
Hujan turun semakin deras, membuat Sean melajukan mobil dengan kecepatan sedang, walaupun jalanan tampak senggang, namun Sean tak ingin mengambil resiko yang bisa saja membahayakan keselamatan Tuan dan Nyonya muda nya yang duduk di kursi belakang. Danira merogoh tasnya, seperti mencari sesuatu, Dia mengeluarkan botol Hand Sanitizer Semprot berukuran kecil lalu menyemprotkan ke tangannya. Gavino melihat apa yang Danira lakukan.
" Apa yang kau lakukan ?, mengapa kau menyemprot sebanyak itu ?". tanya Gavino, heran melihat kelakuan Danira.
" Saya harus membunuh semua kuman-kuman yang ada ditangan saya ini". ujar Danira tanpa melihat Gavino.
" Bukankah tanganmu sudah terbungkus sarung tangan, mana mungkin kuman bisa masuk ? lagi pula dari mana datangnya kuman ?".
" Saya tau, karena itu Saya harus menyeprot keseluruh sarung tangan saya ini, karena tidak ingin para kuman menyentuh kulit saya. Bukankah tadi tangan saya bersentuhan dengan tangan anda, itu akan menimbulkan efek gatal-gatal jika tidak dibasmi". ujar Danira enteng, tanpa melihat ekspresi terkejut Gavino atas ucapan Danira.
" Apa maksudmu, tanganku sarang kuman hah ?".
" Saya tidak bilang begitu...!!".
" Bukankah Anda sendiri yang jijik bila bersentuhan dengan saya, jadi saya pun melakukan hal yang sama. Apa itu salah ?". ucap Danira melihat Gavino, yang wajahnya tampak kesal.
" I..iiya ...!! tapi bukan berarti tangan saya pembawa kuman, paham". Jawab Gavino kesal, tak terima Danira mengatai dirinya seperti itu.
Danira tak tak memperdulikan ucapan Gavino, dia kembali melihat keluar jendela, malas meladeni ocehan suaminya yang menyebalkan.
Gavino mencuri-curi melirik Danira, sambil memeluk Khalisa yang tidur di pangkuannya.
Hekhem...
" Siapa laki-laki tadi ?". Gavino bertanya tanpa melihat Danira. Danira hanya diam, mendengar tak ada jawaban, Gavino menolehkan pandangannya kearah Danira yang masih fokus melihat suasana jalan diluar sana.
" Heii..aku bertanya padamu, apa kau tidur ?". ujar Gavino sambil mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Danira, melihat kelakuan Gavino membuat Danira memundurkan sedikit kepalanya. Danira menghela nafas pelan.
" Mengapa anda ingin tau siapa dia ?".
" Apa sekarang anda mulai penasaran dengan orang-orang disekeliling saya ?".
" Atau anda mulai penasaran dengan saya ?".cecer Danira dengan pertanyaan yang membuat Gavino sulit untuk menjawabnya.
" Ciihh...kau percaya diri sekali. Siapa juga yang penasaran dengan dirimu, itu tak akan pernah terjadi". Elak Gavino gengsi.
" Aku hanya takut bila laki-laki tadi seorang penculik anak, itu saja". ujar Gavino memberi alasan yang tak masuk akal. Danira menautkan alisnya melihat Gavino.
Ada apa dengan pria ini, mengapa hari ini dia benar-benar aneh, sejak kapan dia peduli dengan Khalisa. Batin Danira bertanya-tanya.
" Astaghfirullah...!! itu sama saja anda memfitnah, karena anda menuduh tanpa bukti".
" aku tidak menuduh, itu hanya perasaanku saja. Melihat dari penampilannya yang seperti itu". ucap Gavino, tak mau kalah.
" Memangnya mengapa dengan penampilan aa Ilham, rasanya tidak ada yang aneh".
" Berhentilah memanggilnya dengan sebutan menggelikan itu, aku tidak suka". Gavino berucap tanpa sadar, hal itu membuat Danira melihat Gavino makin bingung.
" Tak suka, memangnya kenapa ?, apa anda cemburu ?". Goda Danira.
" Heii..wanita Berjubah...kau dengar baik-baik ya, cabut lagi kata-kata mu itu. Aku Gavino Garayudha Pradiksa tak mungkin cemburu dengan wanita sepertimu. Tidak akan pernah...!!. Ketus Gavino, melihat Danira tajam.
__ADS_1
" Bagus lah...!! jadi tidak sulit bagi kita nanti untuk berpisah bila waktunya telah tiba bukan ?". ujar Danira, dan pertanyaan Danira dijawab dengan kebisuan Gavino.
" Sudahlah...aku malas berbicara dengan mu". ujar Gavino, mereka berdua kembali diam dan saling melihat keluar jendela lagi.
Sean yang sedari tadi melihat dan mendengar perdebatan suami istri itu dari kaca spion kemudi, merasa lucu melihat tuan dan nyonya mudanya seperti Tom and Jerry tak ada akurnya. Sean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya samar.
" Apa yang kau lihat ?". Bentak Gavino yang memergoki Sean melihat kearah mereka.
" Maaf tuan, tidak ada".
" Perhatikan jalanan dengan fokus, jangan mengintip seperti itu. Apa kau mau bola matamu aku tusuk pakai sumpit hah?". Ujar Gavino, melampiaskan kekesalannya kepada Sean, Sean hanya bisa diam dan menerima. Bila sudah begini, menjawab pun percuma karena dia akan makin dimarahi oleh tuannya ini. Sean kembali fokus melihat jalanan yang masih disirami hujan.
...****************...
Mereka telah tiba didepan pintu penthouses, Danira ingin memasukkan kata sandinya, namun dia urungkan karena pintu tampak tak terkunci. Gavino dan Danira saling lirik saling bertanya-tanya dalam pikiran masing-masing.
Apa Stevani yang masuk. Pikir Gavino. karena selain mereka, Stevani juga mengetahui sandi penthouses Gavino.
Apa ada pencuri ?. Pikir Danira.
Danira mendorong pintu secara perlahan, waspada bila benar ada pencuri seperti yang ada dalam pikirannya.
Sedangkan Gavino, sibuk memikirkan cara bagaimana supaya Stevani tidak membuat kegaduhan lagi, bila benar Stevani yang ada didalam. Meraka berdua berjalan pelan, agar tak menimbulkan suara, namun mata mereka membulat melihat siapa yang ada didalam.
Seorang wanita, tegah tertidur terlentang dengan mulut terbuka mengeluarkan suara ngorok. Diatas meja piring buah sudah kosong, habis dan koper-koper berserakan dilantai ruang tamu itu.
" Mami...". Panggil mereka serentak. Namun yang dipanggil masih asik berkelana dialam mimpinya. Gavino memberikan Khalisa yang masih kepada Danira, sejenak Gavino tertegun mencium aroma khas dari tubuh danira. wangi yang tak pernah Gavino cium sebelumnya. Danira mundur selangkah kebelakang, dia masih belum terbiasa terlalu dekat seperti ini dengan Gavino, Gavino yang sadar, berjalan mendekati sofa tempat Ny. Calina berbaring.
" Mami...bangun mi ?". Gavino berulang kali memanggil, lalu menggoyangkan pundak Ny. Calina. Seketika Ny. Calina tersentak kaget.
Plakk
Ny. Calina refleks memukul pipi Gavino, karena didalam mimpinya dia sedang memukul seseorang.
" Mami... apa-apaan sih, bangun-bangun main pukul saja". Gavino memegang pipinya, walau tak terasa sakit namun dia merasa malu ditampar dihadapan Danira. Danira hanya tersenyum melihat momen itu.
Ny. Calina yang baru saja terkumpul nyawanya, terkejut melihat pipi putranya merah dengan gambar 5 jari yang menempel diwajah tampan itu. " Astaga Gavino...ada apa dengan wajahmu ? mengapa merah seperti ini ?, siapa yang berani memukul putra mami?" Tanya Ny. Calina seperti tak berdosa. Gavino melihat maminya masam.
" Nenek -Nenek". Jawab Gavino asal. membuat Ny. Calina bingung.
" Mami...?". panggil Danira lembut, berjalan menghampiri Ny. Calina. Ny. Calina tersenyum lebar melihat Danira, dia sangat merindukan menantu kesayangannya ini.
" Danira sayang...". Ny. Calina menarik lengan Danira, agar duduk disampingnya, tak menghiraukan tatapan kesal Gavino. Danira menarik tangan Ny. Calina lalu mencium punggung tangan itu.
" Mami kapan datang, mengapa tak mengabari jika pulang hari ini ?, kan Danira bisa jemput mami dibandara".
" Mami sampai tadi siang. Sengaja mami tidak memberi tahu kalian karena ingin memberi kejutan, eehh malah kalian tidak ada dirumah jadinya mami ketiduran menunggu kalian yang pergi lama sekali".
" Memang kalian pergi kemana sih ?". tanya Ny. Calina kesal melihat Gavino, pasalnya Ny. Calina menunggu berjam-jam hingga tertidur pulas karena lelah.
" Kami tadi pergi ke mall mi ". Jawab Danira cepat, Gavino masih diam.
__ADS_1
" Mami kenapa tidak langsung pulang ke mansion saja sih, kenapa harus kesini dulu ?". ujar Gavino datar.
" Ya suka-suka mami mau pulang kemana, kenapa ? kamu tidak suka hah ?, mami kesini karena sangat merindukan menantu kesayangan mami ini dan cucu gemoy mami ". jawab Ny. Calina lalu mencium pipi Khalisa hingga meninggalkan banyak bekas lipstik merah disana. Gavino jengah mendengar jawaban maminya.
Perasaan anak mamikan aku, tapi mengapa wanita ini yang sangat dirindukannya, lihat lah bahkan sedari tadi hanya Danira yang dipeluk sedangkan aku hanya mendapatkan tamparan. Batin Gavino mengomel.
" Sayang...mami banyak membawakan oleh-oleh untukmu dan juga Khalisa. beberapa ada titipan dari adik-adik kamu disana". Ny. Calina memberitahu sambil melihat koper mana yang berisi oleh-oleh untuk menantunya.
" Vino, ambil koper yang warna abu-abu itu, bawa kesini." Gavino bergeming, tak melakukan apa yang Ny. Calina minta.
" Cepatlah Gavino...!!". pekik Ny. Calina gemas dengan keleletan putranya. Gavino mendegus geram, tak suka diperintah-printah begitu oleh maminya. Dia menarik koper itu kasar, lalu memberikannya kehadapan Ny. Calina.
" Pelan-pelan telor semut". Ketus Ny. Calina, melihat Gavino meletakkan kopernya dengan kasar. Ny. Calina membuka koper itu, lalu menunjukkan isinya kepada Danira.
" Ini semua punya kamu sama Khalisa, semoga kamu suka ya nak". Ujar Ny. Calina, sambil mengangkat gamis-gamis cantik, dan sebagian ada kaftan mewah.
" Terima kasih banyak mami, seharusnya mami tidak perlu serepot ini, apa lagi ini terlalu banyak, pasti harganya mahal-mahal. Bagi Danira yang penting mami cepat pulang saja sudah cukup ". Ujar Danira, Dia merasa tak enak hati kepada mertuanya, sejujurnya dia terharu melihat bagaimana mertuanya sangat menyayangi nya seperti ini.
" Alah...!! Bilang saja kalau kau senang kan dibelikan banyak pakaian mewah seperti ini, sok nolak, padahal dalam hati kau bersorak-sorak gembira". Gavino mencibir ucapan Danira.. Danira tak menghiraukan omongan pedas suaminya, dia sudah terbiasa mendengarkan kata-kata bahkan lebih menyakitkan dari itu.
" Mulut mu Gavino...apa kau ingin mami jahit saja hah ?, lebih baik kau diam dari pada mengucapkan yang tidak berfaedah seperti itu". Bentak Ny. Calin geram. Gavino menghela nafas kasar, dia tak ingin berdebat dengan maminya, sudah bisa dipastikan siapa yang akan kalah.
" Sayang...!! Bagaimana, apa sudah ada tanda-tanda hhmm ?".
" Tanda-tanda apa mi ?". Danira bingung apa yang dimaksud Ny. Calina.
" Tanda-tanda adik untuk Khalisa ". Ujar Ny. Calina tersenyum manis sambil mengelus perut kosong Danira.
Uhuk..
Uhuk..
Uhuk.
Gavino yang sedang minum, tersedak mendengar pertanyaan maminya, sedangkan Danira membolakan matanya terkejut.
" Aahh..itu, eemm maaf belum mi". Jawab Danira ragu-ragu, bingung harus menjawab apa. Ny. Calina menyelang melihat Gavino tajam, lalu..
Bug*
Lagi -lagi Gavino menerima pukulan berupa tinju dari Ny. Calina " Mami...kenapa sih, dari tadi memukul ku terus". ketus Gavino, sambil mengelus lengan tangannya sedikit nyeri.
" Jangan bilang kau belum penyentuh menantuku". Teriak Ny. Calina, sehingga membuat Khalisa yang masih tertidur pulas kaget. Wajah Danira berubah merah menahan malu, untung saja dia memakai Burqa. pikir Danira. Sedangkan Gavino santai melihat kesembarang arah.
Ny. Calina semakin geram melihat Gavino yang hanya duduk santai, dengan punggungnya bersandar di sandaran sofa.
" Dasar kutu ayam, bagaimana mami akan punya cucu jika kau tak melakukannya Gavino".
......................
...Bersambung.......
__ADS_1