CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
81. Selalu menolak


__ADS_3

Tubuh Ny. Calina masih bergulung dibawah selimut tebal nan hangat. Dia masih menjelajah alam mimpinya yang indah. Namun nyanyian dari ponselnya yang keras, memaksanya untuk segera bangun. Ny. Calina meraba-raba dimana letak ponselnya, tapi tak juga menemukannya.


" Haduhhh...dimana sih ini handphone ". Kesalnya, masih terus meraba-raba, dengan mata menggunakan Sleep Eye Mask. Ny. Calina merasakan getaran berada dibawah punggungnya, dia mengambilnya lalu menggeser ke tanda jawab.


" Hallo....!! ini siapa, tidak sopan sekali menelpon tegah malam begini ". Ketusnya tak suka, karena merasa tidurnya terganggu.


" Oh,...! dasar anak durhaka, beraninya kamu mengatai ibumu tidak sopan hah ?". Omel seorang wanita, yang rambutnya telah memutih semua.


" Ibu...". Gumam Ny. Calina menjauhkan ponsel dari telinganya, merasa kupingnya berdengung karena diteriaki ibunya dengan suara yang cempreng.


" Buka penutup matamu itu bodoh ". Teriak Oma Laras, geram melihat tingkah anaknya yang satu ini, sering kali membuat Oma Laras naik darah. Bagaimana tidak dari 10 anak Oma Laras, yang paling sulit diatur sejak dulu hanyak Ny. Calina.


" Dari mana ibu tau, kalau aku penggunakan penutup mata ?". Tanya Ny. Calina, masih setegah sadar.


" Dari Ramalan Ki Joko bodo ". Asal Oma Laras. Ny. Calina mencebikkan bibirnya kesal mendengar jawaban sang ibu.


" Coba lihat ponselmu itu, ini panggilan Vidio bukan panggilan telpon biasa ?". Ujar seorang wanita yang duduk di sebelah Oma Laras. Ny. Calina yang baru saja membuka penutup matanya, terkejut melihat 2 wajah yang telah menghiasi layar ponselnya.


" Ada ap mbak ibu telpon malam-malam begini ?". Tanya Ny. Calina sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


" Malam matamu....!! Matahari sudah tinggi seperti ini, kau bilang masih malam ?". Omel Oma Laras jengkel.


" Masa sih Bu ?". Ujar Ny. Calina masih tak percaya, lalu dia mengambil remot kecil diatas nakas, lalu menekannya. Terbuka sudah gorden besar yang menutupi jendela kamarnya. Mata Ny. Calina terbelalak melihat diluar sudah terang dan panas, kemudian matanya beralih ke jam yang ada didinding, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 11 siang.


" Astaga....kenapa aku bisa kesiangan seperti ini ". Gumamnya, bangun dari tempat tidur. Oma Laras dan mbak Santi hanya memutar bola mata malas, mendengar ucapan Ny. Calina.


" Bukannya memang ini sudah kebiasaanmu Lin ". Ujar mbak Santi kepada adiknya itu. Ny. Calina tak menggubris, dia memilih melakukan panggilan kepada bik Sri.


" Bik tolong antarkan sarapan kekamarku ". Perintah Ny. Calina pada bik Sri dari saluran telpon rumah.


" Ciihh..ini bukan sarapan lagi, tapi makan siang ". Ujar Oma Laras menyindir.


" Sama saja Bu, hanya waktunya saja yang mundur ".


" Halah...!! pintar sekali kau mencari alasan, pantas saja suamimu cepat meninggal. Pasti dia sangat tertekan menghadapi sifatmu yang seperti ini ".


" Jangan bawa-bawa Almarhum suamiku Bu, dia sudah bahagia disana ". Sungut Ny. Calina.


" Apa ibu menelponku hanya untuk mengomeliku saja ?". Tanya Ny. Calina kesal.


" Tentu saja bukan, ibu hanya ingin mengingatkanmu, jangan sampai lupa datang ke sini, karena acara rutin tahunan kita akan dilakukan Minggu depan. Dan juga katakan kepada Gavino, kali ini dia harus datang membawa istrinya itu. Ibu juga ingin kenalan dan melihat cucu menantu ibu ". Ujar Oma Laras, semenjak Gavino menikah, dia belum pernah bertemu dengan Danira, karena saat pernikahan mereka waktu itu, Oma Laras tengah dirawat akibat tekanan darahnya terlalu tinggi. Mendengar permintaan ibunya, membuat Ny. Calina menghela nafas panjang.


" Ada apa, kenapa kau menghela nafas seperti nenek-nenek begitu ?". Tanya Oma Laras, sambil terus merajut benang di tangannya.


" Kalau untuk gavino dan cucu menantumu, aku tidak bisa menjamin mereka akan datang bu ".


" Loh...kenapa memangnya ?, apa mereka tegah bulan madu ?". Tanya Oma Laras.


" Bukan Bu, mereka tidak mungkin bulan madu ". Jawab Ny. Calina sambil memijat-mijat keningnya yang mulai terasa berdenyut.

__ADS_1


" Lalu kenapa?, apa yang membuat mereka tidak akan pernah bisa datang ?, katakan pada Gavino, Jagan terlalu banyak alasan untuk menghindari acara ini ". Ketus Oma Laras kesal, karena dari dulu Gavino selalu saja apsen dari acara keluarga.


" Hhaahh....!!, istrinya telah pergi Bu, sudah hampir 1 bulan aku tidak tau dimana keberadaan menantuku itu ". Lirih Ny. Calina.


" APA.....!!! Kok bisa ? apa yang membuat dia pergi ?". Tanya Tante Santi ikut terkejut mendengar ucapan Ny. Calina. Ny. Calina menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa rumah tangga Gavino hampir 1 bulan ini.


" Uh...dasar bocah edan...!! jadi dia masih berhubungan dengan wanita ngak bener itu hah ?". sungut Oma Laras, yang mengenal siapa Stevani.


" Iya Bu, padahal aku sudah sering kali memberikan foto-foto wanita itu yang sedang bersama pria lain kepada Gavino, namun tetap saja Gavino terlalu dibutakan oleh wanita jadi-jadian itu. Dan Gavino selalu berfikiran kalau aku meminta orang untuk mengedit foto, untuk memfitnah wanita ****** itu ". Jelas Ny. Calina, mengadu pada ibunya.


" Putramu itu hanya pintar dalam bisnis saja, tapi sangat bodoh urusan hati. Seharusnya, dia menyelidiki siapa kekasihnya itu sebenarnya, apalagi semua keluarga sampai menentang hubungan mereka, berarti ada sesuatu. Ini malah tutup mata. Untuk apa uangnya yang banyak itu, bila tidak bisa membayar orang-orang yang pintar dalam mengungkapkan jadi diri seseorang ". Ujar Tante Santi, yang sangat geram dengan keponakannya .


" Entahlah mbak,...padahal aku telah menjodohkan Gavino dengan wanita yang sangat sempurna, tapi malah sekarang aku menjerumuskan gadis itu kedalam kesedihan akibat ulah anakku sendiri ". Jelas Ny. Calina, merasa sangat bersalah dengan Danira. Karena permintaannya Danira harus terjebak dalam pernikahan yang pelik seperti ini.


" Pokonya ibu tidak mau tau, kalian semua Minggu depan harus datang. Membawa cucu menantuku kemari, entah bagaimana caranya, kamu harus menemukan cucu menantuku secepatnya Lin. 2 hari sebelum acara, Gavino dan cucu menantuku sudah harus sampai disini. Ibu tidak mau tau, harus. ". Titah Oma Laras, tak terbantahkan. Ny. Calina hanya diam, berfikir kemana dia harus mencari Danira.


" Akan aku usahakan membawa Danira ikut serta kesana ". Pasrah Ny. Calina. Tak berapa lama sambungan Video call itu berakhir, Ny. Calina bernafas lega. Dia tau bagaimana cerewetnya sang ibu bila keinginannya tidak terpenuhi.


Ny. Calina masih duduk dengan posisi sebelumnya, dengan tangan terus memijat-mijat keningnya, mulai mencari ide untuk bisa menemukan Danira.


" Ya...!! ini adalah kesempatan yang aku butuhkan. Kali ini aku harus berhasil menyatukan anak-anakku kembali ". Gumam Ny. Calina, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...****************...


Diperusahaan Garayudha Company


Gavino tegah duduk serius dibalik meja kerjanya, memeriksa tumpukan kertas yang telah menggunung, dia sedang membaca satu persatu tulisan yang terukir dikertas-kertas itu.


Suara pintu dibuka secara paksa, membuat Gavino mengalihkan pandangannya, melihat siapa yang datang tanpa permisi.


" Honey....apa benar kau yang meminta Sean untuk tidak mengijinkanku masuk kesini ?". Teriak Stevani yang baru saja masuk, berjalan mendekati Gavino, diikuti Sean dari belakang.


" Maaf tuan ". Ucap Sean, menunduk. Gavino mengangguk, memberi kode agar Sean keluar. Gavino mengendurkan dasinya, lalu menyandarkan punggungnya kesadaran kursi, dia melihat wajah Stevani yang merah padam.


" Ya....!!". Jawab Gavino singkat. Stevani membulatkan matanya tak percaya.


" Kenapa ?, memangnya aku ada salah apa, sehingga kau tak mengijinkan aku masuk ?".


" Kau menanyakan kesalahan ?, kau pikir sendiri, kesalahan apa yang telah kau perbuat ?". Ujar Gavino cuek. Melihat Gavino yang kembali cuek kepadanya, membuat Stevani harus mengubah cara untuk membujuk kekasihnya ini.


" Honey ".


" Apa karena ucapan Danu tempo hari, sehingga membuatmu marah begini kepadaku ?". Tanya Stevani dengan nada lembut, sambil duduk dipangkuan Gavino.


" Bangunlah....duduk disana, ini kantor. Tetap jaga sopan santunmu disini ". Ketus Gavino, meminta Stevani bangun dari pangkuannya. Stevani semakin terkejut atas penolakan Gavino padanya.


" Sejak kapan aku harus menjaga sikapku dikantormu ini honey ?, mengapa kau jadi berubah seperti ini kepadaku hah ?". Ujar Stevani berdiri, emosinya mulai terpancing lagi.


" Sudahlah Van, aku sedang malas berdebat denganmu. Pekerjaanku sedang banyak, aku sibuk sekali. Jika tidak ada yang ingin kau sampaikan, lebih baik kau pulang saja ".

__ADS_1


" Kau mengusirku ?". Tanya Stevani semakin tak percaya.


" Ayolah honey, Danu hanya bercanda. Dia memang seperti itu orangnya, gaya humornya kadang membuat orang suka emosi, tapi dia tidak serius dengan ucapannya. Kau percaya padaku kan honey ?, aku tidak mungkin menghianatimu ". Ujar Stevani lagi, merendahkan nada suaranya, memeluk Gavino dari belakang, mendaratkan kecupan singkat dipipi Gavino. Gavino melepaskan tangan Stevani yang melingkar dilehernya.


" Pulanglah....aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini ". Ujar Gavino, kembali mengambil dokumen diatas mejanya.


" Gavino, ada apa denganmu, mengapa kau sekarang banyak berubah hah ?, kenapa kau sering mengusirku sekarang ?, apa karena wanita penggoda itu, yang membuatmu menjauh dariku ?". Teriak Stevani emosi, karena Gavino lagi-lagi mengusirnya.


" Jagan bawa-bawa dia dalam hubungan kita, dia tidak tau apa-apa".


" Wow...wow..wow....jadi sekarang kau sudah Berani membela wanita sialan itu dihadapanku honey...ha..ha..ha, kau sungguh hebat sekarang ".


" Apa kau telah jatuh cinta padanya ?, atau dia telah berhasil menggodamu dengan tubuhnya hah ?". Ujar Stevani sambil melipat kedua tangannya didepan dada, tersenyum miring.


" Jaga ucapanmu tentangnya Van, dia bukan wanita seperti itu ". Ketus Gavino tak terima, bila Stevani mengatai Danira.


" Lihatlah...bahkan kau berani membentak ku sekarang. Hebat sekali pelet wanita sialan itu, bahkan kau telah berani mengganti password penthousesmu, tanpa sepengetahuanku, ada apa denganmu honey, kau sungguh banyak berubah sekarang ?".


" Aku tidak pernah berubah Van, justru kau yang semakin jauh. Sekarang aku tanya kepadamu, kemana saja kau hampir 2 Minggu ini menghilang tanpa kabar, apa kau keluar negri lagi hah ?, apa yang kau lakukan disana, bisnis seperti apa Yang kau buat disana ?". Deretan pertanyaan Gavino, membuat Stevani kalang kabut.


" Itu aku..eemm..!!!aku sudah menjelaskan kepadamu bukan, kalau aku ada bisnis kecantikan disana, masa aku harus menjelaskannya berulang kali kepadamu honey ". Jelas Stevani sambil duduk dikursi yang dihadapan gavino.


" Bisnis kecantikan ?, kau yakin hanya melakukan bisnis ?". Tanya Gavino menyelidik, dengan tangan diketuk-ketuk diatas meja kerjanya.


" Tentu....kenapa kau jadi mencurigai aku seperti ini sih ?".


" Aku tidak mencurigaimu, aku hanya memastikan bahwa kau berkata jujur. Kau sudah mengenal aku bukan Van, dan kau pasti tau bagaimana sifat ku bila dibohongi ". Tekan Gavino. Mendengar ucapan Gavino, membuat jantung Stevani berdetak, seakan Gavino dapat mendengarnya.


" Bila aku mencurigaimu, sudah sejak lama semua yang kau lakukan dibelakang ku, pasti akan aku selidiki dan banyak mata-mata yang mengikutimu. Tapi aku tidak melakukan itu bukan, aku selalu mempercayaimu, tak perduli apa yang dikatakan orang-orang tentangmu, aku selalu mempercayai ucapanmu ".


" Aku selalu berkata jujur padamu, apa dengan hubungan kita selama 7 tahun ini, kau masih meragukan aku ?".


" 7 tahun....!!! apa menurutmu angka itu masih terlalu sedikit dan sebentar Van ?". Tanya Gavino, melihat kemata Stevani.


" apa maksudmu ?".


" Aku tak ingin ragu lagi, Ku ingin aku tak pergi-pergi lagi, ayo kita menikah besok, buktikan kalau semua pekataan keluargaku mengenai dirimu salah". Ajak Gavino, dengan sorot mata yang sulit Stevani artikan, Stevani terdiam, dia selalu takut bila Gavino mengatakan untuk mengajaknya menikah. Seperti saat ini.


" Honey....kau tau bukan aku sangat mencintaimu, tapi jika untuk menikah, kau juga sudah tau kalau aku belum memiliki kesiapan itu. Aku masih ingin bebas tanpa ikatan pernikahan. Lagi pula, hubungan kita selama ini baik-baik saja tanpa menikah, dan bila kau ingin status pernikahan, bukankah kau telah memilikinya dengan wanita itu ". Tolak Stevani, dia masih tak ingin menikah, tapi dia juga tak ingin kehilangan Gavino.


" Masih ingin bebas, apa kau sudah gila hah ?, 7 tahun aku membiarkanmu melakukan semua yang kalau mau, lalu pergi dan datang sesuka hatimu kau bilang masih ingin bebas ". Teriak Gavino, geram mendengar jawaban Stevani yang selalu membuatnya emosi. Stevani memejamkan matanya saat Gavino membentaknya, dia sadar bila saat ini Gavino tengah marah besar kepadanya.


" Maafkan aku honey ". Cicit Stevani sambil menangis.


" Hheemmhhh...Brengsek ". Umpat Gavino sambil berdiri dari duduknya, berkecak pinggang, memunggungi Stevani. Stevani semakin mengeraskan tangisannya, berharap Gavino akan iba seperti biasa, lalu tak akan memaksanya seperti yang sudah-sudah.


" Kau ingin hubungan kita ini seperti apa sih Van, saat aku mengajakmu menikah kau selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Lalu akhir seperti apa Yang kau harapkan dari hubungan ini ". Ujar Gavino pelan, dengan pandangan terus mengamati suasana bawah gedung. Stevani hanya diam, menangis dengan tatapan terus melihat punggung Gavino.


" Kita tidak mungkin seperti ini terus menerus, bila kau tak ingin hidup bersama denganku. Lebih baik Kita sudahi saja hubungan kita ". Tegas Gavino, tanpa melihat Stevani yang terdiam mematung dibelakang.

__ADS_1


......................


...Bersambung......


__ADS_2