CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
38. Kamar Pengantin


__ADS_3

Pesta pernikahan telah usai, diruangan Ballroom hanya menyisakan beberapa orang Team WO yang sedang merapikan kembali tempat itu. Ny. Calina telah membawa Khalisa masuk kedalam kamar hotelnya, dia sangat Bahagiamalam ini, karena Khalisa bisa tidur bersama dengannya.


Disebuah kamar hotel Presidential suite room yang telah disulap menjadi kamar pengantin yang indah dan megah. Gavino yang lebih dulu meninggalkan acara, tanpa mengajak atau menoleh kepada Danira, Gavino meninggalkan Danira sendiri, untung saja para tamu sudah banyak yang pulang, hanya menyisakan para pelayan, yang menatap iba pada danira. sekarang Gavino tegah berdiri didepan pintu balkon kamar, merogoh saku celana, mencari benda pipih yang sedari tadi ingin dia pegang. Gavino mulai mengaktifkan ponselnya, Dia sudah harap-harap cemas, akan banyaknya pesan atau panggilan dari Stevani, pasti sekarang Stevani sedang mengamuk atau marah besar kepadanya, karena ponselnya seharian tidak bisa dihubungi. Handphone Gavino telah aktif kembali, namun ada hal aneh yang terjadi, ponsel Gavino tidak menerima pesan atau panggilan apapun dari Sang kekasih. Hanya ada pemberitahuan email atau pesan-pesan dari rekan bisnisnya.


"A..aapa ini, mengapa tidak ada pesan atau panggilan apapun darinya?, Kemana dia, tak biasanya Stevani tidak menghubungiku sama sekali seperti ini?". Gumam Gavino, sambil terus mengutak Atik ponselnya. Gavino mencoba menghubungi Nomer ponsel Stevani, namun sayang, hanya seorang wanita operator yang memberitahu bahwa nomer tersebut sedang diluar jangkauan. Gavino kesal, lalu membanting ponselnya keatas kasur.


Tak lama pintu kamar terbuka, muncullah Danira dengan pakaian pengantinnya dari balik pintu. Melihat siapa yang masuk, membuat kekesalan Gavino makin bertambah bahkan berubah menjadi emosi. Pintu kamar itu tertutup, Danira hanya diam berdiri ditempatnya, tanpa mencoba untuk melangkah lebih maju, Dapat Danira rasakan aura dingin menyeruak diruangan itu, Sorot mata tajam pria yang berdiri diujung sana, membuat siapapun yang melihat bergidik ngeri.


Gavino memutar tubuhnya, berbalik membelakangi Danira.


" Ku harap kau tak pernah menampakkan wajah buruk rupamu itu dihadapan ku". Suara bariton Gavino memenuhi ruangan, terdegar jelas dari tiap kata-katanya tersirat kebencian.


" Jagan kau pikir karena kau telah berstatus istriku, kau bisa merasa memiliki diriku seutuhnya, itu tidak akan pernah terjadi. Pernikahan ini hanya sebatas status, tidak akan pernah lebih dari itu". ketus Gavino.


Danira masih diam, belum berniat mengeluarkan suaranya. Dia masih mengamati gestur tubuh gavino yang membelakangi ya dengan memasukkan dua tangannya didalam saku celana.


" Harus kau tahu, aku menikahimu hanya karena paksaan dari ibuku saja. Karena aku telah memiliki kekasih yang sangat aku cintai, dan aku akan menikahinya. Ku harap kau paham akan posisimu.


Mari kita jalani kehidupan kita seperti orang asing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masing".


" Aku tidak tau, Guna-guna Apa yang kau berikan kepada ibuku, hingga dia bisa menyukaimu dalam waktu yang singkat. Kau pikir aku tidak tau alasanmu menyetujui pernikahan ini, hehk...kau ingin harta bukan, kau ingin menjadi nyonya dikeluarkan Pradiksa, agar bisa membiayai kehidupan anak harammu itu kan?, JANGAN MIMPI !!". Tekanan Gavino, dengan nada menyeramkan.


Danira menganggat pandangannya melihat Gavino dengan mata merah berkaca-kaca, Dia tidak terima. " Kau....!!!".


" AKU BELUM SELESAI BICARA". teriak Gavino, sambil memutar tubuhnya, melihat Danira. " Aku tidak suka jika aku sedang bicara, ucapanku disela". tuturnya lagi.


Danira mundur selangkah, karena terkejut mendengar teriakan Gavino.


" Ibuku mengatakan bahwa kau adalah wanita baik-baik, yang pantas menjadi pendampingku,...Ha..ha.ha.ha..itu hanya omong kosong, Tidak ada wanita baik-baik, yang rela memberikan tubuhnya kepada pria yang belum sah menjadi suaminya, hingga mempunyai anak haram seperti yang kau lakukan." Tuduh Gavino, dengan senyum merendahkan.


Tes..


Tes..

__ADS_1


Genangan dipelupuk mata Danira luruh sudah, jantungnya berdegup kencang, telinganya panas mendengar kata-kata merendahkan dari Gavino.


" Kau itu harus tahu diri, kau hanya wanita miskin rendahan, yang buruk rupa, hanya berani bersembunyi dibalik kain panjang ditubuhmu itu, Kau tak perlu berakting sok suci dihadapanku, karena aku tidak sama dengan ibuku, yang mudah kau bodohi hanya dengan penampilanmu seperti ini...ciihh, menjijikkan, kau tidak akan pernah bisa menjadi Cinderella, kau akan tetap menjadi Upik abu, dibawah kakiku". Ujar Gavino sambil membelakangi Danira kembali. Gavino terus saja mengeluarkan kata-kata kasar dan merendahkan harga diri Danira, Gavino melampiaskan segala bentuk kekesalannya selama ini kepada danira.


Danira meremas gaun pengantinnya sambil menangis dalam diam mendengar setiap kata yang dilontarkan dari mulut suaminya. Danira melihat Gavino dengan penuh amarah dan benci. Bagaimana bisa pria yang berstatus suaminya ini, begitu tega melempar fitnah yang amat sangat menyakitkan dihatinya. Danira sudah biasa dicemooh dan fitnah oleh para tetangganya, namun kali ini berbeda, hatinya benar-benar hancur dan sakit menerima penghinaan dari suaminya.


" Heemmmhahh"


Danira menghembuskan nafas pelan, berusaha memenangkan gemuruh dihatinya. Danira tak ingin membalas kata-kata kasar Gavino. Untuk saat ini dia memilih diam, tak ingin berdebat. malam ini adalah malam pertamanya menjadi seorang istri, dia tidak ingin langsung menyandang status istri durhaka, Danira terus beristighfar dalam hati. Dia tak ingin Gavino merasa menang karena melihatnya terpancing emosi.


" Baik lah, jika itu keinginan anda. Saya menerimanya, Semoga Allah mengampuni setiap ucapan yang anda berikan kepada saya" jawab Danira dengan lantang kepada suaminya. Danira memutar tubuhnya, ingin membuka pintu, namun suara Gavino menahan tangannya.


" Tunggu..!!!.Bawa buku sialan itu bersamamu, aku tak ingin melihatnya". Titahnya, Danira melihat apa yang dimaksud Gavino, Danira berjalan mengambil buku nikah mereka yang ada diatas meja, kemudian berbalik melangkah membuka pintu dan keluar.


Tinggallah Gavino seorang diri, didalam ruangan yang indah tapi menyedihkan. Ada terbesit rasa sesal dalam hati Gavino, menggingat ucapannya yang sungguh keterlaluan, namun Ego Gavino kembali, dengan segera dia menepis secuil penyesalan Yang sempat hinggap.


...****************...


Diluar, Danira menyandarkan punggungnya ditembok koridor hotel. Dia menunggu Sarah, setelah tadi Danira menghubunginya, untung saja mobil Sarah belum terlalu jauh, jadi Sarah bisa dengan cepat kembali kehotel tempat Nonanya berada. Derap langkah cepat berlari kearah Danira, Danira menoleh melihat Sarah berhenti tepat didepannya.


" Nona". panggil Sarah pelan.


" Apa kau membawa pesanku tadi rah ". tanya Danira pelan, Sarah bisa mendengar kelirihan dari suara Danira.


Apa yang terjadi, ada apa dengan nonanya ini, apa dia diusir oleh suaminya atau...pikir Sarah, banyak pertanyaan yang melayang-layang dikepala sarah.


" Ini nona ". Sarah menyerahkan sebuah kartu kamar hotel dan paper bag dengan isi pakaian yang Danira minta.


" Terima kasih rah, maaf aku merepotkanmu lagi". Ujar Danira pelan, tak enak.


" Tidak nona, anda tidak merepotkan saya".


" Maaf Nona, kalau bole saya tau, mengapa anda meminta 1 kamar lagi, bukankah seharusnya anda sekarang bersama dengan suami Anda". Sarah sudah tak bisa menahan segala rasa penasaran lagi.

__ADS_1


" Kamu tau bukan, aku belum pernah satu ruangan dengan laki-laki, itu membuatku sangat canggung. Jadi aku memutuskan malam ini untuk sendiri dulu, sambil mengumpulkan keberanian ku". Elaknya, tak ingin Sarah tau apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Gavino.


Sarah tau, kalau Danira sedang berbohong. Sarah bisa merasakan bekas tangisan dari suara Danira.


" Apa nona ingin saya temani ". tawar Sarah.


" Tidak perlu, aku hanya ingin sendiri dulu, tidak apa-apa kan?".


" Tapi Nona..?". Sarah merasa Khawatir meninggalkan majikannya dalam keadaan sedih sendirian.


" Aku tidak apa-apa rah, aku baik-baik saja. Kamu pulanglah, istirahat. Pasti kamu sangat lelah bukan, mengawasi ku dari kejauhan". ujar Danira sambil tersenyum


" Hhhmmm, baik lah nona, tapi jika ada apa-apa atau anda butuh sesuatu hubungi saya segera". pinta Sarah lagi.


" Baiklah".


Danira masuk kedalam lift, menekan nomor lantai yang dia tujuh, tak lama dia telah sampai didepan pintu kamarnya, Danira masuk, meletakkan apa yang ada ditangannya. Danira mulai menangis, menangis sejadi-jadinya, dia meremas baju dibagian dadanya, terasa amat sangat sesak, sedari tadi dia tahan, tak ingin ada yang tahu dan mendengar suara tangisan memilukan itu. Danira bejalan kekamar mandi, mengambil air wudhu lalu mendirikan sholat. Disetiap bacaannya selalu mengalir air mata yang tiada henti. Danira melepaskan semua kesesakkan dalam hatinya. Berputar-putar Ucapan Qobul yang diikrarkan Gavino tadi pagi, membuat hati Danira semakin perih.


"Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini, Baru beberapa jam yang lalu dia mengucapkan janjinya dihadapanmu. Mengapa dia Setega ini kepadaku ya Rab, apa salahku kepadanya". Danira mengadu kepada Tuhannya, duduk bersujud menghadap kearah kiblat, menutup Wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Ya Allah, berikanlah kesabaran lebih pada hambamu ini, Ampuni aku jika dihatiku terbesit rasa marah dan benci untuknya dan maafkan lah segala kehilafan yang suamiku ucapkan tadi, sesungguhnya dia sedang dalam keadaan emosi ya Rab". Doa Danira, Semarah apapun Danira, Dia tetap memohon ampunan bagi suaminya.


Setelah selesai berdoa, Danira berbaring diatas sajadahnya, ingatannya kembali mengingat permintaan ibu mertuanya selepas ijab Qobul tadi. Ny. Calina meminta maaf kepada Danira, Dia menceritakan semuanya Tetang Gavino dan Stevani. Awalnya Danira marah, merasa dijebak dengan pernikahan ini.


Tapi dia sadar, marah pun percuma, semua telah terjadi, sekarang dia telah menjadi istri Gavino, Danira ikhlas menerima takdirnya.


" Nak..mami mohon, apapun yang terjadi antara kalian nanti, tolong Jagan tinggalkan Gavino. Buat dia mencintaimu dan melupakan wanita jadi-jadian itu, mami percaya kamu bisa nak". Ny. Calina memohon sambil menggenggam erat tangan Danira.


" Walaupun wanita itu datang, memintamu untuk meninggalkan Gavino, tolong kamu jangan pernah mundur. Mami mohon kamu betahan menghadapi Gavino, dia masih dipengaruhi oleh cinta butanya pada wanita itu. mami benar-benar mohon bantuan kamu Ra, Mami sedang mengumpulkan semua bukti kebusukan wanita itu, jadi mami berharap kamu bersabar ya sayang". Ny. Calina sampai mengatupkan kedua tangannya dan ingin bersujud dikaki Danira. Danira menarik tubuh ibu mertuanya lalu memeluknya erat.


" Aku tidak bisa berjanji mi, tapi insyaallah aku akan berusaha mempertahankan rumah tanggaku ini". Ujar Danira tegas, memuat Ny. Calina tenang dengan jawaban Danira.


Tak terasa, mata Danira terpejam dengan bayangan ingatan yang sayup-sayup mulai menghilang berganti dengan mimpi.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2