CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
51. Restoran Steak


__ADS_3

3 hari sudah Danira mengacuhkan Gavino, dia menghindari Gavino seperti yang pernah Gavino lakukan padanya, walaupun demikian dia tetap menyiapkan makanan untuk Gavino. Hari ini Danira datang ke RG Muslimah Beuty, karena ada beberapa hal yang harus Danira bahas dengan Sarah.


" Rah.., bagaimana kinerja manager pemasaran cabang Surabaya ?." Tanya Danira dengan tangan terus bergerak menandatangani berkas.


" Pekerjaanya bagus, dia bersih dan jujur Nona. Banyak pihak yang tidak suka dengan pak David karena dia terlalu jujur dan sulit untuk diajak kerjasama". Jelas Sarah. Danira merapikan berkas yang sudah dia tanda tangani, menutup map lalu melihat Sarah.


" Buat surat pengangkatan jabatan untuknya menjadi direktur cabang Surabaya kalau bisa lakukan dalam Minggu ini." titah Danira, membuat Sarah melihat Danira bingung.


" Maaf Nona, apa itu tidak terlalu cepat untuk memberinya jabatan direktur?".


" Tidak, aku percaya dia mampu dan sanggup mengemban amanah ini".


" Aku tau kau pasti bertanya-tanya mengapa aku cepat sekali mempercayai orang ini". Sarah mengangguk.


" Apa kau ingat suami istri yang pernah penolong kakakku dan Khalisa ?". Sarah mengangguk sedikit, matanya membola.


" Apa maksud nona pak David adalah orang itu ?". tanya Sarah dengan penasaran. Danira hanya tersenyum mengangguk. Sarah tak menanyakan apapun lagi, bila nonanya telah memberi perintah, berarti nonanya sudah memperhitungkan semua dengan baik.


" Baik nona, keinginan nona akan segera saya lakukan".


" Terima kasih Rah..".


" Apa ada lagi nona ?". Sarah memastikan, mungkin nonanya ingin menyampaikan yang lain. Danira tampak berfikir sebentar, kemudian melihat Sarah serius.


" Eemm...mengenai penawaran dari Garayudha Company, aku menerima permintaan mereka. Mereka benar, kita tidak bisa membangun yayasan sebesar ini tanpa pertolongan pihak lain, aku telah membaca laporan keuangan kita yang mulai menipis karena ini, jadi sampaikan saja kepada mereka bahwa kita siap kerja sama". Ujar Danira, Danira telah melakukan pengecekan data keuangan, dan mereka mengalami banyak penurunan pendapatan karena pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang akibat pembangunan yayasan yang sedang Danira dirikan. Apalagi ada beberapa anak perusahaan yang mengalami masalah akibat oknum karyawan yang korupsi, itu membuat Danira harus mempertimbangkan penawaran dari perusahaan suaminya. Dan dia telah mengambil keputusan untuk menjalin kerjasama.


" Apa anda yakin nona, dengan kita menyetujui kerja sama ini. Pasti Tuan Gavino akan meminta bertemu langsung dan anda sebagai pemilih RA Group".


" Untuk masalah itu, nanti kita pikirkan lagi. Sampaikan saja persetujuan kita, dan tanyakan kapan mereka akan melulai mengucurkan dana untuk pembagunan itu". Ujar Danira lugas dan tegas.


" Baik nona, akan segera saya sampaikan". ujar Sarah, lalu pamit undur diri dari hadapan Danira. Danira menghela nafas pelan.


Bagaimana jika dia meminta untuk bertemu, sedangkan aku belum siap. Sebelum aku menemukan siapa dalang dari tragedi yang menimpah keluargaku. tidak ada yang boleh mengetahui jati diriku yang sebenarnya.Batin Danira.


Danira telah keluar dari Kantornya, jam telah menunjukkan waktu makan siang, Danira melangkahkan kakinya menujuh restoran yang ada dilantai 3 mall itu, Danira mendorong stroller khalisa masuk kedalam restoran stiek, dan memilih tempat duduk didekat jendela kaca. Sambil menunggu pesanan ya tiba, Danira menyuapi Khalisa dengan juice alpukat yang dia pesan.


" Enak khali, suka yang seger-seger ya nak".

__ADS_1


" Khali suka Juice alpukatnya yah". Danira menyuapi Khalisa , sambil menggoda bayi lucu dan mengemaskan itu.


" Andai mama khali masih ada, pasti dia sangat bahagia bisa menyuapi khali seperti ini nak". Cicit Danira pelan, matanya mulai berkaca-kaca, merindukan kakaknya. Namun tiba-tiba sepasang kekasih berjalan mendekati meja Danira, melihat itu membuat Danira bernafas jengah apalagi melihat cara wanita itu menempel mesra dipundak sang pria, melihat itu membuat Danira ingin muntah.


" Apa kami boleh duduk disini, boleh dong ya!!". tanpa dipersilahkan wanita itu telah menarik kursi dihadapan Danira, Danira bisa melihat wajah tidak nyaman Gavino yang ada disamping Stevani.


"Honey..ayo duduk mengapa kau masih berdiri saja".


"Duduk di sampingku, agar tidak ada wanita penggoda yang berani melirikmu". Stevani berujar menekan kata dengan melihat Danira.


Danira mengacuhkan ucapan Stevani seakan tak mendengar apapun, karena dia tidak merasa seperti yang Stevani tuduhkan.


Seorang pelayan wanita datang menghampiri Danira.


" Permisi nona, ini pesanan anda ". Pelayan itu meletakkan satu piring Stiek daging sapi dan kentang goreng, Dia juga meyerahkan garpu dan pisau dagingnya.


" Semua pesanan ya sudah komplit ya nona, kalau begitu saya permisi."


" Selamat menikmati". Pelayan itu pergi berganti dengan sosok pria yang datang menghampiri mereka.


" Hay Bro..apa kabar ?". sapa Doni yang menepuk pundak Gavino, gavino melihat dan mengeryitkan dahinya. Hatinya mulai was-was, sepertinya dia tau apa tujuan Doni bergabung bersama dengan mereka. Stevani memasang wajah jutek, masih mengingat ucapan menyakitkan yang Doni lontarkan saat di Club malam waktu itu. Doni melihat kearah Danira tersenyum ramah.


" Waallaikumsalam". Jawab Danira, melirik sekilas kearah Doni, lalu menunduk lagi.


" Kenapa kau bisa ada kesini?". Ketus Gavino, dia bisa melihat gelagat Doni yang ingin mencari perhatian Danira.


" Aku sedang mengantar kakaku ke salon, karena aku bosan menunggu makanya aku memilih untuk bekeliling, tak sengaja aku melihat kalian ada disini. Jadi aku berinisiatif menyapa". ujar Doni menjelaskan, namun matanya tetap melirik Danira yang sedari tadi diam.


" Bukankah kau sudah menyapa, maka pergila". Ujar Gavino makin ketus, Doni tak mengindahkan ucapan Gavino, dia tetap pada tujuannya ingin makan siang bersama Danira.


" Apa aku boleh duduk disini ?". Tanya Doni sopan dan lembut kepada Danira, itu membuat Gavino dan Stevani makin merasa tak percaya. Apakah ini benar Doni yang mereka kenal, Doni Yang selalu berkata ketus dengan para wanita, namun berbeda dengan Danira. Stevani bisa menangkap maksud lain Doni, dan itu membuatnya menyergai licik sedangkan Gavino tiba-tiba merasa gerah sendiri. Mendengar permintaan Doni, membuat Danira mengangkat kepalanya melihat Gavino.


" Mas...!! apakah kamu akan tetap duduk disana, dan membiarkan istrimu duduk berdampingan dengan pria lain ?". sontak saja pertanyaan Danira membuat Doni merasa tak enak hati, sedangkan Gavino merasa hatinya dipenuhi bunga mendengar panggilan lembut Danira untuknya. Seakan lupa bila ada Stevani disampingnya, Gavino langsung berdiri, berpindah kesisi Danira. Danira tersenyum kecil dibibirnya.


" Honey...apa yang kau lakukan ?".Stevani geram melihat Gavino berpindah, memilih duduk dekat Danira.


" Tidak apa, kan hanya pindah posisi saja". Jawab Gavino enteng, membuat Stevani membolakan matanya tak percaya mendengar jawaban Gavino. Doni langsung duduk dikursi Gavino tadi.

__ADS_1


" Halo anak cantik, kamu sedang makan apa itu?". Goda Doni kepada Khalisa, yang asik memakan biskuit bayi ditangannya. Khalisa hanya diam tak memberi respon bahkan melirik donipun tidak, membuat Gavino merasa makin senang dalam hati.


Mampus kau, emang enak dikacangin setan kecil. Batin Gavino tertawa.


Pesanan mereka semua telah tiba, dengan menu sama seperti yang Danira pesan.


"Danira, selamat makan". ujar Doni sambil tersenyum.


" iya..terima kasih". jawab Danira singkat, sejujurnya Danira sudah tak berselera makan sejak kedatangan Gavino dan Stevani. Rasa laparnya telah menguap entah kemana. Apa lagi mengingat bagaimana cara Stevani bergelendot mesrah dilengan Gavino, itu makin membuat Danira langsung kenyang, walau perasaannya dengan Gavino belum tumbuh subur, baru sebesar tunas, namun tetap saja ada rasa tak nyaman melihat suami digandeng oleh wanita lain, apa lagi ini tepat didepan matanya.


" Honey...tolong potongkan daging Steak miliku". Stevani berujar manja, sambil menyodorkan piring makanya kehadapan Gavino. Gavino mengambil dan memotong daging itu hinga berukuran kecil. Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Apa kau juga ingin aku bantu potongkan ?". Tanya Gavino, mendengar itu Danira memiringkan kepalanya.


" Tidak perlu, tanganku masih sanggup memotong steak seperti ini".


" Aku belum terlalu jompo untuk itu". ujar Danira, sontak saja jawaban Danira membuat Stevani emosi.


Prak...


Stevani meletak garpu secara kasar diatas meja. " Maksudmu apa hah ?, kau pikir aku sudah jompo karena meminta Gavino memotongkan daging ini untukku ?". Stevani bersungut-sungut kepada Danira.


" Saya tidak mengatakan siapapun, memangnya anda mendengar jika saya menyebut nama anda ?. Atau anda memang merasa seperti itu?". Jawab Danira lagi.


" Beraninya kau...!!". Emosi Stevani semakin meluap, wajahnya memerah karena marah.


" Sudah cukup, kenapa kalian jadi ribut. Aku ingin makan dengan tenang". Ujar Gavino mulai geram melihat tingkah Stevani.


Danira mulai memotong makanya, lalu perlahan-lahan memasukkan kedalam mulutnya dibalik cadar, hal itu tak lepas dari pengamatan Doni dan Stevani. Stevani mencibir cara makan Danira.


" Apa itu tidak terlalu repot untukmu, sini aku bantu membuka penutup yang menghalangimu untuk makan". Stevani mencoba menarik cadar Danira, sengaja ingin mempermalukan Danira didepan umum. Dia ingin melihat wajah buruk rupa Danira.


" Anda Jagan lancang ". Ujar Danira dingin, membuat Gavino, Doni dan Stevani tertegun mendengar ucapan dingin Danira. Apalagi melihat tangan Stevani yang berhenti diudara, sedikit lagi menyentuh cadar Danira. Danira yang sedang memegang pisau steak itu, secara refleks menempelkan pisau itu ditelapak tangan Stevani seakan ingin menusuknya.


" Jangan coba-coba anda berani menyentuh saya, karena saya tidak akan tinggal diam". Ujar Danira, dia sudah cukup sabar menghadapi Stevani, yang selalu saja berusaha memprovokasi dirinya, namun kali ini dia tidak akan diam saja karena Stevani sudah keterlaluan dengan ingin membuka kain wajahnya.


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2