
Sean masuk kedalam kantor Gavino, dengan membawa berkas ditangannya. Dia hanya melihat Gavino yang masih berdiri memunggunginya.
" Tuan ".
" Saya membawakan laporan mengenai penawaran anda waktu itu kepada pihak perusahaan Radenayu Group". Ujar Sean, Gavino masih bergeming.
" Sean,...!! Apa pendapatmu mengenai wanita itu?". Tanya Gavino langsung, Sean mengeryitkan dahinya bingung, pagi-pagi tuannya telah mengajaknya main tebak-tebakan. pikir Sean
" Maaf tuan, saya tidak tau wanita mana yang anda maksud ". Jujur Sean, dia tak bisa menebak pertanyaan random Gavino.
" Wanita yang menjadi istriku, apa penilaianmu tentang dia". Ulang Gavino. Sean makin dibuat bingung, apa yang harus dia jawab, dia hanya beberapa kali saja bertemu dengan Danira.
" Jawab saja, bagaimana penilaianmu sebagai seorang pria melihatnya". Ujar Gavino lagi.
" Eemm..!! menurut saya Ny. Danira wanita baik-baik, dia memiliki daya tarik tersendiri, Bukan hanya Solehah, dia juga memiliki institut dan sopan santun yang mengagumkan, bahkan suara lembutnya mampu menghipnotis siapapun yang mendengar". Jelas Sean, dengan nada tegas namun tidak dingin, Sean mulai mengingat bagaimana Danira pernah mengingatkannya tentang ibadah, dan itu masih membekas hingga sekarang. Gavino yang mendengar penuturan Sean seperti itu merasa panas dalam hatinya, lalu memutar tubuhnya menghadap Sean, Gavino bisa melihat ada kekaguman Dimata asisten pribadinya itu.
" Beraninya kau mengatakan hal seperti itu tentang Nonya mu hah...!!!" Teriak Gavino secara tiba-tiba, membuat Sean memundurkan langkahnya terkejut, bingung melihat respon Gavino yang aneh menurutnya.
" Gajimu aku potong 40%". Putus Gavino, hal itu membuat Sean membelalakkan matanya tak percaya.
" Maaf tuan, saya hanya mengatakan apa adanya, mengapa gaji saya yang dipotong ?memangnya ada yang salah tuan ?". Sean berbalik bertanya, Gavino benar-benar aneh. pikir Sean.
" Ti..ti.tidak ada, kau hanya tidak boleh menganggumi nya seperti itu, apa lagi dia masih berstatus istriku. Paham ". Gavino gelagapan, sepertinya dia baru saja tersadar bahwa respon yang dia berikan kepada Sean terlalu berlebihan.
" Apa anda cemburu tuan ?". Tanya Sean, dan pertanyaan itu sukses membuat Sean mendapatkan tatapan tajam dari tuan arogannya.
" Jagan berpikir aneh-aneh kamu, tidak mungkin aku cemburu dengan wanita seperti itu, apa kau ingin aku menambahkan potongannya lagi hah?". tutur Gavino, membuang tatapan kesembarang arah.
" Sudahlah, aku tak ingin membahas ini lagi. Cepat laporkan apa yang ingin kamu sampaikan". Titah Gavino, sambil berjalan menujuh kursi kerjanya.
Anda benar-benar aneh tuan, bila cemburu katakan saja. mengapa harus gengsi dan mengorbankan gajiku. Batin Sean.
Sean berjalan menghampiri Gavino, dan memberikan berkas Yang ada ditangannya.
" Ini tuan". Gavino mulai membuka dan membaca berkas itu.
" Pihak Radenayu Group, telah menyetujui kerjasama kita tuan, dan pimpinan mereka pun juga menyetujui anda menanam saham diyayasan itu". Jelas Sean, Gavino menyungingkan senyum licik dibibirnya.
" Bagus, ini yang aku harapkan. Ternyata responnya cepat juga, perkiraan ku benar bukan, mereka pasti sedang membutuhkan dana besar. Mereka terlalu jual mahal dengan menutup akses untuk pada donatur yang ingin membantu". Ejek Gavino.
" Maaf tuan, mereka juga mengajukan syarat". Potong Sean, Gavino menaikan satu alisnya melihat Sean.
__ADS_1
" Syarat apa ?".
" Mereka akan menyetujui semuanya, apa bila anda tidak ada niatan ingin bertemu dengan pemilik Radenayu Group dalam waktu dekat, bila anda menolak, maka mereka akan membatalkan kerjasama ini dan akan menerima penawaran dari perusahaan lain". Jelas Sean menyampaikan sesuai dengan yang diminta Sarah kepadanya. Gavino mengeraskan rahangnya, emosi mendengar syarat yang tak masuk akal menurutnya.
" Sombong sekali, beraninya mereka mengajukan syarat konyol seperti itu, memang apa istimewanya dia sampai-sampai bersembunyi begitu". geram Gavino mengepalkan tangannya. " Lihat saja, jika aku telah mendapatkan tujuanku, maka akan aku menghancurkan perusahaan mereka hingga kedasar tanah, sampai mereka memohon ampun dan merangkak dibawah kakiku". ujar Gavino menyeringai licik.
" Sampaikan kepada mereka bahwa kita setujuh dengan persyaratan yang mereka ajukan"
" Apa kau belum juga menemukan titik terang dari identitas pemiliknya itu ?". tanya Gavino lagi pada Sean.
" Maaf...!! belum tuan, sepertinya mereka memakai pengaman yang sangat ketat tuan".
" Apa kau tidak bisa mencari Hacker terhebat didunia hah, mengapa kau lelet sekali sekarang. apa karena terlalu lama menjomblo membuat kinerjamu menurun ?". Ketus Gavino, dia merasa kesal karena Sean tidak bisa mencari apa yang dia inginkan. Sean menautkan alisnya, apa hubungannya dengan statusku yang jomblo. pikir sean
" Bukan Begit....!!
" Sudahlah, aku malas berbica denganmu. Kau sangat menyebalkan, pergilah selesaikan pekerjaanmu". Usir Gavino.
" Baik Tuan, saya permisi ". Sean memberi hormat, lalu berjalan ingin pergi, namun belum sempat membuka pintu suara Gavino kembali menghentikannya.
" Apa kau tau Stevani Dimana ?". Tanya Gavino.
Apa lagi ini, mana aku tau kekasih anda ada dimana, memangnya saya memegang remot kakinya apa. Batin Sean mulai kesal menghadapi Gavino.
" Pergilah, jawabanmu membuatku makin kesal". Sean membalikkan tubuhnya lagi, lalu menghilang dibalik pintu kaca itu.
" Kemana lagi kau Stevani". Gumam Gavino, mengambil ponselnya, Gavino semakin emosi melihat tak ada pesan apapun dari sang kekasih, sudah 3 hari Stevani menghilang entah kemana.
...****************...
Disebuah hotel bintang lima, di New York. Seorang wanita masih tertidur, dengan tubuh polos hanya ditutupi dengan selimut sampai bagian dadanya saja. Lelah setelah kegiatan panas yang baru saja dia lakukan.
Suara getaran Handphone memaksa wanita itu membuka matanya, dia meraih benda pipih yang dia letakkan dibawah bantalnya.
Matanya membola melihat nama si pemanggil.
Dia menggigit bibir bawahnya, bingung. Apakah dia harus menjawabnya atau tidak. Panggilan itu mati, tertera 10 panggilan tidak terjawab, hal itu makin membuat hatinya bimbang, tak lama ponselnya bergetar lagi tertera nama yang sama, wanita itu menoleh kearah pintu kamar mandi, memastikan orang yang ada didalam tidak segera keluar. Dia menggeser tanda jawab.
" Hallo ". Jawab Stevani pelan.
" Kemana saja kau, mengapa baru mengangkat panggilanku ?, kamu ada dimana hah ?". Ujar Gavino dari ujung telpon dengan nada dingin, Stevani tau saat ini gavino marah besar kepadanya.
__ADS_1
" Sorry honey, sekarang aku sedang ada di New York, aku ada pekerjaan mendadak jadi tidak sempat memberitahu mu". Jawabnya berbisik pelan.
" Mengapa suaramu berbisik seperti itu ?".
" Aku masih tidur honey, bukankah suaraku kalau bangun tidur memang seperti ini". Ujar ya lagi, mengelak.
" Kau Jagan bohong kepadaku Vani, aku bisa menyusulmu saat ini jika juga". Stevani menggigit bibir bawahnya, cemas bila Gavino nekat menyusulnya kemari.
" Aku benar ada pekerjaan honey, mengapa sekarang kau sering kali meragukan aku ?". Stevani bingung harus menjawab apa lagi.
" Kapan kau akan kembali ?".
" Aku belum tau honey, jika pekerjaanku disini telah selesai, aku akan kembali secepatnya." Jawab Stevani, dengan mata terus mengawasi pintu kamar mandi.
" Bisakah kau tidak pergi-pergi lagi Van ?".
" Sudah lah honey, kita sudah sering membahas ini". Jawab Stevani, telinganya menangkap suara pintu terbuka, Stevani mulai panik.
" Honey, nanti aku telpon lagi ya. Aku masih mengantuk ".
" Bye...!!". Tanpa menunggu jawaban Gavino, Stevani langsung mematikan ponselnya dan menghapus daftar panggilan.
Seorang Pria berperawakan tinggi, putih keluar dari kamar mandi hanya menggenakan handuk yang melilit di pinggang ya.
" Kamu habis menghubungi siapa ?". Tanya Pria itu. Stevani tersentak, memikirkan jawaban yang tak membuat pria ini curiga.
" Eemm...ah itu, temanku yang diindonesia, dia menghubungiku, mengundang keacara pertunangannya besok. Aku bilang aku tidak bisa datang". Bohong Stevani, dengan senyum yang dibuat-buat.
" Bukankah sudah aku katakan, jika saat bersama denganku tidak bole memegang ponsel". Ujar pria itu dengan nada datar. Stevani menundukkan kepalanya.
" Maafkan aku, aku pikir tidak apa jika kau sedang dikamar mandi". Jawab Stevani lirih, sedikit bergetar takut.
" Hheemmm...baiklah kali ini aku maafkan, ingat jangan sampai kau mengulanginya lagi". Ancam Pria itu. Stevani mengangguk patuh.
" Ayo layani aku lagi, karena besok pagi aku sudah harus kembali kenegaraku, jadi malam ini kamu harus memuaskan aku". Titah pria itu.
" Kapan kita bisa tidak bersembunyi-sembunyi seperti ini lagi ?". Tanya Stevani, membuat pria itu berhenti sejenak, menyelang tak suka.
" Haruskah aku menjawabnya ?". Ujar Pria itu lagi, Stevani mendongakkan kepalanya menciptakan senyum yang dipaksa, menggelengkan kepanya. Pria itu membuka handuknya, lalu berjalan naik keatas tempat tidur, dan mereka mulai melakukan adegan panas yang sama seperti sebelumnya.
......................
__ADS_1
...Bersambung......