
Suasana makan malam yang tadinya tenang dan harmoni, kini berubah menjadi ruang debat adu emosi. Oma Laras merasakan sesak dibagian Dada, namun dia masih berusaha menahannya.
Gavino pun sudah siap, memuntahkan segala bentuk amarahnya, tapi lagi-lagi Danira menahan, dengan cara menyentuh lutut Gavino dari bawah meja.
" Jaga mulutmu Sinta, menantuku tidak seperti yang kau tuduhkan. Dia wanita yang Solehah dan baik-baik. Bila kau tak mengenal menantuku, lebih baik tutup mulut busukmu itu ". Ny. calina sudah tak bisa menahannya lagi, dia sangat marah bila ada yang menghina setatus menantunya. Danira kembali menunduk, matanya berkaca-kaca, dia bingung harus menyikapi ucapan Tante Sinta bagaimana. Bila dia menjawab, maka semuanya akan semakin rumit, dan semua orang akan tau bila Khalisa bukan anaknya.
" Calina...yang dikatakan Sinta benar, istri Gavino bukan wanita yang baik. Dia hanya berlindung dibalik kain panjangnya itu, demi menutupi kebusukannya. Dia wanita yang berakhlak buruk ". Ujar Tante Ningrum menimpali. Ny. calina tak percaya, mengapa adik-adiknya bisa berbicara seperti ini tentang Danira, siapa yang telah menghasut mereka. pikir Ny. Calina. Sedangkan Tante Sinta, tersenyum samar, melihat kebingungan di wajah Ny. Calina.
" Maafkan aku mbak Lina, tapi apa yang aku katakan memang begitu adanya bukan. Dia sudah memiliki anak hasil diluar pernikahan, apakah itu masih bisa disebut dengan wanita baik-baik ?, aku hanya bermaksud ingin lebih mengeratkan hubungan keluarga kita, apa itu salah ?. Aku juga tidak keberatan bila anakku hanya menjadi yang kedua ".
" Mah sudah, jangan buat keributan. Bukankah sudah aku katakan. Jangan Bahas tentang ini, disini ?". Ucap Om Anton, namun bukan Tante Sinta namanya bila tidak keras kepala, dia mengabaikan peringatan suaminya, bahkan tak memperdulikan tatapan Oma Laras untuknya.
" Begini saja, aku pun tidak berniat membuat keributan begini. Lebih baik kita tanyakan saja langsung pada Danira, apa dia bersedia dimadu atau tidak, tapi aku yakin wanita seperti dia siap menerima suaminya menikah lagi, bukankah dia wanita yang paham agama ".
" Bagaimana Danira, kau setujuh dengan ucapan Tante bukan ?. Tante yakin, kau sudah paham bila Islam tidak melarang suami memiliki istri lebih dari satu, iya kan ?". Mendengar namanya disebut, Danira mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Dia mencengkeram gamisnya dengan erat, mencoba tenang menyikapi situasi yang dia hadapi.
" Sayang, kamu tidak perlu menjawab pertanyaan orang gila ini, mami tidak akan pernah setujuh bila kamu diduakan ". Sela Ny. calina, terus membela menantu kesayangannya.
" Tidak mi, Danira akan menjawab pertanyaan Tante Sinta ". Ucap Danira lembut, mengangguk pelan, memberikan isyarat seakan mengatakan dia bisa dan baik-baik saja pada ibu mertuanya. Gavino melihat Danira dalam, menunggu apa yang jawaban Danira.
" Tante Sinta benar, agama Islam tidak melarang bila suami ingin memiliki istri lebih dari satu atau berpoligami. Yang penting dia memenuhi syarat dan hukum yang ditetapkan. Aku tau, suamiku memiliki salah satu syarat itu ". Ucap Danira, beralih melihat Gavino. Tante Sinta tersenyum, merasa menang.
" Dalam sebuah Riwayat pun menceritakan, bila Rasullullah SAW memang memiliki istri lebih dari satu, tapi itu bukan atas kehendak Beliau, melainkan perintah dari Allah SWT. Dan Alasan Allah memerintahkan Beliau menikahi banyak wanita agar, Sunnah yang tak tampak kecuali dalam rumah, dapat diriwayatkan secara utuh ( Meriwayatkan Sunnah beliau ketika didalam rumah ). Bukan hanya karena nafsu semata, yang banyak diperaktekkan para kaum pria saat ini, yang berdalih Sunnah Rasul. Jika beliau bisa berbuat adil pada setiap istri-istrinya, itu karena Beliau manusia yang mulia, manusia yang penuh Rahmat dari Allah, manusia yang diberikan kelebihan khusus oleh Allah yang tak dimiliki manusia lainnya ".
" Sedangkan suamiku hanya manusia biasa. Aku tidak yakin bila suamiku bisa berbuat adil nantinya, yang mana hal itu akan membawa kesengsaraan bagi dirinya ".
" Meskipun kelak suamiku berkata dia mampu adil dalam segala hal, baik harta dan perasaan, tapi aku tak bisa mempercayai itu, karena apa ?, karena suamiku hanya manusia biasa, Yang tak luput dari Khilaf dan dosa. Dia bukan Nabi atau Rasul yang memiliki kelebihan ".
" Dalam Al-Quran dan Hadits, bila satu tetes air mata seorang istri terjatuh akibat ketidak Adilan dan kezaliman yang diperbuat oleh suaminya, maka dia telah melakukan dosa yang teramat besar dan tubuhnya tidak diharamkan lagi dari api neraka. Dan aku tidak ingin itu terjadi ".
" Aku bukan wanita yang sempurna, bahkan jauh dari kata Sholehah dan ilmuku pun belum seberapa. Aku masih tahap belajar menjadi istri yang baik bagi suamiku, jadi jawabanku, aku tidak akan pernah ingin dipoligami, meski surga sebagai imbalannya. Karena aku tak ingin sebagai penyebab suamiku mendapatkan hukuman yang berat diakhirat kelak ". Tegas Danira, menolak. Ny. Calina, Tante Santi, Oma Laras dan lainnya tercengang mendengar jawaban bijak Danira, tersenyum bangga. Bahkan Gavino sedari tadi tak berkedip ketika Danira mulai berbicara.
Kau memang istriku. Batin Gavino bangga.
" Sebelumnya aku minta maaf Tante, mungkin jawabanku ini akan sedikit menyinggung Tante nantinya. Tapi bolehkah aku sekarang bertanya kepada Tante ?".
" Bagaimana jika pertanyaan Tante tadi aku kembalikan kepada Tante Sinta, apakah Tante bersedia dimadu oleh om Anton ?, apakah Tante menerima bila om Anton memiliki istri muda ?". Tanya Danira, melepar pertanyaan yang sama. Mendengar itu membuat Tante Sinta tersulut emosi.
" Kau....!!".
" Ayo jawab Sinta, bukankah tadi kau yang sangat antusias membahas tentang ini. Jadi bagaimana jawabanmu, apa kau setujuh bila Anton menikah lagi ?, kalau aku sih sangat setujuh bila adikku yang bodoh ini, menikah dan mendapatkan istri yang lebih baik darimu. Bila perlu, aku sendiri yang akan memilihkannya istri baru ". Ucap Ny. calina, mengejek Tante Sinta yang wajahnya telah memerah.
Sial...ternyata wanita ini jauh lebih cerdik dari yang aku bayangkan. Aaakkhh...Brengsek, bisa-bisanya dia berbalik melepar pertanyaan seperti ini padaku. Batin Tante Sinta, kesal.
" Tante tidak perlu khawatir, masalah jodoh Ayu. Seorang ulama perna mengatakan bila 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, Allah telah memerintahkan Al-qolam (Pena) untuk menulis segala sesuatu. Tanpa terkecuali Jodoh. Karena Dia lah yang menciptakan 2 jiwa (ruh) yang akan saling mencintai sebelum mereka dilahirkan. Karena itu kita tak perlu terlalu khawatir, karena apa yang telah Allah tetapkan bagimu tak akan meleset.
*
Disaat semua sedang berperang dengan emosi masing-masing, dari belakang seorang gadis cantik berpakaian kaftan panjang, dengan kerudung pashmina dikepalanya. Berjalan dengan senyum manis diwajahnya. Dia melangkah mendekati meja Gavino.
" Kak Gavin...". Suara seorang gadis memanggil namanya kian mendekat, Gavino tak menoleh dia sudah tau, suara siapa itu.
__ADS_1
" Kak ini aku buatkan Pancake madu kesukaan kakak ". Ujar ayu semangat, menyodorkan pancake yang ada ditangannya kehadapan Gavino. Gavino hanya diam, dia tak menoleh apa lagi mengambil pemberian ayu. Melihat suaminya diam saja, Danira yang kasihan berinisiatif menerima pemberian ayu.
" Ayu, terima kasih. Sini biar aku saja yang menerimanya, mungkin nanti mas Gavino akan memakannya ". Ujar Danira lembut, mengulurkan tangannya pada ayu.
" Tidak, Aku membuat ini khusus untuk kak Gavin, bukan untukmu. Bila kau mau, ya buat sendiri sana. Jangan suka mengambil MILIK ORANG LAIN ". ujar Ayu ketus, Jawaban ayu membuat semua orang yang ada disana terkejut, bahkan pandangan mereka sekarang tertujuh untuknya.
" Apa maksudmu, aku tidak mengerti. Milik siapa yang aku ambil ?, aku hanya mencoba menerima pemberianmu untuk suamiku, lalu kenapa kau menuduhku seperti itu ?".
" Cciihhh...Munafik. Semua orang juga tau, bila kau merebut kak Gavin dari kekasihnya Stevani kan. Dan kau juga telah mencuci otak kak Gavino, hingga dia membenci aku ". Tuduh Ayu, dengan suara semakin meninggi. Danira kembali menyandarkan punggungnya kesadaran kursi, lalu melihat ayu dengan seksama, Danira melihat kebencian yang sangat kental dari mata ayu padanya.
" Sudah lah ayu, lebih baik kamu duduk didekat Tante saja ya. Tante tau kamu masih kesal padanya. Sejujurnya, Tante juga sangat kesal pada istri Gavino, berani-beraninya dia mengusirmu dari rumah sakit waktu itu. Tapi Tante minta, kamu harus tahan emosimu. Jangan mau terpancing hanya karena wanita seperti dia ".Ujar Tante Ningrum, Seketika semua orang disana kembali dibuat terkejut, atas ucapan Tante Ningrum. Termasuk Ayu sendiri.
Mengapa Tante Ningrum mengingatkan hal itu disini sih, kan aku sudah meminta dia untuk tidak mengatakannya didepan Oma, dan kak Gavino. Batin Ayu cemas.
Gavino yang sedari tadi telah berusaha menahan kemarahannya, kini merubah posisinya berdiri menghadap ayu dan Tante Ningrum. Kemudian Dia....
POK
POK
POK
"Woww...kini aku paham, mengapa semua keluarga Oma membenci istriku ". Ujar Gavino berdiri, sambil bertepuk tangan dengan kencang.
" Apa yang sudah kau katakan pada mereka semua ?". Tanya gavino, berdiri tepat didepan Ayu. Seketika ayu menunduk, takut menatap mata Gavino yang berubah menjadi kelam.
" Vin, kamu apa-apaan sih. Kenapa kamu menatap ayu seperti itu, lihat dia menjadi ketakutan karena ulahmu. Seharusnya, yang kamu Tegur itu istrimu, yang sudah berprilaku tidak baik pada sepupumu sendiri ". ucap Tante Ningrum, yang kesal mendengar pertanyaan Gavino. Gavino bergeming dia tetap melihat ayu.
" Mas...sudah, jangan diperpanjang. Ingat, kasihan Oma ". Ujar Danira pelan, membujuk suaminya. Gavino melirik kearah Omanya, yang melihat kearah mereka dengan tatapan sedih dan amarah. Gavino mencoba menenangkan dirinya, lalu mengalihkan tatapannya lagi pada ayu, yang telah menangis dengan tubuh gemetar.
" Aku sudah memperingatkan mu, jangan pernah menampakkan wajahmu didepanku, apa kau lupa hah ? Dan tadi kau bilang apa ?, istriku merebut aku dari Stevani ?, biar aku beri tahu, dia tak pernah merebut milik siapapun, karena hubunganku dengan Stevani sudah BERAKHIR ". Tekan Gavino jeles, membuat Danira mendongakkan kepalanya melihat Gavino. Tentu saja, ucapan Gavino membuat Danira terkejut.
Apa yang dia ucapkan benar?. Pikir Danira tak percaya.
" Kau memang wanita yang tidak tau diri, tak punya rasa malu. Berani-beraninya kau memfitnah istriku Hah ". Teriak Gavino, yang sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi.
" Heii...Gavino, kenapa kau bicara seperti itu pada putriku hah ?, memang salahnya putriku dimana, dia datang menghampirimu dengan baik-baik, memberikan makanan kesukaanmu. Bukannya berterima kasih malah berkata kasar pada putriku ". Sungut Tante Sinta, berjalan mendekati ayu lalu merangkulnya. Dia tak terima bila ayu diperlakukan seperti itu oleh Gavino.
" CUKUP....SUDAH CUKUP ". Bentak Gavino, menunjuk wajah Tante Sinta.
" Aku sudah cukup bersabar mendengar segala bentuk ocehan ide gila mu itu. Bahkan disaat kau berusaha menjatuhkan harga diri istriku, meminta aku menikahi putrimu, aku masih berusaha menahan, karena itu keinginan Danira, tapi kini aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Sedari tadi aku diam, karena menghargai ini acara Oma. Tapi kau malah mengacaukan segalanya ". Hilang sudah rasa sopan santun Gavino. Tante Sinta terdiam, dia terkejut mendapat perlakuan seperti ini dari Gavino. Dia tau, bila Gavino terkenal dingin dan kejam, tapi dia belum pernah menyaksikannya secara langsung.
" Kakak, tolong maafkan aku. Aku...aku tidak bermaksud memfitnah kak Danira, aku hanya kesal karena kak Gavino selalu menghindar dari ku. Kak Gavino selalu ketus padaku, bahkan tanpa aku berbuat salahpun, kak Gavino terlihat sangat membenciku ". Ujar Ayu sambil menangis dalam pelukan Tante Ningrum.
" Tak berbuat salah, apa kau yakin ?, apa kau juga lupa, mengapa aku bisa sangat membencimu hhmm ?, apa perlu aku ingatkan kembali ?". Ucap Gavino menekan intonasi suaranya, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
" Tidak kak, aku mohon jangan lakukan itu. Bukankah kakak sudah berjanji akan menghapusnya ". Ucap Ayu memohon, berusaha memegang tangan Gavino, namun dengan cepat Gavino menghempaskan tangan ayu, hingga membuat gadis itu hampir terjatuh.
" Gavino,....!! apa yang kau lakukan, mengapa kau kasar sekali pada adikmu sendiri hah ?". Teriak om Anton.
" Dia bukan adikku, dia wanita murahan yang tak tau diri ".
__ADS_1
"GAVINO.....". bentak om Anton marah.
Tring*
Suara ponsel semua anggota keluarga berbunyi serentak, satu persatu dari mereka membuka pesan yang di kirimkan gavino ke Group keluarga. Mata mereka membola, melihat isi dari Vidio itu.
Flashback on.
5 Tahun yang lalu.
"Kak Gavin...". Pangil Ayu, mengetuk kamar Gavino. Namun tak ada sautan dari dalam. Tanpa ijin dari Gavino ayu memutar Handle pintu lalu mendorongnya masuk. Ayu dapat mencium aroma maskulin dalam ruangan yang identik dengan warna abu-abu itu. Ayu terus melangkah, sambil melihat-lihat isi kamar Gavino, Dia mencebikkan bibirnya ketika melihat foto Gavino dan Stevani yang terpasang didinding kamar.
" Ceekkk...seharusnya fotoku yang ada disitu, seharusnya aku yang bersanding dan merangkulnya ". Gumam Ayu kesal. Dia kembali mengedarkan pandangan kearah lain, lalu matanya berhenti di pakaian Gavino yang berserakan diatas kasur. Ayu bisa menebak bila ini pakaian yang baru Gavino kenakan tadi. Dia mengambil baju itu, lalu menciumnya.
" Aahhh keringat yang menempel di bajunya saja wangi begini, bagaimana jika aku langsung memeluk tubuhnya ". Gumam Ayu terus membenamkan wajahnya di baju Gavino, pikirannya melayang-layang membayangkan kesenangan dalam imajinasinya.
" Apa yang kau lakukan dikamarku ". Suara bariton dari belakang mengagetkan ayu. Dia segera berbalik. Matanya membesar ketika melihat Gavino yang keluar dari dalam kamar mandi hanya menggenakan handuk yang meligkar dipinggangnya, sedangkan otot-otot perut Gavino terpampang jelas, membuat ayu tak berkedip.
" Siapa yang menyuruhmu masuk kekamarku hah ?, mengapa kau lancang sekali menyentuh barang-barang ku ?". Bentak Gavino, Ayu tersentak lalu refleks menjatuhkan baju Gavino yang dia pegang.
" Ma...ma..maafkan aku kak, aku hanya...." Ucapan ayu terhenti, tanpa sadar dia berjalan perlahan kearah Gavino, matanya terus saja tertujuh pada pandangan indah yang ada dihadapannya. Tangannya terangkat ingin menyentuh otot perut Gavino, namun dengan cepat Gavino menepis tangan ayu yang lancang ingin menyetuhnya.
" Beraninya kau ingin meyentuhku Hah ?, pergi kau dari sini ". Usir Gavino, tapi ayu bergeming dia terus berusaha mendekati Gavino.
" Kak Gavin, aku....aku...aku menyukai kakak ". Ungkap Ayu, entah keberanian dari mana yang merasukinya hingga dia berani mengungkapkan perasaan yang telah lama dia pendam. Gavino semakin memberikan tatapan tajam.
" Aku bilang KELUAR DARI KAMARKU ".
" Aku tidak mau, aku...aku ingin bersama kak Gavin, bolehkah aku memiliki kak Gavin sebentar saja. Aku sangat menyukai kakak, aku sudah memendam perasaan cinta ini begitu lama. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa memiliki kak Gavin seutuhnya. Tapi bolehkah kali ini aku memiliki kakak sebentar saja ". Ucap Ayu, kembali mendekati Gavino yang terus menatapnya geram.
" Berhentilah mengatakan hal menjijikan seperti itu, bila kau sudah tau kalau aku tak akan pernah bisa kau miliki, mengapa masih terus berusaha seperti ini. Pergilah sebelum aku menyakitimu ". Tegas Gavino, melangkah masuk kedalam ruang wardrobe. Tapi lagi-lagi ayu berbuat ulah, dia berlari memeluk tubuh gavino dari belakang dalam keadaan tanpa busana, hal itu membuat Gavino terkejut lalu mendorong ayu hingga tersungkur.
" Cciihhh...jadi ini wujud aslimu yang sebenarnya. Bersembunyi dibalik keluguan dan wajah polosmu itu. Tapi ternyata kau manusia yang paling menjijikkan, lihatlah dirimu kini, kau tak ada bedanya dengan orang wanita p*l*c*r, yang ingin menjajakan diri. Bahkan kau lebih renda dari itu ". Ejek Gavino, membuang padanganya kearah lain. Menimbulkan rasa kebencian dalam diri Gavino pada Ayu
" Aku tidak perduli, terserah kakak ingin menyebutku apa. Yang jelas kakak harus mengikuti keinginanku kalau tidak, aku akan berteriak dan memberitahu semua orang bila kakak sudah melakukan pelecehan terhadapku ". Ujar Ayu mengancam, Gavino tertawa mendengar ancaman ayu, membuat ayu menatap Gavino bingung.
" Ha...ha..ha....kau pikir aku akan takut dengan ancaman murahanmu itu hmmm ?, apa kau lupa kau sedang berada dimana sekarang ?". Ucap Gavino, tanpa melihat ayu. Kemudian Gavino menunjuk kesetiap sudut ruangan kamarnya.
" Lihat itu.. dan itu. Jadi berteriak lah, karena itu hanya akan membuatmu semakin malu wanita murahan ". Ayu mengikuti arah jari Gavino, betapa terkejutnya dia ketika melihat Cctv yang ada dikamar Gavino, dia tak menyangka bila Gavino memiliki Cctv didalam kamarnya.
" Jadi kau tinggal pilih, keluar sendiri atau aku yang menyeretmu keluar dari sini. lalu rekaman itu akan aku sebarkan agar semua orang tau, betapa buruknya dirimu ". Ujar Gavino, mengambil ponselnya lalu menunjukkan rekaman mereka saat ini.
" Kak tolong Jagan lakukan itu, baik...baik...aku akan keluar. Tapi tolong hapus semuanya, aku janji tidak akan menganggu kakak lagi ". Ayu bersimpuh memohon dikaki gavino, sambil menangis.
" Pergilah sejauh mungkin, jangan pernah kau berani menampakkan wajahmu lagi dihadapanku, bila kau melanggar kau tau akibatnya ". Ancam Gavino, lalu meninggalkan ayu yang menagis dilantai kamarnya.
Flashback off.
......................
...Bersambung......
__ADS_1