CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
112. Dimabuk Cinta


__ADS_3

Senin pagi, Danira sibuk kesana kemari menyiapkan semua keperluan kerja Gavino. Mulai dari Jas, kemeja, celana, kaus kaki sampai sepatu. Gavino duduk bersandar disandaran tempat tidur, dengan wajah bantal, rambut acak-acakan, serta bertelanjang dada. Matanya yang setengah terbuka, memperhatikan gerak gerik Danira yang sangat cepat. Gavino tersenyum-senyum sendiri, melihat Danira yang hanya menggunakan kaos Gavino yang besar, dan rambut panjang yang digulung sembarang, membuat anak-anak rambunya acak, tumpah.


Cckk....Dengan penampilannya yang acak-acakan begitu saja, dia masih terlihat cantik dan sexy. Rasanya aku tidak ingin kemana-mana, aku hanya ingin mengurungnya selamanya dikamar ini . Batin Gavino, tersenyum genit.


Setelah semuanya selesai, Danira kembali keluar, mengambil sarapan untuk Gavino, lalu kembali masuk kedalam kamar mereka. Dia meletakkan sepiring Sandwich roti gandum dan segelas teh jahe hangat, lalu meletakkannya diatas meja. Kemudian, dia beralih mendekati Gavino yang masih duduk dengan santai diatas kasur.


" Mas ayo cepat mandi, kamu sudah telat jauh. Lihatlah itu sudah jam 8.00 pagi ". Danira menarik-narik tangan Gavino, agar segera turun dari kasur. Gavino tak bergeming, dia terus diam sambil memperhatikan wajah Danira yang berubah-ubah ketika memintanya mandi, Tiba-tiba Gavino menarik tangan Danira hinga....


Bug*


Danira limbung, menindih tubuh Gavino. Membuat bibir Danira menempel dibibir Gavino. Mata Danira melotot.


" Kau sengaja menggodaku ya ?, apa kau masih ingin melanjutkan yang tadi hhmm?". Ujar Gavino, tersenyum genit menggoda Danira. Danira ingin bangun, namun tangan Gavino menahannya. Danira menggeleng cepat.


" Iihhh siapa yang menggoda, mas Gavin yang menarikku. Lagi pula mas Gavin harus cepat bersiap-siap berangkat kekantor. Mas sudah sangat terlambat. Mas sih, pakai acara meminta olahraga dipagi hari berkali-kali, jadinya kan kita kesiangan begini". Kesal Danira, memajukan bibirnya, cemberut. Akibat ulah Gavino yang mengajak Danira senam pergumulan panas dipagi hari, membuat Danira kelelahan lalu tertidur kembali, sehingga mereka menjadi kesiangan.


" Memangnya Kenapa jika aku terlambat ?, kau tenang saja sayang!!, tidak akan ada yang berani memarahiku meski aku datang pukul 5 sore sekalipun. Apa kau lupa bila suamimu ini pemilik Garayudha Company, walaupun aku tidak datang lagi kekantor, kita tidak akan pernah jatuh miskin, sampai 30 keturunan kita nanti pun, kekayaanku masih sanggup membiayainya ". Mode kesombongan Gavino aktif, membuat Danira menghela nafas panjang.


" Mas, bukan masalah mas Gavin masih sanggup atau tidak, tapi mas Gavin seorang pemimpin. Berilah contoh yang baik bagi para karyawan dengan datang tepat waktu meski mas Gavin pemiliknya. Bagaimana bila mereka mengikuti apa yang mas gavin lakukan ". Ucap Danira mencoba bangun dari atas tubuh gavino.


" Ya aku tinggal memecat mereka, selesai...!!". Jawab Gavino enteng.


" Ya... ya ...ya ...!! baik lah tuan muda, apa sekarang kita sudah bisa bangun ?". Gavino mengeleng.


" Aku masih ingin seperti ini, aku tidak ingin bekerja, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu ". Ujar Gavino manja, semakin mengeratkan pelukannya.


" Tapi Danira pegal dengan posisi seperti ini mas ".


" Aku akan membiarkanmu bangun, dengan syarat kau harus bisa merayuku ".


" Merayu ?". Ulang Danira melihat Gavino yang ada di bawahnya dengan alis mengerut, Gavino tersenyum semirik.


" Tapi Danira tidak bisa merayu mas ".


" Ya sudah...kita akan seperti ini sampai kau bisa merayuku ". Ucap Gavino kembali memejamkan matanya, Danira tercengang mengapa suaminya menjadi menyebalkan seperti ini, lalu dia mulai berfikir merayu seperti apa.


" Mas Gavin yang tampan, ayo kita bangun ".


" Aku memang tampan, ganti yang lain ". ucap Gavino, masih memejamkan matanya. Danira tercengang lalu mulai memikirkan kata-kata rayuan seperti apa lagi.


" Mas Gavin yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, apa kita sudah bisa bangun sekarang". Ujar Danira bernada pelan, menampakkan deretan gigi putih rapinya. Gavino tak bergeming, dia masih memejamkan matanya.


" Itu bukan rayuan Danira, tapi semua itu memang milikku sejak lahir ". Danira semakin geram sendiri.


Hhuuhhh...merayu seperti apa yang dia mau. Batin Danira, mulai berfikir. Seketika....


Cup*


Cup*


Cup*


" Sa..sa..Sayang....!!".Ucap Danira ragu, malu-malu. Wajahnya sudah semerah tomat segar. Gavino langsung membuka matanya, terkejut mendengar panggilan Danira, ini pertama kalinya dia mendengar Danira memanggilnya dengan sebutan ' Sayang ', rasanya sangat menyenangkan. Membuat kupu-kupu di hati Gavino berterbangan kesana kemari, wajah Gavino bersemu, dia jadi salah tingkah. Gavino menatap mata indah Danira, lama.


" Aku suka mendegarnya...ulangi ".


" Tidak mau, mas harus bangun dulu. Mandi lalu bersiap-siap". Danira memanyunkan bibirnya.


" Wajahmu jangan seperti itu, itu sama saja kau memancing gairahku ". Danira tercengang, jangan sampai suaminya ini terpancing bisa-bisa dia tak akan bangun dari tempat tidur sampai pagi lagi. pikir Danira.

__ADS_1


" Baiklah...aku akan mengulangnya, sayang..sayang..sayangku ayo kita bangun, apa mas tidak kasihan dengan tubuhku yang sudah pegal tengkurap seperti ini ". Ujar Danira, menampilkan wajah mengiba, Gavino malah terkikik melihat ekspresi Danira yang semakin mengemaskan.


" Aakkh..". Pekik Danira, terkejut dengan gerak Gavino yang cepat mengangkat tubuhnya tanpa melepaskan pelukannya, lalu menggendong Danira seperti bayi koala.


" Ayo kita mandi bersama...". Ucap Gavino tersenyum miring, sambil berjalan menujuh kamar mandi.


" Hah ?".


***


Gavino telah siap dengan setelan kerjanya, wajahnya tampak sangat segar, dia berdiri didepan cermin sambil memasang arloji termahal ditangan kirinya. Danira mendekat, lalu meminta Gavino untuk duduk di kursi meja hias, dia akan memasangkan dasi sang suami.


" Mas teh jahenya diminum sekarang saja ya, mumpung masih hangat ". Ujar Danira memotong sandwich yang telah dia siap kan tadi, lalu menyuapi suaminya. Kemudian tangannya kembali bergerak memasang dasi Gavino. Gavino hanya menuruti ucapan sang istri.


Aahhh...rasanya Gavino sangat bahagia. Dia benar-benar dilayani dengan baik oleh Danira, Gavino belum pernah mendapatkan perlakuan seistimewa ini sebelumnya. Biasanya bila dia kesiangan, jangankan sarapan, meminum air putih pun Gavino tidak sempat. Tapi kali ini berbeda, sejak bersama Danira hari-hari nya benar-benar berwarna, meski dalam keadaan mepet pun, Danira akan menyingkatkan waktu supaya Gavino tetap bisa sarapan pagi sebelum berangkat kerja. Seperti saat ini, tangan Danira sibuk memasang dasi, lalu dia menyempatkan mengambil potongan Sandwich kemudian menyuapi Gavino, dan seperti itu hingga sarapannya habis.


" Sudah selesai...". Ujar Danira, yang telah selesai memasang sepatu dikaki gavino.


" Padahal aku bisa memasangnya sendiri sayang ".


" Tidak apa-apa mas, aku senang bisa melakukannya untukmu ". Jawab Danira sambil tersenyum secarah mentari dipagi ini. Gavino berdiri lalu kembali memeluk Danira...dan berbisik...


" Aku mencintaimu, sangat!!". Bisik Gavino.


" Aku tau ". Gavino menatap mata Danira, sejujurnya Gavino ingin sekali mendengar Danira mengatakan rasa cinta seperti yang sering Gavino lakukan, tapi dia tak ingin memaksa, dia akan terus menunggu hingga Danira mau menggungkapkannya sendiri. Tanpa diminta.


" Oh iya mas, eemm! apa aku boleh pergi ke Mall milikmu yang ada di Jakarta Selatan ?".


" Apa kau ingin berbelanja ?".


" Tidak mas, aku ingin menemui temanku, Dia membuka usaha salon kecantikan disana. Boleh ya mas ?". Danira meminta ijin.


" Wanita mas, aku tidak pernah memiliki teman pria ". Jawab Danira, sambil merapikan jas didada suaminya.


" Apa boleh ?". Tanya Danira lagi, namun jika suaminya melarang Danira tak akan memaksa, dia akan melakukan panggilan Vidio call saja dengan Sarah.


" Hhmm ". Gavino hanya menjawab dengan deheman singkat, membuat Danira menyimpulkan bila Gavino tak mengijinkan.


" Ya sudah, aku akan tetap dirumah saja ". Ujar Danira, lalu mulai membereskan tempat tidur mereka. Gavino masih diam terus memperhatikan Danira.


" Aku akan mengantarkanmu kesana ". Danira menghentikan kegiatannya, beralih melihat Gavino.


" Mas yakin ?, mas ridho jika aku keluar rumah ?". Danira kembali memastikan, dia tak ingin pergi bila suaminya hanya memberikan ijin terpaksa.


" Ya....tapi kau harus menerima ini ". Gavino mengeluarkan dompetnya, memberikan sebuah Black card kepada Danira. Danira menautkan alisnya. Dia teringat, kartu itu pernah Gavino berikan kepadanya ketika mereka baru saja menikah dulu, namun Danira tolak.


" Apa kau masih menolak pemberianku ? ". Ucap Gavino yang Melihat Danira tak merespon. Danira diam, matanya hanya melihat kartu yang ada ditangan gavino.


" Danira...kali ini aku mohon terima lah, ini adalah bentuk nafkah dariku untukmu. Mungkin dulu aku memberikannya kepadamu dalam keadaan tidak baik, tapi kali ini berbeda ". Danira tersenyum, lalu mengambil benda persegi tipis itu dari tangan Gavino. Danira tak ingin membuat suaminya kecewa, meski Danira tak membutuhkannya, yang terpenting dia telah menerima akan menyimpannya saja. pikir Danira.


" Iya mas Danira terima, terima kasih banyak ". Gavino tersenyum senang, lalu kembali memeluk Danira.


" Kau harus menghabiskan isi yang ada didalam sini, karena aku tidak suka bila isinya tak berkurang ". Bisik Gavino, Danira hanya diam tak memberi jawaban apapun.


***


Selama perjalanan, Gavino tak pernah melepaskan ngengaman tangannya dari Danira, dia bahkan menyeder dibahu istrinya dengan manja. Membuat Sean berkali-kali jengah melihat tingkah sang tuan muda.


" Jaga mata mu Sean, apa kau sudah tak ingin bisa melihat cahaya matahari lagi hah ?". Ketus Gavino, Sean memutar bola matanya malas dibalik kaca matanya, lalu kembali fokus pada stirnya.

__ADS_1


" Sayang...nanti kau harus sering-sering menghubungiku, mengirim pesan kepadaku per satu menit sekali ". Ujar Gavino bernada manja, Danira hanya manggut-manggut tanda mengerti. Dia tidak tau, mengapa Gavino manjadi seperti ini, perubahannya melebihi 180°.


" Apa kau ikut aku kekantor saja, aku tidak bisa jauh-jauh darimu ".


Ya Tuhan....apa tuan muda salah minum obat ?, atau nyonya Danira memberikan makanan aneh, sehingga tuan menjadi aneh begini. Batin Sean merasa geli mendengar ucapan Gavino.


" Mas kan hari ini sangat sibuk, ada meeting penting bukan. Bila aku ikut mas kekantor, nanti aku akan bosan diruangan sendirian ". Ujar Danira, sejujurnya dia bisa saja mengikuti Gavino, namun dia harus menemui Sarah. apalagi banyak berkas-berkas yang harus dia tanda tangani.


Gavino menghela nafas kasar, Danira benar. Hari ini jadwalnya sangat padat, akibat sudah hampir 1 Minggu dirinya tak datang karena pergi kekalimantan.


" Baiklah...tapi kau har....".


" Siap suamiku, aku akan sering-sering mengirimkan pesan padamu nanti ". Potong Danira yang sudah tau apa yang akan Gavino katakan. Gavino mengukir senyuman dibibirnya.


Tak lama, mobil yang membawa merekapun berhenti tepat dilobby pusat perbelanjaan terbesar dikota itu, disana terpampang jelas nama perusahaan milik Gavino. Danira menyerongkan tubuhnya menghadap Gavino, lalu mengulurkan tangan, awalnya Gavino bingung. Namun seperkian detik dia tau apa yang istrinya ini inginkan. Gavino melirik Sean...


" Sean, keluar...". Titahnya, tanpa banyak bertanya Sean pun keluar dan berdiri didepan pintu mobil. Gavino membuka kain yang menutupi wajah istrinya, lalu mata mereka saling pandang. Gavino menakup wajah cantik Danira.


" Jaga pandanganmu, ingat kau telah memiliki suami yang tampan dan sangat kaya, jangan coba-coba tertarik dengan pria lain diluaran sana ". Ujar Gavino, berbicara dengan jarak wajah yang sangat dekat. Danira hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu Gavino mendaratkan ciuman dibibir ranum candunya, menciumnya cukup lama, membuat Danira hampir kehabisan nafas, dia terengah-engah.


" Belajarlah bernafas ketika aku melakukannya lagi ". Ucap Gavino, sambil mengelap sisa Saliva yang menempel di bibir Danira. Gavino kembali menghujani wajah Danira dengan banyak kecupan, Danira hanya diam menerima apapun yang suaminya lakukan.


" Mas....aku hanya pergi kemall beberapa jam, bukan ingin pergi berperang ". Sarkas Danira, Gavino tak perduli. Baginya 1 detik tak melihat Danira, itu sama halnya 1 tahun. Sangat lama.


" Apa sekarang aku sudah boleh keluar mas ?". Tanya Danira, Gavino hanya mengangguk kecil, namun tangannya tetap melingkar di pinggang Danira. Membuat Danira menghela nafas panjang.


" Maasss ...".


" Iya baiklah sayang, kau boleh pergi ". Ucap Gavino, Danira meraih tangan Gavino lalu mencium punggung tangan, kemudian beralih ke telapak tangan menciumnya sebanyak 3 kali, lalu kembali lagi kepunggung tangan Gavino.


Ya Allah, lindungilah setiap langkah dan perjalan suamiku, berkahila setiap pekerjaannya, gantilah setiap rasa lelahnya menjadi pahala, lancarkanlah rezeki suamiku dengan rezeki yang penuh keberkahan dariMU. Doa Danira saat sedang mencium tangan gavino. Kemudian Danira mengambil cadarnya dan memasangnya kembali beserta Burqa.


" Aku turun ya mas, Assalamualaikum ".


" Wa...wa.. waallaikumsalam ". Jawab Gavino, terbata karena belum terbiasa, Danira hanya tersenyum lalu turun dari mobil. Dia melihat istrinya masuk kedalam pusat perbelanjaannya yang masih sepi, hingga punggung Danira menghilang dari pandangannya. Sean masuk.


" Kita berangkat sekarang tuan ?". Tanya Sean, dia melihat Gavino tak mengalihkan pandangannya dari arah pintu mall. Gavino menghela panjang.


" Minta Bayu untuk selalu mengawasi apapun yang istriku lakukan saat diluar rumah. Aku ingin dia melaporkannya setiap jam ". Titah Gavino.


" Baik Tuan ". Sean langsung mengirim pesan pada Bayu. Lalu dia menekan pedal gas melajukan mobil meninggalkan bagunan besar itu menujuh Garayudha Company.


Selama didalam perjalanan, Gavino terus saja tersenyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras, dia benar-benar seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Pandangannya tak lepas dari layar ponselnya, Dia membuka galery ponselnya yang penuh dengan foto-foto Danira, foto ketika Danira tertidur, memasak, tertawa bahkan semuanya Gavino potret secara diam-diam. Gavino mencium-cium layar ponselnya, dia benar-benar sedang dimabuk cinta. Baru beberapa menit saja, dia sudah merindukan istrinya lagi.


Sean terus memperhatikan tingkah konyol sang tuan muda, terkadang membuat Sean merinding sendiri melihatnya.


Apa memang begini jika orang sedang jatuh cinta ?, mengapa dia terkesan seperti orang gila tersenyum-senyum sendiri seperti itu. Apa aku harus membawanya kedokter, memeriksa kesehatan otaknya. Batin Sean.


" Sean..". Teriak Gavino, kencang.


" Ya tuan, saya disini ".


" Cetak semua foto istriku dan juga foto-foto pernikahan kami, pasang di setiap sudut ruang kerjaku, dalam satu jam kedepan semuanya harus sudah terpasang ". Titahnya, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya.


" Baik tuan ". Jawab Sean, meski dia merasa aneh, namun Sean tetap mengikuti keinginan bosnya, karena dia tau saat ini sang tuan muda sedang dimabuk cinta.


......................


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2