
Banyaknya tumpukan map berbagai macam warna dari beberapa Divisi, ditambah susunan-susunan kertas projek baru nyaris menutupi sosok pria rupawan dibalik meja berukuran cukup besar.
Wajahnya tampak sangat serius, jemarinya sibuk menggoreskan tinta hitam pekat diatas kertas yang ada didepannya, dia membaca setiap huruf dan angka-angka yang tertera dengan sangat teliti, setelah itu dia membubuhi tanda tangan berharganya.
Itulah yang Gavino lakukan sejak pagi, belum lagi diselingi pertemuan penting, kemudian kembali menghadap tumpukan yang membuatnya cukup bosan. Hari ini Gavino sangat-sangat sibuk.
Tok*
Tok*
Tok*
" Masuk ". Ujarnya tanpa melihat kearah pintu.
" Permisi tuan, ini dokumen yang anda minta ". Sean memberikan lagi map berwarna merah.
" Hmmm...Taru saja disana". Titahnya tanpa melihat Sean. Sean mengikuti instruksi Gavino.
" Apa ada yang anda perlukan lagi tuan ?".
" Belum, siapkan saja materi untuk meeting selanjutnya ".
" Baik Tuan, Saya permisi ". Sean akan berbalik pergi, tapi seseorang yang sejak tadi mengekor dan bersembunyi dibalik punggungnya menahan tubuh Sean, membuat Sean sulit melangkah.
" Berhentilah bersikap seperti ini, saya mau keluar, minggir ". Sean kembali menggeser kan tubuhnya, namun Bayu semakin memegang lengan Sean kian erat ditambah tatapan memohon, seperti seorang anak meminta perlindungan kepada ayahnya.
" Cckk...jangan pergi dulu, kau temani aku disini. Apa kau mau melihat aku keluar dari ruangan ini tanpa kulit, ah...!! tidak, bisa-bisa sudah tanpa kepala ". Bayu bergidik ngeri sendiri membayangkan hal itu terjadi padanya, Bayu sangat tahu se mengerikan apa Gavino bila sedang marah. Bahkan di telpon semalam pun, Bayu sudah berkeringat dingin mendengar suara kesal Gavino, hinga membuatnya tidak tidur sampai pagi.
" Saya tidak perduli, itu salahmu sendiri mengapa berbohong kepada tuan, sekarang kamu tanggung sendiri hukumannya. Cepat minggir ". Jawab Sean datar, acuh.
" Iisshhh..kau ini minggar minggir, minggar minggir kau pikir aku supir angkot..!!, ayolah Sean, temani aku kali ini. Kita kan teman. Kemarin aku tidak punya pilihan, kau tau sendiri bagaimana pengaruh Nyonya, aku mana berani membantah perintahnya. Lagi pula Nyonya Danira istri tuan sendiri bukan orang lain, jadi aku tidak melakukan penghianatan apapun ". Sean hanya diam, tak perduli dengan penjelasan Bayu. Dia juga kesal karena kebungkaman Bayu, dia harus berkeliling kota hingga larut malam mencari Danira, membuat semua pekerjaan yang seharusnya telah selesai menjadi terbengkalai.
" Awas....jangan sampai saya memukul mu disini ". Ketus Sean mendorong Bayu untuk menjauh.
" Tidak mau, kau harus menemaniku, kali ini saja". Sean mendelik Bayu tajam.
Gavino menarik pandangannya dari taburan huruf-huruf itu, matanya beralih melihat dua manusia yang sedang beradu mulut, pemandangan itu membuat kepala Gavino terasa berdenyut, Dia merasa sangat terganggu. Rasanya Gavino ingin membentur kan kepala kedua anak buahnya yang sudah berani merusak konsentrasi nya.
" Jangan lihat aku seperti itu, matamu sangat menyeramkan. iiisshhh...!!! mengapa aku merasakan aura di ruangan ini berubah menjadi sangat dingin. Apa kau merasakan nya juga ". Bayu menggosok-gosok tengkuknya yang terasa meremang, lalu perlahan dia menoleh-noleh kan kepalanya, seketika mata bayu langsung bertemu dengan mata Elang Gavino, Bayu langsung tertunduk takut, dia lupa bila dirinya saat ini sedang berada di ruangan sang Bos, Sean pun ikut menoleh.
" Apa kalian sudah selesai membuat keributan hmm?".
" Maaf tuan ". Sean menunduk, dia langsung menyadari telah membuat kesalahan.
" Ma..ma..maaf tuan ". Bayu terbata-bata.
" Sean kau Push up 50 kali ".
" Saya tuan ?".
" Jadi 100 kali ".
" Tapi tua......!!!".
" Jadi 150 ka.....!!".
" Baik tuan 100 kali ". Sean semakin memberikan tatapan tajam pada Bayu, seakan siap memberikan perhitungan pada Bayu nanti.
Sean langsung memposisikan tubuhnya telungkup, menempelkan kedua telapak tangannya kelantai. Tubuhnya mulai bergerak naik turun, sambil berhitung. Dia tidak akan bertanya lagi mengapa Gavino memberi hukuman padanya, Sean sudah tahu apa kesalahannya, bila dia terus bertanya sudah bisa Sean pastikan angka hukumannya akan terus bertambah.
Gavino beralih melihat Bayu.
" BAYU.....".
" i..i..iya tuan....".
" Kau....". Belum sempat Gavino menyelesaikan kalimatnya, Bayu telah lebih dulu berlutut dilantai, memelas.
" Tuan tolong maafkan saya, saya tidak bermaksud berbohong kepada anda, saya hanya mengikuti perintah Ny. Danira, tolong jangan hukum saya tuan, bukankah semalam saya juga telah menjawab semua pertanyaan anda dengan berkata jujur. Jadi tolong jangan hukum saya tuan ". Bayu mencoba peruntungan dengan menyebut nama Danira didepan Gavino, berharap nama itu bisa membebaskannya dari hukuman Gavino yang mengerikan.
Gavino yang sejak tadi duduk sambil memangku dagu dengan kedua tangan yang saling bertaut, menaikkan sebelah alisnya melihat Bayu terus berlutut memohon. Dari wajahnya tercetak jelas ketakutan. Gavino menurunkan tangannya, melepaskan pulpen yang masih berada disela jari.
Dia berdiri, memundurkan kursinya berjalan mendekati Bayu. Mendengar suara sepatu semakin mendekat, membuat jantung Bayu semakin berdetak tak karuan, dia merasa nyawanya saat ini sudah berada diujung tanduk, ingin lari pun sudah tak bisa.
Ya tuhan rasanya aku ingin pipis sekarang. Batin Bayu cemas.
" Bangun...!!". Bayu pun menurut, lalu berdiri tepat didepan Gavino, kepalanya masih menunduk tak berani melihat Tuannya.
__ADS_1
" Berdiri yang tegap, apa begini cara berdirinya seorang militer ?".
" Siap tuan ". Bayu langsung berdiri tegap, membusungkan dadanya, tatapan fokus lurus ke depan. Bayu yang notabene adalah seorang militer berpengalaman, sudah pasti memiliki postur tubuh besar dan tegap, kemampuan bela dirinya tak perlu diragukan lagi. Itu lah mengapa Gavino rela mengeluarkan banyak uang demi menarik Bayu menjadi orang kepercayaannya setelah Sean.
" Apa kau sudah sarapan sebelum datang kesini ?". Bayu bingung mengapa Gavino menanyakan hal itu, karena tak biasanya sang tuan muda se perhatian ini, perasaan Bayu semakin was-was. Apa sebelum mati aku harus dalam keadaan kenyang dulu. Benak Bayu.
" Su..su..dah Tuan ". Gavino mengangguk-anggukan kepalanya, tangannya sibuk melipat lengan kemeja hingga siku.
" Berarti kau sudah memiliki tenaga untuk menerima hukuman, bukan ?". Bayu menelan ludahnya dengan susah payah, keringat dingin mulai membasahi dahi Bayu.
" Kau ingin hukuman tergantung di atas kandang Boa atau hukuman pancung. Kau tinggal pilih saja, hukuman yang pantas untuk orang yang sudah berani menyembunyikan istriku seharian".
"Kau tau bukan, bila aku paling tidak suka ada pria lain yang dekat dengan istriku ?, apa lagi istriku sangat mengandalkannya, aku sangat tidak suka ". Ujar Gavino sambil menepuk-nepuk pundak Bayu kencang. Perut Bayu terasa mulas mendengar dua pilihan dari Gavino, lututnya terasa lemas. Bila sedang dalam keadaan seperti ini, Bayu lebih memilih kembali menjadi pasukan militer seperti dulu dari pada harus berhadapan dengan Gavino yang memiliki sifat berdarah dingin. Namun bila diingat bayaran yang selalu dia terima, Bayu hanya bisa pasrah.
Ya tuhan...Apa ini akhir dari hidupku?. pikir Bayu.
" Ma..maaf tuan, saya tidak bermaksud menyembunyikan Nyo....!!!".
DUG*
DUG*
" Tetap berdiri tegap, jangan bergeser barang 1 inci pun ". Ucap Gavino keras setelah melayangkan dua tendangan kearah tulang kering kaki Bayu. Bayu mempertahankan posisi berdirinya, menahan ringisan sakit dalam diam, perih.
" Kau tau, rasanya aku ingin sekali menggantung kepalamu di tiang Monas sejak semalam, tapi sayangnya Danira sudah lebih dulu mengetahui niatku, dia meminta agar aku tidak menghukum mu. Mendengar dia kembali melindungi mu membuatku semakin tak suka. Tapi karena kau telah membantu istriku mempersiapkan acara untukku kemarin malam, maka aku menerima permintaannya, memberikan kesempatan bagimu". Kesal Gavino, sambil berkacak pinggang.
Sejujurnya Gavino ingin sekali menghukum Bayu dengan sangat berat, rasa cemburunya melebihi apapun ketika mendengar Bayu seharian berada didekat istrinya, tapi dia tak ingin mengingkari janji yang telah dia sepakati pada Danira semalam.
Mendengar kata terakhir Gavino, membuat Bayu menghela nafas lega.
Aahhh syukur lah..Nyonya terima kasih anda telah menepati janji anda. Batin Bayu senang.
" Tapi.....jangan senang dulu ..!!". Gavino kembali tersenyum licik.
" Tu..tuan...hhuuhh...saya sudah selesai ". Sean menyela ucapan Gavino dengan nafas terengah-engah.
" Oh cepat sekali...!!, kau boleh keluar ". Sean menundukkan kepalanya sebentar, langsung berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Dia tak ingin terlibat lagi dengan masalah Bayu.
" Aku tidak akan menghukum mu dengan dua pilihan yang tadi, tapi kau harus berlari dari lantai dasar hingga lantai paling atas gedung Garayudha Company menggunakan tangga darurat sebanyak 100 kali. Ingat Kau tidak boleh menggunakan lift, bila kau berani curang, maka kau akan tau sendiri akibatnya". Bayu merasa nafasnya berhenti sesaat ketika mendengar ucapan Gavino, pikirannya langsung melayang mengukur tingginya gedung ini, apa lagi berlari menggunakan tangga darurat. Ahh...yang benar saja. pikir Bayu, frustasi.
" Bagaimana ?, apa kau sanggup ?, bila tidak kau bisa kembali memilih dua pilihan yang telah aku sebut......!!!".
Seketika senyum sinis tercetak di wajah Gavino.
" Bagus,...lakukan sekarang ".
" Baik tuan ". Bayu segera melangkah menuju pintu, menarik handal siap keluar, tapi....
" Tunggu....!!"
Ahh..apa lagi ini tuhan .Bayu menjerit dalam hati.
" Mengapa kau tak melaporkan perkembangan wanita ****** itu, apa kau sudah berhasil menemukannya ?".
Gleg*
Mati aku. Batin Bayu
Bayu kembali merasa serak di tenggorokan nya, bingung harus menjawab apa, seketika dia menampilkan senyum kaku yang memperlihatkan deretan gigi nya pada Gavino.
" Saya akan segera menemukannya tuan ". Ujar Bayu sambil berlari cepat meninggalkan ruangan Gavino secepat mungkin.
" BAYUUU.....!!!! kalau sampai kau tidak berhasil menangkapnya, kau akan aku hukum pancung ". Pekik Gavino, yang sebenarnya sudah tidak didengar Bayu lagi, melainkan Sonya yang ada didepan pintu, dia memelotot kan matanya terkejut sekaligus bergidik sambil memegang lehernya.
***
Setelah drama hukuman selesai, Gavino kembali duduk di kursinya, mencoba memfokuskan kembali konsentrasi nya pada pekerjaan, tapi....
" Tuan...?". Sean berjalan cepat mendekati Gavino.
" Ada apa lagi Sean, kau sudah bosan hidup hah ?". Kesal Gavino.
" Ini ". Sean langsung memberikan ponselnya tak perduli dengan ocehan Gavino, dia menunjukkan gambar Danira yang tegah makan siang di sebuah food court bersama seorang pria tersebar dijejaring media sosial. Mata Gavino menyipit memperhatikan foto-foto itu, lalu memperbesarnya dan...
" Bangsat.....siapa pria itu, beraninya dia membawa istriku ?". Pekik Gavino, dia berdiri langsung menyambar jasnya yang tergantung.
" Cari tau dimana istriku sekarang, kita kesana ". Ucap Gavino, sembari memakai jasnya, sambil berjalan menuju lift.
__ADS_1
" Tapi tuan, kita masih ada met....!!! ". Gavino menghentikan langkahnya, lalu memberikan tatapan tajam, mengisyaratkan bila tak ada yang lebih penting dari menemui istrinya sekarang.
Sean hanya menghela dalam hati ". Baik tuan ".
Gavino telah sampai di tempat Danira berada, dia segera turun menggunakan kaca mata hitam, berjalan masuk perlahan sambil merapikan tatanan rambut sebelah kanannya kebelakang, dan tangan kirinya dimasukan kedalam saku celana. Seperti biasa kehadirannya selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Dengan gaya angkuh Gavino melewati semua pasang mata yang tegah melihatnya penuh kagum.
Gavino menghentikan langkahnya saat dia mendengar ucapan Gultom Sandez, yang mencoba memuji sekaligus menggoda Danira.
" Eemm...no..no..no anda sungguh hebat nona, bahkan saya saja yang baru pertama kali bertemu dengan anda, mengakui itu. Saya jadi penasaran siapa pria yang sangat beruntung bisa memiliki nona nanti ".
" Apa mungkin pria itu saya ?!!!....He.he.he.he ". Ujar Gultom Sandez sambil tergelak. Gavino yang sudah berdiri tidak jauh dari meja mereka bisa mendengar dengan jelas ucapan Gultom Sandez pada Danira. Dia mengepalkan tangan kanannya kencang, matanya memerah dibalik kaca mata hitam itu, hatinya dipengaruhi api cemburu. Dia tidak suka.
" Sepertinya berita yang anda dapat kurang lengkap TUAN GULTOM SANDEZ...!!!!". Suara bariton itu menghentikan tawa Gultom. Membuat enam pasang mata dimeja itu menoleh kearah asal suara. Melihat siapa yang menyebut namanya, Gultom Sandez reflek berdiri diikuti oleh kedua karyawannya.
" Tuan Muda Pradiksa, anda disini ?". Dia sangat terkejut melihat seorang Gavino Raja bisnis ternama yang sangat sulit dijumpai sedang berdiri didepannya sekarang.
Begitupun Sarah dan Sam langsung sigap berdiri melihat suami bosnya datang.
" Tuan...". Sapa mereka membungkukkan setengah badan. Gultom Sandez memperhatikan sikap kedua asisten Danira pada Gavino, yang terlihat sangat tunduk.
" Huumm..!!". Jawab Gavino singkat, tanpa melihat Sarah dan Sam. Dia terus melihat Gultom Sandez dengan wajah tak bersahabat. Danira yang sudah hafal dengan ekspresi cemburu suaminya, hanya bisa menghela nafas pelan.
" Mas...?". Panggil Danira, Suara lembut itu menarik pandangan Gavino, yang sejak tadi menatap tajam pada Gultom Sandez. Dia mengalihkan tatapannya kepada Danira.
Danira hendak berdiri menghampiri Gavino, namun baru saja mau memundurkan kursi, suara Gavino telah menghentikannya.
" Tetap duduk disana SAYANG, biar aku yang menghampirimu ". Ujar Gavino menekan kata-katanya, Dia perlahan berjalan kearah Danira, Sarah menggeser tubuhnya memberi tempat duduknya untuk Gavino. Mendengar kata romantis Gavino pada Danira, semakin menimbulkan banyak tanya dalam kepala Gultom Sandez.
Sayang ?...apa hubungan mereka sudah sedekat itu ?, apa mereka berpacaran ?. Batin Gultom menebak-nebak.
" Mas tahu aku disini ?". Tanya Danira lembut, pasalnya dia tadi tak mengirim pesan atau memberitahu pada suaminya bila dia akan makan siang diluar. Gavino yang sudah duduk disamping Danira langsung menarik tubuh Danira lalu....
Cup*
Gavino mendaratkan kecupan manis di pipi Danira yang ditutupi burka. Danira mencubit paha Gavino, dia malu karena banyak pasang mata yang tegah melihat kearah mereka sekarang.
" Tentu saja aku tau, dan aku selalu tau dimana posisi ISTRIKU berada ". Ucap Gavino semakin menekan setiap kata-kata nya. Gultom Sandez semakin tercengang keheranan, di bahkan tak berkedip beberapa saat.
" Kau berhutang penjelasan padaku sayang ". Bisik Gavino ditelinga Danira, membuat bulu kuduk Danira merinding. Gavino kembali melihat kearah Gultom Sandez yang masih berdiri mematung.
" Oh aku sampai lupa, tuan Sandez kenapa anda berdiri saja, Silakan duduk kembali. Saya yakin anda sudah mengenal saya bukan, tapi demi kenyamanan, saya akan memperkenalkan diri saya kepada anda ".
" Perkenalkan Saya Gavino Garayudha Pradiksa, SUAMI dari Nyonya Danira ". Ujar Gavino angkuh penuh kesombongan, seakan menekankan pada Gultom Sandez bila Danira adalah miliknya. Gavino mengulurkan tangannya ke depan.
Deg*
Gultom Sandez makin membeku, mencoba memperjelas ucapan Gavino dalam pendengarannya.
Suami ?...jadi Danira sudah.....!!Batinnya tak percaya. Ucapan Gavino membuat harapan Gultom Sandez terputus, baru saja berniat ingin merajut kasih, tapi ternyata wanita impian sudah ada yang memiliki.
Gavino tersenyum sinis, melihat Gultom Sandez hanya terdiam membisu didepannya. sedangkan Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah suaminya yang posesif.
" Tuan Sandez apa anda mendengar saya ?". Ulang Gavino, mencoba menyadarkan Gultom Sandez dari keterkejutannya.
" Aahh iya...!!!! eemm maaf tuan muda Pradiksa, saya cukup terkejut mendengar perkataan anda, saya tidak tau bila anda dan non..Eehh maksud saya nyonya Danira sudah menikah ". Jawab Gultom Sandez gugup bercampur gemetar, menyambut uluran tangan Gavino, dia dapat merasakan tangannya di genggam cukup kuat oleh Gavino, membuatnya menahan sakit.
" Sepertinya orang-orang mu kurang cerdas dalam mengumpulkan informasi ". Sindir Gavino melirik kedua karyawan Gultom Sandez, membuat kedua orang itu tertunduk takut, gemetar.
Gultom Sandez hanya menanggapi sindiran Gavino dengan senyum canggung, dia membenarkan ucapan Gavino.
" Sayang bukankah siang ini kau ada pertemuan penting, lebih baik kita kembali ke kantormu sekarang. Diluar sudah mulai mendung, seperti nya sebentar lagi hujan akan turun ". Ajak Gavino, dia tak ingin Danira berlama-lama bersama pria asing, apa lagi dia tau pria yang ada didepannya saat ini memiliki ketertarikan pada istrinya. Gavino tak akan membiarkan Gultom Sandez memiliki sedikitpun kesempatan.
Gavino bisa saja langsung membawa Danira pergi begitu saja dari tempat itu tanpa harus ber basa basi seperti ini. Namun dia tidak akan melakukannya, Gavino tak ingin menjatuhkan harga diri istrinya didepan orang lain, apa lagi saat ini mereka sedang di area umum, yang mana semua perhatian orang-orang sejak tadi tertuju pada mereka.
Danira memiringkan sedikit tubuhnya, melihat keluar. Benar saja, diluar mulai terlihat gelap tanda akan turunnya hujan. Dia kembali melihat sekilas Gultom Sandez yang masih duduk diam didepannya. Sangat terlihat jelas keterkejutan diwajahnya.
" Maaf tuan Sandez, sepertinya saya harus pergi karena ada jadwal meeting sebentar lagi. Terima kasih atas makan siangnya ". Ujar Danira, Gultom Sandez pun ikut berdiri saat Danira dan Gavino beranjak dari duduknya.
" Sama-sama Non...!! Nyonya ". Jawab Gultom Sandez pelan. Dia masih amat sangat terkejut mengetahui bila Danira sudah menikah, pasalnya di informasi yang dia baca tidak menerangkan bila status Danira telah menikah, apa lagi suaminya adalah seorang Gavino, sosok manusia yang tidak bisa disentuh.
Dia harus memberi pelajaran kepada asistennya sepulang dari sini nanti. Pikir Gultom Sandez sambil melirik tajam anak buahnya yang duduk disamping terus menunduk.
" Ayo sayang..." Ajak Gavino, merangkul Danira posesif, dia tak akan membiarkan pria-pria di luaran sana mendambakan istrinya.
Ciihh beraninya dia mencuri pandang pada istriku seperti itu, menjijikan. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mendambakan istriku, bahkan dalam mimpi sekalipun tidak boleh.
......................
__ADS_1
...Bersambung.........