CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
23. Radenayu Group


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat, perputaran waktu semakin tak terasa menujuh pergantian hari dan bulan. Setiap detiknya seakan langsung melompat ke angka jam tanpa melewati hitungan menit. Seperti saat ini tak terasa sudah 6 bulan Danira menjadi CEO termuda dinegaranya walau masih tidak diketahui khalayak umum. Tapi prestasinya dalam memimpin perusahaan dari balik layar selama 6 bulan ini harus diancungi jempol.


Dalam kurun waktu yang singkat, Danira sudah mencetuskan banyak usaha-usaha yang semakin menaikkan nama RADENAYU GROUP.


Awalnya nama perusahaan Danira ialah KENCANA COMPANY yang memiliki usaha dibidang Perhotelan, Villa, Konstruksi dan Pulau. Entah mengapa nama itu diganti dengan Radenayu Group semua masih menjadi teka teki hingga saat ini. Danira telah berhasil mengimbangi perusahaan Garayudha Company yang dikenal dengan julukan perusahaan Gongnya Asia. Tak pernah ada perusahaan yang bisa menyaingi Garayudha Company karena mereka memiliki segala aspek usaha. Tapi sepertinya kali ini perusahaan itu menemukan lawannya.


Seorang wanita berusia 40 tahun, sedang duduk diteras rumah sambil menyuapi balita perempuan berusia 9 bulan. Rumah sederhana tampak asri dengan pot-pot berjejer rapi, yang ditumbuhi tanaman-tanaman berwarna-warni sungguh menyengarkan mata.


" Ayo anak manis buka lagi mulutnya, aaaa,..aammm".


" Gadis pinter, mamnya banyak ya". celotehan Bik Marni membuat Khalisa tertawa, membuat makanan dimulutnya belepotan.


" Assalamualaikum Bi ".


" Waallaikumsalam..eeh neng Sarah. Kok baru nongol kemana saja neng ?, udah 1 Minggu tidak kesini ". Cecar Bik Marni yang sedang menyuapi Khalisa makan.


" Iya bi..!! Saya sedang ada perjalanan dinas bi, ada sedikit Masalah dikantor cabang yang ada di Surabaya". Sarah menjawab sambil berjalan duduk dikursi kosong dekat Khalisa.


"Hallo Khalisa ". sapanya pada balita yang tegah melihat kearahnya lalu tersenyum.


" Bik... Nona ada ?"


" Nona Danira sedang tidak ada neng, biasa jam segini pasti masih dipasar ". jawabnya sambil memberikan minum dan membersihkan wajah Khalisa yang telah selesai sarapan pagi.


" Nah..sekarang sudah bersih neng gelisnya". Bik Marni menggoda Khalisa lalu menggangkat tubuh yang cukup berisi dari kursi khusus anak.


" Apa ada hal mendesak neng ".


" Iya bi, ada yang perlu saya bahas dengan nona dan saya juga butuh tanda tangannya". Sarah mengangkat map yang dia bawa.


" Tunggu didalam saja neng". Tawar bik Marni pada Sarah.


" Disini saja bi, makasih".


" Ya sudah...sebentar lagi juga nona pul....!!". ucapan bik Marni terputus teralihkan degan sosok wanita berbaju syar'i berwarna Navy menutupi seluruh tubuhnya, dengan membawa Box kontener kecil di kedua tangannya.


" Nah itu Nona Danira pulang ". tunjuk nya, mata Sarah mengikuti arah yang dimaksud bik Marni. Sarah langsung berdiri menyambut sang nona.


" Assalamualaikum". Salamnya ketika tiba didepan bik Marni dan Sarah.


" Waallaikumsalam". jawab mereka serentak, dan Sarah membungkukkan setengah tubuhnya.


Sebenarnya Danira sering kali meminta agar Sarah tidak melakukan hal seperti itu, Danira merasa tidak nyaman dengan sebutan 'Nona dan Cara Hormat ' Sarah padanya. Tapi Sarah selalu banyak alasan untuk menolak keinginan Danira itu.


" Kamu sudah kembali ".


" Sudah nona". Sarah menjawab sambil mengambil kedua box yang ada ditanggan Danira.


" Terima kasih ".


" ma..ma..ma..ma". Khalisa berceloteh sambil menganggkat kedua tanggannya meminta digendong oleh sang bunda.


" Iya sayang...!! Sebentar ya, sama bibik dulu ya, bunda harus bersih-bersih terlebih dahulu sebelum gendong khali ".

__ADS_1


" Ayo kita masuk ". ajak Danira pada Sarah dan bik Marni.


" Sarah maaf ya, aku tinggal bersih-bersih sebentar. Rasanya tidak enak mengobrol dengan badan lengket dari luar".


" Baik nona, silahkan". Sarah tersenyum.


Danira berlalu masuk kedalam kamarnya, mengambil pakaian kemudian berjalan menuju kamar mandi. Tak berselang lama Danira sudah keluar dengan pakaian bersih berwarna coklat susu. Danira menghampiri Sarah yang masih menunggu dengan setia dikursi ruang tamu.


" Maaf ya Sarah, kamu jadi menunggu lama ".


" Tidak apa-apa nona, ini tidak lama ".


" Oh iya...!! ini nona saya minta tanda tangan anda untuk persetujuan nama Brand terbaru kita yang akan mulai dipasarkan bulan depan".


Danira menerima map berwarna kuning itu, kemudian mulai membaca setiap tulisan yang tertera, lalu Danira membubuhi tinta hitam dikertas dibagian 'Disetujui oleh CEO RG'.


" Ini ".


" Terima kasih, Nona". Sarah menerima kembali berkas itu, dan menyimpannya.


" Apakah anda masih berjualan kue dipasar nona ?".


Danira mengangguk tersenyum.


" Aku menyukai kegiatan itu, setidaknya aku bisa bertemu dengan banyak orang setiap hari, mengobrol dengan ibu-ibu yang ada dipasar. Itu sangat seru. Dan bisa membantu orang-orang yang membutuhkan juga disana, walaupun tidak seberapa." ujarnya lagi mengambil cangkir teh di atas meja yang sudah dibuatkan bik Marni untuk mereka.


" Apa tidak sebaiknya nona membuka toko saja didepan rumah ini, atau nona mau mengelola sendiri salah satu toko-toko kue nona. Jadi nona tidak perlu lagi berjualan dipasar". Sarah memberi usulan, dia khawatir bila nona-nya berjualan kepasar akan ada orang yang mengenali dan mencelakainya walaupun kemungkinannya sedikit tapi Sarah selalu saja merasa was-was.


" Kamu kenapa, kemana orang tuamu ?". Danira bertanya sambil mengulurkan tanggannya menyentuh wajah anak itu.


Anak itu hanya mengamati Danira diam, tak mengatakan apapun.


" Apa kamu lapar..hhmmm?"


Anak itu hanya mengangguk, Danira mengambil kue yang ada didalam box dan memberikannya. Anak itu menerima dan langsung memakannya.


" Nama kamu siapa dek ?". Danira mulai menanyakan lagi, anak itu diam, mendongak kan wajahnya melihat Danira. Dia menjawab dengan gerakan tangannya ternyata anak laki-laki ini adalah anak tunawicara, yang sudah tidak memiliki orang tua.


( Ya Allah, maafkan lah diri ini yang masih sering kali mengeluh ,ternyata masih banyak anak-anak yang kurang beruntung seperti ini).


Hati Danira nyeri melihat anak yang dihadapannya, Danira harus melakukan sesuatu.


Danira tertawa kecil melihat raut wajah khawatir Sarah " kamu tenang saja Sarah, aku tidak apa-apa, tidak akan ada yang mengenali aku, lagi pula bukannya kau sudah memperketat penjagaan untukku buka". sindirnya, karena Sarah menambah beberapa lagi penjaga bayangan untuk Danira, saat Danira memutuskan berjualan dipasar.


" Eehh..itu !! nona sudah tau ". Sarah menggaruk-garuk tengkuknya tidak gatal, merasa kikuk karena Danira mengetahui perbuatannya.


" Lalu bagaimana perjalan dinasmu kesurabaya ?".


" Alhamdulillah lancar nona, dan saya menemukan kecurangan di kantor cabang. Tapi nona tenang saja semua telah teratasi".


"Terima kasih, aku percaya padamu". Danira berujar lembut.


" Sarah ".

__ADS_1


" Saya Nona".


" Saya ingin membuat sebuah yayasan khusus untuk anak-anak yatim piatu, lansia, dan anak-anak penyandang disabilitas yang kurang beruntung, jadi tolong cari lahan yang cocok untuk pembangunannya". Sejak bertemu dengan anak laki-laki tadi, Danira sudah bertekad untuk menggunakan kekayaannya saat ini dibidang yang bermanfaat dijalan Allah.


Sarah yang mendengar itu tersenyum mengangguk, dia selalu setujuh dengan ide-ide cemerlang nona-nya ini. Dia selalu takjub dengan semua ide Danira dan Sarah ingat kata-kata ayahnya ' kau akan menyukainya nak, karena dia gadis yang baik dan cerdas'. Sarah telah membuktikannya, walau belum begitu lama bersama, tapi dia sudah paham dengan karakter lembut Danira.


" Baik Nona, akan segera saya laksanakan".


" Terima kasih".


...****************...


Dibangun Restoran berbintang lima, sekumpulan ibu-ibu sosialita tegah berkumpul mengadakan acara arisan. Diatas meja panjang dan besar sudah penuh dengan berbagai macam menu makanan dan minuman. Mereka tengah asik bercengkrama satu sama lain, tak menghiraukan pengunjung lain yang merasa terganggu dengan suara mereka yang cukup keras.


" Jeng Ratna kapan anaknya lahiran?".tanya seorang ibu yang duduk didepannya.


" Perkiraan dokter si, 2 Minggu lagi jeng". jawabnya dengan tersenyum senang.


" Wah..wah ..!! sebentar lagi jeng Ratna bakal punya cucu aja ni ".


" Iya kelihatan masih kayak ABG, eehh taunya udh mau punya cucu aja". goda yang lainnya tak kalah heboh.


" Ah jeng Maya bisa aja ". jeng Ratna tersenyum malu-malu.


" Eehhh jeng Lina, kapan punya cucu juga?". Maya melontarkan pertanyaan pada Calina yang duduk dibangku utama.


" Halahhh...!! gimana mau punya cucu, anakknya aja belum nikah, boro-boro punya cucu". celetuk buk nur yang duduk persis disamping Nyonya Calina.


Bila sudah membicarakan cucu, nyonya Calina hanya bisa diam sambil tersenyum. Tidak mau menanggapi mulut cabe gengnya ini.


" Si Gavino punya pacar Ngak sih jeng, kok saya tidak pernah mendengar berita tentang Gavino dengan seorang wanita". Bu Maya mulai menyelidiki.


" Belum punya,....!!! dia masih sibuk memajukan perusahaannya, maklum anak itu terlalu gila kerja". jawab Nyonya Calina cepat.


" Emang kurang maju apa lagi sih jeng Lina, wong udah sejagat raya bahkan mancanegara saja sudah tau kesuksesannya, masa belum memikirkan untuk berumah tangga. Sayang loh ganteng-ganteng jadi bujang lapuk". haduh mulut pedas Bu Nur, benar-benar menguji kesabaran Nyonya Calina saat ini. Jika tidak melihat kondisi dan tempat mungkin, bibir pedas itu sudah dikuncir menggunakan karet terasi supaya diam.


Tak..


Tok..


Tak..


Tok..


Tak..


suara heels berjalan mendekat perkumpulan ibu-ibu itu. Wanita cantik itu menggunakan Dress dibawah lutut dengan lengan panjang berwarna olive berhenti tepat di sisi Nyonya Calina.


"Selamat Siang semua".


......................


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2