CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
65. Ndoro Agung ?


__ADS_3

Disebuah bangunan Pendopo dengan desain klasik. Terdapat ukiran-ukiran kuno disetiap tiang-tiangnya. Ditangga bagian depan sisi kanan dan kiri, terdapat dua buah patung singa berukuran cukup besar. Lalu bangunan itu dikelilingi oleh kolam ikan hias yang ditegah-tegahnya terdapat pancuran air berukuran kecil sebagai hiasan dan terdapat juga tumbuh-tumbuhan yang menambah keindahan tempat itu.


Didalam bangunan itu seorang pria tegah duduk dikursi goyang, mengenakan baju surjan dengan motif lurik bergaris coklat dan hitam. Bagian depan baju terdapat saku, dan bagian lehernya berpola shanghai. Dipadukan dengan kain jarik bermotif batik yang dililitkan di pinggang dengan panjang hingga mata kaki. Di bagian belakang diselipkan senjata berupa keris sebagai simbol ksatria. Dan iatas kepalanya bertengger belangkon.


Pria itu duduk sambil memejamkan matanya, menikmati suara gamelan dipadu dengan alat musik lainnya, menciptakan alunan yang harmoni. Seorang pria datang, dengan bagian dada polos tanpa mengenakan baju, dia hanya mengunakan celana sebatas lutut, lalu dililitkan kain batik sampai pahanya dan ditangannya terdapat pedang panjang yang diselimuti dengan sarung pedang. Pria itu berhenti, berjongkok lalu mulai berjalan mendekat menggunakan kedua lututnya. Seperti seorang pengawal kerajaan kuno.


" Salam Hormat saya Ndoro Agung ". Hormat pengawal itu, bersujud dikaki pria yang duduk dikursi goyang.


" Ada apa ?". Tanyanya dengan mata masih terpejam.


" Ada yang ingin bertemu Ndoro, mereka telah berbaris didepan ". Jawab Pengawal.


" Perintah mereka masuk ". Titahnya, pengawal itu segera bangun dari sujudnya, lalu berjalan mundur masih menggunakan lutut, jika jaraknya telah mencapai kira-kira 5 meter, barulah dia akan berdiri. Pengawal itu memanggil semua orang-orang yang telah berdiri didepan pendopo tanpa alas kaki. 5 orang pria menaiki tangga lalu berjalan mengikuti sesuai peraturan yang diterapkan disana.


"Nyuwun pangapunten Ndoro Agung". kelimanya memberi hormat dengan bersujud serentak. Ndoro Agung mengangkat tangannya, menggoyangkan jemarinya memberi kode, seketika alunan musik berhenti, para pelayan itu bubar seketika, tersisalah orang-orang yang masih dengan posisi bersimpuh di lantai.


" Katakan...apa yang ingin kalian sampaikan". Ujar pengawal tadi memberi instruksi, menunjuk satu persatu. Satu pria yang dari sisi sebelah kanan menegakkan tubuhnya, berdiri dengan kedua lututnya.


" Saya ijin melapor Ndoro Agung, sesuai dengan perintah Ndoro kemarin, saya telah datang kedesa G, meminta hasil panen mereka sebagai upeti seperti tahun sebelumnya. Namun kali ini mereka menolak Ndoro, dengan alasan gagal panen, warga desa itu tidak ingin memberikan hasil panen yang tersisa". Pria itu memberikan laporan sesuai yang dia dapatkan, pria yang dipanggil dengan sebutan Ndoro Angung mendengarkan sambil berpangku dagu.


" Eemmm..!! Jika warga desa itu masih menolak untuk membayar upeti, maka bakar saja hasil panen yang tersisa, bila perlu bakar juga lahan mereka ". Titahnya dengan lembut, namun penuh penekanan dan ancaman.


" Baik Ndoro Agung". pria itu langsung pergi setelah memberikan laporannya. Lalu pria kedua setegah berdiri, menyampaikan maksud kedatangannya.


" Mohon ijin Melapor Ndoro Agung".


" Saya sudah datang kerumah pak Slamet, meminta tanah dibagian selatan untuk dikembalikan kepada Ndoro Agung. Namun mereka menolak, bahkan mengancam akan melaporkan kepihak berwajib bila kita nekat merebut secara paksa ". Terang pria itu, dengan kepala menunduk. Ndoro Agung tersenyum miring mendengar penjelasan orang suruhannya ini.


" Biarkan mereka melapor, malah dengan begitu tanah itu akan lebih cepat menjadi milikku. Jika keluarga itu membuat kegaduhan, habisi saja tanpa meninggalkan jejak. Paham". Titahnya lagi, dengan masih seringai licik. Pengawal telah memerintahkan pria ketiga menyampaikan laporannya, tapi tiba-tiba 1 orang pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam masuk dan berdiri tepat didepan pintu pendopo, Ndoro Agung melihat pria itu datang, meminta pengawalnya membubarkan pertemuan ini dan dilanjutkan dikeesokan hari saja.


Setelah semuanya pergi, tinggallah Ndoro Agung bersama pria berseragam hitam yang telah duduk bersimpuh dihadapannya.


" Salam Hormat Ndoro Agung ". Ucapnya lalu bersujud.


" Katakan padaku, apa yang membawamu kemari, sudah lama sekali kamu tidak menghadap ". Ujarnya melihat anak buahnya tajam.


" Bangun lah, sampaikan apa maksud kedatanganmu. Ingat...!! aku tak ingin mendengar kabar yang belum pasti ". Tekannya , walaupun Ndoro Agung berbicara dengan lembut khas logat Jawa kekeratonan, namun disetiap katanya tersimpan makna-makna yang kejam, menakutkan. Pria bertubuh besar itu mulai bergidik, bila dia salah sedikit saja dalam bicaranya, maka sudah tau apa yang akan terjadi kepada hidupnya.

__ADS_1


" Baik Ndoro...Saya ijin melaporkan. Kami telah menyelidiki siapa yang membawa gadis bercadar itu pergi. Ternyata, saat kejadian malam itu, ada orang lain yang menyaksikan pembantaian yang sedang berlangsung, mereka pasangan suami istri yang baru saja pindah kerumah tepat disebelah rumah Sultan Adiwilaga. Dan pasangan itu juga yang menolong wanita hamil itu, namun sayangnya wanita hamil itu telah meninggal dunia saat melahirkan dan meninggalkan seorang bayi perempuan. Sepertinya bayi itu, telah diserahkan kepada wanita bercadar Ndoro". Ndoro Angung mengambil cerutu, lalu memasukkannya kedalam pipa rokok, dia menyalakan api dan mulai menghisapnya.


" Jadi....ada saksi mata malam itu ?".


" Benar Ndoro ".


" Eemmm...!! BODOH ". Ndoro Agung melemparkan gelas yang berisi teh panas kehadapan Pria itu, dan mengenai pahanya. Pria itu merasa kepanasan, namun tak berani bergerak, dia hanya bisa menundukkan kepalanya menahan panas yang telah berubah menjadi perih.


" Apa kalian tidak memastikan semuanya dengan teliti Hah ?, tapi sudahlah....semua sudah terjadi, apa sekarang kamu tau dimana pasangan itu dan wanita bercadar itu tinggal ?".


" Su..su..sudah Ndoro Agung, pasangan suami istri itu telah pindah kesurabaya dan gadis bercadar itu selama ini tinggal di pesantren Darul Qur'an yang terletak jauh dari perkotaan, lebih tepatnya diujung perkampungan".


" Kami sudah mendekati rumah pasangan itu, namun keluarga mereka sudah ada penjagaan ketat yang sulit ditembus Ndoro, para pengawal itu menggunakan jas hitam dengan logo RG, begitupun pondok pesantren itu, juga sudah mendapatkan penjagaan yang sama ketatnya." Jelasnya lagi.


" Saya sudah menyebarkan orang-orang kita untuk mengawasi setiap gerak-gerik mereka Ndoro".


Ha..Ha..Ha..Ha...


Ndoro Agung tertawa keras. Pria itu semakin bergidik ngeri mendengar Tawa Ndoro Agung yang menyeramkan.


" Bagaimana dengan perusahaan itu, apa orang-orang kita sudah kau masukkan kesana ?".


" Sudah Ndoro, tapi mereka belum pernah melihat pimpinan dari perusahaan itu, bahkan data dirinya pun tak ditemukan ". Jawabnya cepat. Ndoro Agung Mengangguk-angguk kan kepalanya, seperti sedang memikirkan sesuatu lalu melihat anak buahnya dengan tatapan membunuh.


" Temukan gadis itu secepatnya, tapi ingat dia harus kau dapatkan dalam keadaan hidup. Dan Jangan sampai ada yang tau tentang ini". Titahnya


" Ba..ba baik Ndoro Agung ".


" Pergilah....Jangan sampai kamu mengecewakan aku, selesaikan tugasmu dengan baik, jika tidak kamu sudah tau bukan apa akibanya!!". Ujarnya lalu mengangkat tangannya memberi kode untuk anak buahnya segera pergi. Setelah memberi penghormatan, pria itu segera berlalu pergi, tak ingin berlama-lama disana.


Namun tanpa diduga, seseorang telah berdiri dibalik dinding belakang pendopo, orang itu telah mendengar semua percakapan antara Ndoro Agung dan para orang suruhannya, Dia mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor seseorang, panggilan tersambung...


" Ikuti kemanapun anak buah Ndoro Agung pergi, tetap awasi mereka dan laporkan kepadaku apapun yang mereka temukan". Titahnya lalu tersenyum penuh misteri.


...****************...


Di Surabaya..

__ADS_1


Sepasang suami istri tegah berbahagia, pasalnya sang suami baru saja menerima surat pengangkatan jabatan menjadi direktur kantor cabang dan itu telah diumumkan secara resmi didepan semua karyawan disana. Hal itu disambut suka cita oleh sebagian para karyawan, namun sebagian lagi mencemooh tak terima bila David diangkat menjadi direktur.


" Selamat ya sayang, atas jabatan baru kamu ". ucap Sofia, lalu memeluk Suaminya.


" Terima kasih sayang, ini juga berkat doa kamu ". Jawab David, membalas pelukan istrinya.


" Tapi aku masih tak habis pikir, mengapa bisa aku yang angkat menjadi direktur, padahal masih banyak kandidat yang lebih berkompeten dari pada aku, apa lagi diumumkan secara langsung didepan semua karyawan, itu sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya ". David berujar, sambil berjalan dan duduk ditepi ranjang.


" Jika kau ada disana dan menyaksikan saat pengumuman itu berlangsung, kau akan melihat wajah-wajah terkejut para karyawan, apa lagi pak Danu yang saat itu masih menjabat sebagai direktur". David mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi dikantornya.


" Ini mananya rejeki sayang, kita tidak pernah tau rencana Allah. Mungkin ini juga salah satu yang sudah menjadi ketetapanNYA sayang". ucap Sofia. " Bisa jadi ini juga rejeki si jagoan kecil ". Ujar Sofia lagi, sambil membawa bayinya mendekat David.


" Ya kau benar sayang....semua telah ada yang mengaturnya, doakan aku, semoga bisa menjalankan amanat ini dengan baik ".


" Aamiin..."


" Oh iya,..aku lupa bercerita kepadamu, kalau 1 bulan yang lalu aku bertemu Danira dan Khalisa, bayi itu sudah besar sekarang ". David tiba-tiba saja teringat pertemuannya dengan Danira, karena kesibukannya dia baru sempat menceritakan perjumpaan itu dengan Sofia sekarang. Sofia melihat suaminya.


" Kau bertemu dengan Danira dimana ?". Tanya Sofia antusias, dia juga sangat merindukan Khalisa yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri, David mulai menceritakan pertemuannya dengan Danira yang tanpa sengaja 1 bulan yang lalu, dan itu membuat Sofia teringat lagi kejadian kelam yang pernah dia saksikan.


" Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengan mereka juga ya sayang ". Ujar Sofia dengan mata berkaca-kaca.


" Pasti kita akan bertemu dengan mereka lagi ". jawab David, menggenggam tangan istrinya.


" Sayang...!! akhir-akhir ini aku merasa bila rumah kita sedang diawasi ?".


" Diawasi, siapa ?". Tanya David.


" Entahlah...aku sudah beberapa kali melihat ada beberapa pria berjas hitam selalu melihat rumah kita, terkadang berdiri tak jauh dari rumah, lalu tiba-tiba menghilang, dan kemarin sore pun aku melihat mereka lagi ". Ujar Sofia, setiap kali Sofia sedang berjemur dengan bayinya, dia selalu melihat pria-pria itu mengawasi kediaman mereka, ada rasa was-was yang mulai menyelimuti Sofia.


" Nanti aku akan cek CCTV, bila benar mereka mengawasi kita, aku akan melaporkan hal ini kepolisian ".


" Sudah, kamu tidak perlu berfikir yang macam-macam, tetap berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja ". Ujar David menengangkan Istrinya. Sebenarnya dia pun penasaran, karena dia juga mengalami hal yang sama seperti yang Sofia alami. Hanya saja David tak ingin menceritakannya, takut Sofia semakin khawatir. Dia akan mencoba menyelidikinya sendiri dulu.


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2