
Gavino sedang duduk didalam ruang meeting, dia sedang mendengarkan presentasi karyawannya mengenai progres kemajuan projek baru mereka. Gavino duduk dengan posisi badan sedikit miring kekiri, dengan tangan kiri memaku dagu dan jari telunjuk menyentuh bibirnya. Lalu tangan kanannya, berada diatas meja. Matanya melihat tajam kelayar Proyektor, memancarkan keseriusan sekaligus kekejaman. sesekali melirik orang-orang yang ada didalam ruangan. Hal itu, membuat semua karyawannya merasa takut, dan suasana didalam ruang meeting terasa lebih mencekam.
" Mengapa kau kaku sekali, apa kau tidak pernah persentasi sebelumnya ?". Tanya Gavino, membuka suara. Membuat semuanya berwaspada, bila tiba-tiba Gavino berubah marah seperti biasanya.
" Sa..saya, sudah sering persentasi tuan ". Jawab Sam, menundukkan kepalanya.
" Jika sudah sering, kenapa persentasinya kacau seperti ini. Aku bahkan tidak mendengar dengan jelas apa yang kau ucapkan. karena suaramu terlalu kecil. dan juga yang mengetik laporan ini siapa ?". Tanya Gavino, berbicara dengan nada yang membuat orang-orang merinding.
" Sa..sa..saya tuan ". Seorang karyawan wanita mengangkat tangannya, Gavino meliriknya sekilas, lalu....
Plakk *
Gavino melepar map yang berisi laporan yang dibuat wanita itu, dan tepat mengenai wajah karyawannya.
" Apa begini caramu bekerja hah ?, bahkan mengetik pun masih ada kata-kata yang salah. Apa kau tidak bisa mengetik laporan dengan benar ?". Teriak Gavino, membuat karyawan wanita menunduk gemetar. matanya telah berkaca-kaca ingin menangis.
"Mengapa Team kalian kerjanya tidak ada yang becus ". Pekik Gavino lagi.
Disaat Gavino masih terus berteriak memarahi karyawan - karyawan nya, ponselnya yang terletak diatas meja mengeluarkan suara tanda pesan masuk.
Tring*
Tring*
Gavino ingin mengabaikan, namun matanya menangkap nama pengirim pesan ' Om Richard '. Gavino berfikir, mungkin pesan ini menyangkut kabar Danira yang masih berada dirumah sakit. Gavino menyambar ponselnya, kemudian membuka pesan yang dikirimkan Dr. Richard dengan caption ' Hati - hati mas Bro, saingan makin merapat, penikungan semakin dekat '. Dan....
Bum *
Mata Gavino membesar, hatinya terasa panas padahal ruangan telah full AC, rahangnya mengeras dengan mata memerah. Gavino marah, dia mengepalkan tangannya, melihat foto Doni yang sedang memberikan buket mawar merah kepada Danira.
BRAK*
Gavino menuju meja, gebrakan itu mengejutkan seisi ruang meeting. Semua karyawan bergidik Ngeri melihat kemarahan Gavino semakin menjadi. " BANGSAT.....BERANINYA DIA ". Pekik Gavino. Sean menautkan alisnya bingung melihat perubahan emosi tuannya.
" SEAN....kita pergi sekarang ". Titahnya, tanpa memperdulikan meeting yang sedang berlangsung. Semua yang ada disana saling Padang dan berbisik-bisik. Ada rasa lega karena Gavino telah pergi, ada juga rasa penasaran, apa yang menyebabkan tuan mereka mengamuk hingga lebih mengerikan dari biasanya.
" Kenapa tuan Gavino mengerikan sekali, bila sedang marah ?". Tanya Karyawan wanita yang dimarahi Gavino tadi.
" Dia diam saja menyeramkan, apa lagi marah seperti tadi". Timpal Yang lainnya.
" Kira-kira, apa ya. Yang membuat tuan Gavino marah Hinga sebegitunya ?".
" Entahlah....!! kita tidak bisa menebak karakternya, karena moodnya mudah berubah-ubah. Yang jelas kali ini kita selamat, karena ada waktu bagi kita untuk memperbaiki laporan ini ". Ujar Sam, kepada teamnya. Dan disetujui dengan anggukan kepala mereka serentak.
*
" Kita mau kemana Tuan ?". Tanya Sean, setelah mereka masuk kedalam mobil Rolls Royce Gavino.
" Kerumah sakit ". Jawab Gavino singkat. Tanpa bertanya lagi, Sean langsung menyalakan mobil, dan menginjak pedal gas. Sesekali Sean melirik tuannya dari kaca spion kemudi.
Apa yang sebenarnya terjadi ?, mengapa tuan kelihatan sangat marah setelah melihat pesan di ponselnya. Apa ini menyangkut Nyonya muda. Batin Sean, mulai menerka-nerka.
" Lebih cepat, bila perlu tekan gasnya hingga full. Kau membawa mobil seperti siput saja ". Ketus Gavino bersungut-sungut, melampirkan amarahnya kesemua orang. Sean bergeming, dia tak akan mengikuti keinginan emosi Gavino. Sean tetap harus memikirkan keselamatan tuannya.
" SEAN...!! apa kau tidak bisa lebih cepat lagi hah ?". Gavino berteriak didalam mobilnya, dia benar-benar kesal karena Sean terlalu banyak berhenti.
__ADS_1
" Maaf tuan, jalanannya macet. Saya tidak bisa terus mengebut, bisa-bisa Nyawa anda dan saya yang melayang ". Jawab Sean, yang juga geram karena Gavino memarahinya tanpa sebab dan alasan yang jelas. Mata Gavino melihat keluar jendela, dan benar saja barisan mobil pribadi dan Truk telah berjejer panjang, ditambah sepeda motor yang menyelip sana sini.
" Aaahhhhh sial...!!! Kenapa mesti macet sekarang. Pasti si Brengsek itu, sedang menikmati kebersamaan dengan istriku ". umpat Gavino kencang, Gavino tak Tetang. Sean mulai paham akar permasalahan yang terjadi. Sepertinya tuan Doni datang menemui Nyonya muda. pikir Sean menebak.
Didalam mobilnya, Gavino benar-benar Gelisah, dia duduk berpindah-pindah. sebentar geser kekanan, sebentar geser kekiri, lalu beralih lagi ditegah. Sean yang melihat tingkah tuannya, hanya bisa diam dan mengumpat tuannya didalam hati. Gavino mengeluarkan ponselnya, berniat ingin menghubungi Danira,Tapi.....
" Shittt.....!! Aku bahkan tidak memiliki nomor ponselnya". Umpat Gavino, semakin kesal dan geram diwaktu bersamaan. Sean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingka tuannya. Ingin rasanya Sean berkata sesuatu, tapi Sean sudah tau jawaban apa yang akan dia terima dari tuannya bila sedang mode Emosi.
Giliran ada yang mendekati Nyonya, dia emosi. Tapi dia sendiri, gengsi mengakui perasaannya. Dasar Tuan Arogan. Sean berdialog dalam hatinya.
" Apa kau mengumpat aku didalam hatimu Sean ?".
" Tidak tuan ". Jawab Sean cepat, sekaligus tercengang karena tebakan Gavino benar.
" Jagan kau pikir, aku tidak tau kalau kau mengataiku dalam pikiranmu ". Ketus Gavino, Sean hanya bisa diam, tak ingin menjawab lagi. Apa tuan memiliki Indra ke 6 ?, atau dia salah satu sindikat pengikut aliran perdukunan yang sedang viral. pikir Sean.
Setelah hampir 25 menit terjebak kemacetan, mobil yang membawa Gavino telah berhenti tepat didepan Lobby rumah sakit. Tanpa menunggu Sean membukakan pintu, Gavino telah lebih dulu membukanya, lalu berjalan masuk dengan langkah lebar dan cepat.
Kondisi rumah sakit yang sedang ramai, membuat Gavino yang sedang berjalan menyusuri koridor, menjadi pusat perhatian. Terkhusus kaum hawa, yang bersorak dalam hati menganggumi ketampanan Gavino yang nyaris sempurna. Gavino tak memperdulikan tatapan mereka, yang jelas dia harus segera tiba diruangan istrinya. Dan ingin memberikan pelajaran istimewa untuk sahabatnya. Gavino telah berdiri didepan ruang rawat Danira.....
BRAK*
Gavino menendang pintu ruangan itu secara paksa, Danira yang sedang duduk diatas sofa sambil membaca buku, tersentak kaget.
" Astaghfirullah". Ucap Danira, dengan mata melihat kearah pintu yang telah terbuka. Memperlihatkan Gavino yang telah berdiri diambang pintu, dengan wajah memerah, dan mata setajam elang, menelisik keseluruh ruangan, Mencari seseorang. Danira mengamati gestur Gavino, yang sedang emosi.
"Dia sudah pulang". Danira melirik jam didinding, waktu menunjukkan pukul 3.45 sore.
Tumben dia cepat datang, apa terjadi sesuatu ?, atau dia marah kepadaku karena aku mengumpatnya siang tadi ?, Aahhh...!! gawat sepertinya dia marah besar. Batin Danira, merasa was-was melirik Gavino yang sedang melihat kearahnya dan mulai berjalan mendekatinya.
" Dia..? Siapa ?".
Gavino masih melihat sekeliling, matanya berhenti di buket bunga mawar merah yang ada diatas nakas, kalau Gavino mengambilnya. Dia tersenyum miring.
" Apa kau menyukai bunga pemberiannya ?". Tanya Gavino sinis, melirik Danira. Danira semakin dibuat bingung, apa yang dimaksud Gavino sebenarnya.
" Apa yang anda maksudkan tadi kak Doni ?". Danira mencoba bertanya pelan, tak ingin Gavino semakin emosi.
" KAK...!!?" Gavino mengulang kata-kata Danira.
" Kau memanggilnya dengan sebutan Kak ?".
" Iya...Bukankah dia lebih tua dari ku ?, jadi aku harus memanggilnya kak agar terlihat sopan ". Ujar Danira polos. Masih belum memahami maksud dari kemarahan Gavino.
" Lalu aku siapamu ?". Danira semakin memperdalam tautan alisnya, semakin bingung dengan pertanyaan aneh Gavino. Mengapa suaminya malah bermain tanya jawab seperti ini. pikir Danira.
Ada apa dengan pria ini, apa dia mabuk lagi. Batin Danira.
" Apa anda amnesia?". Danira balik bertanya. Gavino melihat Danira, lalu berdiri tepat didepan Danira.
" Jawab saja pertanyaanku". Ketus Gavino. Danira mencebikkan bibirnya, kesal dengan Gavino.
" Tentu saja anda suami saya, apa anda lupa ?". Jawab Danira santai.
" ANDA..!!?, kau memanggilku dengan sebutan anda, sedangkan dia kau panggil dengan sebutan KAK ?".
__ADS_1
" Kita menikah sudah hampir 3 bulan, tapi kau masih memanggilku dengan sebutan anda ?". Sungut Gavino, mata menyelang memancarkan kemarahan. Danira menatap mata Gavino, melihat ada kekecewaan disana. Danira memejamkan matanya sebentar, menekan rasa yang tiba-tiba muncul dihatinya, kemudian melihat Gavino lagi.
" Apa anda cemburu ?".
Deg *
Jantung Gavino berdetak, mendengar ucapan Danira. Menyadari sesuatu yang salah dengan hatinya. Apa benar aku cemburu padanya ?. Gavino menanyakan kepada dirinya sendiri. Secepat mukin Gavino mengalihkan pandangannya kesembarang arah, berjalan menjauh dan berdiri didepan jendela rumah sakit yang mengarah ke taman belakang.
" Kenapa anda diam ?".
Gavino memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, matanya fokus kedepan. lalu menghela nafas panjang.
" Aku tidak cemburu ".
" Aku hanya tidak ingin ada yang melihat sahabatku sedang berusaha mendekati istriku secara terang-terangan seperti ini. Apalagi ini dirumah sakit milikku, apa kata orang-orang nanti". Jelas Gavino, hati dan ucapan Gavino saling berdusta, dia mengatakan yang tidak sesuai dengan kenyataan isi hatinya.
Danira tersenyum getir, mendengar jawaban Gavino. ternyata suaminya hanya mementingkan nama baiknya saja.
" Apa maksud anda ?". Gavino melirik kesamping lalu kembali menatap kedepan.
" Doni menyukaimu...!! Dia mengatakan kepadaku kalau dia sedang berusaha memantaskan diri untukmu dan berusaha membuat kau terbiasa dengan kehadirannya".
" Apa sekarang kau juga menyukainya, setelah mengetahui perasaanya kepadamu ?". Tanya Gavino tanpa mengalihkan pandangannya. Danira melihat punggung suaminya, kaget mendengar penuturan Gavino.
" Apa menurut anda, semudah itu saya menyerahkan hati saya untuk orang lain ?, bahkan suami sayapun belum memilikinya ".
" Biar saya beri tahu apa yang terjadi disini tadi, agar anda tidak menerka yang tidak-tidak tentang saya. sebenarnya saya tidak ingin menceritakan ini kepada anda, karena saya ingin menjaga perasaan anda, apa lagi dia sahabat anda sendiri. Tapi nyatanya saya salah, hubungan kita tak ada artinya bagi anda, yang anda tau hanya untuk menjaga nama baik anda. Tenang saja, saya tau bagaimana cara menjaga kehormatan suami saya, dan saya juga sudah pintar bersandiwara untuk menjaga nama baik anda".
" Kak Doni datang memang mengungkapkan perasaannya kepada saya ". Ujar Danira, mendengar itu Gavino reflek membalikan tubuhnya melihat Danira.
Flashback on.
" Apa kamu bahagia bersama Gavino?". Tanya Doni pelan. Danira melirik Doni sekilas, lalu menundukkan pandangannya lagi.
" Kenapa kakak menanyakan hal itu ?, tentu saya bahagia bersama suami saya ".
" Kamu tidak perlu berbohong, Gavino telah menceritakan semuanya kepadaku. Dia mengatakan secepatnya kalian akan berpisah, lalu dia akan menikahi Stevani ". Nafas Danira memburu, mendengar aib rumah tangganya diketahui oleh orang lain. Danira berusaha bersikap tenang dihadapan Doni, meski hatinya tengah merutuki suaminya.
" Itu masalah rumah tangga kami, kakak tidak perlu ikut campur sejauh ini ". tegas Danira tak suka.
" Saya tau itu masalah rumah tangga kalian, tapi saya tidak rela bila kamu diperlakukan seperti ini oleh Gavino ".
" Saya menyukai kamu Danira ".
" Saya mengatakan ini hanya ingin kamu tau bagaimana perasaan saya kepada kamu. Saya juga tidak mengharapkan kamu membalas ataupun menerima perasaan saya sekarang, karena saya tau status dan posisi kamu sekarang masih istri dari sahabat saya".
" saya hanya ingin kamu tau, kalau saya disini siap menunggu kamu dan sanggup membahagiakan kamu. Saya memiliki niat yang baik, saya ingin menikahi kamu setelah kamu dan Gavino resmi bercerai".
" Kamu tidak perlu mengatakan apapun, saya hanya ingin mennggungkapkan isi hatiku, agar saya juga bisa lega dan tak memendamnya terus menerus". Jelas Doni panjang lebar.
Danira memilih diam, tak berniat mengatakan apapun, dia syok karena secara tiba-tiba mendengar ungkapan perasaan seseorang yang bukan Danira harapkan.
Flashback off.
......................
__ADS_1
...Bersambung.......