
Danira telah bangun sejak subuh, karena sedang kedatangan tamu bulanan, Danira memilih langsung memasak sarapan dan berbenah dari pada tidur lagi. Danira masih asik memasak sambil bersholawat, dia tak menyadari bila ada sepasang mata sedari tadi mengamatinya dari jauh.
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Tangan Danira bergerak kesana kemari, dengan mulut tak lepas dari senandung sholawat, namun tiba-tiba dari belakang ada yang memegang pundaknya.
" Kamu sedang apa Ra ?". Ny. Calina bertanya, membuat Danira terperanjat kaget.
" Astaghfirullah....mami, ya Allah.." Danira mengelus dadanya yang masih berdetak cepat.
" Maaf sayang, mami tidak bermaksud mengagetkan kamu".
" Kenapa kamu jam segini sudah didapur?". tanya Ny. Calina merasa aneh, biasanya jam segini orang-orang masih pada tidur tapi menantunya malah sudah beraktivitas didapur.
" Danira sedang tidak Solat mi, biasa ada tamu bulanan. karena sudah terbiasa bangun pagi jadi sudah tidak bisa tidur lagi, dari pada diam saja, lebih baik Danira memasak untuk kita sarapan nanti". jelas Danira, tanpa melihat Ny. Calina. Ny. Calina hanya mengangguk tanda mengerti sambil terus melihat tangan Danira yang cekatan.
" Kamu masak apa itu, baunya enak sekali sampai masuk kedalam kamar". Ujar Ny. Calina melihat masakan Danira.
" Danira cuma masak cumi dan tumisan saja mi, nanti mami cobain ya ?". Jelas Danira, sambil tersenyum.
" Tentu, mami akan mencoba semuanya. sepertinya enak-enak".Ujar Ny. Calina, perutnya sudah berbunyi memberi tanda alarm lapar. Danira telah selesai, Dia menata semua makanan yang dia masak diatas meja makan, Ny. Calina terus mengamati dalam hatinya merasa kagum.
__ADS_1
Gavino telah turun dari kamarnya dengan setelan kerja rapi, Ny. Calina hanya melihat Gavino sekilas lalu mengalihkan tatapannya kearah lain lagi. Dia masih sangat kesal dengan kebodohan Gavino, yang menyia-nyiakan Danira. Gavino yang tau ibunya masih marah, dia hanya diam tak juga berniat menyapa.
Seperti biasa, Danira menyiapkan makanan untuk Gavino dan segelas teh hangat, dia meletakkan didepan gavino.
" Silahkan ". Ujar Danira lembut, Gavino hanya diam tak mengatakan apapun lalu mulai menyantap sarapannya.
"Tumben sekali bocah tengik itu mau sarapan dengan nasi ?". Tanya Ny. Calina kepada Danira. Danira duduk kembali kekursinya lalu melihat ibu mertuanya.
" Sudah hampir 2 bulan ini, memang mas Gavino sarapannya begitu mi, sudah tidak pernah roti lagi". Jawab Danira apa adanya, sambil tangannya bergerak mengisi piring untuk Ny. Calina. Gavino tak menimpali apapun, memang yang dikatakan Danira benar adanya. Dia juga bingung mengapa selera makannya sekarang berubah 180°, bahkan jika saat makan di luar pun dia malah tidak nafsu sama sekali, yang ada dalam benaknya menginginkan masakan Danira. Hanya saja dia masih gengsi untuk mengatakan itu kepada Danira.
" Bagus lah...biar dia tidak seperti Bule terus menerus".
" Emm..masakan kamu enak sekali ra, kamu belajar masak dimana ?". Tanya Ny. Calina sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya. Ini pertama kalinya Ny. Calina mencoba masakan sang menantu karena sejak mereka menikah Ny. Calina harus terbang ke Eropa menjenguk anak-anaknya yang lain.
" Makasih mi, Dulu di pesantren Danira suka bantu umi Siti, kadang team yang memasak untuk makan para santri disana ". Jawab danira.
" Kamu benar-benar wanita idaman ya Ra, sudah cantik, baik, Solehah, pinter masak lagi. Beruntung sekali mami punya menantu seperti kamu". puji Ny. Calina, dia benar-benar merasa bangga kepada Danira, walaupun Gavino sering kali menyakitinya, tapi dia tak pernah mengeluh ataupun mengadu kepada mertuanya ini.
" Sayang sekali, kamu punya suami yang seperti.." Ny. Calina menunjuk dengan mengembungkan pipinya kearah Gavino. Gavino tetap diam, sedangkan Danira hanya tersenyum melihat tingkah mertuanya.
" Tidak apa mi, suami seperti inikan antik ". Ujar Danira santai, Gavino melirik Danira tajam.
" Mami....Dia punya nama, namanya Stevani". Gavino tak terima bila ibunya menyebut kekasihnya seperti itu.
" Beraninya kau menyebut nama wanita sundel itu disini hah ?". kesal Ny. Calina.
" Mami sudah, biarkan saja bila mas Gavino ingin menyebut nama wanita lain, aku tidak apa-apa ". Danira menenangkan Ny. Calina, bila Danira tidak cepat sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Kamu jangan terlalu baik Ra, laki-laki seperti ini harus diberi peringatan. Huh...andai mami punya anak laki-laki yang lain, sudah pasti mami jodohkan kamu dengan yang lain saja".
" Mamikan punya Gio". jawab Gavino santai, sambil menyeruput teh hangatnya.
" Diam kau, mami tidak minta pendapatmu".
" Tapi Gio masih terlalu muda, dia baru berusia 19 tahun, apa mami jodohkan kamu sama sahabat Gavino saja ya ra". gumam Ny. Calina yang ingin memanas-manasi Gavino, sedangkan Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tau Ny. Calina sedang ingin mengerjai suaminya ini.
__ADS_1
" Kalau sama Gio, masa tuaan istrinya sih mi kan aku sudah 20 tahun, sedangkan Gio baru 19 tahun. Tapi kalau sama Sahabatnya mas Gavino, mami mau jodohin aku sama siapa ?". tanya Danira, mulai ikut permainan sang mertua.
" kalau sama Kevin jangan dia terlalu Playboy, sepertinya kamu cocok sama Doni saja. Dia belum pernah dekat dengan wanita manapun". Ujar Ny. Calina lagi, sesekali mencuri melirik Gavino.
Uhuk..
Uhuk..
Uhuk..
Gavino terbatuk-batuk mendengar obrolan Ibu dan istrinya itu. Apa..!! Dia masih 20 Tahun ? dan mami ingin menjodohkan dengan Doni... Sial, kenapa harus Doni sih. Batin Gavino.
" Kamu kenapa, keselek gelas teh ya ?". Tanya Ny. Calina santai.
" Tidak, aku tidak apa-apa. Sudah lah aku berangkat dulu". Ujar Gavino, sambil mengelap bibirnya dengan tisu, kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
" Uuhhh dasar biawak, main pergi-pergi saja". Teriak Ny. Calina. Gavino tak menggubris, dia tetap berjalan hingga menghilang dibalik pintu.
" Sepertinya Dia sudah terpancing Ra ?". Ujar Ny. Calina tersenyum jahil.
" Apa...tidak apa kita mengerjainya seperti ini mi ?". tanya Danira tidak enak hati kepada suaminya.
" Sudah kamu tidak perlu khawatir, sesekali Gavino memang harus kita kerjai. agar kita tau bagaimana perasaanya yang sebenarnya. Dia itu anaknya susah mengetahui apa yang hatinya inginkan. kalau bahasa anak zaman sekarang tidak peka dengan diri sendiri". jelas Ny. Calina " Ingat ra,..Menghadapi Gavino kamu tidak boleh lemah, Jagan mau dikuasai hati yang tidak enakan saat berurusan dengan kutu ayam itu, apa lagi dia saat dalam mode kerasukan jin Stevani. Kamu istrinya kamu harus bisa merebut hati suamimu". ujar Ny. Calina menasehati Danira, Danira hanya mengangguk tanda paham.
****************
Di perusahaan Garayudha Company, Gavino berdiri dibalik jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang tampak ramai, Gavino berdiri dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, pikirannya masih mengingat ucapan mami dan Danira saat sarapan tadi.
Apakah benar dia baru berusia 20 Tahun ? Berarti selisih kami cukup jauh, sepertinya tidak mungkin dia semuda itu. Batin Gavino, Gavino yang saat ini telah berusia 30 tahun, memiliki selisih usia cukup jauh dengan Danira yaitu 10 tahun. Dia benar-benar terkejut mengetahui usia istrinya, pasalnya dia sama sekali tidak mengetahui identitas Danira.
Apakah mami juga serius ingin menjodohkan wanita itu dengan Doni...!! Seharusnya aku senang bukan, dengan begitu makan pernikahan ini akan segera berakhir. Tapi kenapa hatiku tidak terima bila mendengar wanita itu akan dimiliki pria lain. Ada apa dengan diriku ini. Batin Gavino lagi, yang terus saja berperang dengan perasaannya sendiri.
Gavino mengingat bagaimana cara Danira memasak untuknya sambil bersenandung tadi pagi, merdu mendamaikan jiwa, disitu hatinya menghangat lagi. Tiba-tiba ketukan dipintu membuyarkan semua lamunan Gavino.
" Masuk..!".
__ADS_1
......................
...Bersambung......