
Malam telah berganti pagi, suara kicauan burung menjadi nyanyian merdu untuk menyambut sang Surya kelur dari peristirahatannya. Kediaman Oma Laras telah sibuk dengan persiapan pernikahan kedua Gavino dan Danira. Para pelayan dan pihak WO sedang berlalu lalang memasang pernak-pernik demi mempercantik ruangan di rumah itu. Meski yang hadir hanya keluarga saja, namun Oma Laras meminta persiapan dilakukan secara apik dan meriah. Oma Laras beralasan karena dipernikahan Gavino dan Danira yang awal dia tak bisa hadir, sehingga ini menjadi kesempatan Oma Laras menyaksikan secara langsung sang cucu mengucapkan ijab qobul.
" Bagaimana, apa persiapan semuanya telah selesai ?". Tanya Oma Laras berjalan sedikit membungkuk dengan tongkat di tangan yang selalu menemani langkahnya.
" Sedikit lagi Oma ". Jawab team WO yang sedang memasang bunga anggrek bulan berwarna putih di sudut ruangan.
" Eemmm....!!! pastikan semuanya rapi, bersih dan sempurna. Kau tau jika aku tidak suka kesalahan sedikitpun kan ?". Ujar Oma Laras tegas, dan diangguki oleh semua team WO yang ada disana. Oma Laras kembali berkeliling-keliling melihat semua persiapannya, meski Tante Santi dan Ny. calina sudah melarang, namun bukan Oma Laras namanya bila tidak keras kepala. Dia ingin semua persiapan dibawah pengawasan dan keinginannya, pada akhirnya Tante Santi dan Ny. calina hanya bisa pasrah membiarkan apa yang ibu mereka ingin lakukan.
Gavino yang masih tertidur diatas kasurnya, terbangun karena merasa haus. Dia bangun, lalu duduk sejenak diatas tempat tidurnya dalam keadaan mata masih terpejam. Perlahan dia menurunkan kakinya, lalu memakai sendal rumah, kemudian dia membuka pintu kamar lalu berjalan kearah meja makan, Gavino mengambil gelas lalu menuangkan air putih kedalam gelasnya hingga penuh. Para pelayan yang sedang berada disana mendadak menjadi patung, mata mereka melotot dengan mulut terbuka. Sebagian lagi ada yang berbisik-bisik takjub dengan pemandangan langkah dipagi hari mereka.
Gavino yang masih berdiri sambil menegak air putihnya, tak menyadari berapa banyak manusia yang tegah memperhatiakannya saat ini. Apa lagi penampilan Gavino yang teramat sangat menggoda kaum hawa. Ny. calina yang baru saja keluar dari dalam kamarnya ingin mengambil sarapan untuk Danira, terkejut melihat Gavino yang hanya menggunakan boxer, rambut acak-acakan, wajah bantal yang masih kentara. Dengan cepat Ny. Calin berjalan menghampiri Gavino. Lalu memberikan perintah agar para pelayan bubar, melanjutkan pekerjaan mereka.
BUK*
Seketika Gavino membuka matanya dengan tampang terkejut, lalu melihat kesamping.
" Ada apa sih mi ?, kenapa memukulku ?". Kesal Gavino, mengelus bahunya yang terasa panas.
" Kau yang kenapa, mengapa keluar seperti ini hah ?, apa kau ingin pamer bentuk roti sobekmu ini pada para pelayan yang ada disini ?". Sungut Ny. Calina, menunjuk-nunjuk perut Gavino. Gavino menoleh melihat bayangannya di pantulan kaca yang ada disana, namun dia tetap memasang wajah stay cool.
" Biar saja, lagi pula mengapa rumah Oma jadi sibuk seperti ini ?". Tanya Gavino, sambil menuangkan lagi air putih kedalam gelasnya, kemudian meminumnya kembali. Ny. calina melotot mendengar pertanyaan Gavino.
" Astaga Gavino Garayudha Pradiksa, apa kelapamu selamam terbentur sesuatu, hinga kau menjadi lupa ingatan ?".
" Apa kau lupa Oma sedang mempersiapkan acara pernikahanmu, hari ini kau dan Danira akan menikah lagi ". Jelas Ny. Calina geram.
BYUR*
Gavino yang sedang minum, menyembuhkan air dari mulutnya, terkejut.
" Menikah ?, Kenapa mami baru memberi tahu ku sekarang ". Ucap Gavino berubah panik, lalu berjalan menujuh kamar sang ibu.
" Hey kutu kupret kau mau kemana ?".
" Aku ingin menemui istriku, aku lupa bila hari ini kami akan menikah lagi. Ini semua gara-gara mami, menasehatiku sampai pagi ". Sungut Gavino, Semalaman Ny. calina memaksa Gavino mendegarkan semua nasehatnya, Sehingga Gavino baru bisa tertidur jam 4 pagi.
" Hheehhh..!! apa kau tidak malu ingin bertemu Danira dalam keadanmu seperti ini ?". Gavino berhenti, lalu tersadar.
" Mami benar, dia bisa berteriak jika melihatku hanya mengunakan boxer begini ".
" Itu kau tempe ', Lagi pula buatlah dia berteriak dimalam pertama kalian saja, tapi jangan disini. Dihutan belantara sana, nanti bisa-bisa semua penghuni rumah ini terbangun lalu menguping ". Canda Ny. calina, membuat Gavino mencebikkan bibirnya.
" Ya ya ya...aku akan membawanya pergi setelah ijab qobul, lalu aku akan segera membuatnya berteriak ". Balas Gavino, berlalu pergi meninggalkan sang ibu begitu saja.
" Dasar bocah tengik, kurang ajar".
" Uuuhhh...sebentar lagi mereka merasakan enak-enak....!!Aahhh calon cucuku yang masih berada di surga, sebentar lagi ayah dan ibumu akan memperoses pengadoanan penyambutan kehadiranmu. Cepat lah datang ya sayang ". Gumam Ny. calina tersenyum-senyum, tak sabar.
Ny. Calina kembali masuk kedalam kamarnya, mesih dengan wajah sumringah, membayangkan semua kebahagian yang sedang terjadi dalam pikirannya. Danira mengeryitkan keningnya, melihat ekspresi sang mertua berubah-ubah.
" Mami kenapa ?, sepertinya sangat bahagia sekali ?". Tanya Danira penasaran.
" Eemm...tentu mami sangat bahagia, tadi Gavino mengatakan dia akan segera membuatmu berteriak, itu artinya pengadoanan segera dimulai ". jawab Ny. calina tanpa malu.
" Berteriak ?, kenapa mi ? apa yang diadon?". Tanya Danira bingung. Ny. Calinaemghela nafas panjang, apa menantunya ini sepolos itu, tapi bukankah dia telah memiliki Khalisa. pikir Ny. calina.
" Cckkk...berteriak enak sayang, masa kau tidak paham juga, apa harus mami praktek kan hhmm?". Ujar Ny. calina tanpa peduli banyak orang-orang yang ada didekat mereka, seketika wajah Danira bersemu merah padam mendengar ucapan tanpa filter sang mertua.
" Haiss...kau ini Lina, apa kau tidak punya rasa malu mengatakan hal seperti itu didepan orang banyak seperti ini ?". Ujar Tante Santi mengingatkan adiknya yang suka berbicara asal ceplos tanpa melihat kesekitar dulu.
" Oohh ternyata banyak orang ya, maaf ya aku tak melihat kalian ada disini, aku hanya fokus pada menantuku saja ". Ujar Ny. Calina santai, lalu duduk di sofa, kembali memperhatikan Danira yang masih didandani.
__ADS_1
" Lalu sarapan untuk Danira mana ?, jangan bilang kau juga lupa ?". Ucap Tante Santi, melirik Ny. calina.
" Oh astaga....!!! Aku lupa. Haisss....ini semua gara-gara si kutu kupret tadi, karena dia aku lupa tujuan awalku keluar kamar ". Kesal Ny. calina menepuk kepalanya.
" Kau selalu saja menyalahkan Gavino, memangnya dia melakukan apa lagi padamu ?".
" Dia keluar dari kamarnya tanpa menggunakan pakaian, hanya menyisakan boxer saja. Dan itu menarik perhatian semua pelayan yang sedang bekerja. Cckkk...karena mengomelinya, aku sampai lupa mengambil sarapan untuk Danira ". Sungut Ny. calina, ekspresi yang tadi senang berubah menjadi kesal.
" Tidak apa-apa mi, nanti Danira ambil sendiri ". Ujar Danira yang telah selesai didandani. Semua takjub melihat Danira, wajah yang cantik dengan mata biru tenang.
" Masyaallah....kamu cantik sekali sayang ". Puji Tante Sinta yang selalu terpesona dengan kecantikan Danira. " Pasti nanti Gavino tak akan berkedip sambil bercucuran air liur melihat kamu Danira ".
" Kau pikir putraku Anjing Bulldog kelaparan ". Sela Ny. calina tak terima dengan lelucon Tante Santi.
Membuat Danira dan yang lain tergelak mendengar perseteruan kakak adik itu.
" Terima kasih Tante ".
***
Di ruang keluarga, semua telah siap. Pak penghulu pun telah duduk manis dibelakang meja. Gavino yang telah siap dengan setelan jas putih, Duduk dengan wajah pucat, kening berkeringat. Jantungnya berdetak tak karuan. Rasa ingin buang air besar dan air kecil datang bersamaan. Dia benar-benar gugup.
Oma Laras yang melihat itu datang mendekat.
" Kau kenapa Vino ?, wajahmu pucat sekali, apa kau sakit ?". Tanya Oma Laras khawatir.
" Tidak Oma, aku tidak apa-apa. Aku sangat sehat ".
" Kau yakin, tapi wajahmu berkata lain ". Tanya Oma lagi, dia takut Gavino pingsan sebelum mengucapkan ijab qobul.
" Kak Gavin pasti gugup Oma, lihatlah wajahnya seperti menahan pup saja. Jika kakak sudah sangat mulas, lebih baik ketoilet dulu kak. Kan tidak lucu jika sedang ijab kakak malah pup disini ". Celetuk Amar terkikik. Dia adalah sepupu Gavino, yang hampir seumuran dengannya. Amar anak dari Tante Mayang adik Ny. Calina yang ke 6. Amar adalah sepupu yang paling akrab dengan Gavino, meski dulu Gavino selalu menolak dan menampakkan rasa tidak sukanya pada Amar, namun amar tak menyerah, dia terus mencoba mendekati Gavino hingga dia bisa sedekat sekarang, hingga membuat para sepupu yang lain merasa cemburu.
" Diam kau amar, apa kau ingin mulutmu dijahit lalu ku obras hingga tak bisa bicara lagi ? ". Ketus Gavino, Amar hanya tergelak mendengar ancaman Gavino.
" Aku juga tidak tau Oma, namanya juga mau menikah pasti ada rasa gugup meski sudah pernah aku lakukan ". Ucap Gavino, terus meremas tangannya yang basah.
" Jika kakak belum siap, biar aku saja yang menggantikan tempat kak Gavin, aku siap mewakili kak Gavin melafazkan ijab qobul untuk kak Danira ". Gurau Amar, menggoda Gavino. Tiba-tiba....
PUK*
Gavino melemparkan kotak tisu, mengenai kaki Amar.
" Kau mau mati ya ?". Ujar Gavino, memberikan tatapan tajam ada Amar, bukannya takut amar malah semakin tergelak melihat ekspresi kesal sang kakak sepupu.
" Apa sudah bisa kita mulai ?". Tanya pak penghulu.
" Iya....bisa pak ". Jawab Oma Laras, lalu menepuk bahu Gavino pelan.
" Tarik nafas, buang perlahan, Yakinlah kau bisa. Ini sama seperti sebelumnya ". Ucap Oma Laras, lalu kembali kekursinya yang ada di sisi kiri saksi. Dia merasa senang, kali ini dia bisa menyaksikan secara langsung pernikahan cucu tertuanya.
Gavino dan Penghulu telah saling berjabat tangan. Kemudian pak penghulu mengucapkan ijab Qabulnya lalu menghentakkan tangan Gavino.
" Saya terima nikah dan kawinnya Sasmaya Anak Agung Jandanira Radenayu Brahmacari Binti Alm. Sultan Agung Adiwilaga Batara Brahmacari, Dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar Tunai ". Gavino melafazkan dalam sekali tarikan nafas.
" Bagaimana ?". Tanya Penghulu kepada para saksi yang hadir.
" ULANGI....". Teriak Amar dari belakang Oma Laras.
PLAK *
Seketika amar mendapatkan pukulan di kepalanya dari sang ibu. Gavino menyelang melihat Amar yang tertawa sambil memegang kepalanya yang sakit. Sedangkan Oma Laras menegang, Dia sangat terkejut mendegar nama lengkap Danira apa lagi nama keluarga yang tersemat dibelakang nama itu.
__ADS_1
" SAH....SAH...SAH....". Teriak semua orang yang ada disana, serentak.
" Alhamdulillah....". Semua menadakan tangan, saat seorang ustad mulai membacakan doa.
Hari Jum'at, pukul 10.00 pagi Gavino sekali lagi mengikrarkan janjinya didepan Allah, Malaikat dan manusia. Hari yang baik, diwaktu yang baik Gavino dan Danira resmi menjadi suami istri kembali sesuai dengan syariat islam. Wajah Gavino yang tadi tegang, pucat Pasih kini menjadi sumringah, mata berbinar-binar ketika melihat sang istri telah dibawa keluar mengenakan gaun pengantin berwarna putih tulang senada dengan jas yang dikenakan Gavino. Danira duduk disamping Gavino, setelah bacaan doa selesai Danira mencium punggung dan telapak tangan Gavino. Lalu dibalas dengan kecupan manis dikening Danira.
" Cie...cie...pengantin lama nikah ulang, seperti ujian sekolah saja ada remidialnya ". Celetuk Amar lagi, dan lagi-lagi amar mendapatkan pukulan dipundaknya.
" Mengapa mulutmu lemes sekali ". Omel Tante Mayang pada putranya, sedangkan yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan random Amar.
" Cekk...mama sakit, dari tadi memukulku terus ". Kesal Amar, pada ibunya.
Gavino tak memperdulikan ucapan sepupunya, dia sudah tak sabar ingin membuka kain yang menjadi penghalang matanya dan mata Danira bertemu. Gavino sudah tak memperdulikan bagaimana nanti rupa Danira, meski tak sesuai dengan standarnya selama ini. Gavino akan menerima Danira apa adanya, dia tak akan mempermasalahkan itu semua.
" Akhirnya kita sah lagi, apa kau senang ?". Bisik Gavino, Danira mengangguk sebagai jawaban.
" Aahhh aku sudah tidak sabar ".
" Tidak sabar apa mas ?". Tanya Danira polos, yang tidak mengerti maksud suaminya.
" Tidak sabar ingin unboxing ". Bisik Gavino ketelinga Danira. Lagi-lagi Danira menunduk malu, dengan wajah kembali memerah bak buah tomat matang.
" Mas iihh...malu tau ". Ucap Danira, malu.
" Kenapa harus malu, bukankah sekarang aku sudah bisa melakukan apa yang aku mau ?, bahkan penundaan malam pertama di pernikahan kita yang awal, akan aku balas di malam pengantin kita kali ini ".
" Berarti aku memiliki malam pertama dan malem kedua. Malam pertama untuk mengganti unboxing pernikahan kita yang awal, lalu malam kedua unboxing pernikahan yang sekarang. Bagaimana, kau setujuh kan sayang ? Ujar Gavino masih berbisik, membuat telinga Danira semakin panas memerah.
Ya ampun....mengapa suamiku jadi mesum begini. Batin Danira.
" Udah mas iihh, jangan bicara seperti itu dulu. Malu bila didengar orang ". Ucap Danira, mencubit gemas lengan suaminya. Membuat Gavino tersenyum geli, dengan tingkah sang istri.
" Hekhem....hekhem....!!! tau, tau Yang habis sah lagi, tapi ingat-ingat doang, disini masih banyak orang. Apalagi ada jomloh abadi yang belum punya pasangan, tidak perlu pamer begitu doang ". sindir Amar, yang sedari tadi memperhatikan interaksi Gavino dan Danira yang selalu berbisik-bisik.
" Sirik ". Ejek Gavino. Amar mencebikkan bibirnya, melihat Gavino yang bertingkah aneh pada Danira.
" Gavino ? Danira ?". Panggil Tante Ningrum. Gavino menoleh, lalu membuang pandangannya kearah lain, sedangkan Danira maju selangkah mendekati Tante Ningrum.
" Iya Tante ".
" Selamat ya, semoga pernikahan kedua kalian ini menjadi yang terkahir, kalian selalu dilimpahkan kebahagian dunia dan akhirat. Dan Tante juga mau meminta maaf kepadamu Danira, Tante sadar sikap Tante sama kamu kurang baik, bahkan banyak kata-kata Tante yang membuat kamu sakit hati. Maafkan Tante ya Ra ?". Ucap Tante Ningrum, memegang tangan Danira sambil menagis. Danira mendekat lalu memeluk Tante Ningrum.
" Tidak apa-apa, tak ada yang perlu dimaafkan. Ini juga bukan salah Tante. Danira tidak pernah marah atau benci sama Tante, jadi jangan menangis lagi ya ". Ujar Danira lembut, menghapus air mata dipipi Tante Ningrum.
" Terima kasih Danira, kamu memang wanita yang baik, Tante sangat menyesal pernah berperasangka buruk padamu ". Ucap Tante Ningrum, penuh penyesalan, kemudian dia melihat kearah Gavino, tapi sayangnya Gavino tidak sama sekali memperdulikan permintaan maaf Tante Ningrum, hingga Tante Ningrum pergi tanpa berkata apapun lagi pada Gavino.
" Mas kok gitu sih, tidak baik menaruh dendam pada seseorang, apa lagi ini tentemu sendiri ". Danira mengingatkan Gavino yang masih memasang wajah cuek.
" Aku tidak perduli, jika aku sudah tidak suka ya tidak suka, jika aku benci maka aku akan memperlihatkannya, supaya dia tidak berusaha datang lagi padaku ". jawab Gavino, cuek. Danira hanya bisa menghela napas, dia tau bagaimana kerasnya watak sang tuan muda ini. Dia tak bisa dipaksa, tapi Danira akan perlahan mengubah sifat suaminya, kearah yang lebih baik.
Setelah acara makan bersama selesai, Danira ingin segera kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, namun dari belakang suara Oma Laras menghentikan langkahnya.
" Danira, bisa ikut kekamar Oma sebentar. Ada yang ingin Oma tanyakan ". Pinta Oma Laras, berjalan mendahului Danira, tanpa pikir lagi Danira segera mengikuti Oma dari belakang.
Kini mereka berdua telah duduk diatas sofa yang ada didalam kamar Oma Laras. Oma Laras tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Danira, menyadari hal itu membuat Danira menjadi salah tingkah.
" Maaf Oma, jika Danira boleh tau Oma ingin menanyakan apa ya ?". Tanya Danira, yang bingung dengan tatapan Oma Laras padanya. Apa aku telah melakukan kesalahan, mengapa Oma menatapku dengan tatapan menyelidik seperti ini. pikir Danira.
" Siapa kau sebenarnya ?".
DEG*
__ADS_1
......................
...Bersambung.......