CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
45. Foto


__ADS_3

Dentuman musik disko yang memekakkan telinga, menggema kesetiap sudut ruangan diskotik. Seorang Disjocky(DJ) wanita berpakaian minim, terdapat headphone dilehernya, melompat-lompat dengan asik sambil mengangkat sebelah tangannya keatas dan satunya lagi memegang perangkat Mixer dan Controller nya. Para pengunjung Club malam Itu, bergoyang dengan asik, dilantai dance tanpa rasa canggung ataupun malu. Didalam Ruang VIP telah duduk 2 orang pria tampan, diatas meja yang ada dihadapan mereka, telah tersusun berbagai macam minuman dan cemilan, mereka berdua hanya menikmati alunan musik tanpa berniat ikut bergoyang seperti pengunjung lainnya.


" Apa Dia akan kesini ?". Tanya Doni, sambil membuka kaleng susu bear brand ditangannya.


" Eemmm, barusan aku menghubunginya, dia bilang sedang dalam perjalanan. Dia kesini bersama Stevani". Jelas Kevin memasukkan lagi ponselnya kesaku celana.


" Ciihh...dia benar-benar laki-laki tak bertanggung jawab, sudah menikah masih saja menjalin hubungan dengan wanita lain". sungut Doni sebal, Dia tak suka dengan laki-laki yang tidak setia dengan pasangan.


" sudahlah...itu urusan dia, kita tak perlu ikut campur masalah pribadinya". ujar Kevin, sambil menuangkan minuman kedalam gelas, lalu matanya menangkap sosok pria yang sedang digandeng mesrah oleh wanita sexy berbaju minim warna hitam.


" Itu mereka". Kevin memberitahu dengan cara mengangkat kedua alisnya kearah Gavino dan Stevani. Doni hanya melirik sekilas, lalu kembali asik melihat ponselnya.


Gavino langsung duduk disofa, sedangkan Stevani masih berdiri menyapa kedua sahabat Gavino. " Hai kev, apa kabar ?". Tanya Stevani basa-basi sambil mengulurkan tangannya, lalu mencondongkan setengah tubuhnya ingin melakukan cipika-cipiki, tapi Stevani malah mengecup pipi Kevin, hal itu membuat Kevin tersentak kaget dan merasa tak enak hati kepada Gavino. Kevin tersenyum canggung pada Stevani namun Stevani biasa saja. Doni yang melihat itu, memalingkan wajahnya, jijik. Gavino yang sedang memejamkan matanya, tak memperhatikan apa yang dilakukan kekasihnya. Stevani beralih melihat Doni, dan mendekat.


" Hai Don, kamu apa kabar?". Stevani ingin melakukan hal yang sama, namun Doni dengan cepat menarik tangannya yang sedang berjabat dengan tangan Stevani, Stevani sedikit mengeryitkan keningnya.


" Seperti yang kau lihat, kami Baik dan sehat". jawab Doni, kembali melihat gadget nya. Stevani duduk disamping Gavino, lalu mengambil gelas yang berisi minuman dimeja.


" Kau masih tidak suka minuman Don, sejak dulu minumanmu hanya susu bear brand saja". Stevani melemparkan gurauan, melihat Kareng susu berjejer rapi disana.


" Ya...!!aku tidak suka merusak organ tubuhku yang terlalu berharga ini". ujarnya santai, tanpa melihat lawan bicaranya.


" Apa dia masih anti dengan wanita ?". tanya Stevani kepada Kevin. Kevin hanya menjawab dengan anggukan, dia asik menikmati cemilan yang ada ditangannya.


" Honey...kenapa kau diam saja, tadi kau bilang ingin bersenang-senang disini karena merasa di penthouses berisik dengan tangisan bayi wanita itu. Tapi kenapa kau malah tidur?". Stevani mencebikkan bibirnya kesal melihat Gavino sedari datang hanya diam dengan mata terpejam. Dino dan Kevin saling berpandangan.


" Apa kau telah membawa istrimu pindah ke penthouses milikmu itu Vin?". Tanya Doni penasaran, mendengar pertanyaan Doni, Gavino membuka matanya membenarkan posisi duduknya .


"..eemmm...!! aku tidak punya cara lain, jika tidak mami akan menerorku setiap detik". ujar vino, mengambil minuma lalu meneguknya.


" Baguslah...memang seharusnya itu yang kau lakukan, tanpa harus takut dengan ibumu. Seharusnya saat ini kau berada dirumah bersama dengan istrimu, bukan dengan wanita lain". ujar Doni santai. Gavino melihat Doni bengis, dia tak suka bila ada yang ikut campur urusannya walaupun itu sahabatnya sendiri.


" Ssttt...kau ini, jangan membuat beruang itu mengamuk disini". Bisik Kevin yang mulai ngeri melihat tatapan tajam Gavino pada Doni.


" Biarkan saja, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bila dia pria sejati dia tidak akan menduakan istrinya". ketus Doni, membalas tatapan Gavino padanya. Stevani yang ada disamping Gavino, menggenggam erat gelas yang ada ditangannya, dia geram dan marah mendengar ucapan Doni. Padahal wanita itu yang merebut Gavino darinya. pikir Stevani.


" Tutup mulutmu itu, kau tak perlu ikut campur urusanku. Aku heran, mengapa kau selalu membela wanita itu, apa kau menyukainya hah?". Gavino berucap keras dengan tatapan tajam.


" Bila memang begitu, ambil saja, aku tak membutuhkan wanita buruk rupa berjubah seperti dia, yang memiliki anak tanpa ayah seperti itu". Doni dan Kevin yang mendengar kata-kata Gavino seakan tak percaya, bila sahabatnya tega merendahkan istrinya sendiri dihadapan mereka, apa lagi disana juga ada Stevani.

__ADS_1


" Jaga ucapanmu, Dia manusia bukan barang yang seenaknya saja bisa kau oper sana sini". Doni mulai tersulut emosi.


" Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu, Kau tau..., Saat ini kau sama saja mengharamkan yang halal, tapi menghalalkan yang haram". sindir Doni melihat Stevani, yang wajahnya telah memerah.


" Kau tak perlu mengajari aku, aku lebih tau segalanya darimu". Ejek Gavino, sinis. Doni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum miris. Doni berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Gavino.


" Kau ingat kata-kata ku ini baik-baik, suatu saat nanti kau akan menyesali semua ucapanmu itu, lalu kau akan menjilat ludahmu sendiri".


" Aku benar-benar kecewa kepadamu".


" Kevin aku pulang diluan". Ujar Doni, sambil berlalu pergi meninggalkan Gavino dan Stevani yang sama-sama menahan emosi. Kevin menjadi serba salah, Dia bukan membela Doni, tapi tidak juga setujuh dengan ucapan Gavino. dia dilema dengan 2 sahabatnya ini.


" Bro...aku pulang juga lah, kalian lanjut saja berdua, maafkan atas ucapan Doni tadi". ujar Kevin melirik Stevani lalu menepuk pundak Gavino sambil berjalan menjauh pergi.


" Kau dengar bukan, sahabat terbaikmu itu mengatakan apa?".


" Aku kesal padamu dan juga sahabatmu honey,...padahal aku kekasihmu, wanita itu yang datang merebutmu dariku. Tapi lihatlah, seakan-akan aku pelakornya disini". Stevani menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Hhhmmmmaahh....!! aku juga tidak tau, mengapa dia sangat membela wanita itu. kamu tidak perlu menangis seperti ini, bukankah aku tetap menjadi milikmu, jadi jangan menangis lagi..hhmm". Gavino mencoba menenangkan Stevani yang mulai sesugukan, lalu Gavino menarik Stevani kedalam pelukannya.


...****************...


Doni mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Dia benar-benar kesal kepada Gavino, rasanya Doni ingin menyumpal mulut Gavino dengan kaleng susu bear brand.


Tak lama gerbang besar itu terbuka lebar, memperlihatkan bagunan moderen 3 lantai. Doni memarkirkan mobilnya didalam garasi, turun lalu masuk kedalam rumahnya.


" Assalamualaikum". Salamnya menggema.


" Waallaikumsalam". Jawab seorang wanita, dari ruang keluarga. Doni berjalan masuk, setelah menyemprotkan cairan Disenfektan kepakaiannya, Dia melihat wanita berambut pendek sedang duduk santai sambil menonton sinetron di televisi.


" Tumben kau cepat pulang, biasanya tengah malam kau baru sampai rumah". ujar wanita itu, yang tak lain adalah kakak Doni. Doni menghempaskan tubuhnya disofa, Engan menjawab pertanyaan kakaknya.


" Ada apa, mengapa wajahmu kusut begitu. Kau habis kabur dari para gadis lagi?". ejek kalanya terkikik, lucu dengan wajah sang adik.


" Berhentilah mengejekku, aku sedang tidak ingin bercanda".Ketus Doni malas.


" Oh ya bagaimana kabar pengantin baru ?".


" Pengantin baru ? Siapa?". tanya Doni, sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


" Tuan muda arogan itu, siapa lagi kalau bukan sahabatmu Gavino. Aahh dia sangat beruntung memiliki istri yang cantiknya, masyaallah. Pasti dia sangat bahagia memiliki istri seperti Danira, bukan hanya cantik, tapi sopan santunnya aku acungi 10 jempol". Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar, seakan-akan Danira sedang ada dihadapannya. Doni mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu melihat kakaknya.


" Kakak tau dari mana ?".


" Ah kau ini, aku ini penata riasnya. Aku yang mendandani wajah indah itu, hingga aku tak berkedip. andai saja kau diluan yang bertemu dengannya". Tata melihat adiknya sinis. Doni membenarkan posisi duduknya, lalu menatap serius.


" Apa kakak yakin, dengan yang kakak ceritakan. Jangan-jangan kakak hanya memanas-manasi aku saja kan, supaya aku segera menikah juga?". tuduh Doni, tak percaya dengan cerita tata.


" Eehh manusia Disenfektan, kau pikir aku tukang kibul apa, aku mengatakan yang seyuyur-yuyurnya, dan aku juga punya buktinya".


" Mana, pasti kakak hanya mengarang cerita". pancing Doni lagi.


" Kau tunggu sebentar disini". Tata berlari ke kamar, mengambil ponselnya lalu kembali duduk disamping Doni. Tata membuka galeri di handphonenya. " Nih..lihat ini, aku tidak bohong kan. Dia benar-benar secantik bidadari". ujar Tata, menyerahkan ponselnya tepat diwajah Doni. Doni mencebikkan bibir kan kesal dengan kelakuan sang kakak, lalu mengambil ponsel itu dan melihat.


Deg*


Deg*


Jantung Doni berdetak kencang secara tiba-tiba, dia tak bisa mengedipkan matanya barang sedetik, Doni melihat secara detail foto itu, tak ada tanda-tanda editan, ini asli benar-benar asli. batin Doni, Namun tata tiba-tiba merebut ponsel itu dari tangan Doni, "kau percaya kan sekarang".


Huhh.. !!! sorak tata iseng.


" Kakak dapat fotonya dari siapa ?". tanya Doni lagi, masih penasaran.


" Sebenarnya foto ini diambil secara diam-diam, oleh Janet asistenku. Karena Danira melarang siapapun mengambil fotonya tanpa menggunakan cadar atau penutup wajahnya. Jika dia tau, saat itu Janet mengambil fotonya tanpa ijin, mungkin dia akan marah kali ya". Ujar tata menceritakan semua yang terjadi diruang rias waktu itu.


Doni hanya mengangguk-angguk mengerti " Bole aku meminta fotonya kak ?".


" Tidak bole, nanti kau jatuh cinta lagi. Ingat dia telah bersuami, dan suaminya itu adalah sahabatmu baikmu". ketus tata, menggingatkan. Mendengar penolakan dari kakaknya, Doni berdiri berlalu menaiki anak tangga, menujuh kamarnya.


" Kau mau kemana ?".


" Tidur". jawab Doni singkat, tanpa melihat tata.


" Huhh...dasar, tukang ngambek". teriak tata.


Doni tak menggubris teriakan kakaknya, dia berjalan, berhenti dan membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya kembali. Saat didalam Doni memegang dadanya, yang masih berdebar tak karuan, wajah Danira masih terbayang-bayang Dimata Doni, tak terasa Doni menyunggingkan senyuman dibibirnya.


" Masya Allah cantinya". gumam Doni, sambil tersenyum.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2