punya uang untuk membayar makanan ditempat ini. Makan sehari-hari saja susah, lebih baik aku pergi saja. Batin Stevani berdialog sendiri.


Violla dan teman-teman nya berhenti melangka, ketika menyadari bila Stevani tak ikut masuk bersama mereka.


" Kemana dia ?".


"Masih diluar kali ". Jawab Mira.


" Sial...dasar udik gembel, diajak makan enak aja susah sekali ". Kesal Violla lalu berjalan lagi keluar mencari Stevani.


Stevani telah memutar tubuhnya siap pergi, namun langkahnya terhenti tatkala suara Violla berteriak memanggil namanya.


" Stevani...kamu mau kemana ?".


" Vio sepertinya aku pulang saja, tempat ini tidak cocok untukku. Maaf aku tidak bisa gabung dengan kalian. Sekali lagi terima kasih atas ajakannya ". Ujar Stevani menolak.


" Udah kamu tidak perlu khawatir masalah pembayarannya, nanti semua aku yang bayar, kamu tinggal duduk makan yang banyak, tidak perlu cemas...Ayo ".


" Tapi...!!!". Violla telah menarik tangan Stevani, mengajaknya masuk kedalam bangunan restoran itu, lalu mereka duduk di kursi yang berada tepat di tengah-tengah ruangan. Suara lantunan saksofon terdengar sangat merdu ditelinga. Stevani mengedarkan pandangannya kesemua sisi ruangan, benar-benar mewah dan indah. Ini pertama kali dalam hidupnya masuk ketempat seperti ini.


Stevani membelalakkan matanya ketika melihat, banyaknya makanan yang disajikan oleh para pelayan.


Ya ampun....mereka memesan makanan sebanyak ini. Apa mereka semua sudah gila, ini bisa untuk satu kampung. Aahhh...Stevani kau bodoh sekali, jangan lupa bila mereka anak orang kaya, sudah terbiasa makan dan membuang makan bila mereka tidak habis. Batin Stevani.


" Eehhh ...kok kamu diam saja, ayo dimakan, apa ini tidak sesuai seleramu, atau mau pesan yang lain ?".


" Ahh...tidak perlu, aku makan ini saja". Stevani menarik satu mangkuk kecil yang berisi Zuppa soup.


" Kenapa kau makan itu...!! Itu untuk hidangan penutup, lebih baik kau makan ini, ini sangat lezat...kau tau ini makanan favorit ku disini " Violla menarik piring yang berisi Wagyu beef dan Egg Benedict, makanan itu terlihat cantik dan menggugah selera.


" Makan lah... jarang-jarang loh aku sebaik ini pada orang lain, apa lagi teman baru ". Ujar violla, dan di angguki oleh keempat gadis yang lain.


" Terima kasih Vio ". Stevani mulai menikmati tiap potongan steak nya, nikmat benar-benar enak. Dia belum pernah makan makanan seenak ini, keadaan ini seperti mimpi baginya. Kelima gadis yang ada disana saling melempar senyum misterius.

__ADS_1


" Guys...aku ke toilet dulu ya ". Ujar Mia, berdiri dari duduknya.


" Aku juga ikut dong, sudah kebelet sejak tadi ". Timpal Miranda, ikut berdiri sambil membawa tasnya.


" Ehh Vio, aku ke toko buku didepan sebentar ya, ada yang harus aku beli. Kalian tunggu disini sebentar ". Ujar Nisa, Violla mengangguk kan kepalanya.


" Oh iya aku hampir lupa, mama aku tadi titip cake yang ada di samping restoran ini, aku kesana dulu ya...supaya nanti kita langsung pulang aja, tanpa kalian harus menunggu ".


" Ya..ya..ya...jangan lama-lama ". Jawab Violla, sambil melirik Stevani yang masih menikmati makanannya.


TRING**


Suara ponsel berdering kencang, membuat Violla dan Stevani kaget.


" Sorry Van, aku keluar sebentar ya, mamaku telpon..!". Ujarnya mengangkat ponsel, Stevani hanya mengangguk.


" Hallo ma....!!!". suara Violla tegah mengangkat telpon sambil berjalan menjauh dari Stevani, kini tinggal lah Stevani seorang diri dengan hidangan makanan yang masih penuh.


***


Diparkiran restoran, tepatnya didalam mobil violla beserta teman-temannya tegah tertawa terbahak-bahak, menikmati hasil dari menjahili Stevani. Mereka memang sudah merencanakan hal ini sejak beberapa Minggu yang lalu, mereka ingin lebih mempermalukan Stevani.


" Aku yakin saat ini dia tegah kebingungan didalam sana ".


" Ya kau benar Vio....dia terlalu bodoh, bisa-bisa nya dia percaya bila kita ingin berteman dengannya ..Dasar gembel bodoh ".


" Apa ini tidak terlalu keterlaluan ?". Miranda merasa kejahilan mereka kali ini terlalu berlebihan terhadap Stevani.


" Sudah...kamu tidak perlu pikirkan hal itu. Tenang saja, paling dia disuruh mencuci piring, atau tidak membersihkan bangunan ini selama 1 bulan ". Ujar Violla kembali tertawa membayangkan Stevani diomeli sekaligus dihukum oleh pemilik restoran itu.


" Ayo kita pulang....biarkan dia menikmati semua hidangannya sendiri. Sejujurnya aku ingin sekali melihat ekspresi ketakutannya...tapi aku ada janji bertemu kekasihku hari ini ".


" Hhuuuuuhhh...kau ini ". Sorak mereka pada Violla, lalu mobil BMW berwarna hitam itupun melaju meninggalkan restoran dimana Stevani masih berada didalam sana.


***


1 jam...2 jam...3 jam... Sudah berjam-jam Stevani masih menunggu Violla dan teman-temannya kembali, namun sampai waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, kelima gadis itu tak nampak batang hidungnya.


" Ya tuhan....mereka kemana ?". Gumam Stevani kian gelisah, bahkan semua makanan yang ada dimeja tak lagi dia sentuh sejak kelima gadis tadi pergi meninggalkannya.


" Ap jangan-jangan mereka.....?!!, Ya tuhan, bagaimana ini ?, siapa yang akan membayar semua ini jika Violla dan teman-temannya tidak kembali....Aahhkk, kau bodoh sekali Stevani, mengapa kau percaya kalau mereka....!!".


" Permisi, Dengan Nona Stevani ?


" Iya saya ".


"Ini Bill untuk semua pesanan anda ". Suara pria muda menghentikan dialog dalam hati Stevani. Stevani menerima bill yang diberikan pria itu lalu membukanya, dan....


Bam*


Alang ke terkejut Stevani ketika melihat angka yang tertera di kertas itu.


" I...i..ini ta..ta..tagihannya kak?".


" Benar nona ". Jawab pria itu sopan, Stevani semakin menelan ludahnya susah payah...bagaimana tidak tagihan yang tertera disana mencapai angka 25jt, tentu saja itu membuat Stevani tercengang.


" Maaf kak, saya minta waktu lagi sampai teman-teman saya yang tadi kembali ". Ujar Stevani gugup bercampur takut.


" Maaf nona, restoran ini sebentar lagi akan tutup, kami tidak mungkin menunggu hingga teman-teman yang anda maksudkan datang ".


" Saya tidak punya uang untuk membayar semua tagihan ini kak, karena yang memesan ini tadi teman-teman saya". Stevani mulai menjelaskan, dia tidak tau harus membayar pakai apa. Jangankan 25jt, 10rb pun Stevani tak punya, bahkan melihat uang 25jt pun dia belum pernah.


" Nona anda jangan bercanda ya, didaftar pemesan ini atas nama anda, bagaimana mungkin bukan anda yang memesannya ".


Deg*


Lagi-lagi Stevani terkejut dengan penuturan pegawai restoran ini, yang mengatakan bila pesanan itu atas namanya.


Jadi mereka menggunakan namaku ?. Batin Stevani tak percaya.


" Jadi...sekarang saya tidak mau tahu, anda harus membayar semua tagihan ini ". Ujar pria itu, mulai menaiki nada bicaranya.


" Tapi saya benar-benar tidak punya uang sebanyak itu kak, karena saya hanya diajak kesini ". Stevani mulai menangis. Orang-orang yang masih berada didalam restoran itu mulai melihat kearah mereka.


" Saya tidak perduli...Karen itu urusan anda, jika anda tetap menolak untuk membayar, maka kami akan membawa kasus ini ke pihak kepolisian". Ujarnya dengan nada tak bersahabat lagi, Stevani semakin menunduk takut dengan wajah telah penuh air mata.


Dia tak habis pikir mengapa Violla dan teman-temannya Setega ini padanya, Stevani menggenggam kedua tangannya erat. Hanya bisa menerima cacian dan makian dari manager beserta pegawai restoran itu, dia menyimpan semua ucapan mereka serta perbuatan Violla dan teman-temannya dalam Hati.


Merek sangat keterlaluan....aku bersumpah, suatu saat nanti aku akan membalas semua perbuatan dan hinaan mereka padaku.... Batin Stevani menyimpan dendam.


......................

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2