
Mobil Rolls Royce milik Gavino telah terparkir tenang tepat didepan mansion keluarga Pradiksa, Bik Sri dan para pelayan lain telah berdiri siap menyambut Nyonya muda mereka, karena ini pertama kalinya Danira memijakkan kakinya ke kediaman keluarga suaminya, sejak mereka menikah 2 bulan yang lalu.
Sean membukakan pintu penumpang, Danira keluar dari dalam mobil bersama dengan Khalisa, melihat sekeliling Besar dan mewah, itulah yang Danira nilai. Belum sempat Danira berjalan, dari dalam mansion sudah terdengar suara teriakan Ny. Calina yang menggelegar.
" ANAK MAMI....!!", Teriaknya sambil berlari menghampiri Danira, Danira tersenyum lalu mencium tangan ibu mertuanya dan dibalas cium kening oleh Ny. Calina.
" Aduh...!! cucu Oma, makin cantik dan montok saja. baru 1 hari tidak bertemu Oma sudah rindu berat". Ujar Ny. Calina, mengambil Khalisa dari gendongan Danira, Khalisa hanya tertawa mendengar ocehan Omanya.
Dari dalam mobil, Gavino melihat bagaimana antusianya sang ibu bertemu dengan Danira. Gavino membuka pintu dan keluar. Ny. Calina menoleh, mengeryitkan dahinya.
" Loh..suami laknat kamu ikut mengantar kamu Ra ?". tanya Ny. Calina, Danira hanya mengangguk melirik Gavino sekilas.
" Tumben sekali, dia tidak salah minum obat kan Ra ?". Ny. Calina merasa aneh dengan perubahan Gavino. Gavino hanya melipat tangannya kedepan dada, melihat ibunya dengan wajah datar.
" Mami pikir aku sakit minum obat ?, lagi pula aku mengantarnya bukan karena ada maksud apapun, karena arah kantorku sama jadi ya sekalian saja aku mengajaknya pergi bersama". jelas Gavino memberi alasan.
Ny. Calina memajukan bibir bagian bawahnya, tersenyum mengejek. " Gavino...Gavino...!! kau pikir mamimu ini sudah pikun apa, kantormu sudah terlewat jauh, sedangkan jalan kerumah kita harus melewati kantormu dulu. mengapa kau tidak turun dan langsung kekantormu lalu biarkan Sean yang mengantarnya kesini ?".
"Mungkin kau bisa menipu Danira, tapi tidak dengan mami..". Ejek Ny. Calina, gavino salah tingkah, seperti menyadari sesuatu.
Aahhh...sial, mengapa aku bisa lupa, bila jalan kerumah mami akan melewati kantorku dulu. Batin Gavino merutuki. Sean mengulum senyum yang ditahan, sedangkan Danira tersenyum tipis melihat wajah serba salah Gavino.
" Aku tidak membodohi siapapun mi, aku memang ingin datang kesini juga, karena sudah lama aku tidak mampir kerumah ini". Gavino memberi alasan lagi. Ny. Calina hanya mencebikkan bibirnya.
" Cihh...alasan".
" Mami kenapa sekarang lebih sayang kepada wanita ini. Aku yang anak kandung mami, bukan wanita ini ". Ujar Gavino, geram melihat ibunya lebih membela dan menyayangi Danira.
" Oohh sekarang sudah berubah...!!".
" Berubah ?". Gavino menaikan satu alisnya.
" Iya...sekarang Danira adalah anak kandung mami, dan kamu yang menjadi menantu mami. Jadi sah sah saja bila mami lebih menyayangi dia dibanding kamu". Ujar Ny. Calina sambil memeluk Danira, Gavino menghela nafas kasar mendengar penjelasan ibunya.
" Ya..ya..ya, terserah mami lah, aku malas bila harus berdebat dengan mami sekarang".
" Aku berangkat dulu ". Gavino pamit lalu mencium pipi maminya. Gavino bergeser kehadapan Danira, refleks ingin mencium Danira juga. Dengan cepat Danira memundurkan 1 langkah kebelakang.
Gavino tersadar, Apa yang aku lakukan, apa aku masih dalam pengaruh alkohol ?. Batin Gavino. Matanya celingukan kekanan kekiri melirik orang- orang yang ada disana menatapnya bengong, dia mengerjapkan matanya beberapakali.
" Hekhem..". Gavino mencoba menguasai dirinya lagi, menampilkan wajah datarnya seperti semula, merapikan rambutnya sebelah kiri kearah belakang. Hampir saja gavino melewati batas yang dia buat sendiri. Gavino berdiri melihat Danira sejenak, Gavino tidak tau, mengapa dadanya selalu berdebar saat mencium aroma dari tubuh danira, hingga membuatnya sulit mengendalikan diri. Danira melihat mata Gavino, ada yang berbeda, kali ini Gavino melihatnya bukan dengan tatapan benci seperti biasanya. Gavino mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pucuk kepala Danira.
" Aku berangkat ". Ucap Gavino pelan, sambil mengelus pucuk kepala Danira.
Deg*
Jantung Danira seperti berlari maraton, Dia menundukkan sedikit kepalanya risih, ingin rasanya Danira menepis tangan Gavino, namun diurung melihat banyaknya pasang mata yang mengarah kepada mereka saat ini. sama halnya dengan Jantung Ny. Calina dan Sean juga tak kalah berdetak cepat, mereka mengira Gavino akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti Danira, namun perkiraan mereka salah, Gavino melakukan hal yang diluar dari pikiran mereka. Ny. Calina dan Sean saling bertatapan bingung melihat tingkah aneh Gavino. Ny. Calina memberi kode bertanya kepada Sean, Sean hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau.
Ada apa dengannya hari ini, apa benar dia salah minum obat ?, atau alkohol yang dia minum semalam membuat otaknya sedikit bergeser. Batin Danira bertanya-tanya.
Gavino melangkah akan masuk kedalam mobilnya, Sean telah bersiap disamping Gavino untuk menutup pintu mobil itu, Gavino memutar setengah tubuhnya melihat Danira.
__ADS_1
" Kau jangan memakai parfum itu lagi, aromanya sangat menganggu Indra penciumanku". Ujarnya, lalu masuk kedalam mobil disusul oleh Sean.
Danira mengendus-endus tubuhnya, dia tidak pernah memakai parfum apapun, mengapa Gavino selalu mengira dia menggunakan wewangian. pikir Danira. " Apa mami mencium aroma parfum dari pakaianku ?". Danira bertanya kepada mertuanya. Ny. Calina mendekat mengendus-endus Danira dari depan hingga belakang seperti guguk pelacak.
" Tidak sayang, mami tidak mencium aroma parfum. Sudahlah tidak perlu kamu pikirkan ucapan suami durjanamu itu. paling itu hanya akal-akalan dia saja".
" Ayo kita masuk, ada yang ingin berkenalan denganmu". Ujar ny. Calina, menarik tangan Danira membawanya masuk kedalam mansion.
...****************...
Danira duduk diruang keluarga, Danira melihat banyak piguran foto-foto keluarga yang terpasang rapi ditembok, termasuk juga foto pernikahannya dengan Gavino. Ny. Calina datang membawa ponselnya, menyalakan TV LCD. Bukankah mami ingin memperkenalkan aku kepada seseorang, lalu mengapa dia menyalakan televisi?. pikir Danira.
"Maaf Nyonya, anda ingin minum apa ?". Tanya bik Sri.
" Apa saja bik, yang seger-seger sepertinya lebih enak".
" Baik Nyonya". Bik Sri berlalu pergi, meninggalkan Ny. Besar dan Ny. mudanya menyiapkan cemilan dan minuman untuk mereka.
Layar televisi telah menyala, menampakkan gambar dengan tulisan memanggil. Tak menunggu lama, dilayar tv telah memunculkan wajah sosok wanita muda dan cantik.
" Mami..." Teriaknya, membuat Danira menutup kedua telinganya dengan tangan, karena Ny. Calina menyambungkan pengeras suara menggunakan sound system. Cepat-cepat Ny. Calina mencari remote, mengecilkan suaranya.
" Bisakah kau tidak berteriak Gea...mami tidak tuli". Ny. Calina bersungut-sungut.
" Masa sih mi, perasaan aku sudah berbicara pelan ini".
" Pelan matamu, lihatlah sampai kakak iparmu saja menutup telinganya ". Gea menegakkan tubuhnya yang sedang menyender dikursi, mendengar ada kakak iparnya wajah Gea berubah antusias.
" Ini dia kakak iparmu, yang mami ceritakan waktu itu ". Gea menyipitkan matanya, lalu mengelap camera ponselnya berkali-kali.
" Kau kenapa Gea, apa yang kau lakukan itu ?". tanya Ny. Calina.
" Aku sedang membersihkan camera ponselku mi, sepertinya ponselku rusak ?".
" Rusak ?, bukannya kau baru ganti kemarin ?". tanya Ny. Calina lagi.
" Iya, tapi disini yang terlihat hanya mami, sedangkan kakak iparku tidak terlihat hanya pakaian hitam saja". Jawaban Gea membuat Ny. Calina tepok jidat, mengapa anaknya bisa sebodoh ini. pikir Ny. Calina.
" Astaga Gea...!! ini kakak iparmu, pakaiannya memang seperti ini, bukan handphone mu yang rusak bodoh. Mamikan pernah menunjukkan foto pernikahan mereka". Geram Ny. Calina kepada Gea.
" Iya, tapikan difoto pernikahan kakak ipar mengunakan gaun warna putih, bukan hitam seperti sekarang ". Jawab Gea polos.
Bug*
" Aduh....kau apa-apaan sih, selalu saja memukul kepalaku, sakit tau". Pekik Gea kepada kakaknya. Gio yang sedari tadi bermain Game disofa, mendengar semua percakapan antara ibu dan adik lemotnya itu. Dia juga geram mendengar jawaban adiknya yang terlewat bodoh. Gea menggosok-gosokkan kepalanya, untung saja itu hanya bantal sofa, jadi tidak terlalu sakit.
" Kenapa kau bisa bodoh sekali Gea..!! kakak ipar tidak mungkin menggunakan pakaian pengantinnya terus menerus bukan, sudah pasti dia akan berganti pakaian seperti yang dia kenakan sekarang".
" Tapi mengapa kakak ipar seperti lemper ?". Pertanyaan Gea membuat Gio bingung.
" Lemper ?".
__ADS_1
" Iya, coba saja kau lihat. Semua tubuhnya dibungkus seperti lemper, sampai-sampai aku tidak bisa melihat wajahnya".
" Astaga..Astaga.." Ny. Calina memijit keningnya yang terasa berdenyut pening mendengar ucapan-ucapan Gea.
" Ya ampun...!! kakak ipar memang mengenakan pakaian Syar'i, mami kan sudah menceritakan waktu itu, kalau kakak ipar mengunakan Burqa diwajahnya, jadi tidak semua orang bisa melihat wajahnya. otakmu ini terbuat dari apa sih Gea". Gio kesal, dia selalu menjadi penerjemah untuk adiknya yang super lemot ini.
" Oohhh....biasa aja dong, namanya juga lupa". Ujarnya tak terima karena Gio selalu mengatainya bodoh. Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah adik kakak yang ada didalam layar itu.
" Ra..harap dimaklum ya, adikmu Gea memang otaknya sedikit kurang". Bisik Ny. Calina kepada Danira.
" Mami tidak bole bicara seperti itu, dia hanya terlalu polos".
" Kalau Gea, Polos dan bodoh mami tidak bisa membedakannya".
" Mami mengataiku ya..". Pekik Gea, memajukan bibirnya cemberut.
" Cihhh... dikit-dikit marah, merajuk, itu saja yang kau bisa". Ketus Gio, dengan terus bermain Game.
" Hai Gea "
" Hai Gio ". Sapa Danira kepada kedua adik iparnya, Gea melihat kearah kamera lagi, wajahnya yang merajuk kini berubah menjadi senyum senang.
" Haii kakak ipar ". Gea kembali menyapa Danira.
" Haii..". Jawab Gio masih terus fokus kepada ponselnya.
" Kak aku ingin bertanya sesuatu, boleh ya ?".
" Kamu ingin menanyakan apa Gea, jangan yang aneh-aneh ?". Ny. Calina melemparkan peringatan.
" Apaan sih mi, bertanya juga belum sudah diplototin aja". Gea beraungut kesal.
" Masalahnya pertanyaanmu suka tidak berfaedah". Ketus gio dari belakang.
" Memangnya Gea mau bertanya apa ?". Potong Danira, sedari tadi hanya mendengar perdebatan antara mereka bertiga saja. Gea tersenyum sumringahendengar suara Danira.
" Apa Kakak tidak merasa kepanasan mengenakan pakaian tertutup seperti itu ? Apa kakak bisa bernafas dengan wajah yang juga ditutup rapat ?, aku saja sesak melihatnya kak, apa lagi kakak yang menggunakannya".
" Nah kan..nah....!!benarkan tebakan mami, pasti pertanyaanmu yang tidak ada pentingnya, sudah Ra tak perlu kamu jawab pertanyaan gila Gea". Sindir Ny. Calina, melihat Gea tajam.
" Iissshh...mami, Jagan melotot seperti itu, ngeri tau". Gea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. " Lagi pula kan aku hanya bertanya, memang ada yang salah ?, tapi aku penasaran ingin melihat wajah kakak iparku, apa boleh kak, aku melihatnya ?". pinta Gea, dengan mata memohon.
" Jika kamu tidak nyaman, Jagan turuti kemauan kutu ayam ini". Ujar Ny. Calina kepada Danira.
Danira menyentuh tangan Ny. Calina " Tidak apa-apa mi, mereka juga adik-adikku sekarang ". Jawab Danira lembut, lalumenarik pengikat Burqanya, kemudian Danira juga membuka tali pengikat cadarnya. Sekarang terlihat sudah wajah Danira. Ny. Calina tersenyum lebar, sedangkan Gea mematung dengan mata membesar, mulut terbuka lebar hingga air liurnya keluar.
" Oh My God".
......................
...Bersambung......
__ADS_1