
Sejak mendapatkan kabar dari anak buahnya bila Danira mengalami penyerangan. Sarah dengan cepat mengambil penerbangan menyusul Danira kekalimantan. Dan disinilah dia sekarang, duduk disamping ranjang rumah sakit, tempat Danira berbaring. Danira masih belum sadarkan diri, semua pakaiannya sudah diganti dengan pakaian yang kering, sesuai dengan permintaan sarah.
" Bagaimana keadaan Nona Danira sekarang Dok ". tanya Sarah, pada dokter yang ada disebrang tempat tidur Danira.
" Alhamdulillah, Keadaannya baik-baik saja, Nona hanya kelelahan, dan Dehidrasi. Itulah yang menyebabkannya pingsan ".
" Anda yakin dia baik-baik saja ?, Apa anda sudah memeriksa semuanya. Saya takut Nona mengalami luka serius ?". Tanya Sarah lagi, tanpa mengalihkan pandangannya dari Danira.
" Nona tidak mengalami luka serius, hanya luka memar akibat terjatuh di bagian lutut dan singkutnya. Semua itu sudah dibersihkan dan di beri obat. Kami sudah memeriksa semuanya ". Jelas dokter memberi tahu.
"Eemmhhh..Syukurlah. Kapan kira-kira nona akan sadar dok ?".
" Seharusnya dia sudah sadar, tapi kita tunggu saja sebentar lagi ". Sarah mengangguk mengerti.
" Kalau begitu saya permisi dulu ". Pamit sang dokter pada Sarah.
" Baik dok, terima kasih ". Ucap Sarah. Setelah dokter dan asisten dokter pergi, Sarah memegang tangan Danira.
" Nona...bangunlah. Tolong maafkan saya, saya telah gagal menjaga anda ". lirih Sarah merasa bersalah, karena merasa gagal mengemban amanah yang diberikan orang tuannya kepadanya.
" Saya berjanji, kalau saya akan membalas perbuatan mereka kepada anda nona ". Gumam Sarah, mengepal tangannya membentuk tinju. Dengan wajah memerah, sorot mata tajam penuh dendam.
Tok...
Tok...
Suara ketukan dari pintu, mengalihkan pandangan Sarah, dia melihat siapa yang masuk.
" Permisi Nona Sarah ". Ucap Sam, menundukka kepalanya. Sarah tengah dikuasai emosi, melihat Sam dengan tatapan tajam dengan aura membunuhnya. Sarah berdiri, langsung menghampiri Sam yang masih berdiri tepat didepan pintu.
PLAKKK*
Suara tamparan keras, menggema diruangan itu. Meski pipinya terasa perih, Sam hanya diam tak berani mengangkat wajahnya.
" Sudah saya katakan, jaga nona dengan baik. Jangan lengah sedikitpun. Tapi lihat sekarang, nona harus terbaring dirumah sakit, dan mengalami semua kejadian mengerikan seperti kemarin. Kenapa kamu dan anak buahmu bisa ceroboh seperti ini HAH.....?". Sarah menunjuk wajah Sam, dia sudah sangat kesal atas kelalaian anak buahnya, yang hampir mambahayakan nyawa Danira.
" Saya memilihmu menjadi pengawal bayangan nona, karena saya percaya dengan kemampuan kamu, saya percaya kamu adalah orang yang bisa diandalkan. Tapi apa yang kalian lakukan, kalian hampir saja membunuh nona. Kenapa kamu jadi tidak becus seperti ini HAH ?". Sentak Sarah dengan nada pelan tapi penuh penekanan disetiap katanya, bila tak melihat kondisi Danira yang belum sadarkan diri. Mungkin saat ini, Sarah sudah berteriak dan menghajar anak buahnya.
" Maafkan saya Nona, saya mengaku salah".
"Cepat katakan, mengapa kalian bisa teledor seperti ini ?". Bentak Sarah, sambil berkecak pinggang. Dia ingin tau alasan mengapa orang-orang kepercayaannya bisa ceroboh seperti ini.
" Kemarin kami mengikuti nona dengan jarak seperti biasanya, hanya saja waktu itu saat memasuki hutan. Hujan turun sangat deras, disertai kabut. Hingga saya tidak bisa melihat jalanan dengan jelas. Saat saya menambah kecepatan, tiba-tiba ada pohon tumbang, menimpa kap mobil, hal itu membuat kami semua berhenti. Dari situ kami tertinggal jauh dari kendaraan nona Danira, karena jalanan tertutup dengan kayu yang cukup besar ".
" Jadi kami harus menyingkirkan kayu itu terlebih dahulu, agar mobil team yang lain bisa lewat menyusul nona. Sedangkan mobil yang saya gunakan masih tertinggal dihutan itu karena rusak parah nona. saat kami tiba disana, kami sudah melihat tuan Gavino setegah sadar dalam pelukan Nona Danira. Dikepung oleh para penjahat itu ". Jelas Sam, menceritakan kronologi mengapa dia sampai terlambat menyelamatkan Danira dan Gavino.
Mendengar penjelasan Sam, Sarah menurunkan tangannya, lalu melihat Danira yang masih terbaring dibelakang.
" Untung saja nona tidak apa-apa. Jika sampai nona mengalami cidera serius, mungkin saat ini kau sudah mati ditangan ku Sam ". ucap Sarah dengan nada dingin. Mendengar perkataan Sarah, Sam gemetar, keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. Tentu saja dia takut, karena Sarah adalah orang yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.
" Ma..maaf nona, saya memang salah. tapi saya mohon tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya berjanji, tidak akan terjadi hal-hal seperti kemarin lagi ". Pinta Sam, sudah berlutut didepan Sarah dengan tangan terkatup. Takut bila Sarah memecatnya.
" Berapa banyak orang-orang kita yang mati ?".
" E..eenam orang nona ".
" Hhhuuhhh....!!, urus semua pemakaman mereka dengan baik, minta data keluarganya. Nanti pihak perusahaan akan membiayai kebutuhan keluarga mereka yang sudah meninggal ". Ujar Sarah. Bagaimanapun orang-orang nya telah mengorbankan nyawa mereka, demi melindungi Danira. Jadi Sarah harus memberikan tunjangan penuh bagi keluarga yang ditinggalkan. Karena itulah, yang selalu keluarga Danira lalukan, saat ada pengawal mereka yang meninggal dalam keadaan bertugas.
__ADS_1
" Siap nona ".
" Pergilah...". Tegas Sarah, lalu berbalik mendekat ketempat tidur Danira lagi.
...****************...
Diruangan lain.
Gavino perlahan membuka matanya, melihat sekeliling. Dia merasa aneh, karena terakhir kali dia ingat, dia dan Danira masih terjebak didalam hutan.
" Tuan...". Gavino mengalihkan pandangannya melihat Sean yang telah berdiri disamping ranjangnya.
" Syukurlah anda sudah sadar ". Ucap Sean lega. Gavino mengerutkan keningnya melihat Sean. Bukankah mereka masih berada di Kalimantan, mengapa Sean bisa ada disini. pikir Gavino.
" Kau disini ?".
" Iya tuan, saya disini. Mungkin sebentar lagi Ny. besar juga akan sampai ". Ujar Sean, memberi tahu.
Ketika Sean diminta oleh Ny. Calina melacak dimana keberadaan Gavino dan Danira kemarin, Sean langsung menghubungi anak buahnya untuk mencari tuannya. Namun Alang keterkejut Sean, Tika mendengar Gavino dan Danira diserang oleh penjahat dan mereka sudah berada dirumah sakit. Dia langsung terbang ke Kalimantan tanpa memberitahu Ny. Calina, karena dia ingin memastikan keadaan bosnya terlebih dahulu. Dia takut, Ny. Calina akan Syok, bila mendengar kabar yang mengejutkan seperti ini. Sean belum tau cerita yang sebenarnya, karena pada saat kejadian Gavino tidak membawa pengawal sama sekali. Gavino beralasan, tidak ingin dinganggu oleh siapapun, dia ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Danira. Lagi pula, tidak ada yang tau keberangkatannya kekalimantan bersama Danira, jadi akan aman-aman saja pikir Gavino.
" Mami....?, bagaimana kau tau dan kenapa aku sudah ada disini ?". Gavino masih bingung.
" Saya dap.........!!!".
" Tunggu,...dimana dia ?".
" Dimana istriku, kenapa dia tidak ada disini ?". Gavino mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan, tapi dia tetap tak menemukan Danira. Dia ingat terakhir mereka masih dikejar oleh para penjahat itu, lalu kini dia ada dirumah sakit, sedangkan Danira tak ada bersama dengannya. Apa para penjahat itu berhasil membawa Danira, dan Sean hanya menyelamatkan dirinya sendiri. pikir Gavino, dia terus saja berperang dengan pikiran dan dugaannya sendiri. Gavino panik, dia mulai bangun dari posisi berbaring.
" Aaahhhkkk...". Erang Gavino, merasakan sakit dibagian lengan dan Nyeri diperut dan tubuhnya.
" Kau minta aku tenang ?....bagaimana aku bisa tau dia baik-baik saja, sedangkan sekarang aku tak melihatnya ada disini ?". Sungut Gavino, dia ingin tau dimana Danira saat ini, dia sangat cemas Dan khawatir. Gavino ingin turun dari ranjangnya.
" Nyonya ada diruangan lain tuan, menurut dokter yang menangani anda, semalam nyonya pingsan saat mengantarkan anda kesini. Jadi sekarang sedang dirawat diruangan lain". Jelas Sean cepat.
" APA....PINGSAN ? dan kau tetap memintaku diam beristirahat disini HAH ?, kau benar-benar bodoh Sean. Sekarang antarkan aku keruangannya, aku ingin melihat istriku. Cepat ". Bentak Gavino, dia sangat kesal dengan ucapan Sean. Sean tak bisa lagi menolak, dia segera mengambil kursi roda, lalu meminta Gavino duduk disana.
" Kursi roda ?, untuk siapa ?". Tanya Gavino melihat Sean.
" Untuk anda tuan, silahkan ".
" Tidak...aku tidak mau duduk dikursi roda, kau pikir aku sakit parah apa. Tidak... aku tidak mau, kau saja yang duduk disana, biar aku yang mendorongnya ". Ujar Gavino. Mendengar ucapan Gavino.
" Tapi tuan, kondisi anda belum pulih betul...!!".
" Jika aku bilang tidak, ya tidak. Kenapa kalau cerewet sekali sekarang. Seperti mami saja ". Ketus Gavino, mulai berjalan memegang botol infusnya. Sean menghela nafas pelan, lalu mengambil alih botol infus yang ada ditangan gavino. Mereka berdua sudah berjalan menuju ruangan Danira.
" Dimana ruangannya ?".
" Disana ruangan Nyonya tuan ". Tunjuk Sean, kamar rawat Danira ada diujung ruangan Gavino. Gavino berjalan dengan langkah lebar, tak menghiraukan perkataan Sean yang memintanya berjalan dengan pelan-pelan saja. Tanpa mengetuk ataupun mengucapkan salam, Gavino langsung mendorong pintu itu, membuat Sarah yang ada didalam terkejut, dan akan meneriaki orang yang tak memiliki sopan santun itu. Namun niatnya harus diurung, saat melihat siapa yang masuk.
" Tuan..." Ucap Sarah menundukkan kepalanya memberi hormat, Gavino tak menjawab, dia melangkah melewati Sarah dan mendekat pada Danira yang masih belum sadarkan diri.
" Apa dia belum sadar juga ".
" Belum tuan ".
" Kapan dia akan sadar ?". Tanya Gavino lagi, tanpa mengalihkan pandangannya dari Danira.
__ADS_1
" Menurut dokter, seharusnya nona sudah sadar, mungkin sebentar lagi tuan ". Ujar Sarah. Gavino hanya diam, tangannya terus mengelus pucuk kepala Danira lembut.
" Kenapa kau bisa ada disini ?, apa dari orang-orangmu yang selalu mengikuti Danira ?". Tebak Gavino langsung, Sarah tidak terkejut mendengar pertanyaan Gavino, karena menurut Sarah cepat atau lambat Gavino akan menyadari semuanya, salah satunya pengawalan untuk Danira.
" Benar .."
" Sepertinya bosmu sangat perduli pada istriku, sampai-sampai dia mengutus orang untuk selalu mengawasi istriku setiap hari, dan sekarang orang kepercayaannya langsung datang kemari, hanya untuk memastikan keadaanya ". Ujar Gavino dingin. Sebenarya Gavino sudah menyadari adanya pengawalan secara diam-diam pada Danira. Gavino beberapa kali melihat, orang-orang itu mengikuti kemanapun Danira pergi. Seperti saat mereka tak sengaja bertemu di mall, saat mereka berbelanja bersama dan kemarin, saat mereka diperjalanan, Gavino juga melihat 3 mobil selalu mengikuti mereka. Gavino selalu mengamati mereka, namun Gavino tak menemukan gelagat yang aneh, hingga akhirnya dia tetap pura-pura tidak tahu dan membiarkan orang-orang itu mengawasi Danira.
" Tapi jika bosmu benar-benar perduli, kenapa dia tidak ikut datang kesini, dan melihat langsung kondisi sahabatnya ini ?, apa dia begitu sibuk, hingga tak memiliki waktu, atau dia takut bertemu denganku ?". Sindir gavino, Sarah mengangkat wajahnya melihat gavino, Yang selalu memasang wajah dingin itu.
Bagaimana cara saya mengatakannya, bila dia ada disini. Didepan anda, dia tidak takut bertemu dengan anda, bahkan dia rela mengorbankan nyawa nya demi anda. Dia memang tidak perduli, dia tidak perduli dengan keselamatannya sendiri, yang dia tau suaminya harus tetap hidup. Dia tak ingin musuh-musuh nya juga mencelakai anda. Dia rela menyembunyikan perasaannya, tak ingin mengungkapkan pada anda bila dia sudah jatuh hati. Dia selalu menyembunyikan ekspresi bahagianya ketika bertemu dengan anda dibalik cadarnya. Dia hanya takut, bila anda mengetahui jati dirinya, anda akan memiliki agenda lain, yang akan menghancurkan harapannya. Batin Sarah, menjawab semua pertanyaan sindiran Gavino.
" Nona juga sedang tak enak badan, itulah mengapa dia tak bisa datang. Bukan karena takut bertemu dengan anda ". Jawab Sarah singkat. Gavino hanya menanggapi dengan mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti.
" Semoga saja bosmu memang menyayangi istriku setulus itu, tanpa ada maksud Daan tujuan yang lain ". Ujar Gavino, Sarah memilih diam, tak ingin terpancing dengan ucapan gavino.
Seharusnya saya yang mengatakan itu kepada anda. batin Sarah.
Sean yang sedari tadi hanya berdiri dibelakang Gavino, dengan tangan memegang botol infus, hanya diam mendengar percakapan mereka dan mengamati setiap perubahan ekspresi yang ditampilkan Sarah, dengan wajah datar dan dingin miliknya. Apalagi ketika berbicara tentang bosnya dan Danira, dari matanya terlihat khawatir bercampur cemas.
Mengapa dia terlihat sangat menghawatirkan Nyonya, bahkan matanya terlihat sembab seperti habis menangis. Apa begitu pedulinya dia dengan keselamatan Nyonya ?, atau jangan-jangan Nyonya Danira ini........Sean mulai menerka-nerka dalam hatinya. Dia mulai merasakan ada kejanggalan diantara mereka. Apalagi tadi pagi Sean tak sengaja mendengar percakapan antara Sarah dan anak buahnya yang dia utus untuk mengawal Danira. Sean yang ingin melihat kondisi Danira, mengurungkan niatnya, ketika mendengar suara Sarah yang tengah memarahi anak buahnya dibalik pintu.
" Sean....?!!".
" Iya tuan ".
" Pindahkan semua perawatan untuk istriku, kekamar rawatku saja. Aku ingin, dia tetap berada dipengawasannku sendiri ". Titah Gavino, dan diangguki oleh Sean cepat.
" Baik tuan ".
" Dan untukmu, kau boleh pulang. Sampaikan terima kasihku pada bosmu, karena sudah berbaik hati melindungi istriku. Tapi mulai hari ini, dia tak perlu melakukan itu lagi, karena aku sendiri yang akan melakukannya". Ujar Gavino datar. Sarah hanya diam tak memberikan respon apapun.
" Dan satu lagi, jangan pernah kau memanggilnya dengan sebutan nona lagi. Panggil dia dengan sebutan Nyonya, karena dia sekarang istriku, istri dari seorang Gavino Garayudha Pradiksa, jadi dia adalah Ny. Pradiksa, kau mengerti ?". Tekan Gavino.
" Saya mengerti ". Jawab Sarah siangkat.
Dretzz**
Dretzz**
Sean segera mengambil ponsel dari saku jasnya, melihat siapa yang menelpon.
" Hallo..."
" Eemmm..Baiklah, saya akan segera kesana ". Jawab Sean, lalu memasukkan kembali ponselnya setelah panggilan itu berakhir.
" Tuan, Bayu sudah memberi tahu bila orang-orang yang menyerang Anda kemarin sudah ditangkap, dan ada dimarkas Bayu sekarang ". Ucap Sean memberi tahu Gavino.
" Bereskan mereka semua, dan cari tau siapa dalang dibalik semua ini. Pastikan mereka membuka mulutnya, bila mereka tetap bungkam, kau sudah tau bukan, apa yang harus kau lakukan ". Ujar Gavino, penuh dengan penekanan dan kemarahan. Sean mengangguk tanda mengerti. Sean akan segera pergi, tapi suara Sarah menghentikan langkahnya.
" Tunggu...bolekah saya ikut dengan anda kesana ?". Tanya Sarah, Sean melihatnya datar, lalu mengalihkan pandangannya pada Gavino. Gavino hanya memberi kode anggukan kecil.
" Ayo ".
......................
...Bersambung........
__ADS_1