CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
103. Menikah lagi


__ADS_3

Malam kian larut, hebusan semakin dingin menusuk hingga ketulang, bintang-bintang mulai menghilangkan cahayanya satu persatu. Namun hal itu tak membuat pasangan yang sedang dimabuk asmara itu ternganggu. Mereka masih asik duduk di kursi santai yang tersedia didepan rumah kayu itu, sambil memandang hamparan laut yang luas.


Danira dan Gavino sama-sama diam, mereka bingung ingin memulai pembicaraan darimana, setelah adegan peluk-pelukan selesai, mereka berdua menjadi cangung satu sama lain, Malu.


" Apa kau merasa dingin ?". Tanya Gavino memulai obrolan mereka. Danira melihat Gavino lalu menggelengkan kepalanya.


" Mas ...".


" Ya ". Jawab Gavino cepat.


" Bolehkah kita bertahan sebentar lagi disini ?". Pinta Pinta Danira.


" Tentu, apa kau sangat menyukai tempat ini hhmm ?". Danira menjawab dengan anggukan.


" Tempatnya sangat indah dan tentram ".


" Sepertinya kau sangat menyukai pantai ?".


" Eemmm...! Danira memang sangat menyukai pantai, dulu waktu kecil bapak pernah sekali membawa Danira kepantai, dan itu sangat menyenangkan, lalu bapak berjanji akan mem.....". Danira tak melanjutkan lagi ucapannya, dia teringat tak seharusnya dia menceritakan tentang keluarganya.


" Ada apa ?, mengapa kau diam ?". Tanya Gavino bingung.


" Aahh tidak...!! Mas Gavin pintar sekali memilih tempat, apa mas Gavin sering datang kesini bersama kekasih mas Gavin ?". Ujar Danira mengalihkan pembicaraannya, dia tak ingin Gavino mengetahui cerita hidupnya. Gavino diam sejenak, memandang Danira lama.


Apa yang kau sembunyikan dariku, mengapa aku merasa ada banyak rahasia tentang jati dirimu. Batin Gavino.


" Hekhem....aku tidak pernah membawa dia kemari, bahkan mami pun tidak tau tempat ini. Aku datang kesini hanya bersama Sean, Bayu dan para pengawal lainnya. Kau adalah wanita satu-satunya yang pernah aku bawa ketempat ini ". Jelas Gavino.


" Wah...berarti Danira termasuk orang yang beruntung dong, bisa diajak ketempat rahasia mas Gavin ". Ucap Danira bernada senang.


" Kau bukan hanya beruntung, tapi kau sangat istimewa ". Ujar Gavino mengambil tangan Danira diatas meja lalu menggengmnya erat.


BLAS*


Pipi Danira memerah seperti tomat ketika mendengar ucapan Gavino, Danira menunduk malu.


" Danira, boleh aku bertanya sesuatu ?


"Ya..."


" Kau ingin kita pergi bukan madu kemana ?". Tanya Gavino menatap Danira. Mendengar itu tentu saja Danira refleks mengangkat kepalanya melihat Gavino.


" Hah..?, maksudnya ?". Tanya Danira lagi.


" Ya...bukankah kita sekarang sudah menjadi suami istri sungguhan, jadi aku bertanya kau ingin kita pergi berbulan madu kemana ?, apa kau memiliki tempat yang selama ini kau inginkan ?".


" Aahhh itu, eemmm...!! Danira tidak tau mas " Jawab Danira malu-malu. Gavino tersenyum melihat tingkah Danira yang menggemaskan, dia menggeser kan meja yang berada di antara kursinya dan kursi Danira, lalu mendekatkan tempat duduknya hingga mereka duduk sangat dekat.


Gavino menyentuh kepala Danira, lalu mengelusnya pelan penuh kelembutan, Gavino melihat setiap bagian kain yang menutupi wajah istrinya seakan dia dapat melihat wajah Danira dibalik kain itu. Kemudian tangan Gavino berhenti di bagian benda kenyal yang Gavino yakin itu adalah bibir istrinya.


" Kau tau aku sangat ingin membuka kain ini, tapi aku tak akan melakukannya sampai kau memberikan aku izin untuk membukanya ". Ujar Gavino, Danira memegang tangan Gavino lalu menurunkannya.


" Mas Gavin bisa membuka Burqa ini, tapi mas Gavin harus menikah lagi ". Ucap Danira, membuat Gavino terkejut.


" Menikah lagi ?, tidak aku tidak mau. Baru juga kita berbaikan, kau telah memintaku untuk menikah lagi ". Sungut Gavino kesal, menampilkan wajah cemberutnya. Danira tersenyum geli melihat wajah sang suami.


" Bukan menikah dengan orang lain mas, tapi menikahi Danira lagi. Kita harus menikah ulang ". Ujar Danira, Gavino semakin mengerutkan keningnya bingung.


" Kenapa harus menikah lagi, kita kan sudah menikah. Memangnya harus menikah berapa kali ?".


" Apa mas lupa, dulu mas pernah mengatakan akan menceraikan aku ketika mas mendapatkan restu dari mami. Itu sama artinya mas Gavin sudah menjatuhkan talak untuk Danira ". Gavino sungguh terkejut mendengar penuturan istrinya, apa benar dia telah menjatuhkan talak. pikir Gavino.

__ADS_1


" Dalam Agama Islam ada beberapa pendapat ulama menegaskan bila suami mengatakan hal demikian, itu sudah sama halnya menjatuhkan talak Mua'allaq disebut juga talak Bersyarat atau lebih dikenal dengan talak Ta'liq.


(Ini adalah talak yang digantungkan terjadinya pada sesuatu di waktu yang akan datang. Biasanya menggunakan kata-kata jika, apabila, kapan pun, dan sejenisnya.)#KompasGoogle.


" Jadi aku telah melakukan itu ?". Tanya Gavino masih tak percaya, Danira mengangguk.


" Tapi dalam beberapa pendapat, bahwasannya talak itu baru berlaku bila sudah memasuki waktu yang di maksudkan, Namun belum berlaku pada saat kata itu diucapkan. Meski begitu, Danira ingin kita tetap menikah lagi, agar tidak ada keraguan ketika kita menjalani rumah tangga kita mas ".Ujar Danira menjelaskan. Gavino terdiam menunduk, rasa sesal mulai memasuki hatinya, melihat itu Danira mengenggam tangan Gavino.


" Mas Gavin tak perlu menyesal, yang berlalu biar lah berlalu. Bukankah kita sepakat memulai semuanya dari awal ?, yang penting mas Gavin tidak mengulanginya lagi ".Ujar Danira lembut, tersenyum manis.


" Maafkan aku Danira, aku tidak tau bila ucapanku waktu itu sefatal ini ". ujar Gavino lesuh. Gavino benar-benar tak menyangka, ternyata ucapan yang bernah dia lontarkan akan membuatnya menjatuhkan talak untuk Danira.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, semua sudah terjadi. Anggap saja ini cara Allah mendewasakan mas Gavin, agar lebih mengedepankan logika dan akal sehat dari pada emosi sesaat".


" Apa mas tau mengapa Allah hanya menganugerahkan kata talak pada kaum laki-laki ?, itu karena Allah telah melimpahkan tanggung jawab yang besar dipundak mereka, karena kelak mereka akan menjadi pemimpin untuk melindungi keluarganya. Mereka juga harus berfikir secara rasional, lebih mengedepankan logika dan memikirkan sebab akibatnya. Coba kalau Allah menganugerahkan pada kaum wanita, mungkin setiap detik mereka akan bercerai, karena kaum wanita lebih mengedepankan hati dan perasaan ".


" Maaf ya mas, Danira tidak bermaksud menceramahi atau menggurui mas Gavin, Danira hanya ingin mengingatkan supaya kedepannya tidak terjadi lagi, Danira hanya ingin mas Gavin menjadi kelapa rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab, sebagai seorang istri sudah sepatutnya Danira mengingatkan bila suami Danira melakukan kesalahan ". Ujar Danira pelan, merasa tak enak hati karena terlalu banyak bicara, dia takut bila Gavino tersingung dan merasa diremehkan atas ucapannya. Gavino mengangkat pandangannya, lalu menarik tangannya dan mengelus kepala Danira lagi.


" Aku sangat beruntung memiliki istri seperti mu, cara berfikirmu sangat dewasa dan bijak. Kau tak pernah marah meski aku berulang kali menyakitimu. Terima kasih sudah mau menerimaku Danira. Tetap lah seperti ini, batu aku untuk menjadi suami yang lebih pantas untukmu ". Ujar Gavino, menatap Danira dengan perasaan bangga dan cinta. Gavino lalu memeluk Danira hangat.


" Aku tidak bisa berjanji jika aku tidak akan pernah membuatmu menangis, tapi yang akan selalu aku pastikan bahwa setiap air mata yang keluar dari matamu, itu adalah tangisan kebahagiaan ". Ujar Gavino, Danira terharu mendengar ucapan Tuan Sombongnya ini, Dia membalas pelukan Gavino.


" Sepulang kita dari Kalimantan, aku akan langsung menikahimu kembali. Aku akan membahagiakanmu, mewujudkan segala harapan dan keinginanmu". Ucap Gavino penuh perasaan dan keyakinan, membuat Danira semakin haru.


" Bukannya kita akan pulang kejakarta malam ini mas ?". Tanya Danira, Danira baru ingat bukankah tadi suaminya memintanya untuk membereskan semua pakaian mereka, karena ingin segera pulang ke Jakarta.


" Kita akan pulang besok pagi, semua telah disiapkan oleh Sean ". Jawab Gavino, masih terus memeluk Danira, Danira perlahan mendorong tubuh gavino, lalu mereka duduk saling berhadapan.


" Apa kita tidak terlalu terburu-buru pulang mas ?, maksudku bukankah kita belum sempat tidur dirumah Oma, aku takut Oma tersingung karena kita belum sempat bermalam, tapi sudah memilih pulang ".


" Aku tidak perduli, aku tidak ingin bertemu keluarga toksik seperti mereka. Lagi pula ada yang harus segera aku selesaikan ". Ujar Gavino, wajahnya berubah kesal, matanya kembali memerah marah.


" Ada apa, kenapa mas seperti sedang menahan amarah ?". Tanya Danira penasaran dengan perubahan si tuan muda ini. Gavino menatap Danira


" Ada apa ?, kenapa mas Gavin diam, apa ada masalah serius ?". Deretan pertanyaan Danira penasaran.


HHUUUHHHH*


" Perusahaan sahabatmu melakukan pencurian ". Ujar Gavino berdiri, membelakangi Danira kemudian kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.


" Pencurian ?". Tanya Danira bingung, perusahaannya melakukan pencurian apa. pikir Danira.


" Ya....mereka mencuri desain produk terbaru milikku, yang mana desain itu akan aku luncurkan bulan depan. Namun mereka melakukan kecurangan, mereka mencuri desain milikku dan besok mereka akan melakukan launching produk terbaru mereka menggunakan desain itu ". jelas Gavino, mengepalkan tangannya geram bercampur emosi. Danira masih berusaha mencerna apa yang baru saja dia dengar.


Mencuri ? Desain? Bagaimana mungkin ?. Batin Danira bertanya-tanya. Danira tau besok perusahaannya akan melakukan launching produk terbaru mereka, itu semua atas persetujuan Danira. Tapi apa yang baru saja dia dengar ini sangat mengejutkan, Bagaimana mungkin mereka mencuri. pikir Danira.


" Maaf mas, tapi apa mas yakin bila perusahaan sahabatku seperti yang mas tuduhkan tadi ?, aku rasa tidak mungkin mas, pasti ada kesalah pahaman ?". Ujar Danira mencoba meluruskan.


" Jadi menurutmu aku yang berbohong dan mengada-ada begitu ?". Sungut Gavino, memutar tubuhnya menghadap Danira, dengan wajah geram.


" Maaf mas bukan begitu maksudku ". Ujar Danira, diapun bingung harus mengatakan apa, karena Danira belum tau apa yang sebenarnya terjadi, mengapa bisa desain perusahaan suaminya bisa masuk kedalam perusahaannya.


Pasti ada yang salah, Sepertinya ada yang ingin memfitnah perusahaanku. Pikir Danira. Gavino menghela nafas panjang, mencoba meredam rasa emosi yang kembali membuncah.


HHHMMMAAHH*


" Sudahlah....kita tak perlu membahas tentang ini. Aku tidak ingin masalah ini malah menghancurkan moment kita. Kita fokus saja pada hubungan kita, aku tidak ingin hal-hal seperti ini memperburuk suasana, bagaimana hmmm? ". ujar Gavino sambil berjongkok dihadapan Danira, Danira mengangguk tanda setujuh. Danira melihat mata Gavino yang berusaha keras menahan amarahnya. Dia tak menyalahkan bila Gavino sampai emosi seperti ini.


Aku harus menanyakan ini pada Sarah, apa yang sebenarnya terjadi. Batin Danira.


***

__ADS_1


Dirumah Oma Laras.


Ny. Calina masih duduk dengan gelisah diruang tamu, dia merasa tak tenang karena Gavino dan Danira belum ada tanda-tanda kembali. Ny. Calina berkali-kali melihat jam didinding, waktu hampir menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


" Ccckkk...mereka kemana sih ?, mengapa jam segini belum pulang ?". Sungut Ny. Calina kesal bercampur khawatir pada Danira.


" Hhuuaammm...!! Sudah lah Lina, mereka sudah suami istri, mengapa kau sangat menghawatirkan menantumu itu, seperti mengkhawatirkan anak perawanmu yang sedang dibawa pergi pacarnya saja ". Ujar Oma Laras, sambil berkali-kali menguap karena mengantuk. Ny. calina mencebikkan bibirnya mendengar ucapan sang ibu.


" Ibu tidak mengerti bagaimana sikap Gavino padanya, aku takut dia berbuat yang tidak-tidak pada Daniraku ". Ujar Ny. calina terus saja melihat kearah pintu. Dia sangat takut bila Gavino kembali menyakiti Danira, hingga membuat Danira kembali pergi menjauh.


" Aku mengenal sifat cucuku, meski dia keras kepala, sombong dan arogan, tapi dia tidak akan pernah menyakiti orang lain, apa lagi ini istrinya sendiri. Jauhkan perasangka-perasangka burukmu itu.....Hhoooaammm".


" Ibu tidur saja, ini sudah terlalu malam bagi ibu. Lebih baik ibu istirahat saja sekarang, aku akan tetap menunggu mereka sampai pulang ". Ucap Ny. calina, membujuk ibunya untuk masuk kedalam kamar, dia tak ingin mendengar ocehan ibunya saat ini.


" Tidak...ibu belum mengantuk....Hooaamm ".


" Cekk..!!! belum mengantuk apanya, sedari tadi ibu selalu menguap, itu tandanya tubuh ibu sudah bosan dan lelah. Tubuh ibu meminta beristirahat jadi lebih baik sekarang ibu masuk kekamar lalu tidur..oke ?". Ny. calina memegang tangan ibunya, ingin mengantarkan sang ibu kekamar.


" Tidak...ibu masih ingin disini, ibu juga ingin menunggu mereka pulang. Jangan-jangan mereka sudah kabur kejakarta. Apa kau sudah mencoba menghubungi Gavino ?".


" Sudah, tapi telponku tidak dijawab ". Ujar Ny. Calina memberi tahu.


Dari luar rumah, Ny. Calina mendengar suara deru mesin mobil berhenti. Dengan buru-buru Ny. Calina menghampiri Handle pintu, lalu membukanya. Dia melihat Gavino dan Danira berjalan kearahnya sambil bergandengan tangan disertai senyum yang merekah dibibir Gavino.


" Kalian dari mana saja ?, mengapa baru pulang selarut ini ? dari tadi mami mencoba menghubungimu, mengapa kau tidak menjawabnya hah ? Kau tidak apa-apa kan Danira ?, Gavino tak melakukan hal buruk padamu kan nak ?, dia tidak menyakitimu lagi kan sayang ?". Ny. calina menyerang Gavino dan Danira dengan deretan pertanyaan, lalu memberikan tatapan mengancam pada Gavino. Membuat Gavino dan Danira saling pandang lalu menghela nafas serentak.


" Aku baik-baik saja mi, terima kasih sudah menghawatirkan Danira ". Ucap Danira tak enak hati karena telah membuat ibu mertuanya menjadi khawatir.


" Jika aku ingin melakukan apa-apa memangnya kenapa mi, dia istriku. Aku berhak atasnya ". Ujar Gavino santai, membalas tatapan sang mami.


" Cciihhh...sekarang saja kau mengakui dia istrimu...hellow kemarin-kemarin kau kemana saja ". Suangut Ny. calina kesal.


Tuk*


" Aaww...". Pekik Ny. calina memegang bahunya terasa sakit, karena dipukul oleh Oma Laras mengunakan tongkatnya.


" Kau ini aneh sekali, putramu membawa istrinya sendiri kau pusing. Dia tak menerima istrinya pusing, memang hidupmu selalu pusing Lina ".


" Ayo kita masuk, tidak baik berbicara didepan pintu begini. Nanti susah dapat jodoh ". Ajak Oma Laras lalu melirik Ny. calina.


" Aku sudah tidak perlu jodoh Bu, sekarang yang aku butuh cucu bukan jodoh lagi ". Jawab Ny. calina.


" Mami tenang saja, sebentar lagi keinginan mami bisa terwujud, iya kan sayang ?". Ucap Gavino penuh senyum pada Danira. Danira hanya menunduk malu, wajahnya kembali memerah mendengar panggilan yang baru saja Gavino berikan padanya. Ny. calina melogok mendengar ucapan Gavino, sedangkan Oma Laras tersenyum-senyum.


" Sayang...?" Gumam Ny. Calina.


" Apa maksudmu ?, apa kau mengancamnya lagi hah ?". Tuduh Ny. calina, dia tak mempercayai ucapan Gavino begitu saja.


" Haisss...mami kenapa selalu berfikiran buruk padaku. Apa mami tidak melihat bila hubungan kami sudah lebih dekat ". Kesal Gavino lalu mengangkat tangannya dan Danira yang masih bertaut.


" Wow...wow...wow. Bagaimana bisa ?, Apa kau sudah belajar cara meluluhkan hati wanita ?". Ucap Ny. calina menaikkan satu alisnya, mendengar itu gavino mencebikkan bibirnya malas.


" Oma, besok aku akan membawa Danira pulang kejakarta. Kami akan menikah lagi ". Gavino memberi tahu Oma Laras yang sedang duduk di sofa.


" Menikah lagi, untuk apa ?". Sela Ny. calina. Kemudian Danira menjelaskan maksudnya meminta agar mereka menikah kembali. Oma Laras hanya mendengarkaan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Kau memang putriku yang cerdas dan Sholehah. Mami sangat bangga padamu sayang, kau bahkan telah memikirkan semuanya. memang suami durjanamu yang tak memikirkan sebab akibat dari ucapannya ". Ny. calina memeluk Danira, lalu melemparkan tatapan tajam pada putranya. Gavino memutar bola matanya malas.


" Mengapa harus pulang kejakarta. Kalian akan menikah disini, Oma akan menyiapkan semuanya. BESOK ". ujar Oma Laras, berdiri kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2