CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
31. Mencari Tau


__ADS_3

Kedekatan Ny. Calina dengan Danira makin akrab saja, tak terasa sudah 1 bulan hubungan seperti Ibu dan Anak itu terjalin. Ny. Calina sangat menyukai Danira apalagi dengan Khalisa, Ny. Calina sangat menyayangi Khalisa seperti cucunya sendiri. Sejak Ny. Calina sudah dinyatakan sembuh dan bisa berjalan normal lagi, Dia sering kali datang bertandang ke rumah Danira ataupun mengajak Danira bertemu diluar. Hanya untuk jalan-jalan dan makan siang bersama. Tiap kali mereka pergi bersama, Ny. Calina selalu mengambil alih Khalisa dari Danira, Dia yang akan menggendong bahkan mendorong baby stroller Khalisa, Dia benar-benar bahagia. Tapi itu kadang membuat Danira tidak enak hati. Danira pernah meminta biar Khalisa, Danira saja yang menggendong, namun Ny. Calina selalu memiliki cara merayu Danira.


( Khalisa ini sekarang cucuku, jadi biarkan saya saja yang menggendong ya saat kita bertemu)


( Tidak apa-apa, saya sangat bahagia bisa memeluk Khalisa)


( Saya sudah sangat ingin memiliki cucu, dan Khalisa mewujudkannya. Jadi jangan melarang saya untuk menggendongnya).


Itulah beberapa alasan yang sering kali Ny. Calina berikan pada Danira. Apalagi melihat Binar bahagia dimata Ny. Calina. Danira tidak kuasa untuk melarang ataupun menolak. Danira sudah sangat menyayangi Ny. Calina, Danira menemukan sosok ibu yang selama ini Danira rindukan, selain dari Umi Siti, sekarang Danira merasakan kasih sayang tulus seorang ibu dari Ny. Calina, Danira benar-benar bersyukur.


Walaupun mereka sudah sangat dekat, Danira belum ingin memperlihatkan wajahnya apalagi terlalu banyak menceritakan tentang dirinya dan Khalisa. Menurutnya, itu tidak terlalu penting untuk diketahui Ny. Calina sekarang, Dia ingin Ny. Calina menyayangi-nya dengan tulus bukan berdasarkan cerita sedih hidup-nya ataupun rupa-nya.


Seperti hari ini, Ny. Calina menghubungi Danira, mengajak makan siang bersama di sebuah Mall terbesar dijakarta. Kebetulan sekali Danira sedang berada di mall itu, jadi Danira menyetujui ajakan Ny. Calina. Dan disinilah mereka sekarang, didalam Restoran masakan Jepang. Dimeja sudah terisi pesan-pesan mereka seperti Ramen Matsuri, Kobe beef, aneka sushi, minuman Teh hijau hangat dan Es krim vanilla.


"Aammm..buuff". Khalisa memainkan es krim yang suapi Danira dimulutnya, membuat wajahnya belepotan.


" Khali,...Tidak bole seperti itu, lihat kerudung khali jadi kotor kan". Danira berkata lembut. Dengan sabar Danira membersihkan wajah Khalisa dengan tisu basah. Ny. Calina terharu melihat perlakuan Danira kepada Khalisa.


" Cucu Oma suka mam es krim ya". Goda Ny. Calina pada Khalisa, Khalisa hanya tertawa lebar.


" Ra..Bole Ibu bertanya sesuatu ?"


" Tentu Bu, tanya kan saja". Danira masih dengan kegiatannya membersihkan kerudung Khalisa.


" Apa kamu belum ingin menikah ?". Ny. Calina bertanya pelan. Seketika tangan Danira berhenti, Danira menoleh melihat Ny. Calina.


" Aku belum berfikir sejauh itu Bu, keinginanku sekarang hanya ingin membesarkan Khalisa dan memberikan kebahagiaan untuknya." Jawabnya tenang.


" Eemmm..! apakah Khalisa pernah bertemu dengan ayahnya ?". Ny. Calina bertanya hati-hati takut Danira tidak nyaman.


" Belum Bu, sejak Khalisa dilahirkan, Dia belum pernah bertemu ayahnya". jawab Danira lirih, Danira menjadi ingat kakaknya. Khalisa adalah anak yang dinanti-nanti hampir 8 tahun pernikahan mereka, namun sayang takdir berkata lain. Danira pernah meminta bantuan Sarah untuk mencari keberadaan kakak iparnya, namun sang kakak ipar telah menetap diluar negri.


" Maaf kan saya, saya tidak bermaksud membuat kamu menjadi sedih". Lamunan Danira buyar, mendengar kata maaf Ny. Calina padanya.


" Ibu tidak salah, tidak perlu minta maaf. Jika memang Khalisa ditakdirkan bertemu dengan ayahnya, maka suatu saat nanti mereka pasti bertemu".


Ny. Calina menggeserkan gelas teh didepannya, Dia menggulurkan tangannya menggenggam tangan Danira. Danira melihat itu, membalas genggaman Ny. Calina.


" Nak...!! Eemmm sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu...!". Ny. Calina menundukkan sedikit kepalanya merasa ragu.


" Katakan saja bu, tidak perlu ragu. Aku siap mendegarkannya". Suara lembut dan tenang Danira, seakan menghipnotis Ny. Calina, Dia melihat Danira dengan serius.


" Nak....Apa kamu Mau menikah dengan anak saya ?".

__ADS_1


" Maksud ibu a.apa, Ibu bercanda kan?". Danira tertawa pelan, menurutnya lelucon Ny. Calina kali ini sangat lucu. Namun tawa Danira Terhenti, melihat wajah serius yang ditampilkan Ny. Calina.


" Bu,...ibu hanya bercanda kan ?".


" Saya tidak bercanda Nak, saya sangat serius. Saya ingin kamu menikah dengan putra saya Gavino".


...****************...


Di tempat lain, Gavino yang duduk dikursi kebesarannya sedang mendengarkan laporan dari balik ponselnya. Gavino meminta seseorang untuk selalu membuntuti kemanapun ibunya pergi, dan melaporkan apa saja yang dilakukan ibunya.


"Eemm..baiklah, Pantau terus kemanapun ibuku pergi, tapi ingat jaga jarakmu. Jangan sampai ibuku mengetahui keberadaanmu". titahnya, lalu mematikan panggilan itu.


Tok


Tok


" Permisi tuan". Sean masuk, membawa sesuatu di tangannya.


" Ini yang anda minta Tuan". Sean menyodorkan dokumen yang Dia bawa. Gavino mengambil dan langsung membukanya. Namun dahinya berkerut, membaca data-data yang tertera disana.


" Apa maksudnya ini ?".


" Maaf tuan, Saya juga tidak mengerti. Saya sudah berusaha mencari data-data Wanita yang taun minta, tapi wanita itu seperti tidak memiliki identitas. Tuan bisa lihat sendiri di berkas-berkas itu, Yang ada hanya beberapa wanita dengan nama Danira, mereka semua telah menikah dan yang 1 lagi telah meninggal sejak usia 9 tahun". Sean menjelaskan sesuai dengan yang dia temukan. Sean juga bingung, bagaimana mungkin seseorang hidup tanpa ada identitas.


Gavino memejamkan matanya, merasa ada yang aneh dengan penjelasan Sean. Tidak mungkin seseorang tidak memiliki identitas sama sekali bukan. Batin Gavino.


Sejak mengetahui ibunya sering kali menemui Danira, Gavino memerintahkan Sean untuk mencari tau semua informasi tentang wanita itu. Gavino tidak ingin ibunya hanya dimanfaatkan oleh wanita yang baru saja ibunya kenal. Melihat bagaimana ibunya sering kali membicarakan tentang danira, memujinya, didepan Gavino maupun para pelayan dirumah. Itu membuat Gavino jengah.


" Apa kau yakin, hanya ini". Tanya Gavino lagi memastikan.


" Iya tuan ".


" Baiklah,...tinggalkan saja berkas itu disini. Kau bole keluar". Sean menundukkan kepala hormat, berlalu meninggalkan ruangan Gavino.


Gavino menyandarkan punggungnya, sambil terus mengamati kertas yang ada diatas meja.


Gavino mengetuk-ngetuk meja kerja dengan jari-jarinya "Aneh". gumamnya pelan.


Gavino mengangkat tangan kirinya, melihat Arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Arloji yang didesain khusus sesuai permintaan Gavino. Patek Philippe Ref. 1518 Stainless Steel seharga 11 juta dollar AS atau sekitar Rp 159 miliar. Arloji ini termasuk dalam koleksi jam tangan kesayangannya. Waktu menunjukkan pukul 18.02 Sore.


Gavino bangkit dari duduknya, menyambar jas yang ada di gantungan, melangkah keluar untuk pulang. Sean dan Sonya yang melihat Gavino membuka pintu ruangannya, langsung berdiri.


" Sean...Kau tak perlu mengantarku pulang, aku akan menyetir sendiri ". ujarnya sambil berlalu pergi

__ADS_1


Sonya yang mendengar itu, sontak saja kegirangan. " Yeyyy..akhirnya pulang cepat juga". Sonya langsung merapikan meja dan mematikan Komputernya.


" Siapa yang menyuruhmu pulang?". Ujar Sean dingin.


" Loh pak...! Kan tuan Gavino sudah pulang, berarti saya juga bole pulang dong pak". jawabnya sambil melihat wajah datar Sean.


" Apa kamu mendengar kalau tuan Gavino meminta kamu pulang juga ?". Sonya menggeleng.


" Berarti...!!!.kamu sudah tau kan jawabannya apa?". Sean berlalu meninggalkan Sonya yang bengong, membuka sedikit mulutnya membentuk O, tak percaya.


" Aahhhh...sial sial sial, kenapa pak Sean lebih menyebalkan dari tuan Gavino sih". geramnya pada Sean, mengepal tangannya memukul-mukul angin.


" Aku sumpahin jadi bujang tua, baru tau rasa". umpanya kesal setengah mati.


" Saya bisa mendengar sumpahmu itu". teriak Sean dari dalam ruangannya.


Mata Sonya membola terkejut mendengar teriakan sean" Mampus...!! Ma.maaf pak". ujarnya menepuk mulutnya sendiri.


**


Gavino sudah sampai di mansion keluarganya, Dia berjalan santai masuk kedalam rumah, Saat kaki Gavino sudah menapaki anak tangga, untuk menujuh kamarnya dilantai 2, suara wanita memanggil namanya dari belakang.


" Vino ". panggil Ny. Calina yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Gavino menoleh melirik ibunya.


" Vin kemari, ada yang ingin mami bicarakan padamu". ujar Ny. Calina lagi.


" Apa mami ingin membicarakan tentang wanita yang bernama Danira itu lagi". tambak Gavino, sambil berjalan mendekati ibunya, lalu duduk bersandar disofa empuk itu.


"100 buat Gavino, pintar sekali anak mami ini". ujar Ny. Calina sambil bertepuk tangan riang.


Gavino membuang tatapannya malas, melihat respon ibunya seperti anak-anak. " Sepertinya mami sangat dekat dengan wanita itu sekarang ?, bukannya mami sangat selektif memilih teman".


" Dengan Stevani saja, mami tidak seakrab itu, apa lagi berprilaku ramah. Padahal jelas-jelas Stevani calon istriku". sindir Gavino.


" Oh jelas...!! mereka sangat berbeda".


" Hahhh...!! langsung saja mami ingin membicarakan hal penting apa denganku". Gavino malas bila harus berdebat dengan ibunya.


Ny.Calina meletakkan majalah yang ada ditangannya keatas meja, membenarkan posisi duduknya menghadap Gavino dengan wajah serius. Gavino memperhatikan gelagat maminya, 'ada yang tidak beres' pikirnya. Namun dia memilih tetap diam hingga maminya berbicara.


" Gavino...!! Menikahlah dengan Danira".


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2