CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
35. Nasehat


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti Ny. Calina telah tiba, Pagi ini akan menjadi pagi yang bersejarah bagi kedua calon pengantin. Mereka masih dipisahkan diruang tunggu masing-masing. Danira yang berada di ruangannya masih duduk didepan kaca rias yang cukup besar, Bik Marni duduk di Sofa sambil menemani Khalisa yang masih tertidur, sedangkan Sarah hanya berdiri didekat pintu, menunggu sang MUA datang, tak lama pintu terbuka masuklah seorang wanita dengan asistennya membawa koper berukuran cukup besar. Sang asisten itu membuka koper itu, mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya. Penata rias ternama itu melihat Danira dari atas sampai bawah, merasa aneh karena Danira yang masih menggunakan gamis lengkap.


" Maaf apa anda bisa membuka penutup wajah ada dulu, karena saya akan memulainya". Tanya wanita yang bernama Tata sopan.


Danira mengamati sekitar, merasa aman dan tidak ada laki-laki, Danira mengangkat kedua tangannya membuka ikatan Burqa dan Cadarnya dibelakang kepalanya.


Tata yang mulai mengambil Foundation dan Beuty blender, seketika menjatuhkan semua benda yang ada ditangannya, mulutnya sedikit terbuka, matanya tak berkedip begitupun dengan asistennya. Ekspresi mereka tak jauh berbeda Sempurna. pikir mereka. Sarah yang melihat itu, mendekati Tata, menyadarkannya dari keterkejutan.


" Apa sudah bisa dimulai". Suara Sarah mengembalikan kesadaran tata. " Ah...iya tentu". jawabnya gugup.


Danira hanya diam, sebenarnya Danira risih jika harus didandani, karena ini pertama kali Danira di-makeup. Tata mulai mengamati wajah yang terlampau indah dihadapannya ini, Dia bingung apa yang harus dia poleskan. Tata duduk dikursi bulat yang ada didepan Danira. Melihat itu,.Danira menautkan alisnya.


" Ada apa kak, kenapa belum mulai?". tanya Danira lembut, tata makin terpesona mendengar suara Danira.


" Eemm itu,..maaf saya bingung harus memoleskan apa diwajahmu. Jujur saja wajahmu sudah memiliki semuanya". tutur Tata jujur. Bagaimana tidak bingung, Danira sudah memiliki alis hitam rapi tak perlu diukir lagi, bulu mata panjang lebat lentik tak memerlukan bulu mata palsu , bola mata indah berwarna biru tak membutuhkan softlens, hidung mancung tak perlu dipakai seding, pipi pink merona tak membutuhkan Blush on, bibir Semerah buah Cherry sudah tak butuh lipstik.


" Bolehkah saya memberi usul, untuk make up diwajah saya". tanya Danira pelan.


" Tentu ".


" Bisakah kakak membuat make up Flawless saja, aku tidak suka make up yang tebal". ujar Danira polos. Tata yang mendengar itu, tersenyum dan mengangguk.


" Baiklah, sepertinya memang make up itu yang dibutuhkan wajah super cantikmu ini".


Tata mulai memoleskan beberapa makeup saja diwajah Danira, seperti Eye shadow, Maskara, menambah sedikit blush on mengkilap dan lipstick. Tak butuh waktu lama acara makeup pun selesai. Danira melihat pantulan wajahnya di cermin, merasa aneh seakan-akan itu bukan dirinya. Danira berdiri mengambil baju pengantinnya yang ada di manakin, Dia berlalu keruang ganti.


Danira keluar dari ruangan itu, Dia telah mengenakan baju pengantinnya yang berwana putih tulang, bagian bawah gaunnya mengembang panjang berekor, bertabur kristal-kristal kecil, dipinggiran terdapat renda berpayet, dibagian atas polos berenda dengan tangan panjang. Tak lupa hijab panjang berwarna senada menutupi area dadanya hingga perut.


Semua mata yang ada didalam ruangan itu, hanya tertujuh pada Danira, tak ada mata yang berkedip, semua takjub, mungkin bila mereka laki-laki maka akan terjadi kegaduhan didalam ruangan itu karena memperebutkan Danira.


" Apa ada yang salah, kenapa kalian semua diam saja". Semuanya masih terpaku dengan pemandangan indah dihadapan mereka.


" Masyaallah kamu cantik sekali nak". Suara seorang wanita dari pintu mengambil alih pandangan Danira. Mata Danira membulat melihat siapa yang datang.


" Umi...!!". pekik Danira tak percaya. Danira berjalan menghampiri dan mencium tangan umi Siti.


" Ya Allah umi, Danira pikir umi tidak akan datang". ujar Danira dengan mata Mulai berkaca-kaca. Dia memeluk umi dengan erat.


" Umi pasti datang nak, tidak mungkin umi tidak menghadiri pernikahan putri umi". jawab Umi Siti sambil melepaskan pelukan mereka.


" Jangan menangis, ini hari bahagiamu. kamu tidak bole menangis nanti cantiknya hilang". tangan umi menghapus air mata di wajah Danira sambil bergurau.

__ADS_1


" Abah mana mi?". Mata Danira mulai mencari keberadaan Kyai Roslan.


" Dia langsung keruangan calon suamimu nak". Umi memberitahu. Danira hanya mengangguk.


Disaat Ny. Calina menanyakan perihal Wali, Danira mulai memikirkan siapa yang akan menjadi walinya, lalu pikirannya menggingat kyai Roslan dan umi Siti yang selama ini telah membesarkannya dan sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri. Danira langsung menghubungi mereka, awalnya mereka terkejut mendengar jika Danira meminta kyai Roslan menjadi wali nikahnya, lalu danira menceritakan semua yang terjadi. Akhirnya Kyai Roslan dan umi Siti tau alasan Danira menerima pernikahan ini.


" Nak..! apakah kamu sudah yakin dengan pilihan kamu ini ?". tanya umi lembut, sambil menggenggam kedua tangan Danira Yang telah memakai sarung tangan. Mereka berdua duduk di sofa yang ada disana.


" Insyaallah Danira yakin umi". Jawab Danira tegas.


" Alhamdulillah, Kamu harus ingat pesan umi, apapun yang terjadi didalam rumah tanggamu kelak, jangan pernah menceritakan pada orang luar, Jagan pernah melawan kepada suamimu kecuali dia berbuat Dzalim, patuhi perintah suamimu, karena syurga seorang istri ada pada suaminya, Karena ridho suami sama dengan ridhonya Allah. jadilah istri yang Sholehah, yang bisa menjaga kehormatan dan harta suaminya." Nasehat umi pada Danira.


" Iya umi, insyaallah Danira akan ingat pesan umi, mohon doakan semoga rumah tangga Danira kelak akan baik-baik saja umi".


" Nak...rumah tangga tidak akan ada yang selalu baik-baik saja, semua pasti akan ada cobaannya. Tergantung bagaimana Mereka yang menjalankan dan menyelesaikan permasalahannya. Semua ada Pasang surutnya, jika kelak Danira mengalami cobaan itu, segeralah meminta pertolongan Allah, karena hanya DIA lah yang mampu memberikan jalan keluarnya".


" Jadikan ini pernikahan sekali seumur hidup ya nak ". ujar umi lagi.


" Aamiin umi, terima kasih". ucap Danira lalu memeluk uminya lagi.


...****************...


Diruangan Calon pengantin Pria, Ny. Calina tegah sibuk membantu putranya bersiap-siap. Gavino hanya diam dan mengikuti apa yang diperintah ibunya, dia benar-benar mengalah.


" Belum". singkatnya, sontak saja jawaban Gavino itu menghentikan kegiatan Ny. calina.


" Belum ??? Astaga Gavino...bagaimana bisa kamu menjawab belum? Apa kamu tidak pernah latihan hah?". Ny. Calina mulai kesal melihat Gavino yang cuek bebek.


" Apa yang harus aku latih mi, nama wanita itu saja aku tidak tau dan mas kawinnya pun aku tidak tau". jawab Gavino enteng sambil berjalan menujuh sofa,lalu duduk.


" Astaga...mami juga lupa menanyakan nama lengkap Danira dan nama ayahnya". ujar Ny. Calina sambil menepuk jidatnya sendiri.


" Untuk maharnya, Danira tidak mematok berapa besarnya, Dia hanya mengatakan berapapun yang kamu sanggupi Dia akan menerimanya, selagi itu tidak menjatuhkan harga dirinya". ujar Ny. Calina lagi.


Gavino hanya diam, melihat taman yang ada diluar jendela. Fikiran Gavino hanya tertujuh pada kekasihnya yang sedang berada diluar negri saat ini, jika Dia kembali dan mengetahui bahwa kekasihnya telah menikah dengan wanita lain, pasti hatinya sangat hancur, itulah yang ada dipikiran Gavino. Rasanya Gavino ingin kabur saja, tapi dia ingat lagi kejadian Minggu lalu, aksi nekat sang mami yang membuat dia terjebak dengan situasi ini.


Gavino melirik Arloji yang ada ditangannya, waktu baru menunjukkan pukul 7.30 pagi, masih ada waktu jika dia ingin kabur karena pernikahan akan berlangsung pada pukul 10 pagi, sebelum solat Jumat.


" Ya udah, mami mau keruangan Danira dulu, mau menanyakan nama lengkapnya. Kamu disini aja Jagan kemana-mana, ingat jangan coba-coba kabur". Ultimatum Ny. Calina, membuat Gavino melirik tajam pada sang mami. Saat Ny. Calina ingin membuka pintu, tiba-tiba seorang laki-laki telah berusia dengan baju koko putih, mengenakan sarung sebagai bawahannya, rambut putihnya ditutupi dengan sorban, menggurungkan niatnya ingin mengetuk pintu karena melihat pintu ruangan itu telah terbuka.


" Assalamualaikum ". salam laki-laki itu padan Ny. Calina.

__ADS_1


" Waallaikumsalam ". jawab Ny. Calina sambil melihat penampilan pria itu. " Maaf bapak mencari siapa". tanya Ny. Calina pelan dan sopan.


" Apa ini ruangan calon Pengantin pria ?".


" Iya benar pak, maaf ada perlu apa dengan putra saya?".


" Oh anda Ibu Calina ya,... perkenalkan saya Kyai Roslan, Abahnya Danira". Abah mengatupkan kedua tangannya, memperkenalkan diri.


" Oh Bapak ayah angkatnya Danira, Ya Allah maafkan saya, ayo masuk pak". Ajak Ny. Calina pada Kyai Roslan.


Mereka berdua masuk, Gavino yang sedari tadi hanya diam, melirik pada pria yang ada disamping ibunya, Gavino acuh karena merasa tak mengenali orang asing itu.


" Gavino ". panggil Ny. Calina, Namun Gavino tak menggubris sang mami yang sudah merasa tidak enak dengan Kyai Roslan yang melihat tingkah kurang ajar putranya itu.


Kyai Roslan hanya melihat Gavino dari atas kepala hingga kakinya " Bole saya berbicara berdua dengan dia saja Bu Lina". Pinta Kyai Roslan.


Mendengar permintaan Kyai Roslan membuat Ny. Calina sedikit ragu meninggalkan mereka berdua saja, mengingat sifat tempramen yang dimiliki Gavino. Kyai Roslan yang bisa melihat keraguan Ny. Calina tersenyum tipis " Ibu tenang saja, tidak akan terjadi apapun pada kami". ujarnya, akhirnya Ny. Calina menganggukan kepalanya kemudian berlalu keluar. Kyai Roslan duduk disofa yang ada disamping Gavino, beliau duduk dengan santai sambil melipat kedua tangannya didada. Gavino mengeryikan dahinya, melihat tingkah Kyai Roslan, namun Gavino tetap mengacuhkannya, Dia sedang tak ingin marah-marah.


" Jika kau tak ingin menikah, mengapa kau tak pergi saja sekarang tidak akan ada orang yang tau". Ketus Kyai Roslan, pernyataan itu menarik pandangan Gavino untuk melihat lawan bicaranya.


" Apa maksud anda, dan siapa anda, lebih baik anda tidak perlu ikut campur urusanku". ucapan Gavino tak kalah ketusnya.


Kyai Roslan tersenyum miring, tanpa melihat wajah Gavino, pandangannya tertujuh pada tanaman yang sedari tadi dilihat Gavino.


" Jelas ini urusanku, karena ini menyangkut masa depan putriku ". jawab Kyai Roslan dingin, Gavino menegakkan punggungnya, terkejut mendengar jawaban pria yang duduk disampingnya ini.


Apa dia bilang tadi, putriku, berarti dia ayahnya wanita itu. gumam Gavino dalam hati.


" Jadi anda ayahnya....!!"


" Aku tidak tau apa dasar kalian memutuskan untuk menikah, yang aku tau Dia setujuh demi memenuhi permintaan seseorang kepadanya. Jika dia berani mengambil keputusan ini, berarti dia sudah menemukan jawaban dari Doanya pada Allah, Jika Dia telah mengatakan Iya, berarti Allah membantu menggerakkan lidahnya berkata demikian".


"Bila kau pria pengecut yang hanya akan menyakitinya, lebih baik kau berhenti sebelum memulai".


" Aku memang tidak mengenal dirimu, bahkan ini pertama kali kita bertemu, tapi aku percaya kau pria yang bertanggung jawab".


"Jika kau ingin mengetahui Danira dengan baik, maka kenali dia dengan hatimu bukan dengan matamu, dengarkan dia dengan perasaanmu bukan dengan telingamu".


" Bila kau hanya melihatnya dengan matamu, maka kau hanya mendapatkan keindahan Dunia, Tapi jika kau melihatnya dengan hatimu, maka kau akan melihat kebahagiaan akhiratmu yang indah". Ujar Kyai Roslan, Gavino hanya diam mencoba memahami apa yang dimaksud kata-kata kyai Roslan, tapi dia benar-benar tidak mengerti. Kyai Roslan berdiri dan mulai melangkah menujuh pintu, tapi dia berhenti sejenak tanpa memutar tubuhnya.


" Satu lagi, untuk nama lengkapnya kau akan mengetahui saat didepan ku nanti sebagai wali nikahnya". Setelah mengatakan itu Kyai Roslan berlalu pergi, menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2