
Didalam pesawat, Gavino masih mondar mandir, berdialong dengan dirinya sendiri.
" Danira Ini bunga untukmu ". Ucapnya tersenyum garing, memperlihatkan susunan gigi-gigi rapinya.
" Ahh...tidak, tidak, tidak. bila aku berkata lembut begitu dia akan semakin besar kepala.
" Danira, maukah kau memaafkan aku ?". Coba Gavino lagi.
" Ceekkk...itu terdengar lebay sekali ".
" Danira kembalilah kepadaku, aku minta terimalah aku lagi ".
" Cciihh...kenapa itu terdengar sangat menjijikan ".Kesal Gavino pada dirinya sendiri. Dia terus saja berlatih, mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk dia sampaikan nanti pada Danira.
Danira melangkah menuruni anak tangga. Kini kakinya telah menginjak karpet merah panjang yang membentang disana. Orang-orang yang bertugas memegang kertas-kertas tadi telah berbaris, berjejer rapi dipinggir karpet merah itu. Mereka mengulurkan satu tangkai mawar putih, kepada Danira. Danira berjalan melewati mereka, menerima setiap tangkai mawar putih itu sambil mengucapkan kata terima kasih. Kini ditangan Danira telah memegang bunga mawar putih sebanyak 22 tangkai, sesuai jumlah huruf-huruf tadi.
Apa dia sendiri yang menyiapkan semua ini ?. Batin Danira. Muncul rasa haru dan bahagia dalam hatinya. Pipinya menjadi merah merona, merasa senang mendapat kejutan seperti ini.
" Danira....". Suara bariton dari belakang memanggilnya. Danira memutar tubuhnya melihat kearah si pemanggil. Dia melihat Gavino berdiri tepat dibelakangnya, sambil sambil memegang buket bunga mawar merah yang berukuran cukup besar. Danira kembali tersenyum.
Gavino melihat Danira dengan wajah kaku dan datar, tegang. Meski dia telah berulang kali mencoba berlatih didalam pesawat bagaimana cara tersenyum yang natural dan merangkai kata-kata yang akan dia sampaikan pada Danira, tapi sepertinya semua itu sia-sia, apa Yang dia hafalkan, tak ada yang keluar dari mulutnya dia mendadak gagu, tak bisa mengeluarkan suaranya. Alhasil Gavino kembali ke pengaturan seperti biasa, tanpa ekspresi.
" Ini untukmu ". Ujar Gavino, menyodorkan buket bunga itu mengunakan sebelah tangannya kepada Danira begitu saja, tanpa ekspresi. Danira menautkan alisnya melihat cara Gavino memberikan buket itu seakan terpaksa, ditambah lagi tak ada kata-kata apapun, apalagi senyuman.
" Untukku...?, kenapa ?". Tanya Danira, belum berniat menerima bunga itu.
Mengapa dia harus menanyakan alasannya, bukankah dia telah membaca huruf-huruf tadi. kenapa harus bertanya lagi apa maksud tujuanku memberi bunga ini. Gerutu Gavino dalam hati. Dia kesal karena Danira menanyakan alasannya, hal itu membuat Gavino bingung cara menjelaskan apa maksud dia merencanakan ini semua. Apa dia tidak bisa langsung menerima dan memberi maafnya saja. pikir Gavino.
" Bukankah kau sudah membaca yang mereka pegang tadi, kenapa kau harus bertanya lagi ". Ujar Gavino. Danira memejam matanya sekejap, kemudian membukanya lagi, lalu melihat para petugas bandara yang masih berdiri melihat mereka.
" Maaf.... bisakah kalian meninggalkan kami ?". Pinta Danira sopan dan lembut kepada mereka, mereka semua pun mengangguk dan memberi hormat sebelum pergi.
" Terima kasih atas bantuannya ". Ucap Danira lagi. Danira kembali menatap suaminya yang arogan ini.
" Baiklah, aku terima bunganya terima kasih ". Ucap Danira mengambil buket dari tangan Gavino lalu berbalik, ingin pergi.
" Hanya itu ?". tanya Gavino, Danira berhenti mendengar pertanyaan suaminya.
" Lalu anda mau mendengar apa lagi, bukankah saya telah menerima bunga anda ".
" Berarti kau menerima permintaan maafku ?".
" Sudah saya katakan, saya telah memaafkan anda jauh sebelum orang-orang itu memegang kertas bertulis kata maaf. Saya harap itu tulus dari hati anda dan anda ikhlas memberi bunga ini untuk saya ". Jelas Danira.
" Tentu aku sangat ikhlas dan semua ini tulus dari hatiku. Berarti kau sudah menerimaku kembali, bukan ?". Tanya Gavino lagi, berjalan mengikuti Danira dari belakang. Mendengar ucapan Gavino Danira berhenti, tentu saja gavinopun ikut berhenti.
" Maaf saya belum bisa ". Ujar Danira pelan, mendengar jawaban Danira, Gavino beralih berdiri didepan Danira.
" Kenapa, bukannya kau telah memaafkan aku ?".
" Iya benar, tapi antara memaafkan dan menerima kembali itu hal yang berbeda. Dan saya belum bisa kembali kepada anda ".
__ADS_1
" Kenapa ?, apa alasannya ?". Tanya Gavino, dia mulai geram karena perkiraannya salah, dia pikir Danira dengan mudah akan kembali kepadanya lagi bila dia membuat kejutan seperti ini. Tapi nyatanya.....
Danira melihat kesekeliling, banyak pasang mata melihat kearah mereka, apalagi mereka masih berada ditengah-tengah lapangan landasan pesawat. Danira menghela nafasnya, apa memang seperti ini sifat seorang tuan muda, pemimpin perusahaan terbesar dinegri ini. pikir Danira.
" Bukankah Anda sudah tau alasannya, jadi saya tidak perlu menjelaskannya lagi. Jika anda ingin meminta maaf, berusahalah mengucapkan kata-kata itu dari bibir anda dengan tulus, dan juga bila anda ingin memberikan sesuatu kepada seseorang. Berikanlah seikhlas mungkin, karena anda terlihat sekali seperti dipaksakan ". Jelas Danira jujur, dia tak ingin menutup-nutupi penilaiannya terhadap kejutan yang Gavino berikan kali ini.
" Saya menghargai usaha anda ini, terima kasih banyak. Tapi untuk kembali, maaf saya belum bisa ". Ucap Danira, lalu berjalan pergi mendahului Gavino. Gavino terdiam ditempatnya. Mencerna dan mengurai setiap ucapan Danira.
"Sial......!!! kenapa wanita banyak sekali maunya. sudah diberi kejutan masih saja jual mahal. Dasar kepala batu". Gumam Gavino kesal. Dia benar-benar bingung cara apa lagi yang harus dia lakukan untuk meluluhkan hati danira. Bahkan membuat rencana semacam inipun, Gavino harus mencari di jejaring media sosial meski dibantu oleh sean. Karena ini bukanlah sifat Gavino, seperti terkesan romantis dan penuh kejutan. Selama ini hidupnya selalu monoton, cuek. Yang Gavino tau hanya Kerja, kerja dan kerja. Bersama stevanipun, Gavino tak pernah sekalipun bersikap romantis, dia hanya menyenangi Stevani denga uang dan barang-barang branded. Gavino berjalan menyusul Danira yang telah menghilang kedalam bangunan.
Pasangan itu telah duduk diruang tunggu VIP, menunggu mobil dan barang-barang mereka siap. Danira duduk berjauhan dari Gavino, sambil memangku bunga-bunga mawar tadi. Hingga seorang pria masuk kedalam ruangan mereka.
" Permisi tuan, Nyonya. Mobil dan semua barang-barang Anda telah siap ". Ujarnya menunduk, memberitahu. Gavino hanya menjawab dengan anggukan. Dia berdiri membenarkan jasnya kemudian melangkah mendekati Danira. Gavino mengambil buket itu kemudian memberikan kepada pria yang masih menunduk didepan mereka.
" Bawa ini, dan masukkan juga kedalam mobil ". Printah Gavino, berjalan begitu saja tanpa mengajak Danira seperti sebelumnya. Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang tengah merajuk.
Mami benar, dia hanya dewasa di usia. Namun sifatnya persis seperti anak-anak labil yang mudah merajuk. Batin Danira, tersenyum melihat Gavino yang kembali dingin dan cuek.
Gavino telah duduk dibalik kemudi. Dia menunggu Danira sambil memejamkan matanya. Danira yang telah sampai didepan mobil suaminya. Mobil keluaran terbaru yaitu Karlmann King. Mobil yang terlihat gagah dengan balutan warna matte black dan penggunaan ban berprofil Off-road. Dan juga desain bodi yang unik yaitu Diamond Cat, dengan kemampuan Bullet proof. Pria yang membawa bunga mawar tadi membukakan pintu untuk Nyonya mudanya masuk.
" Silahkan Nyonya ".
" Terima kasih ". Ucap Danira pelan, lalu masuk kedalam mobil duduk disamping suaminya. Gavino membuka matanya, melirik Danira sekilas.
" Pasang sabuk pengamanmu ". Ketus Gavino, tanpa melihat Danira. Danira pun menurut, mulai memasang sabuk itu ketubuhnya, namun saat Danira ingin menguncinya, benda itu tak bisa masuk, susah untuk dikunci. Danira terus berusaha, tapi hasilnya tetap sama. Melihat Danira yang belum juga selesai dengan sabuk pengamannya, membuat Gavino jengah hingga dia mencondongkan tubuhnya kepada Danira. Danira terkejut, hingga memundurkan tubuhnya, tersandar di sandaran mobil. Tanpa mengatakan apapun, Gavino merebut benda itu dari tangan Danira, dan menguncinya.
Clek*...
" A..aa..apa ini sudah ?". Tanya Danira terbata-bata, dia gugup. Gavino tersadar, dia langsung menegakkan tubuhnya kembali menghadap kemudi.
" Eemmm....". Jawab Gavino, diapun merasakan kegugupan yang sama. Mereka berdua sama-sama salah tingkah. Gavino mulai menyalakan mobilnya, kemudian menginjak gas dan mobilpun mulai melaju.
Mereka berdua masih sama-sama diam, Danira yang fokus melihat keluar jendela dan Gavino fokus menyetir. Hanya saja isi pikiran mereka tak ada yang bisa menebaknya. Baru 15 menit, Mobil mereka berhenti, di pemberhentian lampu merah, Gavino sesekali melirik Danira lalu kembali membuang pandangan kesembarang arah.
Tok*
Tok*
Ketukan dijendela mobil mengejutkan Gavino dan Danira. Danira membuka kaca mobilnya, dia melihat sepasang suami istri yang telah tua renta, tegah berdiri mengemis meminta sesuatu kepadanya. Danira mengambil Lima lembar uang kertas berwarna merah, lalu memberikan kepada mereka.
" Ini terimalah, semoga bermanfaat ". Ujar Danira lembut.
" Terima kasih banyak nak, semoga Tuhan selalu melimpahkan keberkahan kepadamu dan juga suamimu. Semoga rumah tangga kalian selalu disertai kebahagiaan ". Ucap ibu itu dengan nada bergetar kepada Danira.
" Aamiin...".
Gavino menolehkan kepalanya melihat orang yang tegah mendoakannya. Gavino menyipitkan dan menajamkan matanya melihat pria yang ada dibelakang ibu itu.
Tutt*
Tutt*
__ADS_1
Suara Klakson mobil yang ada dibelakang memberi kode, bila lampu telah berubah menjadi hijau. Yang artinya, mereka harus melajukan mobilnya. Gavino menjalankan mobilnya lagi, tapi matanya masih melihat kearah dua pengemis tadi melalui kaca spionnya.
Kenapa wajahnya familiar sekali, seperti aku pernah bertemu denganya. Batin Gavino berdialong sendiri.
Danira menoleh melihat Gavino. Dia melihat Gavino seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. " Eemm...apa rumah Oma masih jauh ?". Tanya Danira pelan, merasa ada yang berbicara padanya Gavino menolehkan kepalanya.
" Lumayan, mungkin sekitar 2 jam lagi....kenapa ?". Ujar gavino. Mendengar jawaban Gavino, membuat Danira diam menunduk. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup nyaring keluar dari perut Danira.
Kkrruukk*
"Itu suara perutmu ?, apa kau lapar ?". Tanya Gavino, Danira mengangguk lemah, malu.
" Iya, sedikit ". Cicitnya jujur. Gavino mengulum senyum.
" Kenapa kau tidak bilang kalau kau lapar". Ujar Gavino, sambil melihat sisi kiri dan kanan, mencari restoran.
" Seharunya anda peka, kan kita hanya makan saat sarapan tadi pagi. Sedangkan ini sudah jam 3 sore". Sindir Danira, dengan kepala masih menunduk. Dia benar-benar malu, karena perutnya mengeluarkan suara disaat yang tidak tepat.
" Cceekk.... aku mana tau bila kau tidak mengatakannya, memangnya aku dukun bisa memprediksi kau lapar atau tidak ". Jelas Gavino, Danira memajukan bibirnya kesal dengan jawaban Gavino, dia tau bila Gavino tipikal pria cuek, tapi dia tak menyangka bila sifat itu ternyata lebih parah dari perkiraannya.
" Tunggu sebentar, kita akan mencari restoran yang terdekat saja ". Ujarnya masih celingak-celinguk.
" Tidak perlu, kita mampir ke warung yang dipinggiran jalan saja, membeli cemilan dan roti, sebagai ganjalan sementara. Nanti kita makan dirumah Oma saja, sekaligus makan malam bersama ". Usul Danira, Gavino melihat Danira tak suka dengan usulan istrinya.
" Tidak....!! Kau pikir rumah Oma dekat apa, rumah Oma masih sangat jauh. dan juga kita harus melewati hutan dulu, karena rumah Oma ada di pendesaan terpencil ". Jelas Gavino, menolak permintaan Danira, apalagi belanja cemilan diwarung pinggiran, itu tidak akan pernah Gavino kabulkan. Danira semakin mengerucutkan bibirnya.
" Ayo turun ?". Ajak Gavino, setelah mobilnya terparkir didepan restoran yang cukup ternama disana. Meraka berduapun turun dan menutup pintu mobil. Namun tanpa sengaja, mata Danira menangkap tenda bakso yang ada disebrang jalan, matanya berbinar senang melihat makanan kesukaannya.
" Ayo cepat...". Ujar Gavino lagi, melihat Danira yang tak bergerak dari tempatnya berdiri. Danira menoleh kepada suaminya.
" Anda saja yang masuk dan makan didalam, aku akan makan itu saja ". Tunjuk dari, Gavino mengikuti arah tangan Danira yang menunjuk kesebrang jalan.
" Kau ingin makan di tenda kotor itu ?".
" Iya, sepertinya lebih enak makanan itu dari pada didalam ".
" Tidak...tidak...tidak, kita makan didalam saja yang sudah terjamin kadar kebersihan dan kenyamanannya. Coba kau lihat, tempatnya saja kotor seperti itu, apalagi tendnyantepat dipinggir jalan. Pasti makanya sudah terkontaminasi oleh debu dan kuman ". Ujar Gavino. Dia tak akan mau makan ditempat seperti itu. Danira memutar bola matanya malas, mendengar ucapan tuan muda arogan ini.
" Saya tidak mengajak anda untuk makan disana, sudah saya katakan anda saja yang makan didalam, saya sendiri yang akan makan disana".
" Sudah ya, aku pergi dulu ". Ujar Danira berlalu pergi meninggalkan Gavino yang, melihat Danira dengan tajam.
" Kau......!!! Danira cepat kem....!". Ujar Gavino sedikit mengeraskan suaranya memanggil Danira, namun sayang Danira telah berdiri dipinggir jalan siap menyebrang. Gavino menggepal tangannya geram.
" Dasar wanita Berjubah, kepala batu ". Gumam Gavino geram, lalu berjalan menyusul Danira.
Danira masih melihat kekiri dan kekanan, karena kendaraan cukup banyak dan kencang, dia takut untuk menyebrang. Gavino yang telah berdiri dibelakang Danira, masih dengan tatapan kesalnya. Tanpa mengatakan apapun Dia mengeluarkan tangan kananya dari dalam saku celana, lalu menggenggam tangan kiri Danira. Danira refleks menolehkan kepalanya melihat siapa orang yang memegang tangannya. Danira mendongak melihat wajah Gavino yang tengah serius mengamati kendaraan kekiri dan kanan. Lalu Gavino menarik Danira, mereka mulai berjalan menyebrangi jalan. Danira melihat tangannya dan tangan Gavino yang saling bertaut, Dia merasa waktu berjalan lambat, seakan-akan semua kendaraan pun ikut bergerak lambat. Danira kembali merasakan getaran aneh dalam dadanya, hatinya merasa menghangat, dan jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Dia memegang dadanya.
Ya Allah...Jantungku.
......................
__ADS_1
...Bersambung.......