CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
102. Mencintaimu Dari Balik Cadarku


__ADS_3

WUSSS*


Hembusan angin pantai menerpa kulit mereka, dibawah sinar rembulan wajah Gavino semakin tampak bercahaya, membuat mata Danira tak ingin beralih dari wajah tampan sang tuan muda.


" Danira....! Boleh kah aku memelukmu ?".Tanya Gavino lagi. Danira tertegun sejenak, mendengar permintaan Gavino.


" Kenapa ?, bukannya mas serin......".


BRUK**


Tanpa menunggu Danira menyelesaikan ucapannya Gavino telah menarik tubuh Danira hingga masuk kedalam pelukannya. Dia memeluk tubuh Danira erat seakan tak ingin melepaskannya lagi. Danira membeku, tangannya tetap menjuntai kebawah, tak membalas pelukan Gavino.


" Maaf....".


" Maaf...".


" Ini kata yang paling sulit bagiku ungkapkan, aku bukan manusia yang peka, bukan pria yang romantis. Tapi kali ini aku ingin mengatakan kata ini padamu ".


" Danira tolong maafkan aku, mungkin hampir 1 tahun kita menikah, aku tak pernah memperlakukan dirimu dengan baik. Banyak perbuatan dan perkataan ku yang menyakiti hatimu. Maukah kau memaafkan pria sombong ini hhmm?". Ucap Gavino, mata Danira kembali basah, dia menitikkan kembali air matanya mendengar permintaan Gavino yang terdengar tulus ditelinganya.


" Maaf Danira selalu ada untuk mas Gavino ". Jawab Danira. Danira ingin melepaskan pelukan Gavino, tapi Gavino menahan kepala Danira agar terus menempel didadanya.


" Tetaplah bertahan seperti ini, sebentar saja. Aku masih ingin memelukmu". Ucapan Gavino membuat Danira kembali diam, dia tak lagi berusaha melepaskan pelukan suaminya, kini dia menempelkan telinganya didada gavino, hingga Danira bisa mendengar dengan jelas detak jantung gavino yang berdegup kencang.


" Danira....".


" Aku tidak tau harus mengatakan apa, aku tidak pandai menyusun kata-kata puitis, bahkan aku tak bisa merayu wanita. Tapi aku ingin mengatakan ini kepadamu, aku selalu merasa nyaman saat aku bisa memelukmu seperti ini, aku selalu merasa nyaman ketika kau berada di sisiku, aku tidak sedang membuai aku serius dengan ucapanku". Danira merasakan desiran aneh dalam darahnya, hatinya merasa senang sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan. Dia ingin mempercayai ucapan Gavino, tapi dia ragu dengan kenyataan yang sering Danira terima.


" Danira Bolehkah aku bertanya padamu, kali ini tolong jawab dengan jujur ?".


" Apa ?". Jawab Danira singkat, penuh penasaran. Gavino diam sejenak, mencoba menimbang-nimbang haruskah dia menanyakan hal ini, haruskah dia mengatakan semua yang telah dia rasakan. Atau haruskah dia tetap mengedepankan gengsinya, Gavino tampak bimbang, namun lagi-lagi perasannya lebih mendominasi.


" Danira....eemmm...!!! ". Gavino tampak ragu, hal itu membuat Danira bertanya-tanya, apa yang sebenarnya yang ingin suaminya ini tanyakan, hingga membuatnya terlihat ragu. Danira diam, masih menunggu Gavino mengatakan sesuatu.


Hhhuuhhhh **


" Danira....apa tidak ada kesempatan lagi untukku ?". Tanya Gavino.


" Tidak bisakah kau terus mendampingiku seperti ini ?, Aku menyadari semua kesalahanku, memang tak mudah bagimu untuk menerimaku kembali setelah apa yang aku lakukan selama ini padamu. Tapi....!! Tak adakah kesempatan kedua untukku Danira ?".


Tes*


Tes*


" Mas Gavin....". Lirih Danira menangis.


" Danira..., aku...aku..aku tak ingin mendengar kata-kata perpisahan dari mulutmu. Entah mengapa hatiku merasa sakit ketika kau memilih pergi dariku, Aku tak suka saat kau mendiamkanku itu sangat menyebalkan. Danira aku tak ingin kita berpisah, aku tak akan pernah menceraikanmu ". Ujar Gavino mengungkapkan perasaannya saat ini.


Deg*


Jantung Danira memompa semakin cepat. Mungkin Gavino bisa mendengar detakannya, Danira masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


" Tak bisakah kau membuka hatimu untukku Danira ?".


Hatiku telah terbuka ketika kau mengikrarkan ijab qobul didepan Abah dan para penghulu waktu itu, yang disaksikan para malaikat Allah.


" Bisakah kau mencoba mencintaiku aku ".


Aku telah mencintaimu atas izin Allah SWT ketika, kata SAH dikumandangkan oleh para saksi.


" Maukah kau menerimaku sebagai suamimu seutuhnya Danira ?". Tanya Gavino, tangannya terus mengelus kepala Danira dengan penuh kelembutan.


Aku telah menerima segala kelebihan dan kekuranganmu sebagai suamiku, ketika untuk pertama kalinya aku mencium telapak tanganmu.

__ADS_1


Bahkan Aku telah menyerahkan hati dan perasaanku padamu ketika kita telah menyandang status sebagai suami dan istri. Aku selalu menerima dan memberikan maafku untukmu, meski kau berulang kali menyakitiku. Tapi aku tak akan pernah mampu mengatakan semua ini secara langsung padamu mas, biarlah ini menjadi rahasia hatiku, MENCINTAIMU dari BALIK CADARKU. Danira menjawab setiap pertanyaan Gavino dalam hatinya.


Danira perlahan melepaskan tangan gavino, lalu mendongak melihat wajah suaminya.


" Danira tidak bisa menjawabnya, Maafkan Danira mas. Lebih baik kita pulang saja, ini sudah hampir larut malam, tidak baik bagi kesehatan mas Gavin terkena angin malam begini ". Ucap Danira mengalihkan pembicaraan. Gavino tampak kecewa dengan jawaban Danira, dia ingin tau bagaimana perasaan Danira untuknya, apakah memiliki rasa yang sama atau tidak, tapi ternyata Danira memilih diam. Danira membalikkan tubuhnya, memejamkan matanya sejenak, hatinya terasa nyeri sejujurnya Danira ingin mengatakan apa yang dia rasakan , tapi rasa takut akan kekecewaan telah menguasai seluruh hati dan pikirannya.


Danira menghela nafas pelan, mulai melangkah meninggalkan Gavino yang masih berdiri ditempatnya. Gavino melihat Danira yang terus berjalan menjauh darinya dengan hati yang tak karuan, Gavino mengepal tangannya, lalu.....


" DANIRA....". Teriak Gavino, tapi Danira tak menghiraukannya, dia terus melangkah menujuh jalan ketika mereka datang.


"Sasmaya Anak Agung Jandanira Radenayu Brahmacari, AKU MENCINTAIMU ".


DEG**


DEG**


DEG**


Danira menghentikan langkah kakinya, matanya membesar, degupan didalam dada semakin cepat, ketika mendengar teriakan Gavino yang kencang. Tapi bukan itu yang membuat Danira berhenti, malainkan Gavino memanggilnya dengan nama lengkapnya serta....Kata cinta?.


Danira tak berbalik, dia mematung ditempatnya mencoba menjernihkan pendengarannya. " Apa aku tidak salah dengar, mas Gavino memanggil nama lengkapku ?, dan kata itu.....". Gumam Danira pelan. Gavino berlari menyusul Danira, dia kembali memeluk Danira dari belakang, membenamkan kepalanya ditengkuk Danira.


" Jangan menghindar ".Ucap Gavino pelan, terdegar lirih ditelinga Danira.


" Aku mencintaimu Danira, aku telah jatuh hati padamu, aku tidak tau kapan persis nya perasaan ini datang. Tapi yang jelas aku merasakan getaran yang berbeda ketika bersama denganmu ".


" Mas Gavin.....!!!, tolong jangan seperti ini, jangan mempermainkan perasaanku jika tak bisa membuatnya menjadi nyata ". Gavino mengangkat kepalanya, memutar tubuhnya berpindah kedepan Danira, kini mereka saling berhadapan dengan tatapan saling bertemu.


" Aku tidak bercanda danira, aku serius. Aahhh....! Bagaimana caraku mengatakannya, agar kau percaya jika aku benar-benar telah menyukaimu bahkan aku telah mencintaimu ". Ucap Gavino, memegang kedua bahu Danira. Danira menatap mata Gavino yang memerah, mencari kebohongan didalam sana, tapi yang tampak hanya ketulusan dari sorot mata kelam itu.


" Mas Gavin seperti ini hanya karena masih penasaran saja padaku, mungkin rasa itu muncul hanya karena itu bukan cinta yang sebenarnya ".


" Tidak Danira, aku serius. cckkk....mengapa sulit sekali sih menyusun kata-kata yang bisa menyakinkan diri mu. Apa aku harus berkata seperti pria-pria lebay yang ada dalam cerita-cerita novel, dengan mengatakan belah lah dadaku agar kau bisa melihat ketulusan hati ini ?". Ujar Gavino dengan wajah serius, tangannya memperagakan membelah dadanya. Seketika rasa ragu Danira merubah menjadi gelak tawa.


" Kenapa kau tertawa ?".


" Mas Gavin lucu ". Ujar Danira kemudian menghentikan tawanya. " Mas Gavin tak perlu mengatakan hal-hal seperti itu ".


" Teruslah tertawa seperti ini, aku sangat senang mendengarnya ". Danira tertegun, kembali menatap wajah suaminya. Mereka terdiam beberapa detik.


" Mas....Danira takut ". Lirih Danira menundukkan kepalanya.


" Apa Yang kau takutkan ?". Tanya Gavino, mengangkat wajah Danira agar melihat kearahnya.


" Danira takut perasaan mas Gavino hanya karena rasa penasaran semata. Setelah mas Gavino melihat wajah ini mas Gavino akan menyesal ".


" Aku tidak akan pernah menyesal Danira, aku sudah menyakinkan diriku kalau aku menerima segala bentuk kekuranganmu ".


" Meskipun Danira buruk rupa seperti yang mas Gavino sering katakan ?". Tanya Danira.


" Ya...tak masalah !!! Aaiiss, kau ini selalu mengingatkan aku tentang kesalahanku ". Ujar Gavino kesal. Danira tersenyum melihat wajah Gavino yang cemberut. Mereka berdua kembali terdiam, saling menatap.


" HHHMMM....Danira maukah kau memulai semuanya dari awal bersamaku ?, kita bangun rumah tangga sesuai dengan harapanmu. Tanpa ada kata perpisahan lagi ?". Mata Danira kembali berkaca-kaca, perasaannya kembali tak karuan, semua menjadi satu. Danira bingung apa yang harus dia jawab, Danira menunduk.


" Tapi mas Gavino masih mencintai wanita lain. Maaf mas Danira tidak bisa ". Lirih Danira, hati dan logikanya bertolak belakang, Danira ingin mengatakan iya, namun lagi-lagi logikanya menguasai pikiran Danira. Gavino menghela nafas kasar.


" Danira apa yang kau dengar tadi itu benar adanya, ....hubunganku dengan Stevani memang sudah berakhir, apa kau tidak percaya ?". Ucap Gavino, Danira menggeleng cepat. Gavino mendengus sebal. Tiba-tiba.....


DRETZZ


DRETZZ


Ponsel Gavino kembali bergetar, dia ingin mengabaikannya namun getarannya tak pernah berhenti. Gavino mengambil ponselnya dengan kesal. Dia melihat nama yang tertera dilayar, Danira pun bisa melihat nama si penelpon.

__ADS_1


" Mas angkat saja, Danira akan menunggu disana ". Ujar Danira menunjuk tempat duduk yang ada didepan rumah kayu. Dia tak ingin mendengar percakapan mesra antara suaminya dengan wanita lain. Danira berbalik ingin pergi, tapi....


" Tetap disini ". Gavino memegang pergelangan tangan Danira, menahannya agar tidak pergi. Kemudian Gavino menggeser layar ponsel ke tanda jawab, lalu menekan loundspeaker.


" Honey?, kenapa kau lama sekali mengangkat telpon ku ". Suara sexy wanita dari seberang sana terdegar ketelinga Danira, hal itu membuat Danira tercengang dengan apa yang suaminya lakukan. Sedangkan Gavino masih diam, matanya terus menatap Danira.


" Honey...Hallo, kenapa kau diam saja honey ? kapan kau akan kembali dari sana, aku sudah sangat merindukanmu". ucap Stevani bernada manja.


" Honey....jawab aku, mengapa kau diam saja. Kau sedang ada dimana, mengapa ada suara deburan ombak. Apa kau sedang dipantai?".


" Kenapa kau menelponku ?". Tanya Gavino bernada datar.


" Kenapa ?. Mengapa kau bertanya seperti itu, sejak kapan aku harus ada alasan untuk menghubungi kekasihku ?".


" Sejak hubungan kita telah berakhir, dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu lagi ". Ketus Gavino, sambil menatap Danira.


" Ayolah honey, hentikan candaanmu ini. Aku tau kau hanya menggertakku kan waktu itu ?, kau tidak serius kan memutuskan hubungan kita ? apa kau sudah tidak mencintaiku lagi hhmm?". Tanya Stevani, mulai bergetar seperti ingin menangis.


" Tidak ". Singkat Gavino.


" Kau bohong...apa karena wanita penggoda itu hah ?". Pekik Stevani tersulut emosi.


" Berhenti mengatakan istriku wanita penggoda, dia tak seperti itu ".


" Wooww...kau membelanya honey ?, apa kau sudah jatuh cinta dengan wanita buruk rupa itu hhmm?". Ejek Stevani.


" Ya...aku sudah jatuh hati padanya, bahkan aku sudah mencintainya. Melebihi perasaanku padamu dulu ". Jawab Gavino serius melihat Danira. Danira terdiam mendengar pengakuan Gavino.


"Aakkhh...Berengsek kau gavino, aku tidak terima kau buat begini. Dengar Gavino, aku tidak pernah menyetujui hubungan kita putus. Kau tetap milikku ". Pekik Stevani emosi.


" Aku tidak perduli ".


" Lihat saja aku akan membuat perhitungan kepada wanita penggoda itu ". Ancam Stevani, pada Gavino.


" Lakukanlah jika kau bisa, tapi sebelum itu aku yang akan memberi perhitungan padamu atas apa yang telah kau lakukan padaku dan juga istriku, sepulang aku dari sini. Jadi persiapkan dirimu dengan baik ". Ujar Gavino dingin, Stevani terkejut ternyata apa yang dia takutkan benar terjadi, Gavino telah mengetahui bahwa dia ada dibalik penyerangan mereka tempo hari. Sedangkan Danira mengeryitkan dahinya bingung tak mengerti.


" A..a..apa yang kau katakan honey, aku tidak mengerti, memangnya apa yang telah aku lakukan ? ". Ucapnya Gugup. Tanpa menjelaskan apapun Gavino memutuskan sambungan telpon mereka.


" Apa sekarang kau sudah percaya, bila aku sudah tak memiliki hubungan lagi dengannya ?". Danira tak memberikan respon apapun, hatinya gamang.


Ya Allah apa yang harus aku jawab ?, haruskah aku memberi kesempatan kedua untuk mas Gavino ?, haruskah aku menyetujui keinginannya untuk memulai semuanya dari awal?, aku bingung ya Rab, aku takut kecewa ". Batin Danira.


" Danira...?, Apakah kau bersedia menerimaku sebagai suamimu?, maukah kau memberiku kesempatan lagi ? Aku tau, aku bukan pria yang baik, juga bukan pria Soleh. Tapi maukah kau membantuku menjadi imam yang baik untukmu ? untuk anak-anak kita nanti ?". Danira masih terus menatap Gavino, masih berfikir jawaban apa yang harus dia berikan untuk Gavino. Sejujurnya Danira merasa tersentuh dengan ucapan Gavino, yang terlihat sangat tulus dan bersungguh-sungguh.


" Meski aku tak memiliki semua kebaikan itu, tapi setidaknya aku memiliki kharisma ketampanan dan kekayaan yang mampu membahagiakanmu setiap hari ". Ujar Gavino kembali membanggakan dirinya. Danira kembali tersenyum geli mendengar kesombongan tuan muda arogannya ini.


" Bagaimana, mau ya? mau...ayolah mau saja, ya..ya...ya ?". Pinta Gavino, berubah seperti anak kecil yang menarik-narik ujung baju Danira. Danira pergi meninggalkan Gavino begitu saja tanpa memberi jawaban apapun, membuat Gavino kembali melemas.


Apakah ini akhir dari semuanya, mengapa Tuhan tak adil sekali. Batin Gavino.


Danira berbalik melihat Gavino yang masih mematung ditempatnya.


"Mas Gavin.....Danira bersedia memulai semuanya dari awal, ayo kita lakukan bersama ". Jawab Danira sedikit keras, Gavino mengangkat pandangannya, melihat Danira yang berdiri hanya berjarak 3 meter dari tempatnya. Gavino menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang sangat menawan. Seakan tak percaya dengan pendengarannya, Gavino menggosok-gosokkan telinganya beberapa kali.


" Apa yang baru saja dia katakan ?, apa itu artinya dia memberikan aku kesempatan kedua ?, apa ini artinya.....".


Gavino melangkah lebar mendekati Danira lalu dia memeluk Danira, membawanya berputar-putar, membuat Danira tertawa, Gavino sangat bahagia, semua bunga-bunga bermekaran dalam hatinya. Gavino berteriak sangat kencang disertai tetesan air mata bahagia yang keluar begitu saja dari balik kelopak matanya.


" DANIRA AKU MENCINTAIMU ".


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2